Berdamai dengan Patah Hati: Ikhtisar Cinta Para Filosof Eksistensialis

slider
26 Februari 2023
|
1347

Ngaji Filsafat pada 8 Februari 2023 membahas tentang “Patah Hati: Perspektif Filsafat Eksistensialisme”. Dalam edisi Ngaji Filsafat kali ini, Pak Fahruddin Faiz mendedahkan bagaimana para filosof eksistensialis memaknai patah hati dan cinta. Pembahasan patah hati memang erat hubungannya dengan cinta. Sebab, cinta merupakan sesuatu yang dapat membuat bahagia, dan sebaliknya juga dapat membuat kecewa akibat hati yang patah.

Arthur Schopenhauer berkata, “It is difficult to find happiness within oneself, but it is impossible to find it anywhere else (Sulit menemukan kebahagiaan dalam diri sendiri, tapi tidak mungkin menemukannya di tempat lain). Artinya, bahagia itu sesungguhnya ada dalam diri kita. Tidak ada yang bisa menyakiti hati kita kalau kita tidak mengizinkannya.

Apakah cinta menjadikan hati kita patah dan sengsara atau membuat kita bahagia? Itu semua bergantung dari diri kita sendiri. Bergantung dari bagaimana kita memahami dan menyemai cintai dalam diri.

Memaknai Cinta

Dalam pandangan Soren Kierkegaard, manusia terlahir di dunia ini untuk memberi dan menerima cinta. Tanpa pengalaman cinta, hidup menjadi hampa. Namun, sebagaimana pandangan Jean Paul Sartre, cinta juga dapat membuat hidup penuh konflik, memuakkan, dan berakhir dengan kegagalan yang membuat patah hati.

Keadaan cinta sebagaimana dalam pandangan Sartre, itu terjadi karena manusia membangun cintanya di atas pondasi ego untuk saling mengobjektifikasi satu sama lain. Oleh karena setiap manusia adalah subjek, bukan objek, maka hasil dari upaya saling menaklukkan itu adalah konflik. Lambat laun menjadi nause (memuakkan). Dan, berakhir dengan kegagalan (perpisahan). Akibatnya, ya hati yang patah, rasa kecewa, dan menjadi sengsara.

Dalam bahasa Kierkegaard, cinta yang seperti itu disebut sebagai cinta romantik, yang merupakan perwujudan cinta egois dengan beragam syarat berdasarkan “produksi khayalan-khayalan” utilitarian (pemanfaatan).

Dalam cinta romantik, perempuan sebatas objek untuk hasrat seksual bagi laki-laki, sedangkan laki-laki sekadar pelengkap fungsi kehidupan sebagai pendamping dan pelanjut keturunan bagi perempuan. Cinta yang seperti ini tidak lebih dari false love semata. Bahkan daripada disebut cinta lebih tepat dikatakan sebagai proses “saling memanfaatkan”.

True love tidak sekadar cinta yang dibangun di atas pondasi ego untuk saling mengobjektifikasi atau saling memanfaatkan. Bukan cinta yang didasarkan pada “daging” atau hasrat seksual semata. Melainkan, cinta yang didasarkan pada ketulusan untuk saling mencintai. Cinta yang bahkan, sebagaimana Kierkegaard, manusia rela menjalani penderitaan demi cinta itu sendiri. Bukan konflik, kemuakan, atau kegagalan yang menjadi hulu true love, melainkan, sebagaimana Kierkegaard, cinta yang benar akan membuat hidup lebih hidup.

Cinta dapat mengajarkan berbagai kualitas unggul kemanusiaan, seperti kesabaran dan pengorbanan, oleh karena itu cinta dapat memanusiakan manusia (menjadikan manusia lebih baik lagi). Dan, cinta juga memberi sense of purpose dalam hidup, sehingga membuat hidup menjadi lebih bermakna. Inilah cinta yang dimaksud oleh Kierkegaard sebagai amanat kehidupan. Sifat Tuhan yang ada dalam diri manusia yang membuat hidup manusia tidak kering tanpa makna.

Antara Cinta dan Patah Hati

Dua hal ini, cinta dan patah hati, sangatlah dekat. Ya, tentu cinta dekat dengan kebahagiaan, namun di sisi lain cinta juga dekat dengan kekecewaan (patah hati).

Masalahnya ada pada sikap manusia yang sering membayangi cinta dengan berbagai keinginan, bahkan menurut Schopenhauer, cinta itu sendiri adalah kemasan keinginan. Sebagaimana Schopenhauer menjelaskan bahwa, dalam banyak kasus yang disebut jatuh cinta sering kali bukan masalah hubungan timbal balik antara dua manusia, namun masalah pokoknya adalah “keinginan” untuk memiliki apa yang tidak dimiliki.

Manusia memilih hidup bersama karena kebutuhan akan keinginan. Misalnya, dalam cinta romantik, laki-laki memilih hidup bersama perempuan karena keinginan untuk memenuhi hasrat seksual, sebaliknya perempuan memilih hidup bersama laki-laki karena kebutuhan akan pendamping hidup.

Selanjutnya, keinginan itu mendukung dorongan biologis manusia untuk meneruskan spesies. Sesuatu yang dalam istilah Schopenhauer disebut sebagai “the will to life. Menurutnya, cinta hanyalah ilusi yang diciptakan oleh manusia sebagai jalan memenuhi kebutuhan “the will to life”.

Oleh karena cinta yang seperti ini lekat dengan keinginan, sedangkan di balik keinginan ada keberhasilan atau kegagalan, maka cinta dapat berhulu pada kebahagiaan apabila berhasil, dan berakhir dengan kekecewaan apabila gagal.

Dalam kasus cinta romantik untuk memenuhi kebutuhan “the will to life”, seperti yang dijelaskan sebelumnya, ketika satu pasangan mendapatkan buah hati (anak), mereka akan merasa gembira. Sebaliknya, ketika sudah menikah bertahun-tahun dan tak kunjung mendapatkan buah hati, mereka akan merasa sedih.

Bahkan, sebab fokusnya hanya pada keinginan, sehingga rasa kecewa (patah hati) kepada pasangan muncul, kemudian memilih berpisah, dan mencari pasangan lain yang dirasa mampu memenuhi keinginannya. Pada level ini, manusia sejatinya bukan sedang mencintai pasangannya, melainkan sedang mengharapkan hasratnya dapat terpenuhi.

Cinta yang dibayangi keinginan belumlah mencapai level true love, dan rentan akan patah hati; konflik, kemuakan, dan kegagalan. Untuk itu manusia sepatutnya tidak membelenggu cintanya dengan berbagai keinginan atau khayalan yang ingin dimiliki. Daripada fokus pada keinginan yang khayal lebih baik untuk fokus pada ke-estetis-an cinta, seperti melihat keindahan pasangan yang nyata. “Ah, tapi, ingatlah, bahwa wajah pasti akan menua.” Karena itu lebih baik fokus pada ke-etis-an cinta dengan melihat kebaikan sikap pasangan. “Namun, bagaimana jika sewaktu-waktu sikapnya berubah?

Bahkan ke-estetis-an dan ke-etis-an dalam cinta juga masih rentan akan patah hati. Jalan selanjutnya untuk menata cinta yang sebenarnya cinta adalah melalui ke-asketis-an cinta. Membebaskan cinta dari segala keinginan dan khayalan ideal yang membayanginya, sehingga kita dapat masuk dalam kedamaian cinta. Jalan ini menuntut manusia untuk mampu menundukkan ego diri di hadapan cinta.

Menundukkan Ego di Hadapan Cinta

Dalam pandangan Kierkegaard, penderitaan adalah bagian penting dalam menata cinta. Penderitaan menguji apakah cinta itu benar-benar cinta atau hanya upaya untuk memenuhi keinginan. Cinta yang tidak sejati, yang dibayang-bayangi keinginan semata, akan mudah menyerah di hadapan penderitaan. Dan, kita tidak pantas mengaku mencintai kalau tidak mau menderita demi cinta.

Paling tidak penderitaan cinta itu adalah berupaya untuk mengalahkan ego dalam diri. Jangan salah, mengalahkan ego diri bukan perkara yang mudah. Kita terbiasa bangun kesiangan, namun Sang Kekasih menghendaki bangun di waktu subuh. Untuk dapat lebih mendekatkan diri dengan Sang Kekasih, maka kita perlu melampui kebiasaan (ego) bangun kesiangan, dan membiasakan diri bangun di waktu subuh. Sulit memang, namun itu merupakan jalan yang mendekatkan diri kita dengan Sang Kekasih.

Jika dalam menata cinta tidak ada upaya untuk menundukkan ego, maka kemungkinannya cinta akan terjebak pada lingkaran ego saling mengobjektifikasi satu sama lain. Hasilnya adalah konflik, kemuakan, dan kegagalan cinta. Oleh karena itu, jangan biarkan cinta dibayang-bayangi dengan keinginan-keinginan yang egoistis, dan masuklah ke ruang asketis cinta dengan menundukkan ego di hadapan cinta.

Cinta seperti ini bukan berarti menihilkan patah hati. Potensi patah hati akan selalu ada. Pengorbanan si pecinta bisa saja tidak ditanggapi oleh yang dicinta. Namun, karena alamat cinta sudah sampai pada level asketis, bebas dari belenggu keinginan-keinginan, maka patah hati telah melebur dalam keikhlasan. Sehingga, tidak ada lagi kekecewaan dan kesengsaraan yang merusak diri akibat patah hati. Itu semua telah berubah menjadi penerimaan dan kedamaian, sebab kita telah mampu berdamai dengan patah hati.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Moh. Rivaldi Abdul

Mahasiswa Doktoral S3 Studi Islam, Konsentrasi Sejarah Kebudayaan Islam, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta