Tutur Cerita dari Diogenes

slider
17 November 2021
|
397

Pertemuan Alexander dengan Diogenes terjadi saat filsuf yang terkenal dengan sinisme tersebut sedang berjemur di dekat tong sampah besar bersama anjingnya. Alexander kemudian menyapa Diogenes tanpa ekspresi apa pun, dan bahkan biasa saja hingga ia mengira filsuf tersebut tidak mengenalnya.

Melihat respons Diogenes yang biasa saja, Alexander pun memperkenal dirinya sebagai Alexander  Agung. Bukannya menunjukkan hormat, Diogenes malah menertawai Alexander III dari Makedonia tersebut.

Bahkan, Diogenes menyindir raja tersebut dengan ucapan secara terang-terangan. “Hanya orang kerdil yang suka mengaku-aku orang hebat. Semakin besar rasa rendah diri, semakin mereka memproyeksikan diri mereka lebih tinggi, lebih besar.”

Diogenes dikenal sebagai seorang filsuf aliran sinisme yang berakar pada ajaran filsafat Sokrates. Kendati ketika ia ditanya bagaimana pendapatnya tentang Sokrates, Diogenes ajeg menyebutkan bahwa, Socrates itu adalah orang yang gila.

Filsuf dari Sinope yang lahir pada 412-323 SM tersebut, dikenal masyarakat sekitar sebagai filsuf yang sangat sederhana. Ia hidup dengan anjing peliharaannya dan sebuah lampu pilar di dalam wadah tong besar.

Ia kerap dipanggil anjing oleh orang karena penampilannya yang compang-camping. Meski begitu, ia tidak marah. Karena dirinya memiliki argument filosofis tentang anjing bahwa, anjing selalu melindungi sahabat-sahabatnya.

Fahruddin Faiz di bukunya berjudul Filosof Juga Manusia (2020) memberi sedikit ilustrasi mengenai Diogenes. Diogenes ini terkenal sebagai filosof yang cerdik dan berani menentang nilai-nilai kepercayaan masyarakat Athena Kuno. Kehidupannya diliputi kemiskinan. Bahkan ia terkadang mesti mengemis atau mencuri supaya bisa makan.

Di buku itu juga dikisahkan bahwa setiap kali ia mengemis supaya bisa makan, ia kerap memperoleh perlakuan kasar. Ia dihadiahi ludahan oleh orang yang berlalu-lalang di sekitarnya. Tetapi Diogenes hanya menyikapinya dengan mengusap ludah tersebut dengan sapu tangannya.

Ketika diingatkan oleh temannya tentang kebiasaan itu, Diogenes menjawab dengan cara yang tidak lazim. Katanya: “Kalau orang bisa sabar tepercik air laut untuk memancing ikan, bukankah aku harus sabar untuk menerima ludahan itu demi memancing datangnya makan malam?”

Sebagai seorang filsuf beraliran sinisme, Diogenes cenderung melulu merespon sinis terhadap peradaban. Hal ini kemudian yang membuat kisah hidupnya menjadi tersohor dan terdengar sampai ke telinga Alexander Agung, karena prinsip hidupnya yang tidak lumrah seperti orang pada umumnya.

Setelah menyindir raja yang menemuinya itu, Diogenes kemudian menanyakan maksud kedatangan Alexander. Sang putra dari raja Philip II tersebut mengutarakan kekagumannya kepada Diogenes atas prinsip hidup yang dijalaninya. Alexsander mendengar nama Diogenes karena telah banyak dibicarakan orang, sampai membuat dirinya ingin bertemu dengan Diogenes.

Selain itu, Alexander juga mengatakan kepada Diogenes bahwa ia ingin bertemu dengannya sebelum pergi untuk menaklukkan dunia.  Sang filsuf pun menanyakan kepada Alexander maksud tujuannya menaklukkan dunia, dan jika sudah menaklukkan dunia, maka ia ingin bagaimana? Alexander menjawab pertanyaan tersebut bahwa setelah bisa menaklukkan dunia, ia ingin istirahat dan bersantai saja.

Mendengar jawaban tersebut, Diogenes tertawa. Ia mengatakan kepada Alexander mengapa dirinya tidak berdiam diri saja. “Tidakkah kamu melihat aku sedang beristirahat dan bersantai tanpa menaklukkan apa pun?” ucap Diogenes. Alih-alih marah mendengar jawaban itu, Alexsander malah bertambah kagum kepada Diogenes.

Karena kekagumannya kepada Diogenes, Alexsander tanpa sungkan langsung menawarinya dengan harta, tahta, dan kekuasaan. Namun, saat mendengar  tawaran  itu, Diogenes malah menjawab, ”Hai Alexsander, aku hanya meminta satu, tolong kamu menyingkir ke samping agar sinar matahari tidak terhalang menyinari tubuhku. Karena aku sedang berjemur.”

Dalam riwayat yang lain, Alexander bertanya kepada Diogenes. Jika ia tidak dilahirkan sebagai Diogenes, maka ia ingin dilahirkan menjadi siapa? Diogenes menjawab jika ia tidak dilahirkan menjadi Diogenes, maka ia tetap ingin dilahirkan menjadi seorang Diogenes. Berbeda dengan Diogenes, Alexsander berkata bahwa jika dirinya tidak dilahirkan sebagai Aleksander, maka ia ingin dilahirkan sebagai Diogenes.

Saya rasa dari cerita-cerita tersebut menunjukkan bahwa, Diogenes adalah orang yang menerima segala ketentuan Tuhan yang diberikan kepadanya. Diogenes juga berpandangan setiap manusia yang dilahirkan meliki level derajat yang sama, baik masyarakat biasa ataupun bangsawan. Bahkan, mungkin bagi Diogenes derajat manusia sama dengan anjing-anjing liar yang hidup bersamanya di pinggiran kota.

Dari pertemuan tersebut, kita bisa menduga Diogenes memberikan dua pesan kepada Alexander dan untuk orang-orang yang dating sesudahnya. Pertama, tidak ada yang pernah menaklukkan dunia. Dunia begitu luas,  tak terukur dibandingkan kita (manusia) yang kecil. Kehausan menaklukkan dunia ternyata malah akan membinasakan diri seorang manusia. Kedua, engkau tidak akan bisa kembali ke rumah. Ambisi menaklukkan dunia itu akan terus membawamu semakin jauh dan akhirnya hanya memicu munculnya bayangan yang semu.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Atin Suhartini

Peserta kelas menulis menemui senja di MJS jilid#5