Ronggowarsito: Spekulatif Filosofis dan Perenungan atas Perputaran Zaman
Ronggowarsito adalah seorang figur yang terkenal dalam dunia filsafat sejarah spekulatif futuristik. Pandangannya tentang zaman dan peradaban sangatlah unik. Bagi Ronggowarsito, sejarah tidak sekadar tentang memahami peristiwa masa lalu, lebih dari itu, ia mengajak untuk merenungkan kemungkinan arah yang akan diambil oleh masa depan. Bagi tokoh ini, sejarah adalah seperti roda yang terus berputar, di mana setiap zaman memiliki karakteristiknya sendiri yang membedakannya dari yang lain.
Menurut Ronggowarsito, sejarah tidak bersifat statis atau terbatas pada apa yang sudah terjadi. Sebaliknya, ia melihat sejarah sebagai suatu perjalanan dinamis yang melibatkan interaksi kompleks antara berbagai kekuatan sosial, budaya, dan spiritual dari waktu ke waktu. Pandangannya yang mendalam ini mengajak untuk melihat masa lalu sebagai cermin bagi apa yang mungkin terjadi di masa depan, sekaligus menghargai keunikannya dalam setiap era yang berbeda.
Dalam konsepsi Ronggowarsito, pentingnya memahami dinamika zaman tidak hanya untuk kepentingan intelektual belaka, tetapi juga sebagai pijakan untuk bertindak dan beradaptasi di masa yang akan datang. Ia membangun gagasannya atas keyakinan bahwa masa depan tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang telah terjadi, tetapi juga oleh tindakan dan kebijaksanaan yang kita lakukan sekarang. Dengan demikian, setiap era memiliki potensi untuk membentuk landasan bagi perubahan yang lebih baik atau lebih buruk, tergantung pada bagaimana manusia menjalani dan memengaruhi perjalanan sejarahnya sendiri.
Ronggowarsito menawarkan perspektif yang menginspirasi untuk melihat sejarah tidak hanya sebagai kumpulan fakta-fakta masa lalu, tetapi sebagai narasi yang terus berkembang dan relevan dengan kondisi saat ini serta masa depan yang belum terungkap sepenuhnya. Dalam pandangannya, pemahaman mendalam terhadap dinamika sejarah dapat menjadi kunci untuk menghadapi tantangan-tantangan yang kompleks di masa depan, serta untuk menginspirasi perubahan yang positif dalam masyarakat dan peradaban manusia secara keseluruhan.
Pandangan atas Perputaran Zaman
Perputaran zaman mengikuti serangkaian fase yang dijelaskan dalam konsep Kalatidha, Kalabendhu, dan Kalasuba. Kalatidha, yang merupakan zaman kebingungan, ditandai oleh ketidaktahuan dan egoisme yang meluas di kalangan manusia. Zaman ini sering kali mengalami kekacauan moral dan spiritual, di mana nilai-nilai tradisional terdistorsi oleh dorongan pribadi yang egois.
Sementara itu, Kalabendhu merupakan zaman kesengsaraan yang menghadirkan masa di mana kebenaran sering kali terlupakan atau bahkan dikecilkan oleh mayoritas yang terpengaruh oleh ketidaktahuan kolektif. Orang-orang yang bijaksana mungkin terpinggirkan atau bahkan dianggap aneh dalam konteks zaman yang tidak sehat secara moral.
Namun, ada harapan dalam Kalasuba, zaman kemakmuran. Ronggowarsito menggambarkan masa di mana pemimpin yang adil muncul, disertai dengan kesederhanaan dan kedekatan spiritual yang mendalam. Ini adalah masa di mana nilai-nilai luhur kembali dihargai dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Waskita: Kecerdasan dan Kehadiran Spiritual
Ronggowarsito tidak hanya memperkenalkan pandangan filosofis tentang sejarah dan peradaban, tetapi juga mengembangkan konsep yang disebut “waskita”, yang menyoroti pentingnya memiliki kompetensi sambegana dan nawang krida. Menurutnya, sambegana mencakup kecerdasan yang tidak hanya sekadar intelektual, tetapi juga mencakup daya ingat yang luar biasa. Sementara itu, nawang krida merujuk pada kemampuan untuk memahami atau meramalkan tanda-tanda alam atau zaman yang mungkin tidak diketahui oleh orang awam.
Waskita bukanlah sekadar tentang memiliki kecerdasan atau pengetahuan yang mendalam, tetapi juga menggambarkan kehadiran spiritual yang dalam. Ini berarti bahwa seseorang dengan waskita tidak hanya mampu menganalisis peristiwa sejarah dari sudut pandang intelektual, tetapi juga memiliki pemahaman yang mendalam tentang dimensi spiritual dan metafisik dari perjalanan sejarah dan arah yang mungkin diambil oleh masa depan.
Konsep waskita menawarkan kerangka kerja yang lebih luas untuk memahami bagaimana sejarah dan masa depan saling terkait. Ronggowarsito meyakini bahwa kecerdasan intelektual yang kuat harus diimbangi dengan kepekaan terhadap dimensi spiritual yang lebih dalam agar dapat benar-benar memahami dan merespons dinamika kompleks dari perjalanan sejarah manusia. Waskita menjadi representasi dari seorang individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan spiritual yang memungkinkan mereka untuk melihat jauh ke depan dan membaca tanda-tanda masa depan dengan lebih baik.
Triwikrama: Kekuatan dan Kebijaksanaan
Pandangan Ronggowarsito mengenai cara menaklukkan siklus zaman terletak pada konsep triwikrama, yang meliputi kekuatan, keberanian, dan kebijaksanaan. Bagi Ronggowarsito, apa yang kita alami saat ini merupakan hasil dari tindakan kita di masa lalu. Artinya, setiap peristiwa dan keputusan yang kita buat pada waktu yang lalu berdampak langsung pada kondisi dan tantangan yang kita hadapi saat ini. Namun demikian, pandangannya tidak berhenti di situ. Ronggowarsito juga menekankan bahwa apa yang kita lakukan pada saat ini akan membentuk masa depan kita. Ini mengacu pada ide bahwa tindakan-tindakan kita saat ini akan menghasilkan buah yang kita nikmati di masa yang akan datang.
Bagi Ronggowarsito, pentingnya untuk bertindak dengan penuh kesadaran akan dampak jangka panjangnya tidak hanya berlaku bagi diri kita sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas dan lingkungan sekitar. Konsep triwikrama ini mengajak setiap individu untuk menggunakan kekuatan, keberanian, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan mereka sehari-hari. Ini mencakup pengambilan keputusan yang bijak dan bertanggung jawab, serta kesediaan untuk menghadapi tantangan dengan sikap yang positif dan proaktif.
Ronggowarsito mengajak kita untuk melihat diri kita sebagai bagian dari suatu kontinum sejarah yang terus bergerak maju: tidak hanya sebagai penerima hasil dari masa lalu, tetapi juga sebagai agen yang aktif dalam membentuk masa depan yang lebih baik. Pandangannya memperkuat ide bahwa setiap tindakan, baik kecil maupun besar, memiliki dampak yang signifikan dalam mengarahkan jalannya sejarah dan memengaruhi kehidupan generasi mendatang. Pemahaman akan konsep triwikrama tidak hanya menjadi panduan moral, tetapi juga filosofi hidup yang memotivasi untuk berkontribusi secara positif dalam mewujudkan perubahan yang diinginkan dalam dunia ini.
Ajaran Moral dari Serat-Serat Karya Ronggowarsito
Ronggowarsito juga menegaskan ajaran moral melalui berbagai karyanya seperti Serat Kalatidha, Serat Jaka Lodhang, Serat Sabda Jadi, dan Serat Pamoring Kawulo Gusti. Dalam Serat Kalatidha, Ronggowarsito menyoroti dampak negatif dari kurangnya teladan di tengah masyarakat, yang mengarah pada perilaku yang tidak bermoral. Serat Jaka Lodhang mengingatkan bahwa kebenaran kadang-kadang menyakitkan, tetapi harus dihadapi dengan penuh kejujuran.
Di sisi lain, Serat Sabda Jadi mengajarkan pentingnya terus berusaha untuk melakukan kebaikan, karena itu merupakan jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan. Sedangkan Serat Pamoring Kawulo Gusti memberikan panduan tentang tapa jasmani, tapa budi, dan tapa hawa nepsu sebagai langkah-langkah untuk mencapai kedamaian batin dan kesucian spiritual.
Ronggowarsito, dengan pandangannya yang unik dan mendalam tentang sejarah dan masa depan, mengajak kita untuk tidak hanya memahami perjalanan zaman, tetapi juga aktif terlibat dalam membentuknya. Konsepnya tentang waskita dan triwikrama mengingatkan kita akan pentingnya memiliki kecerdasan serta keberanian moral dalam menghadapi tantangan zaman. Melalui ajaran-ajaran moral dalam karya-karyanya, Ronggowarsito menegaskan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan kebenaran sebagai fondasi yang diperlukan dalam menghadapi kompleksitas zaman yang terus berubah ini.
Referensi:
Ngaji Filsafat 430: Ronggowarsito - Wolak Waliking Zaman edisi Wolak Waliking Zaman bersama Dr. Fahruddin Faiz, M. Ag di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, pada Rabu, 26 Juni 2024.
Category : catatan santri
SHARE THIS POST
Lapak MJS
- Alam Pikiran Jawa-Islam: Filologi, Simbol, dan Struktur Babad Kraton
- Sekar Macapat dalam Wacana dan Praktik
- Nisan Hamengkubuwanan: Artefak Makam Islam Abad XVIII-XIX di Yogyakarta dan Sekitarnya
- Lima Puluh Tahun: Meniti Jalan Kembali
- Buletin Bulanan MJS Edisi ke-9 Maret 2025 M
- Buku Terjemah Rasa II: Tentang Hidup, Kebersamaan, dan Kerinduan