Ngaji Rasa Sebagai Kritik Diri

slider
20 Januari 2020
|
526

Tulisan ini terinspirasi dari salah satu sub pembahasan dalam skripsi penulis sebagai syarat memperoleh gelar S.Ag di Program Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebelum masuk ke pembahasan, penulis hendak bertanya terlebih dahulu kepada para pembaca yang budiman, pernahkah Anda mem-bully, mengkritik, menyudutkan orang lain karena kesalahan yang dilakukannya? Atau Anda pernah menjadi korban perbuatan dan tindakan tersebut? Ya, penulis sendiri merasa kebanyakan orang tidak luput dari perbuatan dan tindakan tersebut.

Dengan dasar apa pun, alasan mem-bully, menghina, menyudutkan orang lain dilarang dalam ajaran yang kita yakini. Bukan saja karena menimbulkan perasaan malu bagi korban karena kehormatan dirinya dijatuhkan, tapi juga terselip perasaan bahwa kita yang melakukannya lebih baik dari orang lain. Seolah kita berhak melecehkan orang lain, atau bisa jadi terselip perasaan iri hati bahwa orang lain itu lebih baik dari kita, dan untuk menutupi ketidaksukaan kita akan kelebihan orang lain, maka kita mem-bully-nya.

Merusak kehormatan orang lain, memiliki perasaan sombong lebih baik dari orang lain atau dengki, iri hati akan kelebihan yang lain, tentunya semua itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam dan masuk kategori perbuatan zalim.

Ngaji rasa

Entah mengapa, ada di antara kita yang punya kecenderungan untuk menjadi sosok yang ‘gemar’ mencari-cari kesalahan orang lain. Lihat saja betapa mudahnya seseorang menuntut, mengkritik tanpa dasar kepada orang lain. Boleh-boleh saja mengkritik teman atau siapa pun, tapi dalam menyampaikan kritik, saran atau koreksi, sebaiknya kita tetap menghormati orang yang kita kritik. Akan hal ini, sebenarnya bisa kita menghindari dengan ngaji rasa.

Apa itu ngaji rasa? Baik, kita langsung saja ke inti pembahasan. Adapun makna dari ngaji rasa secara luas adalah tatacara atau pola hidup manusia yang didasari pada adanya rasa yang sepuas mungkin harus dikaji melalui kajian antara salah dan benar; dikaji berdasarkan ucapan dan kenyataan yang sepuas mungkin harus bisa menyatu dan agar bisa menghasilkan sari atau nilai-nilai rasa manusiaswi, tanpa memandang cara hidup, karena pandangan salah belum tentu salahnya, begitu juga pandangan benar belum tentu benarnya.

Oleh karena itu, prinsip ngaji rasa adalah jangan dulu mempelajari orang lain, tapi pelajarilah diri sendiri antara salah dengan benarnya.

Ngaji rasa dalam kehidupan sehari-hari

Ngaji rasa dapat dicontohkan misalnya dengan petuah jangan memukul orang lain, karena diri kita sendiri juga tidak ingin dipukul oleh orang lain. Tidak menipu karena diri kita juga tidak ingin ditipu oleh oang lain. Jika tidak ingin disakiti, maka jangan menyakiti orang lain. Kuncinya, jangan terlalu sibuk melihat diri orang lain, dan mengganggap diri kita lebih baik. Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan kita semua sama berharganya. Jangan terlalu sibuk menilai orang lain, namun diri sendiri tak pernah dinilai bagaimana karakter kita selama ini dihadapan orang lain.

Jangan terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain, tapi kita tak pernah mencari kesalahan kita sendiri. Kita tanpa sadari mungkin sering bahkan sangat sering menjadikan diri orang lain sebagai sumber cemohan, sumber salah, dan sebagainya. Namun jarang menjadikan diri orang lain sebagai cerminan kita untuk melihat apakah kita sudah menjadi lebih baik?

Hal tersebut sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran yang artinya kurang lebih, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS Al-Hujurat [49]: 11).

Islam sebagai agama yang humanis mengajarkan kepada umatnya agar menghindar dari perilaku merasa paling benar dan diperintahkan untuk selalu melakukan koreksi diri (muhasabah), serta meluruskan niat untuk kebaikan daripada mencari kesalahan pribadi orang lain yang belum tentu lebih buruk dihadapan Allah Swt. Akhlak Islam yang baik adalah akhlak yang menjaga, menjaga perasaan, sikap, termasuk perkatakan yang dikeluarkan mulut dan perbuatan yang dilakukan tangan, begitupun dengan pemikiran. Islam mengajarkan demikian untuk memunculkan kedamaian dan persatuan.

Lidah seseorang itu sangat berbahaya, bila tidak hati-hati menggunakannya dapat mendatangkan kesalahan maupun bencana. Persis seperti apa yang dikatakan Imam Al-Ghazali. Al-Ghazali menghitung ada 20 bencana karena lidah, antara lain berdusta, ghibah (membicarakan orang lain), adu domba, saksi palsu, sumpah palsu, berbicara yang tidak berguna, menertawakan orang lain, menghina orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain, dan sebagainya.

Dalam mengkritik, kita harus bijak, kita juga harus memusatkan perhatian pada kemampuan orang yang kita kritik. Carilah satu kelebihan dalam diri orang tersebut. Walaupun tampaknya di mata kita kemampuannya sepele dan kita masih bisa jauh lebih baik dari orang tersebut. Namun, cobalah bertanya pada diri sendiri, bagaimana bila kita berada pada posisi orang yang kita kritik itu—tanpa mempertimbangkan sedikitpun kebenaran dan kemampuan yang dimiliki?

Introspeksi diri

Kita juga harus memeriksa kembali apa motif kita mengkritik (tanyakan dengan jujur pada diri sendiri). Dan tanyakan juga apa keuntungan yang kita raih setelah mengkritik dan mencari-cari kesalahan orang lain. Sebab, yang namanya kritik itu hanyalah sebuah upaya untuk menonjolkan konsep tentang diri sendiri.  Atau kadang untuk membuktikan bahwa kita lebih pintar dari orang yang kita kritik (yang kita cari-cari kesalahannya, kelemahannya).

Jika motif kita seperti itu, maka baik berhenti untuk mengkritik dan mencari-cari kesalahan orang lain. Bahwasannya juga, tidak ada orang yang luput dari salah dan khilaf, dan begitupun diri kita sendiri.

Daripada kita terus-menerus menyibukkan dan melelahkan diri dengan mengorek-ngorek dan mencari-cari kesalahan dan kelalaian orang lain, mencari apa yang bisa kita jadikan senjata untuk menyerangnya, bukankah lebih baik kita berpikir positif? Dengan bertanya dengan jujur pada diri kita sendiri, sudah mampukah kita berbuat lebih baik dari orang yang kita kritik atau yang kita cari-cari kesalahannya itu?

Dengan kata lain, jangan cuma sekedar bisa mengkritik atau mencari-cari kesalahan orang lain saja, coba lakukan terlebih dahulu “semua hal” yang dilakukan orang yang kita kritik atau yang kita cari-cari kesalahannya, kemudian lihat hasil yang kita capai, apakah hasil yang kita capai lebih baik darinya, sama dengannya atau lebih buruk darinya? Mampukah kita berbuat seperti orang lain, sebaik orang lain, atau lebih baik dari orang lain? 

Kalaupun ternyata kita memang mampu berbuat lebih baik daripada orang lain, maka bersyukurlah. Jangan sampai capaian tersebut menjadikan kita ujub, dan tidak berarti hal tersebut membolehkan kita meneruskan mencari-cari kesalahan orang lain, maka alangkah baiknya hindari mem-bully orang lain. Belum tentu orang yang kita bully lebih baik dari kita. Lebih baik instrospeksi diri. 

Wallahu a’lam bisshawab.


Category : kolom

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Adidi Al-Indramy

Penulis asal Indramayu, Jawa Barat