Mengapa Harus Ada Nabi?

slider
23 Oktober 2022
|
429

Edisi Ngaji Filsafat bulan Oktober 2022 mengangkat tema kenabian. Pembahasan minggu pertama dimulai dengan akhlak dan adab nabi, dan minggu kedua mengambil tema yang bagi saya cukup menarik, yakni filsafat kenabian (12/10).

Betapa pun pembahasan mengenai filsafat profetik bukanlah hal yang baru, namun tema ini akan terus menemukan relevansinya saat manusia merefleksikan urgensi dari kenabian. Setidaknya memberikan pemahaman bahwa kenabian merupakan masalah kemanusiaan yang mesti dan dibutuhkan manusia.

Terdapat sebuah ilustrasi menarik sebagaimana disampaikan Ibnu Sina melalui karyanya al-Shifayang saya sadur dari pernyataan Pak Faizmenyatakan begini:

“Allah menganugerahkan kita mata dengan bulu dan kelopak mata yang melindunginya, memberikan kelenjar air mata, agar mata tidak mengering, membuatkan lubang kecil di sebelah pinggir mata agar membawa kelebihan air ke hidung, bila misal tidak ada lubang tersebut, niscaya wajah kita akan dipenuhi air mata. Allah juga menciptakan pupil yang sensitif terhadap cahaya, tujuannya untuk melindungi bagian dalam mata dari kerusakan, juga otot-otot di sekitar bola mata untuk melihat ke arah yang banyak. Allah secara detil telah memberikan apa yang dibutuhkan manusia, sehingga tidaklah mungkin, dan teramat mustahil rasanya bila mengabaikan kebutuhan manusia yang jauh lebih besar, yakni kebutuhan atas kenabian”.

Ungkapan Ibnu Sina tersebut tampak dan tidak bisa lepas dari latar belakang profesinya sebagai dokter. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai bapak kedokteran dalam Islam lantaran karya-karyanya yang fenomenal dan memberikan banyak pengaruh dalam dunia kedokteran. Secara sederhana dapat dipastikan, masalah kenabian merupakan persoalan agung manusia dalam kiprah menjalankan kemanusiaannya.

Pertanyaannya adalah mengapa Allah mengutus nabi? Padahal manusia telah dianugerahi akal dengan segenap kelebihannya, mengapa tidak akal saja? Mengapa tidak mengutus malaikat saja? Selain dikenal sebagai makhluk mulia, senantiasa tunduk dan patuh atas segala perintah-Nya, tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, tetapi malah memilih sejenis manusia yang kadang melanggar pakem ketentuan yang diperintahkan. Begitulah pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan Pak Faiz untuk men-trigger para santri ngaji.

Mengapa Allah Masih Perlu Mengutus Nabi?

Secara tidak langsung, diutusnya nabi adalah sebagai bentuk cinta Allah kepada mahkluk-Nya. Selain itu, persoalan ini hendak memanifestasikan sifat-Nya Yang Maha Memelihara (al-Rabb), Yang Maha Memberi Petunjuk (al-Hadi), Yang Maha Pengasih dan Penyayang (al-Rahman dan al-Rahim).

Dengan mengutus nabi sebagai bentuk pemeliharaan, memberikan arahan, petunjuk, agar hidup manusia sesuai tuntunan syariah, tidak membiarkan hamba-Nya tercecer berserakan tak beraturan tanpa bimbingan dari yang memiliki akses kepada Allah langsung. Diutusnya nabi lagi-lagi sebagai bentuk cinta Allah kepada manusia agar tetap berjalan di jalan yang lurus sebagaimana telah diajarkan nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya yang telah diutus.

Hal tersebut senada dan dapat dilihat dalam Al-Quran surah Al-A’la ayat 2-3, “Allazi khalaqa fa sawwa. Wallazii qaddara fahadaayang memiliki arti, “Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.

Mengapa Tidak Akal Saja?

Pertanyaan kedua yang cukup menggelitik untuk ditelusuri lebih lanjut, mengapa masih perlu nabi, mengapa tidak akal saja? Dengan segenap potensi dan kelebihannya, bukankah sudah cukup dengan akal?

Beberapa pandangan menyebut bahwa akal telah cukup dijadikan sebagai penentu baik dan buruk serta mencapai benar dan salah, sehingga tanpa kehadiran nabi sekalipun manusia telah mampu menjalani kehidupan yang baik dan benar. Dengan akal manusia dapat berpikir lebih dalam lagi, bahkan telah mampu berpikir tentang dirinya dan juga Tuhannya.

Anggapan umum yang mewakili barisan ini adalah Ibnu Rawandi dan Abu Bakr Al-Razi, hanya saja untuk nama yang terakhir (Al-Razi) saya masih belum sepakat bila ia dikatakan telah menegasikan konsep kenabian.

Sebab dibanyak karya Al-Razi masih banyak salawat dan salam yang dihaturkan kepada Nabi Saw. Untuk bacaan lebih lanjut terkait pembelaan-pembelaan atas Al-Razi dapat ditelusuri tulisan ‘Abd Al-Latif Muhammad Al-‘Abad yang bertajuk Dirasat fi al-Falsafah al-Islamiyah dan karya Tien Rahmatin yang bertajuk al-Razi Sang Penolak Nabi? yang membela bahwa Al-Razi merupakan seorang filosof saleh yang tidak menolak hal tersebut.

Kembali kepertayaan kedua, setidaknya ada dua argumen penyokong mengapa akal saja tidaklah cukup.

Pertama, akal memiliki keterbatasan, mudah terseret ego, sering dikelabuhi hawa nafsu, dan mudah terdistraksi oleh lingkungan sekitar. Betapapun akal memiliki potensi dan fungsi yang melimpah dalam setiap tindak-tanduk kehidupan, namun tetap saja akal mudah dikelabuhi nafsu.

Hal ini senada dengan ungkapan Al-Mawardi dalam A’lam al-Nubuwwah, bahwa nabi diutus membawa segala perintah dan larangan, dengan begitu manusia mengetahui apa yang harus dilakukan sesuai protokol kehendak Tuhan.

Bila hanya mengandalkan nalar, maka manusia tidak akan mengetahui baik dan buruk secara substansial, kecuali hanya kulit luarnya saja, sehingga akal saja tanpa penuntun (nabi) akan terasa sulit untuk mencapai tujuan maksimal dan tidak akan mengetahui kemaslahatan apa yang diberikan oleh-Nya.

Ungkapan yang mirip juga disampaikan oleh Al-Maturidi. Menurutnya, manusia itu dimuliakan Allah dengan akalnya, sehingga manusia mampu menjalani kehidupannya. Namun, akal saja tidaklah cukup untuk mengetahui segalanya, sebab Allah sendiri menciptakan akal dengan keterbatasan.

Selain itu, kenabian juga media untuk mempermudah hamba-Nya untuk menjelaskan segala yang tersembunyi dibalik akal. Dengan kata lain, akal seringkali tidak berdaya terhadap apa yang metafisik, mungkin hanya mampu berspekulasi dan meraba-raba. Dengan kata lain, kenabian sebagai fasilitator yang diberikan Allah kepada kita agar menangkap pesan-pesan langit dengan lebih mudah.

Alasan kedua mengapa akal saja tidak mampu adalah karena manusia adalah makhluk potensi, yang memiliki kecenderungan ke arah yang positif dan yang negatif sekaligus dengan segala manfaat dan mudaratnya, dan manusia juga cenderung melampaui batas.

Manusia mampu membentuk dirinya menjadi seperti apa pun, menjadi ahsani taqwim atau satu step di atas malaikat (lebih mulia dari malaikat), dan bisa menjadi asfala safilin satu step di bawah binatang (lebih hina darinya).

Bahkan dalam Al-Quran surah Al-Syams ayat 8 menyinggung ihwal potensi manusia yang memiliki kecenderungan pada yang positif dan negatif. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.

Mengapa Bukan Malaikat?

Pertanyaan ketiga, mengapa bukan malaikat? Padahal malaikat merupakan makhluk mulia yang tercipta dari cahaya, tidak pernah mengeluh dalam beribadah, selalu patuh kepada segala yang diperintah, dan tidak pernah sedikit pun memberontak mengabaikan perintah-Nya.

Dari pernyataan tersebut secara tidak langsung seolah telah memberikan jawaban. Karena kecenderungan tersebutlah Allah tidak mengutus malaikat sebagai rasul atau nabi. Hal ini juga tampak dari kecenderungan manusia itu sendiri yang lebih menyukai dan lebih mudah menerima apabila berasal dari golongannya (jenis) sendiri dengan bahasa manusia.

Karena berasal dari manusia, pastinya akan merasakan emosi yang sama sebagai manusia biasa; seperti merasakan lapar, haus, gembira, sedih, marah, dan lainnya. Sehingga bimbingan Ilahiah akan menjadi lebih mudah diterima dan sulit dibantah.

Sebagai contoh dalam peristiwa Isra Mi’raj, yang dikenal sebagai peristiwa diperintahkannya shalat. Awal mula shalat diperintahkan dalam sehari sebanyak 50 kali, saran dari Nabi Musa kepada Nabi Saw untuk kembali semacam ‘menegoisasi hingga akhirnya menjadi 5 kali.

Karena nabi juga manusia, yang sama-sama memiliki perasaan dan menimbang-nimbang umatnya bilamana melaksanakan segala apa yang diperintahkan sebanyak 50 kali opo yo mampu?

Bahkan Nabi Musa masih menyarankan dengan penuh Nabi Muhammad agar kembali kepada Allah setelah mendapat nego 5 kali karena dikhawatirkan umatnya bakal keberatandan ternyata kekhawatiran Nabi Musa ini rasa-rasanya ada benarnya jika dirasa. Namun Nabi Saw malu setelah sekian banyak kembali meminta keringanan kepada Allah.

Tak terbayang apabila malaikat yang menjadi nabi atau rasul, sudah pasti akan “mengiyakan” tanpa perlu negoisasi lagi. Apa kita sanggup mendirikan 50 kali shalat dalam sehari?

Manusia membutuhkan model tiruan atau teladan terbaik secara langsung untuk mengaktualisasikan segenap potensi, daya, dan kekuatan jiwanya. Segalanya nabi ikut serta dan mengalami apa yang terjadi dan apa yang dihadapi umatnya. Secara naluriah manusia akan lebih mudah menerima bila berasal dari jenisnya. Dengan inilah Allah mengutus nabi kepada kita. Wallahu a’lam bi al-shawab.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Ali Yazid Hamdani

Saat ini menjadi mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif menulis esai, suka beropini, dan sesekali berpuisi. Dapat disapa melalui Instagram @ay_hamdani07