Membaca Tradisi dari Kacamata Abed Al Jabiri
Terdapat sebuah kisah menarik yang telah berumur puluhan tahun dari daerah Tegalrejo, Magelang. Kisah yang masyhur di kalangan santri di Indonesia semenjak diangkat ke publik oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Suatu ketika, seorang menantu kyai Watucongol, Magelang, diberi tugas untuk berdakwah di daerah Tegalrejo. Dia mendapat mandat untuk bertugas di wilayah yang berisi banyak kelompok abangan. Dalam sebuah kejadian, warga setempat berselisih paham soal penggunaan dana umum.
Kelompok santri menginginkan agar dana tersebut digunakan untuk kepentingan masjid yang sedang dibangun, sementara satu kelompok lagi menginginkan agar dana tersebut digunakan untuk kesenian. Tidak ada yang mau mengalah. Masing-masing kelompok merasa lebih berhak menggunakan dana tersebut. Dalam kebuntuan inilah sang menantu kyai tadi tampil. Dana rebutan tersebut dipersilakan digunakan untuk kesenian dulu, urusan keagamaan dipikir lagi setelah ini. Keputusan yang janggal untuk seorang yang alim agama.
Pada kemudian hari, keputusan itu diapresiasi banyak orang. Karena berkat kebijakan itulah warga tidak jadi berseteru. Hubungan bertetangga antarwarga masih terjalin baik, meski memiliki kecenderungan gaya dan orientasi hidup yang berbeda. Bahkan, seiring dengan berjalannya waktu, lebih banyak lagi orang yang mengikuti kelompok santri di sana. Kaum abangan yang sebelumnya anti terhadap agama, berubah jadi simpati, bahkan ikut.
Semua dari sadar, tidak mudah berada di posisi kaum santri Tegalrejo waktu itu. Saat sedang butuh-butuhnya, dipaksa mengalah pada kelompok lain yang justru menjadi saingan. Namun, berkat kebijakan satu orang yang paham betul bagaimana meracik dengan takaran yang pas antara agama dan tradisi, semua jadi baik-baik saja, bahkan berkembang baik di kemudian hari.
Sayang, hari ini, pembacaan atas tradisi masyarakat setempat tidak sebaik cerita tadi. Banyak kaum agamawan yang meletakkan tradisi masyarakat sebagai sesuatu yang tertinggal, khayali, masa lampau, tidak modern dan harus dilawan. Lebih jauh, tradisi sering kali dikambinghitamkan, terutama oleh kaum modernis muslim sebagai alasan ketertinggalan masyarakat Islam. Lalu dengan gegabah mereka mengajak umat Islam untuk menjadi seperti Eropa yang (dianggap) maju, ilmiah, dan modern.
Tuduhan itu misalnya terdapat dalam pandangan Kemal Ataturk. Kemal yang tergila-gila pada modernisme Eropa dengan gegabah membunuh tradisi negerinya sendiri. Hasilnya, di bawah Kemal, Turki harus kehilangan identitas keislamannya. Sedangkan kemajuan yang diharap Kemal pun nyatanya tak tercapai hanya dengan membunuh tradisinya sendiri. Di bawah kekuasaan Kemal, jadilah Turki terombang-ambing.
Di bagian lain, ada pula kelompok Islam yang terlalu mengagungkan masa lalu tradisi Islam. Sedikit berbeda dengan kisah di atas, tradisi yang diagungkan oleh kelompok kedua ini adalah tradisi tentang kejayaan. Kelompok ini hanya melihat sisi kejayaan, tapi lupa dengan keadaan hari ini.
Mereka selalu mengkhayalkan kejayaan masa lalu Islam yang maju dalam peradaban, pembangunan, dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai cita-cita luhur. Sampai di sini cita-cita mereka terdengar indah dan tidak ada yang salah. Hanya saja cara mereka membaca keadaan hari ini, yang ingin mereka paksa menjadi seperti masa lalu itu yang dipandang salah kaprah.
Berharap peradaban bisa kembali seutuhnya seperti kejayaan Islam di masa lalu adalah sebuah utopia. Mengapa? Karena tidak ada jalan lain untuk mewujudkannya kecuali dengan terlebih dahulu meruntuhkan berbagai peradaban yang eksis hari ini. Dan meruntuhkan peradaban seluruh dunia yang ada pada hari ini demi tujuan membangun ulang kejayaan peradaban Islam di masa lalu adalah khayal yang tidak pernah bisa dinalar. Karena itulah kemudian ide ini, yang sering dibahasakan dengan khilafah, banyak ditolak.
Dua kelompok ini sama-sama salah dalam memperlakukan tradisi. Titik temu kesalahan yang menyatukan dua kelompok tersebut adalah menutup mata terhadap realitas tradisi masyarakat yang sedang terjadi pada hari ini.
Melihat tradisi masyarakat yang mendapat perlakuan tidak adil, Abed Al Jabiri tampil melawan. Bagi Al Jabiri, sebab kemunduran umat Islam saat ini bukan disebabkan oleh tradisi. Entah tradisi yang terlalu diagungkan, lebih-lebih tradisi yang dianggap rendah.
Mengenai dua kelompok umat Islam pembaca tradisi ini, Al Jabiri menyampaikan kritiknya. Terhadap kelompok yang pertama, Al Jabiri menyebut bahwa kemajuan yang diharapkan oleh kelompok pertama tadi, dengan mengesampingkan tradisi masyarakat setempat hanya akan membuat umat Islam terombang-ambing, tidak memiliki identitas geografis yang jelas. Tidak ada identitas diri yang dipegang teguh hanya akan membuat seorang muslim berkiblat pada Eropa.
Dengan demikian, standar berpikir dan kemodernan menjadi sangat Eropa sentris. Lebih jauh, hal tersebut akan membawa seorang muslim pada pandangan bahwa apa yang dibawa oleh Eropa itulah yang benar, dan itulah satu-satunya cara yang absah. Di titik inilah kritik Al Jabiri ditancapkan.
Soal pandangannya yang anti-Eropa sentris, Al Jabiri mirip dengan Edward Said dan kawan-kawan post strukturalisnya. Dalam Orientalisme, masterpiece-nya, Said mengkritik para orientalis yang melihat Timur (Asia) dengan sudut pandang Eropa. Hal ini berdampak pada standar kebenaran dan kemajuan jadi mengekor pada Barat, pandangan yang khas mazhab filsafat positivisme.
Selain tertuju pada umat Islam kelompok pertama, kritik Al Jabiri ini secara bersamaan juga menyasar kaum orientalis.[i] Al Jabiri tidak hendak menegasikan setiap karya orientalis. Menurutnya, karya sarjana Barat yang bicara tentang Timur, baik berupa karya ilmiah maupun karya fiksi, sama-sama memiliki nilai positif. Hanya saja, nilai positif yang ada pada karya mereka hanya sebatas pada positif bagi Eropa.
Lebih jauh, Al Jabiri menyebutkan Eropa mempelajari Arab hanya untuk kebutuhan mereka, bukan demi kebaikan Arab dan Islam itu sendiri. Sebagai contoh, Al Jabiri menyebut Henry Corbin[ii] yang mempelajari Ibnu Arabi dan Suhrawardi sebagai usaha untuk menjawab masalah Eropa yang sedang krisis spiritual, bukan benar-benar demi menggali khazanah Arab klasik.
Kepada kelompok kedua, kritik Al Jabiri terletak pada glorifikasi yang dilakukan oleh mereka atas masa lalu Islam yang pernah berjaya. Segala yang terdapat di masa lalu itu dianggap sebagai kebenaran. Sementara pada saat yang sama menegasikan keadaan umat Islam hari ini, dan dianggap jauh dari benar.
Ide Al Jabiri untuk kemajuan umat Islam memang berangkat dari kejayaan tradisi Islam di masa lalu. Namun bukan berarti harus menjadi seperti masa lalu. Al Jabiri memandang masa lalu sebagai cermin sekaligus alat untuk mencapai kemajuan, sementara kelompok yang dikritik Al Jabiri ini, yang sering disebut sebagai salafi, menjadikan masa lalu sebagai tujuan.
Yang Ditawarkan Al Jabiri
Banyak yang salah kaprah melihat keadaan umat Islam dalam memandang tradisi bangsanya. Hal ini kemudian membuat Al Jabiri tampil ke publik dengan idenya soal pembacaan yang adil terhadap tradisi. Al Fashl wal Washl. Demikian orang mengenal metodologi berpikirnya dalam pembacaan terhadap tradisi.
Al fashl ani-l-maqru’ menurut Al Jabiri adalah kita harus terhindar dari membaca makna sebelum membaca kata-kata.[iii] Kata-kata dalam pengertian Al Jabiri bukan hanya sebatas kumpulan huruf demi huruf. Kata-kata yang dimaksud di sini sama dengan teks dalam semiotika Roland Barthes, segala objek yang akan ditelaah. Sementara maksudnya ‘agar kita terhindar dari membaca makna’ adalah sikap untuk tidak terbelenggu dalam apriori.
Dalam praktik pembacaan tradisi, Al Jabiri berusaha mengingatkan umat Islam bahwa tradisi yang ada pada zaman umat Islam terdahulu memiliki konteks tersendiri yang berbeda dengan konteks hari ini.
Dengan demikian, Al Jabiri mengajak umat Islam untuk bersifat objektif dalam membaca segala tradisi (teks) yang terhampar luas dalam khazanah kesejarahan umat Islam. Tidak asal glorifikasi. Untuk menghindari ketidaktepatan dalam membaca tradisi tersebut, maka menawarkan metode pembacaan yang disebut al Fashl.
Al Jabiri paham betul bahwa sekadar meletakkan tradisi secara objektif tidaklah cukup. Sejarah Islam yang panjang dan berliku tidak akan memiliki fungsi positif jika hanya diletakkan sebagai tumpukan buku-buku. Karena itu, Al Jabiri merasa perlu mengambil pelajaran dari tradisi masa lalu untuk ditarik kepada kondisi hari ini.
Di sinilah kemudian ia menawarkan metodologi pembacaan yang dikenal dengan al washl bi-l-maqru’. Menghubungkan (pelajaran dari) tradisi masa lalu dengan konteks hari ini. Yang khas dari al Washl Al Jabiri adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi nilai-nilai tradisi (dalam konteks Al Jabiri, tradisi Maghribi) yang relevan dengan konteks hari ini.
Dari metode Al Jabiri ini, umat Islam di Indonesia semestinya bisa mengadopsi langkah-langkah yang ia ambil untuk menggali khazanah tradisi nenek moyang. Pemahaman yang benar akan metode al fashl al washl akan mengantarkan seorang pada posisi adil dan bijak dalam membaca tradisi.
Sebagai bangsa yang kaya akan tradisi masa lalu, tokoh Islam di Indonesia semestinya memiliki pemahaman dan pengamalan atas metode al Fashl al Washl Al Jabiri. Kyai Chudlori, Tegalrejo Magelang, seperti yang telah saya sebutkan di awal tulisan ini adalah contoh tokoh agama yang mampu dengan pas meracik al fashl al washl seperti yang diyakini al Jabiri.[iv]
Kyai Chudlori tidak serta merta memandang tradisi hari ini (saat itu) sebagai kesalahan, juga tidak mendewakan prestasi umat Islam masa lalu dan mengajak umat Islam sekitar Tegalrejo untuk mendirikan khilafah. Kyai Chudlori terus maju menyebarkan ajaran Islam, tanpa harus tercerabut dari tradisi setempat.
Hasilnya, masyarakat sekitar merasa ikut menjadi bagian dari Kyai Chudlori tanpa khawatir dipisahkan dari masa lalunya. Sebuah praktik keagamaan yang telah sejak lama diwarisi dari Wali Songo.
[i] Untuk mengetahui lebih detail tentang kritik al Jabiri terhadap orientalisme, silakan baca karya al Jabiri “al Istisyraq fi-l-falsafah: Manhaj wa Ru’yah.”
[ii] Henry Corbin adalah filsuf asal Sorbonne, Prancis. Kendati ia dikenal sebagai kritikus Orientalisme, tapi ia tidak lepas dari kecurigaan al Jabiri.
[iii] Ahmad Baso, Al Jabiri, Eropa dan Kita, Hlm. 23.
[iv] Kyai Chudlori tentu bukan penganut al Jabiri. Juga bukan pengamal al fashl al washl. Tapi di kalangan kyai pesantren, ada adagium yang memiliki makna mirip dengan al fashl al washl al Jabiri, “al muhafadzah ala qadimi-s-shalih wa akhdzu bi-l-jadidi al aslah.”
Category : keilmuan
SHARE THIS POST