Lingkungan dalam Kacamata Fritjof Capra

slider
25 Oktober 2021
|
296

Indonesia menjadi negara yang memiliki peranan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keberlanjutan kehidupan manusia. Sekian bencana dan krisis tercatat pernah terjadi di negeri ini.

Misalnya seperti penggundulan hutan yang berakibat tanah longsor dan banjir, kebakaran hutan guna membuka lahan pemukiman atau perusahaan, sekaligus bencana alam berupa gunung meletus dan gempa bumi. Maka menjadi penting bagi kita untuk memiliki kesadaran dalam melihat kondisi dan situasi yang kian krisis terjadi di sekitar lingkungan kita.

Data dari Food Agricurtural Organization menunjukkan bahwa perkiraan luas hutan Indonesia ada sekitar 144,5 juta hektare pada tahun 1990. Dan sekarang luas itu menyusut, diperkirakan tinggal tersisa 109 juta hektare saja. Penyusutan ini terjadi karena ada banyak perusahaan yang diberikan kewenangan untuk melakukan penebangan hutan secara membabi-buta.

Selain itu, ada problem lain yang tidak kalah pentingnya untuk dihadapi manusia: mengenai sampah. Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan data pada 2020 yang menunjukkan total produksi sampah di Indonesia mencapai 67,8 juta ton.

Artinya ada sekitar 185,753 ton sampah setiap hari yang dihasilkan oleh 270 juta penduduk. Jumlah ini terbilang besar. Apalagi jika ke depan tidak diupaya-terapkan langkah-langkah untuk menanggulanginya.

Salah satu upaya-terapkan untuk merawat lingkungan dewasa ini akrab dikenal dengan istilah ecoliterasi. Menurut fisikawan dan filsuf Fritjof Capra, ‘Eco’ berakar dari bahasa Yunani yang artinya rumah tangga, atau dalam arti luas berarti alam semesta, bumi tempat tinggal semua kehidupan (lingkungan hidup). Kemudian ‘Literacy’ dari bahasa Inggris yang artinya melek huruf atau dalam pengertian luas yaitu keadaan manusia yang sudah paham tentang sesuatu.

Untuk mengerti tentang ecoliterasi, saya rasa dapat dimulai dengan tidak hanya sekadar menulis dan membaca buku, namun juga mengamati, membaca, dan memaknai kondisi lingkungan sekitar.

Dari situ, lamat-lamat manusia mungkin bisa menyadari bahwa sedikit banyak, setiap jengkal aktivitas manusia ternyata juga menyumbang bagi kerusakan lingkungan.

Bagi Fritjof Capra, masa depan manusia nantinya akan bergantung pada kesadaran ecoliterasi. Kesadaran itu dirumuskan di dalam konsep ecodesaign.

Ecodesaign sendiri menurut penerangannya bermula dari anggapan bahwa ‘sampah sama seperti makanan’. Sampah sebagai produk yang diolah industri, termasuk juga sampah yang dihasilkan dalam proses saat pembuatannya lantas menjadi bahan untuk pembuatan sesuatu yang lain. Atau residu dari poses produksi dan konsumsi dipandang sebagai modal, sehingga segala aktivitas yang dilakukan manusia tidak lagi menghasilkan sampah.

Prinsip ini seperti organisme hidup yang terus-menerus menghasilkan sampah, tetapi sampah itu akan menjadi makanan bagi organisme yang lain. Tujuannya untuk menciptakan kawasan bebas sampah. Tidak ada sampah yang masuk ke tempat pembuangan sampah akhir. Sampah tersebut diolah dan dapat digunakan kembali oleh manusia.

Fritjof Capra juga merumuskan konsep lain yang dapat dilakukan oleh manusia dengan cara sederhana dan apa adanya. Kendati demikian, dampak yang dihasilkan dari cara itu, bisa membuat manusia lebih menghargai lingkungan dengan tidak mengotori sampai memicu bencana. Konsep itu dikenal dengan 5R;

Refuse (menolak). Manusia dapat menolak produk-produk yang bisa menimbulkan sampah yang sulit terurai. Misalnya seperti tidak menggunakan kantong plastik ketika belanja. Sebagai gantinya kita bisa membawa tas sendiri untuk mengurangi konsumsi sampah plastik.

Reduce (mengurangi). Manusia bisa mencegah atau mengurangi kebiasaan konsumtif, seperti mudahnya dengan mengurangi penggunaan tisu lantas menggantinya dengan lap atau sapu tangan milik sendiri.

Reuse (menggunakan kembali). Manusia bisa memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai agar tidak terjadi penumpukan sampah. Kaos, tas sekolah, sepatu, kaos kaki, celana, dan seabrek barang yang sekiranya tidak mendesak untuk diperbarui, bisa digunakan lagi.

Recycle (mendaur ulang). Melalui nalar kreatif manusia bisa mengolah kembali sampah sehingga dapat tercipta barang baru. Contohnya mengolah sampah plastik dan botol minuman menjadi suvenir yang memiliki nilai guna dan jual tinggi.

Rot (membusukkan sampah). Manusia bisa mengolah sisa makanan menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman dengan cara pengolahan sedemikian rupa.

Saya sendiri kerap menemui beragam ajakan untuk menjaga kelestarian lingkungan mulai dari beranda media sosial dan di bangku akademis, persis seperti yang dirumuskan oleh Fritjof Capra di atas. Belum lagi jika diakumulasikan dengan sekian poster yang bertuliskan hal serupa di sepanjang jalan dan bibir sungai. Saya dan kita semua tahu dan membacanya.

Hanya saja ajakan itu melulu dianggap sebagai angin lalu. Ajakan itu baru peroleh penerapan ketika misalnya telah terjadi banjir, tanah longsor, atau semacamnya. Itu saja masih ada beberapa pihak yang malah ribut dan sibuk mencari dalang di balik kejadian, ketimbang menimbang dirinya sendiri sudahkah menerapkan laku hidup melestarikan lingkungan?

Padahal keseimbangan ekosistem merupakan nafas dalam kehidupan. Manusia memiliki posisi yang sejajar dengan lingkungan sekitar sehingga, manusia dengan mudah melihat lingkungan sebagai bagian dari dirinya sendiri yang nantinya juga akan mempengaruhi kehidupannya.

Saya rasa upaya untuk melestarikan lingkungan bisa dimulai dari ruang yang paling kecil seperti, memanfaatkan halaman rumah untuk kebun sayur, memaksa diri membuang sampah pada tempatnya, memberi cerita apik pada anak tentang kebaikan menjaga lingkungan, serta turut andil dalam setiap gerak pelestarian lingkungan di level desa-desa. Demikian.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Putri Nurhayati

Peserta kelas menulis menemui senja di Masjid Jendral Sudirman jilid #5