Kisah Seorang Pejalan dalam Monsieur Ibrahim

slider
21 Februari 2022
|
382

Judul: Monsieur Ibrahim | Tahun: 2003 | Sutradara: François Dupeyron | Skenario: Éric-Emmanuel Schmitt, François Dupeyron | Produser: Laurent Pétin, Michèle Pétin | Pemain: Omar Sharif, Pierre Boulanger, Gilbert Melki, Isabelle Renauld, Lola Naymark, Isabelle Adjani | Durasi: 95 menit

Persahabatan dua anak manusia yang berbeda umur dan etnis yang membawa seorang remaja Yahudi kepada kehidupan baru. Moïse Schmidt (diperankan oleh Pierre Boulanger) tinggal di suatu kawasan bernama Rue Bleue di Paris. Ia tinggal bersama ayahnya (Gilbert Melki), yang hidup berpisah dari istrinya (Isabelle Renauld). Hubungan antara ayah dan anak ini tidak harmonis. Meskipun begitu, Moïse masih mengurusi kebutuhan ayahnya, seperti makan malamnya. 

Rumah yang sepi dan dingin, tidak begitu dengan Rue Bleue. Kawasan itu adalah kawasan padat penduduk dan dikenal sebagai kawasan lampu merah. Di jalan Rue Bleue, Moïse mencari keramaian, kegembiraan, dan kehangatan. Termasuk memperoleh kehangatan tubuh dari seorang pekerja seks komersial bernama Sylvie (Anne Suarez). Demi pengalaman pertama dengan perempuan, Moïse rela menghabiskan tabungannya.

Di jalan itu juga, Moïse mengenal Ibrahim Denedji (Omar Sharif). Ibrahim adalah seorang imigran lanjut usia dari Turki yang memiliki toko kelontong. Moïse kerap singgah ke toko Ibrahim untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Tidak hanya membeli, Momo—begitu Ibrahim memanggil Moïse—mencuri barang di toko tersebut. Ibrahim tahu dan tidak mempersoalkan kebiasaan tersebut. “Jika kau ingin mencuri,” ujar Ibrahim, “aku memilih kau melakukannya di tokoku.”

Ibrahim memiliki kepribadian yang hangat dan kebaikan hati yang tidak biasa. Ia kerap memberi Momo barang dan makanan. “Apa yang kau beri, Momo, adalah milikmu selamanya,” ujar Ibrahim. “Apa yang kau simpan hilang selamanya.”

Salah satu hal yang dapat diberikan kepada orang lain, menurut Ibrahim, adalah senyum. Ibrahim mengajari Momo untuk terus memberikan senyum kepada orang lain.

Saat ayahnya dipecat dari pekerjaannya, meninggalkan rumah, dan mengambil nyawanya sendiri di stasiun kereta bawah tanah, Ibrahim mengangkatnya sebagai anak. Ibrahim merasa bahagia, dan membagi Momo kebahagiaannya dengan cara membeli mobil sport. Dengan mobil ini, mereka berdua menyusuri jalan demi jalan, negara demi negara menuju kampung halaman Ibrahim: Turki.

Monsieur Ibrahim et les fleurs du Coran (dalam bahasa Inggris berarti Mister Ibrahim and Flowers of Qur’an, atau dikenal sebagai Monsieur Ibrahim) adalah kisah seorang anak yang berasal dari keluarga yang terbelah di suatu kawasan ramai di Paris. Si anak telah menyerap nilai-nilai yang ada di lingkungannya, tetapi ia diselamatkan oleh hubungannya yang erat dengan seorang imigran muslim tua.

Hubungan tersebut sebenarnya tergolong tidak biasa: si imigran adalah muslim dan si anak adalah keturunan Yahudi. Usia mereka pun terpisah beberapa generasi. Namun, hubungan tersebut tidak menghalangi keakraban kedua anak manusia itu.

Monsieur Ibrahim (2003)—dibesut oleh François Dupeyron—menonjolkan karakter muslim yang berbeda. Sebagai muslim, Ibrahim tidak berkeberatan tinggal di kawasan lampu merah. Ia menyukai film dan mengagumi selebriti cantik (Isabelle Adjani), yang sedang berakting di dekat tokonya. Ibrahim menikmati tarian dan musik. Ia menjual anggur di tokonya. Ia juga meminum anggur dan alkohol dalam kadar tertentu.

“Itu (minum alkohol) bukan penyakit, itu (berkaitan dengan) cara berpikir. Meskipun begitu, ada beberapa cara berpikir yang membawa penyakit.” Ibrahim menjelaskan mengapa dirinya minum kepada Momo.  

Ibrahim adalah seorang sufi. Ia berpedoman pada Al-Qur’an dalam menjalani hidup. Dengannya, ia mengajari Momo nilai-nilai yang ia anut. “Aku tahu apa yang Al-Qur’anku katakan,” kata Ibrahim kepada Momo beberapa kali.

Monsieur Ibrahim menampilkan sosok Islam yang berdamai dengan lingkungannya yang asing. Ia menerima dan berusaha menemukan keindahan dalam segala sesuatu. “Kau dapat menemukan keindahan ke arah mana pun kau melihat,” kata Ibrahim, “Begitu yang dikatakan Al-Qur’an.”

Untuk merasakan keindahan hadir, seseorang harus mampu menjadi sosok yang hadir saat ini dan di sini (here and now). Ia dengan sadar menjalani hidup dari satu saat ke saat lain. Karena itu, ia menghindari keterburu-buruan. “ketidaktergesa-gesaan adalah kunci dari kebahagiaan,” begitu yang ia sampaikan kepada Momo.

Nilai-nilai sufisme memang kental dalam film ini.

Di sisi lain untuk beberapa orang, film ini mungkin kurang sesuai dikarenakan nilai-nilai Islam yang berbeda. Bagi mereka, film ini mengidealkan satu jenis Islam yang berkompromi dengan nilai-nilai Barat yang dianggap tidak sesuai. Tidak semua orang sepakat dengan kompromi dengan dunia Barat.

Bisa jadi ini adalah alasan mengapa film ini tidak begitu dikenal. Alasan lain yang mungkin adalah karena Monsieur Ibrahim adalah jenis film yang kerap berlaga di festival-festival film. Film-film festival kerap kurang diekspos meskipun memiliki kualitas estetis.

Salah satu kualitas Monsieur Ibrahim adalah dialognya yang cerdas dan bermakna, yang disampaikan dalam percakapan yang mengalir. Tidak menggurui maupun mendakwahi.

“Jika Tuhan ingin mengungkapkan kehidupan kepadamu, Ia tidak akan membutuhkan suatu kitab,” ungkap Ibrahim saat ia menjawab pertanyaan Momo yang merasa harus membaca Al-Qur’an.

Di sisi lain, film ini juga menampilkan dialog ringan yang terkadang menimbulkan senyum. Adegan bagaimana Ibrahim setengah mati mempelajari dan mengingat aturan dan marka lalu lintas untuk memperoleh surat izin mengemudi adalah salah satu adegan yang menerbitkan senyum.

Presentasi visual film ini, khususnya pada setting di Rue Bleue yang padat penduduk pada era 1960an, cukup kuat dan alami. Akan tetapi, salah satu adegan yang patut diberikan nilai plus adalah adegan perjalanan Ibrahim dan Momo ke Turki. Dalam perjalanan itu, Ibrahim dan Momo menyaksikan para Darwish sedang menari.

Omar Sharif sendiri bermain gemilang dalam film ini. Ia dapat membangun dan menghidupkan karakter Ibrahim yang dipenuhi oleh energi kehidupan dalam gerak-gerik yang minim. Pierre Boulanger—pemeran Momo—juga menampilkan akting yang dapat mengimbangi akting Sharif.

Karena aktingnya, Omar Sharif merebut penghargaan aktor terbaik versi Venice International Film Festival dan César Award (penghargaan film di Prancis sekelas Academy Award). Boulanger sendiri memperoleh Silver Hugo for Best Male Performance versi Chicago International Film Festival.

Pada lapisan permukaan, Monsieur Ibrahim berkisah tentang seorang imigran yang membantu memperbaiki hidup seorang remaja Yahudi. Ia orang asing, tetapi mengangkat derajat seorang remaja—karena ia ditinggal mati oleh ayahnya, tetapi menolak diasuh oleh ibunya—dengan menjadikannya anak angkat.

Pada lapisan lebih dalam, Monsieur Ibrahim adalah film mengenai perjalanan seorang dari Timur, yang menghabiskan hidupnya di Barat. Ia wariskan hikmah—setelah kematiannya, sang remaja memperoleh warisan material dari Ibrahim—yang dipetiknya dari kehidupan kepada seorang remaja.

Ibrahim—sang orang asing tersebut—telah memenuhi hidupnya; lingkaran itu telah penuh dengan perjalanan kembali ke Turki. Ibrahim pun menutup mata di sana. Ibrahim menyadari dari mana ia berasal. Baginya, tanah Turki adalah awal dan akhir. Ini merupakan simbolisasi hubungan Ibrahim dan asal-usulnya: Tuhan.

Karena itu, Ibrahim bukan sosok yang terbaratkan. Ia hanya seorang pejalan yang menantikan waktunya kembali ke tanah asal.


Category : resensi

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Deda Ibrahim

Penulis dan peresensi film, pernah memenangkan lomba ulas film Pusbangfilm Kemdikbud dua kali. Beberapa resensinya pernah dimuat di beberapa media online.