Kecerdasan Tinggi dan Overthinking Perspektif Jean-Paul Sartre

slider
01 Desember 2025
|
786

Fenomena orang pintar yang justru mudah mengalami overthinking sering kali dianggap paradoks. Membayangkan kecerdasan sebagai sesuatu yang membuat seseorang lebih tenang, lebih mampu mengambil keputusan, dan tidak akan mengalami kekhawatiran berlebihan, namun pada kenyataannya, banyak individu dengan kapasitas intelektual tinggi justru terjebak dalam lingkaran pikiran berulang yang melelahkan.

Ternyata kecerdasan yang tinggi tidak otomatis melindungi seseorang dari overthinking. Sebaliknya, kemampuan berpikir kompleks dapat memicu analisis berlebihan, meningkatkan kepekaan terhadap kemungkinan risiko, dan memperbesar beban kebebasan. Overthinking yakni satu keadaan dimana seseorang terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir pada sesuatu, tanpa dibarengi dengan proses penyelesaian atau problem solving secara efektif.

Penelitian psikologis menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kecerdasan tinggi cenderung memiliki aktivitas kognitif yang lebih intens dan mendalam. Beberapa studi yang dipublikasikan seperti Personality and Individual Differences menemukan bahwa orang dengan IQ tinggi lebih rentan mengalami rumination yaitu kebiasaan memutar ulang pikiran negatif secara berlebihan. Kecenderungan overthinking pada orang pintar tidak hanya dapat dijelaskan oleh psikologi tetapi filsuf seperti Jean-Paul Sartre menawarkan perspektif mengenai overthinking ini.

Sartre melihat manusia sebagai makhluk yang dikutuk untuk bebas (Condemned to be free). Ia melihat kebebasan itu bukan sekadar kemampuan memilih, tetapi juga beban untuk menanggung konsekuensi dari pilihan tersebut. Bagi individu dengan kapasitas intelektual tinggi, kesadaran mengenai konsekuensi ini menjadi lebih tajam, lebih rinci, dan lebih kompleks. Sartre menyebutnya sebagai anguish atau kecemasan eksistensial, yaitu kegelisahan yang lahir dari kesadaran bahwa tidak ada pegangan pasti dalam membuat keputusan.

Orang pintar cenderung lebih mampu membayangkan berbagai kemungkinan masa depan, berbagai potensi kegagalan, dan berbagai alternatif keputusan yang bisa diambil. Akibatnya, pilihan yang seharusnya sederhana menjadi bentuk ketidakpastian yang berlebihan. Overthinking hadir sebagai upaya untuk mencari kepastian di dunia yang pada dasarnya absurd dan tidak memberikan jaminan apa pun.

Bila dikaitkan dengan penelitian modern, situasi ini menjadi semakin menarik. Penelitian neuropsikologi menemukan bahwa orang dengan intelegensi tinggi sering memiliki kemampuan metakognitif yang kuat seperti kemampuan untuk berpikir tentang proses berpikirnya sendiri. Lagi-lagi Sartre mengingatkan, bahwa refleksi berlebihan dapat menjadi sumber keterasingan (alienasi).

Ketika seseorang terus-menerus mengamati, menilai, dan mengomentari pikirannya sendiri, ia akan semakin jauh dari pengalaman otentik. Ia sibuk menjadi pengamat dirinya sendiri, bukan pelaku kehidupannya. Dengan kata lain, metakognisi yang tinggi dapat berubah menjadi jebakan kesadaran diri yang berlebihan. Orang pintar tidak hanya memikirkan masalahnya tetapi ia juga memikirkan mengapa ia memikirkan masalah itu, apakah ia memikirkannya dengan benar, dan apa dampaknya jika ia berhenti memikirkan atau meneruskan pemikirannya.

Selain itu, Sartre menekankan bahwa manusia cenderung menciptakan alasan-alasan palsu untuk menghindari tanggung jawab atas kebebasannya. Ia menyebutnya bad faith atau ketidakotentikan. Orang pintar yang overthinking sering bersembunyi di balik analisa berlebihan sebagai cara menghindari tindakan. Mereka meyakinkan diri bahwa “saya belum bisa memutuskan karena saya belum menganalisa semua kemungkinan.” Padahal, seperti kata Sartre, tidak mungkin seseorang memahami seluruh konsekuensi di dunia yang serba tidak pasti.

Dengan demikian, overthinking menjadi bentuk penundaan eksistensial upaya melarikan diri dari tanggung jawab untuk memilih meskipun tidak ada pilihan yang sempurna. Di sinilah paradoks terjadi: semakin pintar seseorang, semakin banyak alasan logis yang bisa ia ciptakan untuk tidak bertindak. Analisis berlebihan berubah menjadi benteng mental yang justru melemahkan gerak hidup.

Apabila ditinjau dari perspektif psikologi evolusioner, perilaku ini juga punya akar biologis. Para peneliti seperti Dr. Norman Li dan Satoshi Kanazawa mengajukan gagasan bahwa kecerdasan tinggi mungkin berevolusi untuk menyelesaikan masalah-masalah baru, bukan masalah rutin. Orang dengan kecerdasan tinggi lebih cenderung hidup di kepalanya sendiri, memikirkan skenario hipotetis yang tidak pernah terjadi. Ini menjelaskan mengapa overthinking muncul lebih mudah: otak pintar “dirancang” untuk terus mencari pola baru dan mengantisipasi ancaman abstrak, bukan hanya ancaman nyata.

Sartre pernah menyatakan bahwa manusia berbeda dari benda karena manusia “memproyeksikan dirinya ke masa depan.” Orang pintar memiliki kemampuan proyeksi yang lebih kaya, dan justru itulah yang membuka jalan bagi overthinking.

Melihat hubungan ini, dapat disimpulkan bahwa overthinking pada orang pintar bukan kesalahan karakter, tetapi konsekuensi dari kombinasi kapasitas intelektual yang tinggi, kesadaran eksistensial yang mendalam, dan struktur neurologis yang aktif. Namun ini bukan berarti situasi tersebut tidak dapat diubah. Sartre sendiri menawarkan jawaban melalui konsep autentisitas.

Menurutnya, seseorang harus menerima kebebasan dan ketidakpastian sebagai bagian alami dari eksistensinya. Tindakan lebih penting daripada mencari “kepastian sempurna” yang tidak akan pernah datang. Dalam konteks psikologi modern, pendekatan seperti mindfulness dan cognitive defusion juga terbukti membantu individu mengamati pikirannya tanpa harus tenggelam di dalamnya. Dengan kata lain, meskipun kecerdasan membuat seseorang lebih rentan overthinking, ia juga memungkinkan individu menemukan strategi mental yang lebih efektif untuk mengelolanya.

Pada akhirnya, orang pintar yang mudah overthinking tidak sedang mengalami cacat mental atau kelemahan pribadi. Mereka sedang menjalani konsekuensi logis dari kemampuan otaknya yang lebih aktif, lebih reflektif, dan lebih sadar akan kompleksitas hidup. Seperti yang Sartre tekankan, manusia tidak diberi pilihan untuk memiliki kesadaran atau tidak, kesadaran adalah takdir.

Apa yang bisa dilakukan adalah bagaimana seseorang mengarahkan kesadarannya menjadi alat yang memberdayakan atau jerat yang menahan langkah. Dengan memahami interaksi antara kecerdasan, psikologi, dan filsafat eksistensial ini, kita dapat melihat overthinking bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sinyal bahwa individu tersebut memiliki potensi besar yang perlu diarahkan, bukan dipadamkan.

Untuk Kita yang Orang Biasa

Kata Sartre, “Kita adalah pilihan kita.” Untuk kita yang orang biasa, beberapa cara untuk dapat menghindarkan diri dari overthinking berikut mungkin berguna, seperti menyadari bahwa overthinking tidak menguntungkan dari aspek apa pun. Dalam menyikapi segala sesuatu sebaiknya secara simple dan wajar. Urai segala sesuatu dalam bagian kecil, selesaikan masalah setahap demi setahap dan kosentrasi pada satu hal di satu waktu.

Selain itu, saat tidak ada lagi jalan keluar dari satu permasalahan, dapat mengambil sudut pandang baru yang lebih segar. Penting juga untuk berlatih mendisiplinkan diri, jangan mau dikontrol pikiran, namun kitalah yang mengontrol pikiran. Bersikap positif dan optimis; kita tidak mungkin mengontrol segalanya. Lengkapi hidup dengan melakukan apa yang kita cintai dan membuat kita gembira, serta hidup di masa kini; jangan dibelenggu masa lalu atau dicemaskan selalu oleh masa depan.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Efellyn Dinar Meivita

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya