Eksploitasi Kapitalisme Atas Hasrat

slider
20 Desember 2021
|
421

Tidak sampai satu tahun sejak model gawai terakhir diluncurkan, media sosial kita dipenuhi dengan iklan-iklan gawai dengan model yang terbaru, dan (kata mereka) sesuai dengan kebutuhan. Lalu dengan segera lingkungan kita, teman-teman kita, yang sebelumnya memakai gawai model lama berubah pegangan. Gawai mereka ganti yang baru.

Stigma kurang pergaulan segera hinggap pada orang-orang yang tidak segera mengganti model gawainya. Lalu, ada pada diri mereka perasaan butuh untuk memperbarui model gawai meski model lama sebenarnya juga masih bisa digunakan.

Ilustrasi sederhana ini bukan hanya soal lingkungan pergaulan. Juga bukan hanya sekadar ganti gawai dari satu model ke model yang lain. Ini adalah praktik eksploitasi kapitalisme atas hasrat manusia yang jarang disadari.

Apa yang sebenarnya hanya sebatas gaya didandani sedemikian rupa, lalu oleh pemilik kapital diganti sebutannya menjadi kebutuhan. Apesnya, kita sering ikut mengiyakan.  

Tulisan ini tidak akan bicara tentang kapital dalam arti luas, yang mencakup uang, sosial, budaya, pendidikan dan segala hal yang kita maknai sebagai modal. Tulisan ini akan membicarakan soal produsen-produsen besar dunia yang mengeksploitasi hasrat manusia sedemikian rupa.

Produsen-produsen ini memiliki produk-produk yang berkeliaran di sekitar kita, yang menunggu agar kita menggapainya. Bukan hanya produk mereka yang berkeliaran, iklan-iklan yang mendorong agar kita segera membelinya juga deras mengalir sederas aliran produk yang keluar dari pabrik.

Kapitalisme, dalam wacana libidonomics-nya Jacques Lacan, disebut tidak hanya memproduksi barang, melainkan juga memproduksi dorongan hasrat atas barang-barang tersebut. Alasannya jelas, untuk menjaga agar pasar mereka tetap terjaga. Dari sinilah kemudian mereka (kapitalisme) mengeksploitasi hasrat manusia tanpa henti.

Bagaimana Kapitalisme Mengeksploitasi Hasrat?

Ada beberapa sifat dasar hasrat yang dirawat sekaligus menjadi lahan garapan para pemilik modal. Pertama, hasrat selalu mencari kepuasan, tapi tidak pernah merasa puas. Sudah menjadi sifat dasar hasrat untuk selalu menuntut kepuasan. Karena itulah, hasrat akan selalu mencari cara agar terpuaskan.

Jalan yang dibutuhkan hasrat untuk mencapai kepuasan itulah yang coba disediakan oleh para pemilik modal. Mereka menciptakan hari belanja nasional, mereka menciptakan promo 11.11, promo 12.12 dan lain sebagainya dengan tujuan mengeksploitasi hasrat manusia.

Karena sifatnya eksploitatif, maka para pemilik modal ini tidak berpikir tentang apa yang dibutuhkan oleh konsumennya, tapi apa yang dianggap menjadi pemuas konsumen. Negatifnya, kepuasan yang diinginkan hasrat cenderung buruk, melampaui batas dan tidak menemukan titik akhirnya.

Karena tahu bahwa sifat dasar hasrat yang selalu mencari kepuasan, kapitalisme merancang langkah selanjutnya, menciptakan standar kepuasan baru. Dalam bahasa Felix Guattari, hal ini disebut sebagai mesin hasrat. Para kapitalis tahu betul bahwa standar kepuasan yang pernah mereka ciptakan akan segera dipenuhi banyak orang. Jika dibiarkan berhenti, maka produk yang mereka jual juga tidak akan diminati lagi. Karena itulah, standar baru perlu diciptakan.

Ilustrasi sederhana untuk hal ini adalah jenis gawai yang biasa digunakan hampir semua orang. Para pemilik produk gawai selalu menciptakan produk-produk baru yang mereka klaim sebagai terbaik, paling canggih. Dalam bahasa (omong kosong) mereka, yang paling sesuai dengan kebutuhan zaman. Produk tersebut kemudian dikampanyekan (iklan) sebagai produk terbaik. Tidak berselang lama setelah produk tersebut beredar di pasaran, produk lain akan segera muncul dan tanpa malu-malu mereka mengklaim produk terakhir ini sebagai yang terbaik, yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Begitu terus diulang-ulang. Cara inilah yang disebut sebagai penciptaan standar baru dalam kepuasan. Tujuannya, untuk mengeksploitasi hasrat manusia.

Berikutnya, hasrat mendorong manusia untuk memperbesar rasa ke-aku-an. Hasrat hanya tertarik untuk bicara tentang aku dan hal-hal yang melingkupi aku. Barang mewah punyaku, penampilanku, perhatian orang terhadapku, serta ke-aku-an yang lain. Bagi hasrat, pembicaraan selain aku adalah siksaan. Karena itu, hasrat menuntut diri untuk selalu memenuhi rasa ke-aku-an tersebut.

Tahu bahwa hasrat ke-aku-an manusia sangat kuat, maka kapitalisme menciptakan tawaran-tawaran yang memperindah ke-aku-an manusia. Barang mewah mereka ciptakan, lalu ditawarkan ke pasar dengan berbagai hiasan. Barang mewah dengan harga mahal yang sebenarnya tidak diperlukan manusia. Barang mewah yang dijual hanya sekadar untuk memenuhi hiasan ke-aku-an manusia. Atas nama hiasan ke-aku-an itulah kapitalisme mengeksploitasi hasrat manusia.

Hasrat ke-aku-an manusia juga memiliki dampak buruk lain, yang menjadi karakter hasrat selanjutnya, yakni memuaskan diri hingga melampaui batas. Sifatnya yang melampaui batas membuat hasrat menerobos hal-hal yang dilarang. Di sinilah kemudian lahir sikap amoral, orang-orang yang tidak memiliki tanggung jawab atas perbuatan mereka. Mereka melakukan hal-hal yang dilarang secara moral demi mendapatkan kepuasan hasrat.

Contoh sederhana dalam hal ini adalah akses video porno. Demi kepuasan hasrat manusia, mereka melakukan akses video porno. Tidak jarang, video porno yang tersebar adalah hasil kerja kapital. Mereka membuat video tersebut memang didasari tujuan untuk mencari untung dengan cara mengeksploitasi hasrat seksual manusia.

Terakhir, hasrat memiliki kecenderungan antisosial. Karena minatnya yang hanya pada aku, hasrat cenderung tidak peduli dengan keadaan sosial yang melingkupinya. Tidak ada lagi norma-norma sosial yang dipegang, tidak ada lagi hati nurani pada sesama, dan tidak ada lagi kepedulian pada lingkungan.

Gambaran paling nyata tentang hal ini adalah budaya konsumsi kita pada hal-hal yang berbahan plastik sekali pakai. Kita yang menginginkan barang “enak” dengan harga murah cenderung dilayani oleh para pemilik modal. Karena tidak mau rugi, maka memanfaatkan bahan plastik sebagai bungkus adalah alternatif mereka.

Kita, yang tahu akan dampak buruk ini (plastik) pada lingkungan sering kali tidak peduli. Yang penting makan, yang penting minum, yang penting kita menikmati. Hasrat kita untuk menikmati apa yang terbungkus di balik plastik jauh lebih dominan ketimbang kepedulian kita akan lingkungan. Di sinilah, produsen-produsen besar itu memanfaatkan hasrat manusia untuk mengeruk keuntungan.

Karena posisi hasrat yang sering menuntun manusia ke jalan yang buruk, la’ammaratum bisuu’ (QS. 12: 53), apakah berarti hasrat harus dikebiri sedini mungkin? Tidak. Karena membunuh hasrat secara keseluruhan berarti menafikkan naluri alami manusia yang memang diciptakan Tuhan dengan atribut hasrat yang ada bersama mereka.

Manusia harus tetap berjalan berdampingan dengan berbagai hasrat yang menyertainya. Karena hasrat sendiri merupakan dorongan di balik majunya peradaban. Tanpa hasrat, peradaban manusia tidak akan maju. Lacan, dalam bukunya, Discourse and Social Change mengemukakan bahwa “Hasrat merupakan sebuah mesin utama pengubah sosial, penggerak kebudayaan.”

Yang jadi soal, lalu bagaimana cara memisahkan hasrat baik, yang menuntun manusia menuju peradaban maju dan hasrat buruk yang hanya menuntun manusia untuk menjadi konsumen tanpa batas?

Yasraf A. Piliang di bukunya Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi (2010) menyebutkan, agama adalah wacana yang bertugas untuk membatasi hasrat, sehingga tidak semua dorongannya akan kepuasan boleh dipenuhi. Pada dunia yang dipenuhi hasrat inilah, rambu-rambu agama tentang seni mengatur hasrat dibutuhkan.


Category : keilmuan

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Hamdani Mubarok

Squad #4 Literasi Masjid Jendral Sudirman. Kontributor buku Serat Kehidupan (MJS Press, 2021).