Dari Kegelisahan Moral Menuju Healthy Spiritual Life

slider
09 Desember 2022
|
400

Tulisan ini berangkat dari sesi Ngaji Filsafat bersama Bapak Fahruddin Faiz yang membicarakan tentang moral. Himpunan atau lesson learned dari rentetan pembahasan tentang moral dikemas pada Rabu minggu terakhir, yang menurut saya jadi inti sari dari gelaran Ngaji Filsafat edisi Belajar Lagi tentang Moral (November 2022).

Pada kesempatan Ngaji Filsafat sesi Kegelisahan Moral (30/11), Pak Faiz membicarakan topik tentang kegelisahan moral saat ini, menyelami dan merenungi kembali kebobrokan moral yang kian masif terjadi hari ini.

Sebenarnya, diskursus mengenai moralitas sudah barangkali menjadi perbincangan yang umum. Menyusul nilai-nilai moral yang kian tidak tersentuh dalam masyarakat modern. Hal tersebut menimbulkan kegelisahan, apakah moralitas atau nilai-nilai moral tetap eksis di tengah gejolak kehidupan yang semakin dinamis? Sejalan dengan itu, perlu adanya perenungan kembali tentang apa yang terjadi.

Di satu sisi, teknologi komunikasi dan informasi sudah semakin pesat perkembangannya. Bahkan jutaan informasi dapat diterima setiap harinya dari sosial media yang tiada henti memproduksi data informasi terbaru. Semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, para pekerja, ibu rumah tangga dapat dengan mudah mengakses perkembangan informasi setiap saat.

Akan tetapi, yang menggelisahkan dari keadaan yang terjadi adalah bagaimana kemudian menyikapi perubahan-perubahan situasi yang terjadi? Sikap seperti apa yang perlu dikedepankan dalam merespon hal demikian?

Situasi semacam ini yang diistilahkan oleh Lawrence Kohlberg sebagai dilema moral. Menurutnya, dilema moral dapat menetukan level moralitas dari seseorang ketika dihadapkan pada situasi dalam hidup. Berdasarkan uraian tersebut, tulisan ini hadir untuk menjawab problem tentang kegelisahan moral yang terjadi dewasa ini.

Kegelisahan Moral Saat Ini

Kegelisahan moral saat ini mempengaruhi suatu sistem yang ada di masyarakat, baik sistem kepercayaan, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan komunikasi. Berkaitan dengan ini akan diuraikan terkait sistem-sistem yang hidup di masyarakat tersebut.

Pertama, rendahnya nilai moralitas dalam sistem kepercayaan masyarakat dibuktikan dengan banyaknya perilaku ekslusif (jumud).

Perilaku ekslusif bermakna sikap yang cenderung kaku dalam menghadapi suatu persoalan. Salah satu contoh perilaku intoleran yang marak terjadi yaitu timbulnya sikap yang menolak pandangan orang lain dan hanya mengakusisi pandangannya pribadi.

Kedua, sistem sosial yang bersifat kabilah tidak bisa menghadapi perbedaan dan cenderung agresif ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak sepemahaman dengan kelompoknya. Fenomena tersebut mengambarkan betapa rendahnya nilai moral yang terjadi saat ini. Lalu di saat yang bersamaan muncul sikap suatu kelompok yang keras dan agresif ketika menerima kenyataan akan adanya perbedaan.

Ketiga, adanya sistem kebudayaan yang inferior melahirkan suatu kebiasaan suka meniru. Hal tersebut mengakibatkan seseorang menjadi pengikut trend masa kini yang ditampilkan di semua media sosial, tanpa bisa memilah mana yang perlu untuk diikuti dan sebaliknya.

Keempat, sistem politik yang banyak berpola egoistik (ananiyah) adalah sikap yang mengedepankan kepentingan pribadi daripada orang banyak.

Kelima, sistem ekonomi yang masih bersifat konsumtif, yang menurut filosof Abed Al-Jabiri, disebut dengan sistem ganimah. Maknanya, ketika mendapatkan sesuatu dihabiskan untuk kebutuhan tanpa bisa melihat skala prioritas.

Keenam, sistem komunikasi saat ini sifatnya post-truth, artinya kecendrungan yang selalu ingin terlihat baik dan benar oleh khalayak ramai.

Dekadensi Moral dalam Sistem Sosial

Kegelisahan moral dari berbagai sistem yang ada dalam tatanan masyarakat memunculkan dekadensi moral. Misalnya sikap fanatik suatu aliran atau golongan, golongan yang memamerkan sikap jumud dan kaku dalam memahami sesuatu.

Fanatik merupakan suatu keyakinan ajaran yang tertanam kuat. Fanatik seringkali mempengaruhi kehidupan seseorang. Kalangan yang memiliki pikiran seperti ini akan berusaha mengagungkan seseorang yang dicintai, membela secara buta.

Dalam Bahasa Arab, fanatisme adalah al-ashobiyah bermakna seseorang mengajak orang lain untuk membela golongannya dan berpihak kepadanya, baik golongan dalam posisi melakukan kezaliman atau dalam keadaan dizalimi.

Kemajuan teknologi sekarang memberikan kemudahan dalam memperoleh suatu informasi. Salah satu konsekuensinya adalah makna ganda akan muncul dari beberapa orang. Produksi informasi yang berlebih akan membawa individu pada suatu yang berlebihan.

Dampak negatif dari fanatik akan sangat berbahaya. Apabila sikap merasa paling benar ini sudah mendarah daging, maka tak bisa dipungkiri akan muncul pertikaian yang merusak kesatuan antarmasyarakat beragama dan bernegara.

Selanjutnya, sikap fanatik akan berdampak pada terjadinya disharmoni yang merugikan semua pihak, termasuk kelompok itu sendiri. Fanatisme yang berlebihan seringkali menumbuh suburkan semangat ego yang mengancam disintegrasi bangsa.

Perbedaan pandangan yang disertai sikap fanatik juga menjadi sangat berbahaya apabila dilanggengkan dalam kehidupan beragama. Pasalnya, hal tersebut malah membuat kegaduhan dalam memahami doktrin agama.

Fanatik terhadap ajaran yang diyakini, lalu menyalahkan, hingga terkadang sampai pada tahap mengkafirkan pemahaman yang lain hanya karena perbedaan pandangan, sikap seperti inilah yang disebut kejumudan. Mengapa demikian? Karena seseorang tersebut tidak mampu berlapang dada terhadap pandangan yang berbeda dari orang lain.

Pada satu sisi, boleh menganggap pandangan kita sebagai suatu kebenaran, tetapi di sisi lain, kita tetap harus menyadari bahwa orang lain berhak memiliki perspektif yang berbeda dalam memahami suatu kebenaran.

Nilai moral yang demikian dirasa perlu dikembangkan dalam tatanan kehidupan sosial, bukan mengedepankan sikap fanatik-agresif yang cenderung kaku. Maka dari itu, perlu adanya pemahaman yang komperhensif agar kita memiliki berbagai perspektif dan mampu menegasikan sikap agresif terhadap suatu persoalan.

Healthy Spiritual Life

Selanjutnya, Pak Faiz menyampaikan bahwa apakah problem-problem yang terkait dengan kegelisahan moral tersebut mampu membawa kita pada hidup yang sehat secara batin (healthy spiritual life)? Hidup yang sehat secara spiritual terkandung poin-poin berikut ini.

Pertama, meaning. Hidup yang penuh makna adalah hidup yang mempertanyakan kembali apa sebenarnya tujuan hidup kita, melihat kembali apakah segala sesuatu yang kita miliki sudah digunakan sepenuhnya. Lantas bagaimana cara pemenenuhan akan hal tersebut? Jawabnya yaitu dengan merealisasikan kembali fasilitas yang dimiliki untuk hidup yang lebih berarti.

Kedua, value. Hidup yang punya standar adalah hidup yang menghargai kepercayaan dan tatanan. Kendati demikian, hidup yang diperlukan adalah hidup yang selalu mengedepankan nilai-nilai. Nilai yang dimaksud yaitu nilai yang berbudi luhur.

Ketiga, transcendence. Transenden bermakna sebuah kesadaran bahwa ada dimensi hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan hidup yang kita jalani sekarang. Menyadari bahwa kita hidup dalam keterbatasan dan tidak bisa dipungkiri bahwa ada tingkatan yang lebih tinggi di luar dari kemampuan diri.

Keempat, connecting (keterhubungan). Connecting berarti hidup dengan kesadaran akan keterhubungan dengan yang lain. Menyadari sejauh mana fasilitas yang kita miliki dalam hidup membantu kita semakin erat kaitannya dengan orang lain dan bukan malah makin terpisah/terasing.

Kelima, becoming. Becoming adalah proses hidup sambil melakukan refleksi, memahami diri, membuka diri untuk perubahan yang lebih baik.

Maka dari itu, menomorsatukan sikap mampu menghargai perbedaan, baik itu pandangan, argumen, dan bahkan keyakinan, merupakan manifestasi dari moralitas yang paripurna. Melazimkan nilai moral yang demikian, merupakan upaya untuk hidup lebih sehat secara batin/spiritual (healthy spiritual life). Sampai di tahap ini, seseorang dapat dikatakan mampu mengaplikasikan moralitas secara sempurna.

Akhirnya, manusia sebagai makhluk historis, memiliki ruang dan waktunya sendiri, berdiri atas pemahamannya sendiri. Sebab setiap orang memiliki kadar kemampuan yang berbeda dalam memahami sesuatu. Menganggap pemahaman orang lain salah tidak masalah, yang menjadi masalah terletak pada dimensi sosial yang cendrung agresif serta kaku dalam berpikir. Ketidaksiapan dalam menghadapi perbedaan berimpikasi pada ketidaksiapan akan kebenaran sunnatullah, yakni terdapat perbedaan di antara para manusia.

Referensi:

Adawiyah, Rabiatul, dkk, “Strategi Antisipasi Gerakan Fanatisme Mazhab Melalui Moderasi Beragama dalam Pendidikan di UIN Antasari Banjarmasin” dalam Jurnal Al-Banjari, Vol. 20, No. 2, 2021.

Faiz, Fahruddin, “Ngaji Filsafat ke-374 edisi Belajar Lagi tentang Moral: Kegelisahan Moral” Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, 30 November 2022.

Noor, Triana Rosalina, “Meneropong Indonesia: Sebuah Analisis Sosiologis dan Psikologis atas Konflik Bernuansa Keagamaan di Indonesia” dalam Journal An-Nafs, Vol. 3, No. 2, 2018.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Ardiansyah

Mahasiswa Magister Ilmu Syari’ah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Santri Ngaji Filsafat