Yu Miri: Untuk Siapa Saya Menulis?

slider
11 Maret 2022
|
398

Perempuan itu duduk di depan meja konferensi bertaplak merah marun. Dari jauh, tampak wajahnya mengisyaratkan kecanggungan yang tak bisa ditutupi. Kesempatan berbicara di panggung sepenting itu jelas menerbitkan rasa gugup dalam dirinya. Ia terdiam sembari menunggu moderator acara konferensi yang digelar Japan National Conference Club (23 Desember 2020) itu membuka acara sekaligus membacakan latar belakangnya. Tersebut karya terbarunya yang memenangkan National Book Award for Translated Literature pada tahun tersebut. Novel berjudul Tokyo Ueno Station (Tilted Axis Press, 2019) terjemahan Morgan Gilles itu juga menjadi salah satu topik yang akan dibahas dan dibicarakan.

Perempuan itu dikenal dengan nama Yu Miri. Seorang penulis perempuan Jepang kontemporer yang diberi kesempatan oleh pemerintah untuk berbicara mengenai kesusastraan, terutama bukunya yang mengenang tragedi nuklir Fukushima 2011. Diundangnya Yu Miri pun bukan tanpa alasan, sebab ia mewakili orang-orang yang menjadi korban dari bencana tersebut. Di samping itu, alasan lainnya, karena ia penulis yang memiliki corak dalam menyuarakan orang-orang yang memang memiliki latar belakang marjinal.

Identitas Yu Miri cukup unik. Ia sebetulnya memiliki darah Korea dalam dirinya. Di masa lalu, saat pecah Perang Korea yang melelahkan, orang tua Miri mencari suaka lain untuk menyelamatkan diri. Mereka kemudian pergi menggunakan perahu dan tiba di sebuah pulau di sekitar perfektur Fukushima.

Mereka pun menetap di sana hingga Miri lahir. Praktis, Yu Miri lahir di tanah yang sama sekali berbeda dengan tanah air orang tuanya. Miri lahir di Jepang, tumbuh dengan bahasa Jepang, dan menulis dalam bahasa Jepang. Ia sama sekali tak tahu banyak soal kebudayaan bangsa Korea termasuk bahasanya.

Di Jepang sendiri, orang-orang seperti Yu Miri dikenal dengan sebutan “Orang-orang Zainichi”. Itulah identitas yang melekat dalam diri mereka. Identitas itu menandakan kalau mereka bukan orang Jepang asli. Spesifiknya orang Korea yang kini menetap dan tinggal di Jepang. Sebagai kelompok minoritas, mereka pun kadang tersisihkan di dalam masyarakat. Ada beberapa masalah yang dialami kelompok atau orang-orang Zainichi ini, terutama berkaitan dengan sejarah panjang mereka sampai tragedi gempa dan nuklir Fukushima yang terjadi pada 2011.

Tragedi itu sedemikian memukul telak. Kerusakan yang fatal terjadi di tempat Miri tinggal berikut daerah-daerah lain di sekitar perfektur Fukushima. Selain itu, masyarakat pun terdampak dari berbagai sisi; material, kesehatan, sampai kondisi psikologis mereka. Tidak sedikit dari mereka yang kehilangan keluarga. Hal yang sama juga menimpa diri Miri dan keluarganya. Mereka kehilangan tempat tinggal dan harus pindah dari satu tempat ke tempat lainnya demi mencari suaka atau tempat yang aman.

Saat-saat berat itu pun menjadi memori yang tidak bisa dilupakan oleh Miri. Momen itu menjadi kenangan yang akan terus diingatnya. Dan cara ia mengingat, salah satunya, adalah dengan terus menulis.

Sebelum tragedi itu terjadi, Miri memang sudah lama menjalani profesi menulis. Ia telah menghasilkan belasan karya, dari mulai cerita pendek, naskah pertunjukan, dan esai-esai dengan tema tentang jati dirinya sebagai orang Jepang-Korea. Titik pijaknya bahkan di dunia teater yang membuatnya karib dengan penulisan naskah pertunjukkan.

Sedikit banyak, corak kepengarangannya pun sudah terbaca publik. Banyak pembaca di sana tahu kalau suara yang digaungkan oleh Miri adalah suara dari pinggir, suara dari orang-orang yang termarjinalkan oleh masyarakat.

Hal itu terbukti dengan kekhasan yang ada dalam karya-karya yang ditulisnya. Seperti pada novelnya, Tokyo Ueno Station (Tilted Axis Press, 2019) yang mengisahkan figur yang kerap termarjinalkan oleh masyarakat: Gelandangan. Tokoh utama sekaligus narator di dalam novel itu menjadi gelandangan yang hidup di sekitar taman Ueno, Tokyo.

Miri mengisahkan cerita hidupnya yang merentang sejak masa-masa kebangkitan ekonomi Jepang awal 1960-an sampai masa kini, atau setelah ia meninggal. Di tangan Miri, kisah tokoh bernama Kazu itu membingkai berbagai peristiwa-peristiwa yang menandakan perubahan zaman dari kacamata seorang gelandangan.

Perubahan itu, misalnya ditandai oleh arus kedatangan para pekerja muda ke kota Tokyo pada 1964 saat persiapan Olympics di Jepang. Kazu berada dalam arus tersebut. Ia mengadu nasib keluarganya demi meraih kehidupan yang lebih baik lagi. Namun sayangnya, kehidupan sedemikian bengis melemparkan Kazu ke berbagai ketidakmujuran dalam hidup.

Babakan setelah kepergiannya ke kota adalah babakan kemurungan dan penderitaan. Hidup menampilkan belangnya sebagai pemukul yang menghantam telak hingga berkeping-keping. Hidup pula yang kelak membawanya menuju pilihan untuk menjadi seorang gelandangan.

Miri memilih sudut pandang gelandangan ini bukannya tanpa alasan. Sebab, ia menyisipkan sekian kritik terkait pandangan masyarakat yang kerap memandang miring orang-orang seperti Kazu tersebut.

Lebih dari itu, Miri pun seperti memberi penegasan untuk memberikan kesempatan berkata-kata bagi mereka yang suaranya jarang terdengar. Tokoh Kazu ini bisa dipahami sebagai representasi kelompok marjinal di dalam masyarakat itu sendiri. Dengan begitu, tidak heran, kalau persoalan identitas kelompok marjinal dan kritikan atas pandangan masyarakat terhadapnya menjadi corak yang kentara di dalam novel ini.

Semangat serupa pun bisa terlihat dalam karya Miri yang lain. Kali ini, Miri memberi kesempatan bagi figur korban bencana nuklir Fukushima untuk bersuara. Ia mengisahkannya dalam sebuah cerpen yang berjudul North Winds Blow the Leaves from the Tress (Granta Magazine, 2020).

Dikisahkan, ada seorang perempuan yang baru saja ditinggal pergi oleh ibunya setelah mereka ditimpa bencana nuklir Fukushima. Sebelum itu, mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat penampungan ke tempat penampungan lainnya. Setelah ibunya pergi, si perempuan tadi pun mengunjungi bekas rumah mereka yang telah porak-poranda. Sampailah ia pada parade kenangan pahit yang menyakitkan.

Kejadian bencana itu seolah terasa baru kemarin terjadi. Ia bisa mengingatnya sedemikian jelas dari mulai kepanikan mereka, teriak-teriakan yang menyakitkan, kekhawatiran yang sarat, sampai keputusasaan ketika mendapati segalanya hancur tak tersisa. Di samping itu, keadaan psikologisnya pun terguncang hebat.

Si perempuan yang tenggelam dalam parade kenangan pahit itu tak kuasa mengenyahkan berbagai memori menyakitkan yang membuatnya kehilangan semangat hidup. Di dalam kisah tersebut, Miri seolah sedang menceritakan kisah hidupnya sendiri, terutama ketika babakan tragedi nuklir Fukushima yang dulu pernah menimpanya.

Atas pembabaran dua karya tersebut, kita bisa beranggapan kalau Miri menegaskan pentingnya karya sastra sebagai medium merawat ingatan, tak peduli ingatan itu manis ataupun pahit.

Saat menulis novel Tokyo Ueno Station, Miri mengaku dalam konferensi pers tersebut kalau ia pun terinspirasi dari 600 penduduk Fukushima yang pernah dia wawancarai dalam acara radio lokal, setahun setelah tragedi nuklir Fukushima.

Sementara dalam cerpen North Winds Blow the Leaves from the Tress, seperti yang sudah disebutkan, Miri seperti tengah mengisahkan babakan hidupnya sendiri setelah tragedi nuklir itu terjadi. Ingatan terhadap tragedi itulah yang ingin ia sampaikan, dan itu salah satu alasannya untuk terus menulis.

Selain itu, laku menulis yang dilakukan Miri, kalau kita mengingat kembali alasan di balik penulisan karya-karyanya, adalah untuk mewakilkan suara orang-orang yang terpinggirkan. Lebih jauh lagi, kalau ada seseorang yang menanyakan secara spesifik untuk siapa Miri menulis, ia akan menjawab, “Saya menulis untuk orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal.” Petikan kalimat itu Miri utarakan pada saat ia diwawancarai oleh Asian American Writers Worksho (AAWW, 2020).

Dengan begitu, semesta karya sastra yang ia ciptakan bisa terpahami sebagai suaka bagi representasi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal. Miri telah membuktikan kata-katanya itu lewat sekian karya yang ditulisnya. Hal itu seolah menjadi salah satu alasannya untuk terus menulis.

Miri ingin memberi suaka bagi mereka yang di dunia nyata tidak memiliki tempat. Miri ingin mereka bersuara dan hidup di dalam karya-karya yang ditulisnya.


Category : buletin

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Wahid Kurniawan

Penikmat buku. Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.