Seni Menarik Kesimpulan ala Bertrand Russel

slider
26 Juli 2021
|
322

Di era teknologi dan informasi yang serba cepat seperti sekarang ini, kita cenderung dapat dengan mudahnya menarik sebuah kesimpulan. Akan tetapi, sebagian besar kesimpulan tersebut dibuat dengan gegabah. Akhirnya pengalaman-pengalaman pada masa selanjutnya menunjukkan bahwa kesimpulan yang diambil dengan gegabah itu ternyata kurang proporsional.

Selanjutnya, kesimpulan yang kurang proporsional itu menunjukkan adanya indikasi sesat pikir (fallacia, Latin atau fallacy, Inggris), yaitu kekeliruan yang disebabkan oleh pengambilan kesimpulan yang tidak sahih dengan melanggar ketentuan-ketentuan logika atau susunan dan penggunaan bahasa serta penekanan kata yang, secara sengaja atau tidak, telah menyebabkan pertautan atau asosiasi gagasan yang tidak tepat.

Padahal logika sendiri memiliki nilai guna untuk meningkatkan kemampuan manusia untuk berpikir rasional, kritis, tepat-tertib, metodis, dan koheren. Logika juga berguna untuk meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif, selain juga meningkatkan kesanggupan manusia untuk mencintai kebenaran dan menghindari kekeliruan serta kesesatan (Jan Hendrik Rapar 2012: 5).

Singkat kata, logika dapat didefinisikan sebagai semacam seni dalam menarik kesimpulan. Logika juga bertujuan untuk menghindari jenis-jenis pengambilan kesimpulan yang tidak bisa diandalkan. Kendati kesimpulan yang diambil seringkali tidak mampu memberikan kepastian, namun tingkat kemungkinan yang relatif tinggi sudah memadai bagi manusia untuk menindaklanjutinya.

Karya dan Dunia Pemikiran Bertrand Russel

Bertrand Arthur William Russel (1872-1970)-selanjutnya ditulis Russel-merupakan seorang filsuf asal Britania Raya. Ia telah menyumbangkan banyak pemikiran termasuk tentang seni menarik kesimpulan bertajuk The Art of Philosophizing & Other Essays. Buku tersebut merupakan kumpulan esai yang pembahasannya berkisar tentang seni berhitung dalam bidang matematika, logika, dan filsafat.

Buku Russel di atas telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Berpikir ala Filsuf. Dalam suatu kesempatan yang lain, Russel menulis, “Masalah yang sesungguhnya mencengkram dunia adalah orang-orang bodoh dan fanatik yang selalu yakin akan dirinya, sementara orang-orang bijak penuh dengan keraguan” (Bertrand Russel 2002: vi).

Seirama dengan karya Russel di atas, kesimpulan yang diambil manusia seringkali tidak valid sekalipun dilakukan dengan begitu meyakinkan. Untuk membedakan antara orang yang kurang cakap dan orang yang pintar adalah dengan menilik kemampuan mereka dalam seni berhitung. Russel percaya bahwa orang yang kemampuan matematikanya memadai akan lebih berhasil mengembangkan kemampuannya untuk berpikir rasional dan mengambil kesimpulan yang logis.

Seni Menarik Kesimpulan Bertrand Russel; Deduktif dan Induktif

Menurut Russel, logika deduktif bermanfaat apabila dasar pemikiran umumnya diketahui, dan juga bila diasumsikan dengan melihat apakah konsekuensi-konsekuensinya sejalan dengan pengalaman (Bertrand Russel 2002: 38). Contoh utama dari logika deduktif adalah matematika murni. Dalam bidang matematika murni, kita mengawalinya dengan prinsip-prinsip umum, dan selanjutnya mengambil kesimpulan dari prinsip-prinsip tersebut.

Meskipun demikian, Russel tidak bermaksud mengatakan bahwa semua argumen deduktif termasuk dalam matematika murni. Tentu hal ini tidak benar, sebab materi yang menjadi sasaran argumen tersebut mungkin berada di luar bidang matematika. Misalnya dalam bidang hukum. Kadang logikanya di sini cukup sederhana, yakni pembunuh harus dihukum mati, orang ini adalah pembunuh, jadi dia harus dihukum mati.

Kita lihat satu silogisme terkenal, yaitu “Manusia tidak ada yang abadi; Socrates adalah manusia; jadi Socrates juga tidak abadi”. Hal ini diketahui melalui pengalaman-pengalaman di dunia. Ketiganya tidak memiliki kesamaan umum yang diperlukan oleh logika dan matematika.

Kegunaan logika deduktif ini cukup banyak, namun terbatas. Russel tidak mengatakan pada kita apa yang harus dipercayai, namun Russel hanya mengatakan bahwa jika Anda percaya A, Anda harus percaya B. Jika Anda percaya bahwa semua manusia adalah sama, Anda juga harus bersikap menentang perbudakan dan mendukung hak pilih kaum perempuan (Bertrand Russel 2002: 42-43).

Berbeda halnya dengan logika induktif, yang dinilai lebih berguna dibandingkan dengan logika deduktif, namun juga jauh lebih sulit. Bentuk induksi paling sederhana adalah perhitungan sederhana. Dalam semua kasus yang Russel ketahui, A selalu diikuti (atau disertai) oleh B; jadi mungkin A berikutnya yang Russel temukan akan diikuti (atau disertai) oleh B. Meskipun dalam tingkat kemungkinan yang lebih rendah, A akan selalu diikuti (atau disertai) oleh B.

Dalam contoh kasus di atas, dapat dilihat pada fenomena pergantian siang dan malam. Malam selalu diikuti oleh siang. Jadi secara alamiah kita memperkirakan bahwa hal itu akan selalu terjadi. Namun sejumlah astronot memperkirakan bahwa ada masa-masa di mana pergeseran gelombang pasang akan menyebabkan bagian tertentu dari bumi selalu menghadap ke arah matahari, sehingga malam tidak lagi diikuti oleh siang.

Menurut Russel, logika induksi berkaitan dengan probabilitas, tidak hanya dalam arti bahwa kesimpulan dari suatu induksi tidak pernah lebih dari hanya sekadar kemungkinan, namun juga dalam cara lain. Sebagai contoh, jika sebuah hipotesis yang sejalan dengan semua fakta yang ada mendorong Anda untuk memprediksikan sesuatu yang tampaknya sangat tidak mungkin, dan ternyata prediksi tersebut benar, maka kemungkinan besar hipotesis Anda juga benar (Bertrand Russel 2002: 54-55).

Tujuan dari logika induktif adalah untuk membentuk hukum-hukum umum dari peristiwa-peristiwa khusus. Sedangkan logika deduktif melakukan kebalikannya, ia dimulai dari dasar-dasar pemikiran umum. Pernyataan “dua kali dua sama dengan empat” adalah sama dengan pernyataan “satu yard sama dengan tiga kaki”.

Tentu penyataaan di atas tidak perlu diuji dengan melakukan pengamatan, karena itu bukan merupakan hukum alam, namun merupakan keputusan kita tentang bagaimana menggunakan kata-kata. Inilah sebabnya mengapa matematika murni dapat dikerjakan tanpa pengamatan ataupun eksperimen.

Akan tetapi di luar logika dan matematika murni, pertanyaan-pertanyaan tentang dasar-dasar pemikiran umum tidak bisa diselesaikan dengan mudah. Penggunaan paling penting atas induksi adalah dalam membuat kesimpulan atas hipotesis-hipotesis yang akan diuji melalui pengamatan atau eksperimen. Sebagai contoh, jika akan dibangun sebuah jembatan rel kereta api, kita tentunya tidak perlu menunggu sampai ada kereta api yang lewat untuk mengetahui bahwa jembatan tersebut stabil atau tidak.

Dalam semua pembahasan di atas, memang banyak ditemukan penggunaan kata kemungkinan atau probabilitas. Seorang ahli logika modern menyadari bahwa dalam tingkatan tertentu semua pengetahuan manusia, hanyalah berupa kemungkinan, bukan pengetahuan yang pasti dan meyakinkan.

Oleh karena itu gagasan Bertrand Russel tentang logika deduktif dan logika induktif dapat dijadikan sebagai dasar untuk menarik sebuah kesimpulan. Paling tidak keduanya bisa menjadi pengontrol dalam menarik kesimpulan di tengah arus teknologi dan informasi yang sangat cepat. Sehingga dapat mencegah terjadinya arus informasi yang dapat menyesatkan.

Referensi:

Russell, Bertrand. Berpikir ala Filsuf, terj. Basuki Heri Winarno. Yogyakarta: Ikon, 2002.

Hendrik Rapar, Jan. Pengantar Logika. Yogyakarta: Kanisius, 2012.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Asep Saepullah

Mahasiswa Pascasarjana Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta