Self-Hatred dan Cara Mengatasinya

slider
22 Januari 2026
|
259

Di dunia yang semakin kompleks dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, kita tampaknya menjadi rentan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Setiap kali kita membuka media sosial, misalnya, kita akan cenderung tertarik untuk membuka cerita (stories) yang diunggah oleh orang lain, yang kemudian kita nilai bahwa orang tersebut memiliki kehidupan yang lebih baik daripada kita. Dari penilaian seperti itu, kita cenderung untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain—baik itu karier, finansial, asmara, dan lain sebagainya.

Akibatnya, tak jarang, kita pun cenderung menghakimi diri sendiri atau bahkan membenci diri sendiri (self-hatred) karena merasa tidak sebanding dengan orang lain. Padahal, kita semua tahu, bahwa apa yang kita lihat di media sosial tentang orang lain sering kali tidak mencerminkan kehidupan orang tersebut secara keseluruhan.

Berbicara soal self-hatred atau kebencian terhadap diri sendiri pada tulisan akan mengulas materi Ngaji Filsafat 391 dengan tema Kebencian, yaitu tentang Kebencian Terhadap Diri Sendiri (Self-Hatred).

Secara definisi, istilah self-hatred memiliki arti kebencian terhadap diri sendiri atau rendahnya harga diri. Sejalan dengan arti tersebut, Pak Fahruddin Faiz menjelaskan bahwa self-hatred merupakan suatu gejala kebencian yang ditujukan kepada diri sendiri, yang disebabkan atau bisa juga menyebabkan rendahnya harga diri (low self-esteem).

Biasanya, orang yang menanamkan perilaku self-hatered akan memiliki pikiran atau perasaan negatif terhadap dirinya sendiri; sering mengkritik diri sendiri; atau sering menilai diri sendiri secara negatif (sulit menemukan atau mengapresiasi kelebihan yang terdapat dalam dirinya sendiri).

Adapun manifestasi dari berbagai hal tersebut bisa bermacam-macam, antara lain negative self-talk (berbicara buruk tentang dan terhadap dirinya sendiri); self-sabotage (perilaku menyabotase atau membatasi kemampuan diri sendiri); atau self-harm (perilaku menyakiti diri sendiri). Perilaku self-hatred ini tentu sangat berbahaya apabila dibiarkan tumbuh di dalam diri kita—karena akan membuat diri kita menjadi manusia yang tidak bersyukur dan tidak bahagia.

Kecenderungan (Atmosfer Batin) dari Perilaku Self-Hatred

Menurut Pak Faiz, terdapat sejumlah kecenderungan (atmosfer batin) yang biasanya memengaruhi orang-orang dengan perilaku self-hatred. Kecenderungan (atmosfer batin) di sini ialah suatu kecenderungan mental seseorang (internal) yang memengaruhi perkataan dan perbuatan orang tersebut (eksternal). Berikut ini merupakan sejumlah kecenderungan (atmosfer batin) yang biasanya memengaruhi orang-orang dengan perilaku self-hatred.

Pertama, low self-esteem (rendahnya harga diri). Bagi seseorang yang menanamkan perilaku self-hatred, biasanya orang tersebut akan cenderung rendah diri karena ia merasa bahwa kebanggaan dirinya anjlok—merasa bahwa ia tidak memiliki apa pun dalam dirinya yang bisa dibanggakan kepada dunia. Dengan kata lain, orang yang menanamkan perilaku self-hatred akan merasa minder jika berhadapan dengan dunia.

Kedua, self-deprecation (perilaku merendahkan kualitas diri sendiri). Kecenderungan (atmosfer batin) yang biasanya memengaruhi orang-orang dengan perilaku self-hatred ialah self-deprecation atau perilaku merendahkan kualitas diri sendiri di hadapan orang lain, baik untuk tujuan serius ataupun bercanda.

Dalam kasus ini, seseorang akan cenderung merendahkan dirinya sendiri di hadapan orang lain (meskipun untuk tujuan bercanda), yang secara tidak langsung menunjukkan gejala dari perilaku self-hatred. Contohnya ialah ketika seseorang mengatakan bahwa dirinya bukanlah apa-apa, meskipun dirinya merupakan orang yang cukup terhormat di kalangannya.

Ketiga, self-sabotage (perilaku menyabotase/membatasi kemampuan diri sendiri). Dalam kasus ini, seseorang akan cenderung merasa tidak mampu untuk melakukan suatu hal, meskipun orang tersebut sebenarnya cukup cakap untuk melakukan hal tersebut. Akibatnya, orang tersebut akan kesulitan untuk berkembang, sehingga dikhawatirkan ia pun akan semakin membenci dirinya sendiri.

Keempat, self-harm (perilaku menyakiti diri sendiri). Kecenderungan (atmosfer batin) yang terakhir dan paling berbahaya yang biasanya memengaruhi orang-orang dengan perilaku self-hatred ialah self-harm atau perilaku menyakiti diri sendiri. Dalam kasus ini, seseorang tidak akan tanggung-tanggung untuk menyakiti dirinya sendiri (atau membiarkan dirinya tersakiti) yang bisa menyebabkan kondisi medis serius. Jika sudah seperti ini, maka kondisi orang tersebut sudah berbahaya dan butuh penanganan secara profesional dengan segera.

Ciri-ciri Orang dengan Self-Hatred

Selanjutnya Pak Faiz menjelaskan mengenai ciri-ciri dari orang yang menanamkan perilaku self-hatred dalam dirinya—yang dapat tercermin melalui perkataan ataupun perbuatannya. Ciri pertama, selalu melihat sisi negatif dari dirinya sendiri, yaitu sulit untuk menemukan dan mengapresiasi kelebihan diri sendiri. Ciri kedua, selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan cenderung rendah diri atau iri/dengki. Ciri ketiga, tidak percaya diri, yaitu merasa bahwa tidak ada yang spesial dari dirinya. Ciri keempat, sulit menerima pujian dari orang lain, yaitu merasa bahwa dirinya tidak layak untuk menerima pujian.

Ciri kelima, merasa bahwa orang lain tidak menyukai dirinya, yaitu karena dirinya selalu berpikiran negatif, termasuk kepada orang lain. Ciri keenam, sulit menerima kritikan atau pendapat orang lain, karena ia merasa banyak kekurangan sehingga ketika dikritik, ia akan merasa semakin banyak kekurangan dan merasa tidak dihargai. Ciri ketujuh, berpikir bahwa setiap hubungan dengan orang lain pasti akan berakhir buruk, atau cenderung pesimis dan cepat menilai secara negatif. Ciri kedelapan, enggan memiliki impian karena takut gagal, yaitu cenderung pesimis dan merasa tidak layak untuk sebuah cita-cita.

Tentunya kita patut selalu mengevaluasi diri kita masing-masing dengan cara memeriksa apakah kita memiliki salah satu atau lebih dari ciri-ciri di atas, agar kita dapat terhindar dari perilaku self-hatred.

Cara Mengatasi Self-Hatred

Untuk mengatasi perilaku self-hatred, mengacu pada kiat-kiat yang diberikan oleh Laura House, seorang self-hatred coach asal Amerika Serikat. Kiat-kiat mengatasi self-hatred yang diberikan oleh House merupakan kiat-kiat yang bersifat satire. Alih-alih mengajak kita untuk mencintai diri kita, House mengajak kita untuk membenci diri kita sendiri—karena hal tersebut merupakan sifat dasar manusia sekaligus merupakan hal yang paling mudah untuk dilakukan.

Kiat pertama yang bisa kita lakukan untuk mengatasi perilaku self-hatred dari Laura House adalah dengan berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Sedangkan cara tercepat untuk membenci diri sendiri adalah dengan terus membandingkan diri sendiri dengan orang lain, terutama dengan orang-orang yang kita anggap memiliki kehidupan yang lebih baik daripada kita. Dengan begitu, kita akan terus-menerus merasa bahwa diri ini banyak kekurangannya; merasa tidak beruntung atau tidak layak; sehingga dapat menimbulkan pikiran negatif terhadap diri sendiri yang dapat berujung kepada perilaku self-hatred.

Kiat kedua, bersyukur terhadap setiap pencapaian, sekecil apa pun itu. Bila kita tidak pernah bersyukur terhadap pencapaian apa pun dalam hidup kita, kita akan menjadi pribadi yang selalu mengecilkan diri kita sendiri, yang pada gilirannya akan membawa kita pada perilaku self-hatred. Dengan begitu, kita akan terus-menerus terjebak dalam pola pikir dan perilaku self-hatred.

Kiat ketiga, fokus pada apa yang kita miliki. Bila kita hanya berfokus pada apa yang tidak kita miliki dan di luar bidang kita, kita akan cenderung terus-menerus mengecilkan diri; tidak bersyukur; merasa tidak berguna; merasa gagal; dan tidak bisa berpikir rasional. Dengan begitu, kita akan semakin terjebak dalam pola pikir dan perilaku self-hatred.

Kiat keempat, menerima bahwa kebencian terhadap diri sendiri merupakan sesuatu yang alamiah. Kebencian terhadap diri sendiri (self-hatred)—seperti halnya ketakutan dan keraguan—merupakan sesuatu yang alamiah dalam diri manusia. Oleh karena itu, lebih mudah bagi kita untuk membenci diri kita sendiri ketimbang mencintai diri kita sendiri—karena untuk mencintai diri kita sendiri dibutuhkan usaha dan disiplin yang berkelanjutan.

Maka dari itu, dengan menerima bahwa kebencian terhadap diri sendiri (self-hatred) merupakan sesuatu yang alamiah, diharapkan kita dapat selalu waspada dan sadar terhadap setiap kata hati kita. Dengan begitu, kita bisa menjadi pribadi yang lebih rasional dalam bersikap, alih-alih emosional.

Seperti yang diungkapkan oleh Pak Faiz, bahwa “diri kita ini merupakan wadah kita di dunia” dan “banyak sekali nikmat Allah di dalam diri kita”, maka sudah sepatutnya kita mencintai dan menghargai diri kita masing-masing. Akhir kata, semoga kita selalu diberikan kesehatan dan hal-hal baik oleh Allah SWT.

Referensi:

Ngaji Filsafat 391: Kebencian (Self Hatred) edisi Falsafah Hidup (Lagi) bersama Dr. Fahruddin Faiz, M. Ag di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, pada Rabu, 21 Juni 2023.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Fachry Fadillah

Ingin menjadi manusia yang tidak mudah dideskripsikan. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Pakuan, Bogor.