Mengusahakan Kebahagiaan

slider
22 Desember 2023
|
593

Apa itu kebahagiaan? Apakah kebahagiaan adalah fitrah? Mengapa setiap manusia dari zaman ke zaman selalu mengejar kebahagiaan untuk hidupnya? Mengapa pula banyak manusia yang gagal mendapatkan kebahagiaan? Bagaimana sesungguhnya cara berbahagia?

Kebahagiaan menjadi salah satu topik universal dan abadi yang terus dipertanyakan, didiskusikan, dan diperdebatkan oleh manusia di seluruh dunia pada setiap masa. Setidaknya sudah sejak era Socrates (470 SM-390 SM) perbincangan tentang kebahagiaan berlangsung. Sampai saat ini, banyak pemikir dari Barat dan Timur, dengan beragam perspektif, telah mencoba merumuskan hakikat kebahagiaan versi masing-masing—beserta cara memperolehnya.

Bertrand Russell (1872-1970) menjadi filosof yang ikut mengungkapkan pikirannya mengenai kebahagiaan. Melalui buku The Conquest of Happiness yang terbit kali pertama pada 1930, Russell menyodorkan metode praktis untuk berbahagia. Ia bahkan menyatakan tidak ada filosofi atau pembahasan yang mendalam mengenai kebahagiaan di buku tersebut. Hal itu supaya semua orang bisa mengerti buah pikirnya, bukan sebatas orang-orang terpelajar saja.

Russell mengungkapkan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang instan, bukanlah sesuatu yang datang dan dapat diterima begitu saja. Kebahagiaan adalah keadaan yang mesti diperjuangkan: hanya mereka yang aktif mengejar kebahagiaan yang bisa merasakannya, hanya mereka yang mampu menaklukkan rintangan ketidakbahagiaan yang dapat berbahagia.

Oleh karena itu, Russell menegaskan bahwa kebahagiaan berkaitan erat dengan usaha, harapan, dan perubahan. Bagi Russell, setiap orang mesti mengusahakan kebahagiaannya secara aktif, yaitu dengan menyingkirkan penyebab-penyebab (internal) ketidakbahagiaan dan meraih hal-hal (eksternal) yang akan membuatnya bahagia.

Hal itu sedikit berbeda dengan beberapa teori kebahagiaan lainnya yang cenderung bersifat pasif, yang menganggap kebahagiaan sejatinya telah ada dalam diri setiap orang sehingga ia tidak perlu mencarinya keluar—dengan kata lain, kebahagiaan tidak tergantung pada faktor-faktor eksternal, melainkan ditentukan sepenuhnya oleh persepsi.

Tersebab kebahagiaan harus diperjuangkan, maka setiap orang yang ingin berbahagia perlu senantiasa merawat harapan. Harapan merupakan sumber tanaga yang sangat kuat, yang akan menggerakkan manusia untuk mencapai dan mendapatkan apa yang ia inginkan.

Selain itu, harapan dan usaha juga akan membawa manusia pada perubahan. Manusia yang menginginkan kebahagiaan mesti memiliki kemauan untuk berubah: dari keadaan yang menyedihkan, mengecewakan, atau menyengsarakan menuju keadaan yang menenteramkan-menggembirakan.

Penyebab Ketidakbahagiaan

Russell menerangkan bahwa untuk bisa merasakan nikmatnya kebahagiaan ada hal-hal yang harus dibuang dari hidup setiap orang. Hal-hal yang menurutnya menjadi penyebab ketidakbahagiaan itu antara lain persaingan, kebosanan, kelelahan, iri hati, dan penyesalan.

Pertama, persaingan. Sulit dimungkiri bahwa banyak orang mempunyai kecenderungan untuk menjadi, atau setidaknya terlihat, lebih unggul daripada orang lain. Menjadi unggul tentu saja baik, tetapi menjadi unggul dengan logika perbandingan atas orang lain itu bermasalah. Menganggap hidup laksana arena perlombaan, tempat orang-orang bersaingan dan bergagah-gagahan, merupakan pandangan yang problematik. Perasaan harus lebih (harus lebih kaya, lebih populer, lebih tinggi jabatannya, dan seterusnya) daripada orang lain hanya akan membuat hidup tidak tenang: cemburu melihat kesuksesan orang lain, gelisah menyaksikan keberhasilan orang lain, sebal terhadap kelebihan orang lain.

Maka dari itu, siapa pun yang ingin berbahagia mesti meyakini bahwa hidup bukanlah persaingan, dan orang lain bukanlah lawan yang harus dikalahkan—melainkan teman untuk melangkah menuju kemajuan dan keunggulan bersama.

Kedua, kebosanan. Boleh dibilang, kebosanan merupakan salah satu musuh terberat manusia. Banyak hal atau aktivitas dalam kehidupan manusia yang dilakukan secara berulang, dan karena itulah merasa jenuh merupakan keniscayaan. Bahkan dalam belajar dan beribadah pun sangat mungkin muncul kejenuhan. Oleh sebab itu, agama banyak mengingatkan-memerintahkan manusia untuk istikamah, konsisten dalam menjalani hal-hal baik di hidupnya.

Untuk bisa istikamah sekaligus menaklukkan kejemuan dalam rangka mencapai kebahagiaan, manusia perlu bersikap dinamis: berani dan mau mencoba atau menghadirkan kebaruan dan perubahan di hidupnya.

Penyebab ketidakbahagiaan yang ketiga adalah kelelahan. Kelelahan yang dimaksud bukan hanya dalam arti fisik, tetapi yang lebih krusial ialah kelelahan emosional atau mental. Segala bentuk kecemasan atau keraguan yang tidak penting merupakan pangkalnya.

Umumnya, kecemasan yang tidak penting itu berkaitan dengan hal-hal yang tidak atau belum pasti, seperti masa depan, jodoh, dan karier. Atau, jika meminjam konsep stoikisme, banyak orang sering kali cemas terhadap hal-hal yang berada di luar kendalinya.

Kelelahan emosional atau mental tidak akan terjadi apabila seseorang mampu bersikap lebih rasional: menimbang dengan lebih jernih bahwa hal-hal yang dicemaskannya bisa jadi tidaklah penting atau mengkhawatirkan seperti yang ia duga. Dengan demikian, ia bisa berhenti atau mengurangi memikirkan segala sesuatu yang mengandung ketidakpastian.

Selanjutnya, ketidakbahagiaan juga disebabkan oleh hati yang berpenyakit iri. Hati yang iri akan terus-menerus memunculkan perasaan tidak rela dengan keunggulan, kesuksesan, dan kebahagiaan orang lain. Orang yang iri di benaknya hanya ada satu keinginan, yaitu melihat-membuat orang lain jatuh ke dalam kegagalan dan kesedihan.

Akan menjadi lebih berbahaya ketika sifat iri tersebut naik level menjadi dengki. Orang yang dengki tidak akan peduli lagi pada diri dan kebahagiaannya sendiri selama ia bisa menghancurkan kebahagiaan orang lain. Ia bersedia sengsara asal bisa membuat orang lain juga sengsara. Orang yang demikian tentu saja tidak akan pernah merasakan kebahagiaan.

Satu-satunya obat bagi hati yang iri ialah rasa syukur: menerima sepenuh hati dan menikmati segala sesuatu yang telah dimiliki tanpa perlu membandingkan dan menginginkan kepunyaan orang lain.

Penyebab ketidakbahagiaan yang terakhir adalah penyesalan—terkhusus akibat berbuat salah atau dosa—yang berlarut-larut. Perasaan tersebut merupakan toksik yang menyebabkan hidup menjadi tidak tenteram. Orang yang terus merasa terbebani oleh penyesalannya punya kecenderungan untuk menjadi inferior, yang selanjutnya dapat membuatnya melakukan tindakan yang merugikan dirinya sendiri.

Kesalahan dan (apalagi) dosa-dosa memang harus disesali, tetapi mesti diikuti dengan tekad untuk memperbaiki dan tidak mengulanginya lagi, serta tidak perlu diratapi berlama-lama—alias harus segera move on!

Sumber Kebahagiaan

Selain menunjukkan hal-hal yang bisa menyebabkan ketidakbahagiaan, Russell juga memberi tahu beberapa sumber kebahagiaan, yaitu semangat dan kasih sayang, keluarga yang harmonis, pekerjaan yang baik, aktivitas yang menenangkan, serta keseimbangan antara upaya dan pasrah.

Pertama, semangat dan kasih sayang. Semangat akan mendorong orang untuk menjalani-menikmati hidup dengan sebaik-baiknya. Orang yang gairah hidupnya besar akan berbahagia, sebab ia akan senantiasa mengejar segala cita-cita atau kebaikan-kebaikan untuk hidupnya dengan sungguh-sungguh.

Cara untuk membangkitkan semangat adalah dengan menemukan dan menekuni minat. Sedangkan penjaga dan penguat semangat ialah kasih sayang atau cinta, baik cinta yang diberikan (kepada orang lain) maupun cinta yang diperoleh (dari orang lain). Dengan mencintai dan dicintai hidup akan membahagiakan.

Sumber kebahagiaan yang kedua adalah keluarga. Keluarga merupakan sumber utama cinta, yang akan melahirkan kebahagiaan yang teramat besar. Bahkan Russell mengakui bahwa kebahagiaan berkeluarga, terutama menjadi orang tua, merupakan kebahagiaan terbesar yang pernah ia rasakan. Maka, membangun dan merawat hubungan yang harmonis dengan seluruh anggota keluarga merupakan keharusan.

Sumber kebahagiaan selanjutnya ialah pekerjaan yang baik. Suatu pekerjaan yang bermanfaat untuk diri dan orang lain akan senantiasa mendatangkan kebahagiaan. Bahkan, seandainya pekerjaan tersebut terasa membosankan, hal itu masih lebih bagus daripada menjadi pengangguran yang bermalas-malasan. Selain itu, Russell juga menegaskan bahwa memiliki pekerjaan, dan bangga atas pekerjaan tersebut, menjadikan orang mempunyai harga diri—dengan harga diri itulah ia akan berbahagia.

Kemudian, kebahagiaan juga bersumber dari aktivitas-aktivitas yang menenangkan, yang bisa memberikan relaksasi dari kepenatan urusan hidup lainnya. Itulah sebabnya mengambil jeda dari berbagai kesibukan untuk melakukan aktivitas yang santai, atau hobi-hobi yang ringan, menjadi penting. Setiap orang perlu menyadari bahwa menjalani hidup dengan terlampau serius tidak akan mengantarkan mereka pada kebahagiaan. Meminjam istilah kekinian, setiap orang yang ingin hidupnya gembira perlu memiliki ‘me time’.

Terakhir, jika ingin berbahagia, orang mesti tahu saat untuk berusaha dan saat untuk berpasrah. Dalam bahasa agama, keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal akan menuntun orang menuju ketenangan hidup yang melahirkan kebahagiaan. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal batas antara kedua hal tersebut akan mudah kecewa dan putus asa. Selain itu, hanya mengandalkan usaha tanpa kepasrahan adalah kesombongan, sedangkan pasrah sebelum berusaha sama dengan kesia-siaan.

Begitulah metode praktis untuk merasakan kebahagiaan versi Bertrand Russell. Semua penjelasannya itu telah terbukti keberhasilannya berdasarkan pengamatan dan pengalamannya sendiri. Maka, pendapat Russell tersebut sungguh patut menjadi pertimbangan dan panduan bagi siapa saja dalam usaha mencapai kebahagiaan.


Category : keilmuan

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Febrian Eka Ramadhan

Peserta Kelas Menulis menemui senja di MJS Jilid #5. Lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY. Penulis buku Satu Hal Yang Tak Boleh Sirna: Esai-Esai Pilihan (2022).