Ikhtiar Menjadi Pemenang

slider
13 Mei 2022
|
296

Sejarah hanya milik para pemenang! Ya, itu adalah pernyataan yang tepat saat ini. Tak percaya? silahkan cek semua pemberitaan-pemberitaan baik cetak maupun elektronik. Yang menang, selalu menyita banyak perhatian.

Pemenang selalu disanjung setinggi langit. Seakan tidak akan pernah kehabisan bahan untuk mengekspos tentang sisi-sisi kehidupannya hingga hal-hal yang sangat sepele, jika dinisbatkan pada si pemenang itu, maka akan laris dimangsa media dan orang-orang yang gampang overproud.

Dan sebuah keniscayaan pula jika pemenang itu memang ditakdirkan berjumlah segelintir saja. Sisanya? mereka semua adalah orang-orang yang kalah. Siapa pula yang hendak mengenang orang-orang yang kalah?

Saya teringat serial drama Korea Racket Boys. Pada drama tersebut, Coach Yoon yang dicitrakan sebagai pelatih badminton SMP Haenam-Seo, sebuah sekolah di desa terpencil dan dengan prestasi selama 10 tahun nihil. Ia merupakan mantan atlet terbaik yang kehidupannya kini sangat minim dan tidak ada keren-kerennya sama sekali, namun berhasil membawa klubnya menembus final kejuaraan badminton junior nasional.

Dalam pertandingan yang mustahil dimenangkan tersebut, ia berkata, Kalian tahu bahwa hasil tak selalu sepadan dengan usaha kita. Karena semua orang punya bakat yang berbeda, ada anak-anak yang memang hebat sejak awal. Jadi ada (juga) yang tak berhasil meskipun berusaha sekeras apapun. Namun, terkadang seseorang jauh lebih kuat daripada biasanya. Itu bisa saja hasil dari usaha yang dilakukan atau sebuah keajaiban”.

Statement itu menarik. Sebab, tak semua yang kalah itu tak berjuang. Tidak semua yang kalah itu tidak berkorban. Tapi mereka adalah orang-orang yang ingin memberikan yang terbaik. Mereka ingin melampaui batasan dirinya sendiri. Meskipun hanya sebatas itu kemampuan mereka.

Saya percaya, bahwa Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal. Ketika Winston Churchill pernah sesumbar “history has been written by the victors, saya pikir tidak salah-salah amat jika tidak sependapat dengan hal ini. Sebab saya adalah orang biasa, lingkungan saya dikelilingi oleh orang-orang biasa, maka saya ingin mengabadikan orang-orang biasa tersebut sebagai orang-orang yang (tak) biasa dalam hidupnya.

Bersua Karib (tak) Biasa

Saya mengenalnya sudah lama. Tetapi baru akrab saat kita sama-sama menjadi MABA (Mahasiswa Baru) pada tahun 2019 karena kita satu kamar. Apalah arti orang biasa, begitupun dirinya. Sepintas memang tak ada yang istimewa.

Singkat cerita, suatu ketika ia sempat menangis. Mengeluhkan betapa sulitnya menghafal Al-Quran. Saya tak percaya begitu saja kala itu. Saya hanya menganggap keluhan tersebut sebagai kelelahan akibat kesibukannya (meski saya tidak tahu dia sibuk apa). Saat itu ia menangis, karena untuk menghafal satu halaman per hari saja ia kewalahan. Sehingga saran saya untuknya adalah konsultasi kepada ustazah.

Dalam hal ini, saya sendiri sebenarnya agak bandel-nakal untuk menunaikannya. Dulu, dihukum berdiri, sudah. Dijewer berkali-kali, sudah. Dimarahi, apalagi! Bahkan untuk setoran saja, saya masih harus dijemput ustazah.

Kebandel-nakalan itu agak mereda semenjak menjadi mahasiswi dan kenal dengan teman saya ini. Ia selalu mengajak saya pergi ke musala paling awal. Di sela-sela itu, ia bercerita lagi bahwa hafalannya tetap saja sulit. Tetapi kini ia boleh menyetorkan hafalan setengah lembar saja dalam sehari. Ia bercerita sambil memasang wajah paling sumringah.

Hingga suatu hari ia kesusahan lagi. Ternyata ustazah yang menyimak setorannya diganti. Benar saja, ia harus terengah-engah lagi dalam menyetorkan hafalan satu halaman. Beberapa hari pertama malah mengulang berkali-kali. Ia berkali-kali bilang sambil menutup wajah dengan tangannya rapat-rapat, Aku takut,”.

Pada akhirnya ia mulai memasang siasat yang tak pernah ditempuh oleh siapa pun. Ia mendatangi ustazah untuk meminta waktu tambahan mengaji. Jika santri normal bertemu ustazah dua kali sehari, ia meminta waktu tambahan tiga kali pertemuan. Ketika ia mendapatkan hal yang menakutkan, alih-alih ia lari, ia justru menantang untuk menaklukkannya. Saya mulai tercengang.

Apakah langkahnya membuahkan hasil? Tentu saja iya. Ia pandai mengatur jadwal: bangun pagi, selesai salat, habis sarapan, pulang kuliah, bangun di tidur siang dan seterusnya melulu diselingi dengan ngaji dan ngaji. Malah jika dia tertidur dan terlambat bangun sesuai jam yang ditentukan, ia marah.

Pernah suatu ketika, saya lupa persisnya. Ia mengajak saya ke musala. “Ayo berangkat, kamu belum punya hafalan untuk besok,” katanya. Hingga jam menunjukkan tengah malam, saya masih belum mengantuk. Sedang ia memilih tidur sebentar untuk selanjutnya minta dibangunkan lagi. Setelah sampai waktunya, saya coba membangunkan. Tapi karena ia tampak sangat lelah, saya biarkan saja tidur. Ternyata saya salah besar, ia marah.

Sebenarnya, keputusan saya cukup beralasan. Saya berdalih bahwa istirahat yang cukup juga perlu untuk menjaga kesehatan dan keseimbangan tubuh. Dalih itu disambut oleh penuturan yang membuat saya diam. “Jika saya istirahat, maka saya tidak bisa setoran besok. Mengapa saya mengaji sampai malam? Karena saya juga ingin seperti kamu dan teman-teman yang lain. Cepat menghafal, bisa main, bisa tidur nyenyak. Sementara aku? Tidak. Menghafal saja susah,” katanya.

Ia terus saja begitu. Pada bulan Juli lalu, ia dinobatkan sebagai bintang tahfiz. Artinya, ia mengalahkan ratusan santri yang memiliki hafalan cepat, tepat, dan lancar lainnya. Ia mampu memberikan contoh bagaimana dengan kemungkinan paling kecil di sebuah keadaan, manusia mampu bertahan dan melejit berbuat lebih banyak.

Jika Tobio kageyama dalam serial anime Haikyuu mengatakan, “Yang terakhir berdiri adalah para pemenang. Hanya yang terkuat. Jika kau ingin menjadi yang terakhir, maka jadilah kuat!”

Maka, teman saya yang selalu ingin berusaha itu, berangkat paling awal, pulang paling belakangan, justru ia yang jadi terkuat. Hal itu mengingatkan kita pada pesan KH. Zuhri Zaini, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid saat mengaji kitab Syu’abul Iman. Dawuhnya, “Tidak apa-apa jika kita tidak pintar, masih ada rajin yang bisa kita gunakan untuk mengalahkan si pintar yang bahkan malas belajar.”


Category : buletin

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Wildana Rahmah Azzuhri

Santriwati, Pelajar, Pengabdi Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo