Dari Suatu Keadaan

slider
slider
slider
slider
05 Desember 2016
|
215

Rasa syukur adalah suatu karunia yang tak terkira indahnya dari Allah. Syukur muatannya dalam tataran psikologis, tataran sudut pandang. Bahwa mungkin secara fisik kita tidak beruntung, tidak berkecukupan, tidak bahagia. Namun rasa syukur mengatakan kepada kita bahwa itu semua hanyalah persepsi kita sendiri. Rasa syukur menghapus semua perasaan negatif tersebut dengan penyerahan sedalam-dalamnya kepada kuasa Allah. Dengan keyakinan bahwa tidak pernah ada perangkat gagal yang diberikan Allah ketika Dia meletakkan manusia dalam suatu kondisi. Implikasinya, Allah berikan karunia lain yaitu rasa damai.

Oleh sebab itu, janganlah kita meminta Allah untuk mengubah keadaan kita yang sekarang dengan alasan agar mudah dalam beramal. Betapa tidak tahu dirinya kita! Betapa bodohnya kita meragukan Sang Maha Bijaksana! Kehidupan yang amat sangat kompleks dan sangat luas ini kita hanya sebutir debu di dalamnya. Nalar kita tidak bisa mencerap satu per satu kelindan peristiwa dan tak bisa menebak akan dibawa kemana kita di akhir cerita. Sementara probabilitas pilihan terentang diikuti dengan godaan-godaan dari dalam diri. Betapa Allah dengan bermacam manifestasi-Nya mengatakan: serahkanlah semua pada-Ku!

Mungkin saja dengan keadaan yang sekarang, Allah memberikan potensi lain yang kita sendiri tak sadari. Potensi yang lebih sesuai untuk kita. Potensi yang sanggup kita tanggungkan. Jangan mendikte Allah sesuai mau kita, bukan seperti itu tata krama hamba yang tunduk dalam kecintaan seluruh. Bahkan doa, selama ini kita memperlakukannya sebagai alat untuk “menuju sukses sesuai keinginan diri sendiri”. Padahal doa adalah arena mistik di mana justru Allah yang datang mengundang kita masuk untuk mencari dan menemukan celah kebijakan-Nya dan kasih-Nya.

Ketika ingin sukses, muatan Tauhid sesungguhnya memberikan jalan yang sebenar-benarnya. Caranya, pertama dengan uzlah (lepas/hilangkan) hubungan antara sesama makhluk. Lepas dalam artian tidak bergantung dan tidak berharap, namun ketika dikaruniakan Allah juga tidak menolak.

Kedua dengan masuki hamparan realitas makhluk tersebut dengan sudah membebaskan diri dari ketergantungan terhadap makhluk. Dengan keyakinan bahwa Allah “sudah’ Maha Pengasih. “Sudah” berarti Allah telah memberikan macam ragam bentuk kecintaan-Nya kepada kita dan tersebar di seluruh makhluk macam apapun wujudnya. Sehingga kita yakin untuk berusaha mencari rahmat Allah dalam segala bentuk realitas. Kita tidak lagi akan mendebat, menghujat, mempertanyakan kondisi kita karena begitulah Allah menghendaki hidup kita menjadi satu macam bentuk manifestasi-Nya. Kita sebagai manusia, tidak akan mampu mencapai kebijakan Allah kecuali Dia sendiri membukakannya kepada kita. Perlahan. Maka yakinlah!

Kutipan terakhir dari Ngaji Al-Hikam malam tadi (5/12): “Bukanlah keadaan yang mempengaruhi dirimu. Tapi kedalaman batinmu!”

Wallahul muwaffiq, wallahu a’lam bish-shawab.

*Catatan Ngaji Al-Hikam bersama K.H. Imron Djamil, Senin, 5 Desember 2016.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Ria Fitriani

Apoteker, Suka Sastra.