Cinta Renta dalam Love in the Time of Cholera

slider
22 Desember 2021
|
256

Judul : Love in the Time of Cholera | Penulis : Gabriel Garcia Marquez | Penerjemah : Dian Vita Ellyati | Penerbit : Gramedia Pustaka Utama | Halaman : 640 halaman | Tahun : 2018 | ISBN : 9786020382678

Bayangkan, seorang kakek berusia kepala tujuh bernama Florentino Ariza mengucapkan, “Fermina, aku telah menantikan kesempatan ini selama lebih dari setengah abad, untuk mengulangi padamu sekali lagi sumpahku akan kesetiaan yang sempurna dan cinta yang abadi.” Diungkapkan tepat di hari wafatnya suami Fermina Daza bernama Juvenal Urbino yang jasadnya masih hangat di alam kubur dan rombongan para pelayat baru saja kembali.

Laki-laki malang tak tahu etika ini pun diusir oleh Fermina yang baru menjadi janda. “Keluar dari sini! Dan jangan lagi tunjukkan wajahmu selama sisa hidupmu! Dan kukira, itu tak akan lama lagi.” Dia ingin menuntaskan kesedihan, menikmati keheningan, dan mengenang mendiang suaminya. Kepergian orang terdekat selalu membawa serta separuh yang ditinggal, atau sebaliknya, meninggalkan separuh miliknya bagi yang masih hidup.

Fermina merasakan kehilangan dan goncangan batin yang mendalam, sampai bertanya-tanya, “Siapa sesungguhnya yang lebih mati: lelaki yang telah meninggal itu ataukah perempuan yang ditinggalkannya?” Di seluruh sudut rumah, dia menemukan semua hal yang mengingatkannya pada mendiang. Namun di salah satu sudut memorinya, dia terkenang pada Florentino Ariza yang telah berbuat kurang ajar dan kini masuk ke ingatannya tanpa permisi. Pikirannya bergerak ke belakang, pada fragmen usia mudanya.

***

Saya membaca novel klasik Love in the Time of Cholera (terjemahan Dian Vita Ellyati, 2010 dan kini ada versi Gramedia Pustaka Utama yang terbit pada 2018) ini di musim wabah Covid-19. Novel ini merupakan karya masterpiece dari Gabriel García Márquez, sastrawan kelahiran Columbia pada 1928, yang memenangkan Nobel Sastra 1982. Di antara karyanya: One Hundred Years of Solitude dan The Autumn of the Patriarch.

Love in the Time of Cholera menjadi salah satu roman terpopuler yang menginspirasi film dengan judul yang sama pada 2007. Gaya narasi Márquez sangat khas. Ia menyuguhkan tema yang selalu relevan sepanjang masa: cinta. Ia mampu mengemas kisah cinta yang tidak klise, tentang menikmati penderitaan karena cinta dan penebusannya yang subtil.

Novel ini mengisahkan cinta yang tak pernah kedaluarsa dari Florentino Ariza. Ia menunggu 53 tahun 7 bulan dan 11 hari dan malam. Ia sempat kehilangan Fermina Daza yang menolak cintanya dan menikahi dokter Juvenal Urbino, lelaki lulusan pendidikan terbaik di Prancis, mapan, keturunan bangsawan yang diperebutkan di seantero negeri.

Florentino Ariza terlahir sebagai anak haram seorang pemilik perusahaan pelayaran di Karibia, yang menelantarkan istri dan anaknya. Nama Florentino dinisbatkan pada nama ibunya, Transito Ariza, bukan pada ayahnya yang pengusaha bereputasi. Florentino dan ibunya hidup dalam lingkaran kemiskinan. Namun, ia beruntung karena memiliki paman Leon XII yang menyayanginya seperti anak kandung sendiri.

Setelah ayahnya wafat, Florentino terpaksa berhenti sekolah dan mulai bekerja sebagai karyawan magang di Kantor Pos. Suatu ketika, operator telegraf bernama Lotario Thugut menyuruhnya mengantarkan telegram kepada Lorenzo Daza, di sebuah rumah tua di kawasan Taman Evangelis. Lorenzo Daza merupakan bangsawan dan pengusaha terkenal, tetapi tidak memiliki banyak teman. Ia menjalankan tugasnya dengan baik.

Setelah mendapat upah lima real dari Lorenzo Daza, Florentino melangkah pulang. Sekelebat ketika melewati sebuah ruangan, ia melihat dua perempuan: yang muda sedang mengajarkan membaca perempuan yang usianya lebih tua. Perempuan muda itu adalah Fermina Daza dan satunya adalah Bibi Escolastica. Fermina sempat mengangkat kedua matanya untuk melihat sosok pemuda yang melintas di balik jendela. Florentino yang berusia 17 tahun itu pun langsung jatuh cinta pada gadis 13 tahun. Sebuah perasaan yang tiba-tiba, tidak bisa disuruh atau dilarang.

Apa daya? Keduanya bagaikan pungguk dan bulan. Status sosial orang tua, garis keturunan, hingga pendidikannya jauh berbeda. Fermina merupakan gadis pintar di Akademi Pelayanan Perawan Suci, sebuah sekolah favorit para bangsawan selama dua abad yang mempelajari banyak hal, termasuk seni dan cara menjadi istri yang berbakti. Sekolah ini hanya menerima siswa dari keluarga terpandang.

Fermina Daza merupakan anak tunggal Lorenzo Daza. Ibunya meninggal ketika ia masih belia. Fermina tumbuh di bawah asuhan bibi dan ayahnya, tipe orang tua yang sangat posesif dan protektif. Ketiadaan sosok Ibu dan laku ayahnya yang kerap mengatur berlebihan, membuat Fermina tumbuh menjadi perempuan muda jelita yang mandiri dan keras hati. Tatapannya seolah menyimpan kesumat meski tetap mewarisi keanggunan ratu sejagat.

Florentino berusaha mengejar takdir cintanya. Mulanya ia hanya berani menatap dari kejauhan sembari berpura-pura sibuk membaca di sebuah bangku taman setiap Fermina dan bibinya pulang dan pergi ke sekolah. Florentino akhirnya memberanikan diri menulis surat untuk mengungkap isi hati. Bibi Fermina dan ibu Florentino cukup koperatif dan mendukung cinta anak di bawah asuhan mereka. Cinta lelaki kurus dan pemalu itu pun sempat berbalas. Mereka kerap bertukar surat.

Ketika cinta sembunyi-sembunyi yang belum sempat mekar ini terendus Lorenzo dan Fermina akhirnya dikeluarkan dari sekolah karena kedapatan sedang membaca surat di saat pelajaran, Lorenzo Daza segera mengasingkan putrinya secara paksa. Bibi yang dianggap mendukung persekongkolan cinta ini juga diusir. Lorenzo memboyong putri semata wayangnya ke rumah kerabatnya. Letaknya cukup jauh melewati gunung dan lembah, sehingga Lorenzo yakin putrinya tidak dapat lagi berurusan dengan Florentino. Ia  berharap, cinta keduanya akan segera pudar.

Di tempat baru, Fermina memiliki sepupu bernama Hildebranda yang berusia sepantaran dan mampu memahami kecamuk pikirannya. Mereka berdua kerap membicarakan masalah paling rumit sekalipun sembari merokok dan berendam bersama. Di masa pengasingan, Hildebranda mengatur siasat dengan pihak pos agar Florentino Ariza dan Fermina Daza tetap bisa terus berkirim kabar melalui telegram.

Setelah beberapa tahun, Fermina kembali dari masa pengasingan dengan jiwa dan cakrawala pengetahuan yang lebih terbuka dan dewasa. Ia telah purna menjalani masa remaja yang penuh gelora. Pemikirannya semakin matang dan bisa memilah realitas dan ilusi. Sementara Florentino masih dengan kesumat cintanya yang menggebu. Ia terus berusaha memikat perempuan pujaannya yang kini telah menjadi gadis yang ranum.

Suatu ketika, Fermina jatuh sakit, tepat di musim merebaknya wabah kolera. Lorenzo sangat khawatir jika sampai anaknya terkena kolera yang sedang mewabah di kawasan pedesaan. Ia mencarikan dokter terbaik yang saat itu sangat dikenal karena prestasinya. Dokter muda ini baru saja kembali dari pendidikannya di Paris. Siapa sangka, sang dokter cerdas itu pun terpikat pada Fermina saat kunjungan pertama.

Dokter Juvenal Urbino yang punya status sosial terpandang bermaksud melamar Fermina. Lorenzo sangat senang dengan lamaran dari dokter yang membuat semua orang tua menginginkan anak perempuannya dipersunting olehnya. Fermina terpaksa menerima nasib cinta artifisialnya pada sang dokter. Di usia 21 tahun, Fermina tak menemukan alasan untuk menolak Juvenal Urbino yang merupakan pria terhormat, keturunan bangsawan, lagaknya sopan, berpendidikan Eropa.

Juvenal Urbino yang baru kembali ke Amerika Latin merasa miris dengan kondisi kampung halamannya yang tidak sehat dan berpotensi mengundang penyakit. Ia sangat gigih memberi edukasi kepada warga mengenai sanitasi dan menjaga kejernihan sungai. Dengan semua dedikasi dan reputasinya, sang dokter merasa pasti bisa merebut hati semua perempuan. “Ia menyombongkan penaklukan imajinernya, sebagaimana biasa dilakukan oleh lelaki-lelaki lain pada kelas sosialnya.”

Fermina Daza dan Dokter Juvenal Urbino memasuki jenjang perkawinan. Cinta keduanya tumbuh perlahan, terutama ketika momen menghabiskan masa bulan madu di Eropa. Cinta merupakan bakat alami semua manusia, tetapi tidak semua cinta tumbuh oleh rekayasa dan kebiasaan. Cinta dan kehidupan rumah tangga keduanya perlahan hambar. Setiap harinya, Fermina Daza hidup untuk membunuh waktu, seperti kata Alain de Botton, “Mencintai seseorang tidak akan pernah bebas dari rasa frustrasi.”

Fermina menikmati pernikahannya dan terus menjaga stabilitasnya. Ia berusaha mengenal suaminya, karena ia percaya bahwa manusia menjadi musuh dan takut atas sesuatu yang tak dikenalinya. Ia berusaha memaklumi rasa kosong yang kerap hadir. Ia memiliki pemikiran sederhana bahwa “masalah di dalam kehidupan bersosial adalah belajar mengatasi ketakutan; masalah dalam kehidupan berumah tangga adalah belajar mengatasi kebosanan.”

Sementara itu, Florentino tetap dengan cintanya yang murni. Transito Ariza berusaha menjauhkan Florentino dari titik episentrum cinta yang telah membuatnya terpuruk. Florentino dikirim ke suatu tempat jauh yang dicapai 20 hari perjalanan kapal. Dalam pelayaran itu, Florentino mengalami kejadian tak disengaja. Suatu malam, ia diperkosa oleh perempuan misterius. Secepat kilat perempuan itu menariknya ke sebuah ruangan kabin dan langsung menusukkan diri ke arahnya. Florentino Ariza dan si perempuan ini jatuh ke dalam derita gairah. Florentino telah bersumpah untuk mempersempahkan keperjakannya bagi Fermina Daza seorang.

Tak bertahan lama, Florentino Ariza kembali dan tetap memelihara cintanya pada Fermina. Ia selalu mencari cara agar bisa menghadiri upacara agama dan kegiatan klub sosial yang dihadiri Fermina Daza dan suaminya. Florentino mulai berjuang menaikkan martabat diri. Ia juga tumbuh menjadi penyair. Dengan bantuan Paman Leon XII, dia mulai tekun bekerja di perusahaan pelayaran. Perlahan karirnya menanjak hingga menjadi orang nomor satu di perusahaan yang meneruskan usaha pamannya.

Meskipun telah sukses, jiwanya tetap menyisakan sebuah ruang kosong. Florentino terus memelihara harapan dan menunggu. Selama waktu penantian, ia menjalani petualangan cinta. Pengalaman diperkosa telah membentuk persepsinya bahwa cinta ilusifnya pada Fermina Daza mungkin bisa digantikan nafsu duniawi. Ia bertemu dan tidur dengan banyak perempuan dari beragam latar belakang, gadis dan janda. Florentino disebut sampai meniduri 622 perempuan. Semua kisahnya dengan banyak perempuan itu dijalani tanpa keinginan untuk mencintai atau dicintai, walaupun berharap menemukan sesuatu yang mirip cinta.

Setelah lebih setengah abad, Florentino mendengar kabar kematian dokter Juvenal Urbino yang terjatuh dari tangga saat berusaha menangkap burung beo. Florentino yang telah berusia lebih dari 70 tahun itu pun seolah merasakan terlahir kembali. Meski sempat diusir di hari pemakaman itu, Florentino mulai menuliskan kembali surat-surat indahnya untuk Fermina. Ia memanfaatkan insomnianya untuk menulis.

Usai ditinggal suami tempatnya menumpahkan segala, Fermina sempat merasakan hidup yang seolah tanpa nyawa. Sampai dia mulai menyadari bahwa surat meditatif Florentino perlahan mampu memulihkan pikirannya yang kacau. Tak dinyata, sepasang kakek-nenek ini menjalani sebuah cinta yang renta. Begitulah cinta dengan manifestasi kisahnya yang beragam, sesuatu yang subjektif dan tak pernah selesai untuk dipahami, sesuatu yang berurusan dengan problem eksistensial manusia.


Category : resensi

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Ridha Basri

Sehari-hari ngadem di Grha Suara Muhammadiyah