Anak-Anak yang Mencari Kebahagiaan

slider
06 Desember 2021
|
327

Judul : Di Tanah Lada ǀ Penulis : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ǀ Penerbit : Gramedia Pustaka Utama ǀ Cetakan : 2015 ǀ Tebal : 245 halaman ǀ ISBN : 978-602-03-1896-7

Bagi Salva (panggilannya Ava), Papa adalah hantu, Papa adalah monster, Papa adalah setan. Papa benci Salva. Papa sangat menakutkan: besar, gendut, dan berwajah marah. Papa memang suka memarahi orang-orang, terutama Salva dan Mama, sekalipun mereka berbuat benar. Papa juga tidak suka orang lain senang, apalagi Salva dan Mama. Papa lebih suka membuat orang lain sedih, khususnya Salva dan Mama.

Begitu pula Papanya P (iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf: P). P punya Papa yang sama jahatnya dengan Papanya Salva. Papanya P suka marah-marah, memukul, dan memperlakukan P bukan sebagai orang—itulah mengapa ia hanya diberi nama ‘P’, katanya P bukan orang dan karena itu tidak perlu dikasih nama betulan.

Kesamaan nasib, yakni memiliki Papa yang jahat, membuat Salva (usia enam tahun) dan P (usia sepuluh tahun) menjadi sahabat dekat. Mereka berbagi perasaan dan pandangan hidup sebagai anak kecil yang kehilangan kasih sayang orang tua. Kisah persahabatan mereka itu dapat dibaca dalam novel Di Tanah Lada buah pena Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang terbit pertama kali pada 2015. Novel ini menjadi Pemenang 2 dalam Sayembara Penulisan Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2014.

Ziggy, yang punya ketertarikan dengan dunia anak, lewat novel ini menyoroti kehidupan orang dewasa dan keluarga dari perspektif anak-anak. Dengan sepenuhnya menggunakan sudut pandang Salva, novel ini tampak mengkritik dan membawa pesan terkait peran orang tua, pola pengasuhan dalam keluarga, dan bagaimana dampaknya untuk anak-anak.

Cerita bermula dari kepindahan Salva dan Mama-Papa ke Rusun Nero setelah kematian Kakek Kia. Mereka pindah ke sana karena Papa ingin menghabiskan uang warisan dan hasil jual rumah untuk berjudi. Kepindahan tersebut makin memburukkan suasana keluarga mereka. Selain karena Rusun Nero adalah tempat yang sangat kumuh, pertengkaran antara Mama dan Papa kian sulit dihindari Salva.

“Ini pertama kalinya aku melihat Mama menjerit-jerit seperti itu. Mungkin karena biasanya Mama menyuruhku masuk kamar setiap Papa mulai menggebrak meja. Dan sekarang, aku tidak punya kamar dengan pintu dan dinding yang bagus. Berarti, setiap kali mereka marah, aku akan mendengar mereka.” (hlm, 19)

Meski selalu dibela Mama, tetapi Papa tidak pernah suka dengan kehadiran Salva—bagi Papa, Salva tidak berguna layaknya ‘saliva’ atau ludah. Oleh karena itu, ketika Mama dan Papa cekcok, Salva akan kabur dari rusun. Dari situlah Salva bertemu P, anak laki-laki yang ia kira pengamen. Sebagaimana lazimnya anak kecil, mereka cepat akrab. Dengan persahabatan itu mereka melewati berbagai petualangan hidup bersama.

Mengikuti peristiwa demi peristiwa yang mereka lalui dan percakapan-percakapan lugu mereka membuat perasaan kita (atau setidaknya saya) teraduk. Pada satu sisi, obrolan dan tingkah laku jenaka mereka membuat novel ini seperti cerita anak-anak yang ceria. Dengan berbekal kamus yang diberikan Kakek Kia, logika polos Salva dan usahanya untuk memahami setiap kejadian juga menjadikan novel ini menyenangkan. Contohnya bisa disimak dari dua kutipan berikut.

“Petunjuk lain tentang arti kata ‘kasino’ adalah ucapan Kakek Kia ketika dia mengobrol dengan Mama. Mereka sedang membicarakan tiga orang pemilik warung kopi bernama Dono, Kasino, Indro. Nama ‘Dono’ mirip nama Papa dan nama temanku yang jahat. Nama ‘Kasino’ mirip dengan ‘kasino’ yang disukai Papa. Yang disukai Papa biasanya adalah sesuatu yang tidak baik. Jadi, kusimpulkan, Indro adalah satu-satunya orang yang baik di warung kopi itu.” (hlm, 18)

“Kalau Papa marah, dia mirip setan. Kurasa Papa memang setan. Kata Mama, kalau melakukan perbuatan tidak baik, itu berarti kita dibujuk setan. Judi adalah perbuatan tidak baik, menurut Mama. Jadi, Papa diajak setan untuk berjudi. Orang-orang yang berjudi semuanya diajak setan. Papa bilang, teman-temannya yang mengajak dia judi. Jadi, teman-temannya itu setan. Dan, kalau Papa mengajak orang lain untuk berjudi, Papa juga setan. Jadi benar kalau aku bilang Papa adalah setan.” (hlm, 33)

Namun pada sisi yang lain, beragam kejadian yang menimpa mereka, terutama yang disebabkan tokoh-tokoh dewasa—terkhusus lagi para tokoh Papa, menimbulkan sedih dan iba. Kita akan dibawa pada berbagai kejutan sampai tragedi akhir yang memilukan.

Bisa dibilang isu paling menonjol dari novel ini adalah kekerasan dalam rumah tangga. Jika menggunakan pendekatan kajian gender, isu tersebut berkaitan erat dengan dominasi patriarki. Para sosok Papa jahat yang suka berbuat kekerasan, seperti menghardik, memukul, bahkan sampai menempelkan setrika panas ke lengan anak, merupakan perwujudan dari wacana maskulinitas yang kelewat batas.

Kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa perempuan, terlebih anak-anak, bukan saja meninggalkan bekas luka secara fisik, tetapi juga menimbulkan lara psikologis. Dampaknya bisa kita lihat dari perubahan mental Salva dan P. Mulai pertengahan sampai akhir cerita, kita lebih banyak diajak untuk memahami gejolak batin mereka. Setelah mengalami berbagai rupa tindak kekerasan dari sosok Papa, mereka berkeyakinan bahwa tidak ada Papa yang baik di dunia.

Kekecewaan mereka makin bertambah ketika mengetahui sosok orang dewasa lainnya (Mamanya Salva, Mas Alri, dan Mbak Suri) ternyata juga menyimpan ‘kejahatan’. Oleh karena itu, mereka akhirnya memutuskan untuk lari dari para orang dewasa dan pergi menuju suatu tempat yang mereka sebut Tanah Lada. Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan—sesuatu yang mereka impikan.

Kehilangan hak untuk mendapatkan kasih sayang dari orang tua mengaburkan pandangan Salva dan P akan hal-hal baik di dunia yang mereka hadapi. Mereka menjelma menjadi anak-anak yang skeptis pada kebaikan.

“Skeptis, maksudnya, kamu berhenti percaya pada terlalu banyak hal. Kamu berhenti percaya kalau di dunia ini ada hal yang baik. Ada Papa yang baik, ada orang yang baik, ada nasib yang baik. Kamu berhenti percaya kalau kamu nggak perlu mati dan bereinkarnasi untuk bisa hidup bahagia.”

“Miris, lho, setiap kali Mas dengar kalian bicara tentang hidup dan masa depan,” katanya. “Kamu bisa kok hidup bahagia. Bagaimana pun hidup kamu sekarang. Masa depan, siapa tahu, kan? Kamu mungkin nggak punya Papa yang baik, seperti kebanyakan orang. Tapi, kamu masih bisa bahagia. Mungkin, kamu nggak perlu Papa yang baik untuk bisa bahagia.” (hlm, 196-197)

Dengan gaya bahasa yang banyak memakai majas repetisi—dalam kajian stilistika, repetisi di antaranya dapat berfungsi untuk mempertegas perasaan tokoh, memperjelas makna, serta memberikan penekanan pada suasana dan kesan tertentu yang dipentingkan—novel ini secara khusus mengajak kita untuk memahami dunia anak: menyelami pikiran dan perasaan mereka.

Isu seputar anak-anak sangatlah dekat dengan kehidupan kita, tetapi mungkin sering terlupakan. Untuk itulah Ziggy menulis novel Di Tanah Lada. Dalam catatan cetakan kedua, Ziggy mengungkapkan harapan utama yang menggagas kelahiran novel ini: Semoga semua anak hidup bahagia.

Sebagai pembaca, kita punya harapan yang sama.


Category : resensi

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Febrian Eka Ramadhan

Peserta Kelas Menulis menemui senja di MJS Jilid #5