ahad
ahad
Ini hari Ahad. Aku yang sesak penat. Ingin menghirup oksigen dari napas orang-orang yang telah tiada yang semasa hidupnya senantiasa tak pernah melupa untuk mengingat.
Ini hari Ahad. Aku yang hanya sesekali ingat. Ingin diingatkan. Tentang menghidupkan hidup setelah hidup. Tentang berzikir. Tentang bukan sekadar menyebut saja.
Ini hari Ahad. Aku yang sering hanya melisankan kata. Ingin di surau. Ingin duduk di sekeliling orang-orang yang dalam kepalanya penuh dengan doa-doa.
Ini hari Ahad. Aku yang masih terbata-bata dalam mendoa. Ingin lagi mendengar lantunan lirih surah shalat yang entah bagaimana seperti memutar ulang semua dosa-dosa.
Ini hari Ahad. Aku yang pendosa. Aku yang tersesat. Aku yang tak dekat. Tersaruk-saruk ingin menemukembalikan jalan.
Dan meskipun masih jauh dari tujuan, namun: yang terasa hanyalah syukur.
Category : sastra
SHARE THIS POST
Lapak MJS
- Nisan Hamengkubuwanan: Artefak Makam Islam Abad XVIII-XIX di Yogyakarta dan Sekitarnya
- Lima Puluh Tahun: Meniti Jalan Kembali
- Buletin Bulanan MJS Edisi ke-9 Maret 2025 M
- Buku Terjemah Rasa II: Tentang Hidup, Kebersamaan, dan Kerinduan
- Buku Ngaji Pascakolonial
- Buletin Bulanan MJS Edisi ke-8 Desember 2024