Simbol Kebijaksanaan Pengarang

27 Oktober 2017
|
1770

Dalam tradisi penulisan kitab-kitab kuning berbahasa Arab, ada, katakanlah sebuah titik yang menarik dari para pengarang atau penulis kitab kuning yang unik. Sebuah titik yang menarik itu adalah membubuhkan kata wallahu a’lam (hanya Allah yang lebih tahu) atau lewat kata yang senada dengan kata itu pada setiap akhir tulisan.

Kata tersebut juga bisa menjadi penutup dari sebuah tulisan yang menandakan tulisan yang Anda baca sudah sampai akhir, tamat. Lalu apa maksud dari penulisan kata wallahu a’lam? Kenapa para kebanyakan pengarang atau penulis membubuhkan kata itu sebagai akhir penutup tulisan?

Bila kita berpikir secara teologis, kata tersebut akan menjadi kata sakti yang membingkai indah sebuah tulisan, sehingga pemahaman yang diperoleh tidak lebih dari secuil ilmu Allah. Allah dengan semesta pengetahuannya menyisihkan sepersekian dari ilmu-Nya yang atas perkenan-Nya pula singgah pada diri manusia yang haus pengetahuan ini.

Di sisi lain, tanda lewat kata wallahu a’lam bisa juga dimaknai sebagai bukti ketundukan diri manusia atas pencipta yang Maha Mengetahui. Implikasinya akan ditarik kembali ke ranah spiritual bahwa manusia disadarkan kembali, bahwa hanya Allahlah jua yang empunya pengetahuan. Sehingga berimanlah kepada-Nya, karena Dia yang telah membuka tabir pengetahuan yang tak terbatas.

Tulisan ini tidak akan mengulas lebih dalam soal itu dalam ranah teologis. Untuk hal itu, sila lakukan penjelajahan dan kembangkan lebih dalam. Akan tetapi tulisan ini akan menengok sedikit mengenai bubuhan kata wallahu a’lam dalam alur peredaran pengetahuan yang sampai ke hadapan kita.

Kita ambil contoh sederhana, bagaimana kita memaknai sebuah bencana alam terlebih dahulu. Kita dan orang-orang di sekitar ketika dihadapkan pada kenyataan bencana banjir bandang yang menelan banyak kerugian berupa harta, benda, nyawa. Lalu, dari kenyataan banjir tersebut menjadi bahan pembicaraan yang hangat di sekitar kita.

Orang-orang mulai memahami dalam diri mereka masing-masing akan kenyataan tentang banjir bandang. Kemudian, pada gilirannya akan muncul pengungkapan sebagai buah dari pemahaman dalam diri manusia. Dari situ mulailah bermunculan pendapat, bahwa banjir bandang itu boleh jadi sebagai bentuk laknat dari Allah kepada orang-orang yang merusak alam. Ada yang memaknainya lain lagi, bahwa bencana banjir sebagai bentuk ujian bagi hamba-Nya untuk “naik kelas”.

Lain dari itu juga timbul penafsiran berbeda yang menyebut banjir itu sebagai rahmat, berupa berkah pasca banjir. Dan masih akan banyak lagi pendapat ataupun penilaian lainnya yang bermunculan dari tiap masing-masing orang. Banjir tersebut pada intisarinya hanya sebuah kenyataan. Kenyataan tersebut bisu tanpa bisa diajak bicara apa maksud dari yang tampak (banjir) maupun yang tersembunyi dibalik setiap peristiwa bencana tersebut. Lalu manusia yang berakal ini berhadapan dengan kenyataan yang bisu itu, aktif berpikir dan merenungkannya.

Maka kenyataan yang bisu itu mulai dipahami seturut kemampuan daya pikir dan sejauh jangkauan pemahaman akal sehat, yang itu terbatas pula, sampai lahirlah sebuah pemahaman. Alhasil kenyataan yang bisu itu direduksi menjadi sebuah pemahaman. Kemudian pemahaman yang ditangkap dalam diri manusia mulai diekspresikan ke hadapan publik sehingga muncullah pemaknaan, penafsiran ataupun ekspresi lainnya.

Semuanya yang muncul itu pun bukan hasil yang penuh, namun telah terjadi reduksi dari sekian banyak jaringan makna yang mengelilingi sebuah kenyataan banjir. Jadi, dari kenyataan ke pemahaman kemudian ke ekspresi seterusnya telah terjadi sebuah simplifikasi atau penyederhanaan dalam menangkap, mengungkap, menyikapi sebuah kenyataan. Lalu, apa hubungannya dengan kata wallahu a’lam?

Kita menyadari dalam alur peredaran pengetahuan yang terdokumentasi dalam kitab-kitab kuning juga lahir dari rahim sebuah kenyataan yang bisu. Kita kembali ke masa Nabi Muhammad saw. sebagai masa turunnya Al-Quran dan disabdakannya hadis. Beliau tidak kosong dari kenyataan yang dihadapi. Termasuk juga para sahabat atau dalam ranah yang lebih umum disebut “saksi pertama Al-Quran dan hadis” yang menjadi bagian dari kenyataan. Mereka ikut juga memaknai kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka mengaitkan ayat Al-Quran dengan sebuah kejadian atau sebuah kejadian berhubungan erat dengan ayat Al-Quran, begitu juga pada hadis.

Pada gilirannya penafsiran para sahabat yang menjadi ingatan kolektif itu juga dikonsumsi generasi setelahnya, sehingga menjadi kenyataan yang baru lagi yang butuh penafsiran lagi dari generasi yang berbeda setelahnya. Peredaran ini secara alamiah terpelihara hingga memamah kitab-kitab yang sampai ke hadapan kita sehingga menjadi sebuah rangkaian dari sekian banyak kenyataan, menjadi pemahaman lalu lahirlah penafsiran, kemudian dari penafsiran itu menjadi kenyataan yang akan dipahami lagi lalu ditafsir lagi hingga sampai pada orang terakhir pada masa yang tak bisa dikira.

Mudahnya sebagai contoh, Tafsir Al-Azhar yang dikarang oleh Buya Hamka merupakan hasil pendapatnya dari kitab-kitab tafsir sebelumnya yang bisu yang dipahami Hamka kemudian ditulis-sampaikannya dalam bentuk tafsir yang berjilid-jilid pula. Kita pun akan memahami dan menafsir (ulang) terkait apa yang dipahami Hamka sebagai seorang penafsir. Akan begitu terus bila ditelusuri dan tarik lagi ke belakang sampai ke sumber pertama yang menjadi kenyataan awal, sampai ke zaman nabi sejak 14 abad lamanya dalam sejarah tradisi Islam.

Implikasinya, pengetahuan yang diwarisi sekarang yang sampai ke kita adalah hasil pengurangan dalam arti positif, sebagai semacam bentuk penyederhanaan pemahaman akan kenyataan yang bertali temali sampai ke zaman dahulu awal. Makanya dari alur peredaran pengetahuan ini menjadi momentum kearifan seorang pengarang akan luasnya sebuah pengetahuan yang menular waris-mewariskan dari memori orang-orang sebelumnya.

Di sinilah kata wallahu a’lam berperan penting sebagai simbol kebijaksanaan pengarang atau penulis yang menyadari bila mungkin saja terjadi pengurangan dan menyerahkan hasil sepenuhnya itu kembali kepada Allah (hanya Allah yang lebih tahu). Karena pengetahuan yang dimilikinya pun juga sebagai buah hasil penafsirannya dari warisan pengetahuan orang sebelumnya, yang tidak terbebas dari kekurangan dan penyederhanaan. Wallahu a’lam.


Category : kolom

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Zulhamdani