Retorika Aristoteles: Seni Menyampaikan Kebenaran

slider
12 Februari 2024
|
1022

Dalam kompleksitas dunia filsafat pada masa Aristoteles, retorika muncul sebagai seni yang memiliki peran vital dalam melestarikan kebenaran dan kebijaksanaan. Aristoteles sendiri menyajikan retorika sebagai alat netral yang dapat membawa kebenaran, tergantung pada moralitas si pembicara; kebenaran yang diamini atau menyulut bahaya besar yang menyertainya.

Pemikiran Aristoteles ini berangkat dari persentuhannya dengan kaum Sophis. Menurutnya, mereka cenderung oportunis pada kebenaran. Sampai-sampai bagi kaum Sophis, kebenaran menjadi sesuatu yang bisa dibeli. Mereka menggunakan kebenaran sebagai alat untuk kepentingan pribadi, tanpa memedulikan kebenaran sejati. Kaum Sophis, meskipun terlatih dalam beretorika, mereka mengabaikan esensi kebenaran dan malah fokus pada kemenangan dalam perdebatan.

Sementara bagi Aristoteles, retorika menjadi alat netral yang dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan, tergantung pada moralitas individu yang membawanya. Sama-sama menggunakan retorika, yang membedakan seorang Sophis dengan yang bukan adalah tujuan moralnya. Di lain sisi, retorika Aristoteles juga sebagai alat yang setara dengan dialektika. Semacam pencarian kebenaran yang mungkin saja bisa diterima atau ditolak oleh orang lain.

Dari sini Aristoteles, membabak gagasan retorikanya menjadi tiga poin penting; pembicara, isi pidato, dan pendengar. Ketiganya saling bertalian. Ketiga poin ini tidak hanya berguna dalam memenangkan perdebatan, tetapi juga untuk meyakinkan dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang efektif. Dengan begitu, si pembicara tidak asal menyampaikan argumen pembuktian tanpa mempertimbangkan pendengar yang dihadapinya.

Retorika Aristoteles; Argumen Pembuktian

Berkaitan argumen pembuktian, Aristoteles memperkenalkan tiga unsur; Logos, Ethos, dan Pathos. Ketiganya menjadi komponen kunci berargumen dalam retorika.

Logos mencakup argumentasi yang didasarkan pada logika, nalar, dan fakta. Pembicara mesti menyusun argumen yang masuk akal dan dapat diterima oleh audien. Dua pendekatan dalam Logos meliputi deduksi dan Induksi. Melalui dua pendekatan ini, pembicara dapat membangun premis yang aksiomatis atau menggunakan fakta-fakta untuk mendukung argumen mereka.

Selanjutnya Ethos yang mencakup kredibilitas, kepercayaan, dan otoritas bagi karakter si pembicara. Ada tiga unsur penting dalam Ethos ini; kecerdasan atau kebijaksanaan, karakter mulia, dan niat baik. Pembicara yang memenuhi ketiga unsur Ethos ini, lebih mungkin diterima oleh pendengar, bahkan ketika argumentasi pembuktiannya tidak sepenuhnya logis.

Dan yang terakhir adalah Pathos. Pathos ini fokus pada emosi yang memainkan peran penting dalam mengarahkan perasaan pendengar. Aristoteles menyajikan berbagai cara efektif dalam menggunakan emosi untuk membangkitkan rasa kemarahan, ketenangan, persahabatan, permusuhan, ketakutan, kepercayaan diri, malu, kebaikan, keburukan, kekaguman, dan kecemburuan. Melalui pemahaman yang mendalam tentang emosi pendengar, si pembicara dapat mencapai efek persuasif yang lebih besar.

Aristoteles juga memahami bahwa pembicara harus mempertimbangkan siapa pendengar mereka dan bagaimana pesan yang disampaikan bisa diterima. Ini menjadi semakin relevan dalam era media sosial, di saat pendengar yang cenderung variatif dari sisi pemahaman, pengalaman personal, dan afiliasinya.

Baik Logos, Ethos, dan Pathos dalam konteks retorikanya Aristoteles masuk dalam kategori argumen pembuktian internal atau artistic. Sedangkan dokumen, rekaman, dan atau saksi menjadi argumen pembuktian eksternal atau inartistic.

Nilai dan Peranan Retorika

Bagi Aristoteles, retorika memiliki nilai dan peranan yang cukup penting. Terkait nilai, ada tiga hal penting yang bisa didapat dalam retorika.

Pertama, kebenaran dan keadilan memiliki kecenderungan alami untuk menang atas ketidakbenaran dan ketidakadilan. Ketika pembicara tidak mampu menyampaikan kebenaran secara efektif, kekalahan pihak yang benar menjadi tanggung jawab si pembicara.

Kedua, di hadapan pendengar tertentu, pengetahuan yang dimiliki pembicara tidak menjamin keyakinan pendengarnya. Maka pembicara mesti menggunakan gagasan umum yang dikenal oleh banyak orang sebagai argumentasi pembuktiannya.

Ketiga, pembicara harus menggunakan argumentasi yang tepat untuk memperjuangkan dua sisi yang berlawanan; yang benar dan yang salah. Di titik inilah, peran retorika memiliki posisi yang tidak bisa dinegasikan. Lantaran pembicara harus menguasai kedua sisi argumen untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan lawan argumen.

Aristoteles juga membandingkan retorika dengan dialektika. Dialektika merupakan upaya pencarian kebenaran yang pasti, sementara retorika menyampaikan kebenaran yang mungkin. Ini menggambarkan bahwa retorika bukan sekadar alat, tetapi juga untuk menyampaikan sebuah kebenaran.

Dari sini, kita bisa melihat gagasan retorika Aristoteles menjadi seni yang mendalam dan kompleks. Pembicara harus mempertimbangkan banyak aspek; pemilihan kata, argumen logis, membangun etos, dan memahami emosi pendengar. Terlebih di era kekinian dengan media sosial yang dapat mempengaruhi opini publik, retorika Aristoteles saya rasa masih menemukan sisi relevansinya. Minimal dalam konteks memproduksi unggahan konten di media sosial. Sekian...

 

Referensi

Ngaji Filsafat 418: Retorika Aristoteles bersama Dr. Fahruddin Faiz di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, pada Rabu, 3 Januari 2024.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Aditya Firmansyah

Santri Ngaji Filsafat MJS