Pos-Islamisme

slider
10 Januari 2022
|
316

“Pos-Islamisme adalah sebuah orde atas keputusasaan muslim Timur Tengah Terhadap slogan Revolusi Islam” ~ Asef Bayat

Sejak Revolusi Islam di Iran pada 1979 berhasil, berbagai kelompok Islam, baik Sunni maupun Syiah, merayakan kemenangan tersebut sebagai kemenangan Islam. Kemenangan tersebut menghancurkan tembok mitos bahwa, melawan Barat adalah hal yang tak mungkin.

Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak kelompok Islam yang terinspirasi oleh langkah yang diambil Iran tersebut. Setidaknya, sampai periode 1990-an masih banyak kelompok Islam yang terpengaruh dengan gerakan ini. Seperti kemunculan gerakan Islamisme Mesir menjelang awal 1990-an menjadi indikasi bahwa, gerakan ini cukup memberikan pengaruh terhadap gerakan politik Islam.  

Namun, dalam perkembangan terakhir di Iran, munculnya kelompok reformis yang kemudian disebut Pos-Islamisme, mengubah peta Islam politik dunia. Kemunculan gerakan tersebut membawa wajah baru bagi panggung politik nasional di Iran sampai saat ini.

Pos-Islamisme merupakan istilah baru untuk menggambarkan sebuah fenomena dalam gerakan Islam politik. Fenomena saat gerakan ini terlibat dalam praktik politik modern yang sebelumnya mereka anggap sebagai gaya politik yang tidak Islami. Istilah ini kemudian menampakkan perbedaan yang cukup mencolok antara Islamisme dan Pos-Islamisme.

Karena itu, untuk membincang apa itu Pos-Islamisme, maka terlebih dahulu harus mengetahui apa yang dinamakan Islamisme yang menjadi cikal bakal dari gerakan selanjutnya.

Islamisme: Gerakan dan Pandangannya

Secara umum, Islamisme muncul sebagai upaya mobilisasi masyarakat yang merasa termarginalkan oleh proses ekonomi, politik, atau budaya dominan masyarakatnya. Masyarakat tersebut kemudian membuat bahasa moralnya sendiri melalui agama dan menginginkan pergantian sistem politik. Dengan kata lain, pergantian sistem politik ini merupakan cara masyarakat kelas menengah muslim untuk menyatakan ketidaksepakatannya kepada yang mereka anggap sebagai orang-orang luar: elite-elite nasional, pemerintah sekuler, dan sekutu Baratnya. Mereka menolak keras budaya dominan Barat, baik yang berupa rasionalitas politik, sensibilitas moral, hingga simbol-simbol normatifnya.

Dalam upaya pencarian ideologi, kelas menengah muslim tersebut membayangkan Islam dapat merespons setiap permasalahan manusia, mulai dari defisit politik, ekonomi, sampai budaya mereka. Kelompok ini menganggap Islam sebagai sebuah sistem ketuhanan yang lengkap dengan berbagai kebutuhan sosial seperti model politik, kode budaya, struktur hukum, sampai ke tatanan ekonomi yang semuanya superior.

Islam yang demikian dianggap mampu menawarkan rasa hormat yang tinggi, kemandirian dan kebebasan dalam banyak hal. Didukung dengan bahasa populis dan kontrol sosial yang keras, penafsiran semacam ini cenderung memarginalkan kelompok yang tidak sepaham dengan mereka, predikat melawan adat, sekuler, non-Islamisme, minoritas agama, dan banyak perumpamaan lain akan disematkan kepada yang tidak sepaham dengannya. Salah satu yang menjadi inti dari paradigma Islamisme ialah antara kesalehan dan kewajiban, tanggung jawab dan tugas sebagai satu-kesatuan.

Dalam Islamisme kontemporer yang sudah menjadi wacana dan gerakan besar sejak 1970-an dengan latar belakang politik Perang Dingin, merupakan sebuah fenomena historis antara dua proses yang beriringan, tetapi faktanya bertentangan. Dalam perjalanannya, Islamisme mampu menyebarkan idenya secara masif yang membuat ide tentang pembebasan dari ketertindasan masyarakat muslim atas Barat menjadi wacana utama. Rasa terhina, marginalisasi, dan rasa ketidakadilan secara ekonomi kelompok menengah muslim semakin terasa.

Pendidikan menjadi salah satu jalan penting untuk menyebarkan wacana Islamisme. Pada periode 1950-an, di Dunia Arab telah berdiri sepuluh universitas. Angka tersebut terus bertambah hingga 200 universitas pada awal periode 2000-an. Hal ini membuktikan bahwa kelas menengah muslim yang mengakses pendidikan tinggi semakin banyak dan menyadari bahwa rezim elite politiknya bersekutu dengan Amerika Serikat yang dianggap mewakili Barat.

Islamisme kemudian menjadi salah satu gerakan populis di Dunia Islam yang tersebar di berbagai negara, baik secara gerakan maupun wacana. Hal ini kemudian membuat Islamisme diidentikkan dengan Teologi Pembebasan ala Amerika Latin.

Namun, walaupun sama-sama menggunakan agama sebagai kerangka dasar, kedua gerakan tersebut punya perbedaan yang sangat mendasar. Teologi Pembebasan di Amerika latin merupakan upaya mereformasi gereja sebagai lembaga agama supaya bisa berpihak kepada kaum tertindas dan mentransformasikan gerakan agama menjadi gerakan sosial.

Sementara Islamisme, merupakan pandangan politik yang lahir sebagai respons atas muramnya kondisi ekonomi-politik umat muslim dan mendambakan berdirinya negara Islam. Karena itu, sebagai langkah taktis, gerakan ini kemudian membentuk kelompok ideologis yang menggunakan hukum dan kode moral Islam sebagai acuan utama.

Pos-Islamisme?

Sejumlah pengamat di Eropa menyebarkan istilah Pos-Islamisme secara deskriptif yang umumnya merujuk pada yang mereka lihat sebagai pergeseran strategi dan sikap kelompok militan Islamisme di dalam Dunia Islam. Gilles Kepel menggambarkan Pos-Islamisme sebagai keterpisahan Islamisme dari doktrin-doktrin jihad dan salaf. Sementara Oliver Roy memahaminya sebagai privatisasi dari islamisasi yang menekankan konteks terjadinya islamisasi yang melebihi dari substansinya. Istilah ini biasanya disajikan dan dipahami sebagai sebuah kategori empiris para analis yang mewakili era tertentu atau akhir sebuah sejarah.

Pengonsepan dan kesalahpahaman yang muncul dari istilah tersebut telah menarik reaksi-reaksi beragam yang cenderung negatif. Beberapa kritik mempersoalkan tujuan akhir dari Islamisme sebagai keinginan prematur, walaupun diakui hal ini karena adanya pergeseran strategi yang cukup signifikan dan pemahaman di beberapa kelompok islam militan. Pada kenyataannya, Pos-Islamisme hanya salah satu varian dari politik Islam.

Pos-Islamisme merupakan bentuk metamorfosis dari Islamisme. Kemunculan Pos-Islamisme disebabkan karena habisnya sumber daya seperti seruan-seruan, energi, dan sumber legitimasi Islamisme terkuras habis, bahkan dari golongan yang sebelumnya menjadi pendukung dan berambisi dengan gerakan tersebut.

Kelompok Islamisme menyadari betul keganjilan, ketidaksempurnaan, dan kekurangan sistem yang mereka miliki untuk diterapkan, dan bahkan untuk diinstitusionalkan dalam bentuk pemerintahan. Walaupun begitu, kelompok ini tetap mencoba untuk menerapkannya sampai kemudian menimbulkan pertanyaan dan terus menuai kritik.

Dihadapkan dengan kondisi tersebut,  kelompok Islamisme kemudian memilih untuk mempertahankan sistem dan meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya. Selain itu, kelompok ini juga didesak untuk menemukan jati dirinya, baik dari pertentangan internal ataupun dari tekanan masyarakat.

Oleh karena itu, Pos-Islamisme juga merupakan sebuah proyek panjang sebagai upaya sadar untuk membangun konsep rasionalitas dan moralitas secara strategis untuk membatasi Islamisme dari ruang sosial, politik, dan intelektual. Selain itu, Pos-Islamisme juga lebih maju dari gerakan sebelumnya dengan tidak anti kepada sesama Islam maupun anti kepada sekuler dan non-Muslim. Pos-Islamisme berupaya untuk meleburkan keagamaan dan hak, iman dan pembebasan, Islam dan kebebasan.

Bisa dikatakan juga, Pos-Islamisme berupaya membalik prinsip-prinsip dasar Islamisme di atas kepalanya sendiri, dengan menekankan hak-hak daripada tugas dan kewajiban serta menjunjung pluralitas dari dera suara otoritatif tunggal. Selain itu, Pos-Islamisme juga menegaskan kesejahteraan kitab suci dan selalu menatap masa depan di balik masa lampau.

Singkatnya, Pos-Islamisme berupaya untuk menyinergikan Islam dengan pilihan dan kebebasan Individu, demokrasi dan modernitas, agar bisa menggapai apa yang disebut oleh para golongan sarjana sebagai “modernitas alternatif”.


Category : keislaman

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Kamal Cholid

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta