Pemikiran St. Agustinus: Apologi Filosofis terhadap Teologi

slider
05 Januari 2024
|
472

St. Agustinus dari Hippo (354 - 430) adalah seorang pujangga Gereja, dan dihormati sebagai filsuf sekaligus teolog Kristen. Ia dilahirkan dari pasangan St. Monika dan Patricus di Tagaste (sekarang Aljazair), Afrika Utara.

Kendati Agustinus dilahirkan dari rahim seorang perempuan Kristen yang taat, ia sendiri baru dibaptis pada 387 oleh St. Ambrosius di Milan, setelah sebelumnya menganut berbagai aliran dan agama. Selang sembilan tahun setelah Agustinus resmi menjadi seorang Kristen, ia ditahbiskan sebagai Uskup Hippo pada 396, menggantikan Valerius.

Secara umum, pemikiran Agustinus banyak dicurahkan sebagai apologi terhadap doktrin Kristen. Sebagian pemikirannya terpengaruh oleh Platonisme dan Neo-Platonisme, meski ia sering menentang keduanya dalam beberapa hal. Meminjam istilah Josten Gaarder dalam Dunia Sophie, Agustinus telah “mengkristenkan Plato”. Hal ini mesti dipahami secara metaforis, bahwa yang ia maksudkan adalah menjinakkan Plato, supaya filsafatnya selaras dan tidak lagi menjadi ancaman bagi Kristianitas.

Oleh karena Agustinus berusaha membangun pemikiran filsafat yang berlandaskan pada Alkitab, pemikirannya tidak pernah melewati batasan teologi. Beberapa karyanya, seperti City of Gods dan Confessions, masih dipelajari hingga hari ini. Pemikiran Agustinus yang harus mendapatkan perhatian utama, terutama dalam tulisan ini, adalah mengenai penciptaan dunia, subjektivitas waktu, serta konsep kota Tuhan dan kota sekuler.

Penciptaan Dunia

Penciptaan dunia dari ketiadaan adalah sesuatu yang terdengar aneh bagi masyarakat Yunani, karena mereka beranggapan bahwa dunia ini selalu ada. Agaknya, frasa Latin ex nihilo nihil fit (tidak ada yang dapat muncul dari ketiadaan) bisa mendeskripsikan pandangan umum masyarakat Yunani tersebut. Berbeda dengan mayoritas masyarakat Yunani, Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa Tuhan menciptakan dan membentuk dunia dari materi yang bersifat eternal (abadi).

Tuhan-nya Plato dan Aristoteles seakan-akan seperti seorang perancang atau arsitek, alih-alih sebagai seorang pencipta yang menciptakan dunia dari awal, seperti tertuang dalam Alkitab atau doktrin Kristen. Oleh karena itu, Agustinus menentang pandangan kedua filsuf tersebut. Ia beranggapan bahwa mereka tidak selaras dengan Kitab Kejadian, yang menyatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia dari ketiadaan, bukan dari materi tertentu.

Masalah yang harus dihadapi dan dipecahkan Agustinus bukan hanya teori penciptaan dunia dari Plato dan Aristoteles, melainkan dari Alkitab itu sendiri. Terdapat sebuah masalah yang terkesan kontradiktif antara penciptaan dunia menurut Kitab Pengkhotbah dan Kitab Kejadian. Kitab Pengkhotah mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan secara bersamaan, sementara Kitab Kejadian mengatakan bahwa sesuatu diciptakan mendahului dan setelah yang lain.

Agustinus tidak merasakan kesulitan untuk memecahkan masalah ini. Sebagaimana yang dituliskan Frederick Copleston dalam Filsafat Santo Agustinus, sang santo meyakini bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu secara bersamaan. Namun, menurutnya, Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan kondisi yang sama. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia yang belum dilahirkan, ke dunia ini. Namun, penciptaannya masih bersifat potensial. Penciptaan akan menjadi aktual, jika manusia tersebut benar-benar lahir, dan eksistensinya nyata di dunia ini.

Agustinus, dengan kemampuan intelektualnya, telah berhasil memecahkan masalah ini, membuatnya terlihat lebih masuk akal. Ia sama sekali tidak membiarkan orang-orang ateis dan pagan menemukan celah untuk menyerang doktrin teologi yang diimaninya.

Subjektivitas Waktu

Teori waktu Agustinus sangatlah ekstrem. Ia menganggap bahwa waktu bersifat subjektif, dan hanya ada dalam persepsi manusia yang berharap, menimbang, dan mengingat. Dengan demikian, menurut Agustinus, waktu adalah sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari proses mental dalam diri manusia.

Agustinus menolak konsep pembagian waktu menjadi tiga bagian: masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Baginya, waktu yang benar-benar eksis hanyalah masa sekarang; masa lalu dan masa depan adalah sesuatu yang tidak ada. Masa lalu disamakan dengan ingatan, dan masa depan disamakan dengan harapan. Keduanya hanya bisa berlangsung pada masa kini.

Bertrand Russell dalam karyanya yang fenomenal, Sejarah Filsafat Barat, menjabarkan kehebatan pemikiran Agustinus ketika ia ditanya,Mengapa dunia tidak diciptakan lebih awal?” Agustinus mengatakan bahwa dunia dan waktu diciptakan secara bersamaan, karenanya dunia memang telah diciptakan seawal mungkin. Menurutnya, akan sia-sia berbicara mengenai waktu sebelum dunia diciptakan.

Lantas, bagaimana dengan Tuhan? Tuhan adalah entitas tunggal yang bersifat eternal, sehingga ia tidak terikat pada ruang dan waktu. Agustinus menyatakan bahwa di dalam Tuhan, tidak ada masa lalu ataupun masa depan. Ribuan tahun yang telah dilewati bagi manusia, adalah masa sekarang bagi Tuhan.

Sang Santo agaknya merasakan kerumitan dan kontradiksi dalam teorinya mengenai waktu. Ketika ia ditanya mengenai apa itu waktu, ia menjawab bahwa ia tidak tahu. Namun, ketika tidak ada orang bertanya mengenai waktu padanya, ia tahu. Namun, teori waktu Agustinus tetaplah teori yang canggih, terutam pada Abad Pertengahan, sebagai teori yang dihasilkan oleh seorang intelektual Gereja.

Konsep Kota Tuhan dan Kota Sekuler

Karya Agustinus yang paling populer adalah City of Gods. Karya tersebut, pada awalnya, ditujukan untuk membantah pandangan kaum pagan, yang menyatakan bahwa penyerangan Roma oleh Bangsa Barbar adalah sebuah hukuman dari Dewa Jupiter. Hukuman tersebut menimpa Roma karena sebagian besar warganya telah beralih menganut Kristen dan meninggalkan paganisme.

Agustinus merasa memiliki kewajiban untuk membela imannya, dengan membantah klaim kaum pagan tersebut. Ia menunjukkan bahwa beberapa peristiwa penyerangan terhadap Roma jauh lebih buruk sebelum masa Kekristenan, argumen tersebut berhasil mematahkan cocoklogi yang dirumuskan kaum pagan.

Dalam City of Gods, terdapat satu segi yang menarik, yaitu pembahasan mengenai konsep kota Tuhan dan kota sekuler. Copleston menjelaskan bahwa yang dimaksud Agustinus mengenai kedua konsep kota tersebut adalah bahwa kota Tuhan diidentikan dengan Yerusalem, sebagai manifestasi Gereja, dan kota sekuler diiidentikkan dengan Babilonia, sebagai manifestasi negara.

Namun, hal ini tidak secara otomatis menyatakan bahwa semua warga Yerusalem adalah warga kota Tuhan, dan semua warga Babilonia adalah warga kota sekuler. Selama seseorang memiliki rasa cinta diri, maka ia termasuk warga kota sekuler, kendati ia tinggal di Yerusalem. Sebaliknya, jika seseorang memiliki kecintaan yang besar kepada Tuhan, meski ia tinggal di Babilonia, maka ia termasuk warga kota Tuhan. Dengan demikian, warga di sini tidak hanya warga secara fisik, tetapi juga spiritual.

Di dunia ini, kota Tuhan dan kota sekuler beserta warganya tercampur aduk. Warga kota Tuhan tampak sebagai warga kota sekuler, dan warga kota sekuler tampak sebagai warga kota Tuhan. Namun, menurut Agustinus, di akhirat nanti, keduanya akan dipisahkan. Di akhirat, semuanya akan terlihat jelas, siapa warga kota Tuhan, dan siapa yang menjadi warga kota sekuler.

Agustinus menempatkan kedudukan Gereja lebih tinggi dari negara. Ia memandang bahwa kedudukan negara tidak boleh sejajar ataupun lebih tinggi dari Gereja. Negara hanya berada di bawahnya.

Sebagian besar pemikiran Santo Agustinus, yang hidup pada Abad Pertengahan, mungkin tidak memiliki banyak relevansi dengan zaman sekarang. Namun, mempelajari pemikirannya tetap penting bagi siapa pun yang memiliki ketertarikan untuk memahami arus pemikiran filsafat Abad Pertengahan.

Referensi:

Gaarder, Jostein. 1996. Dunia Sophie. Bandung: Mizan Pustaka.

Copleston, Frederick. 2021. Filsafat Santo Agustinus. Yogyakarta: Basabasi.

Russell, Bertrand. 2002. Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Indra Nanda Awalludin

Asal Sindang, Majalengka, Jawa Barat