Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat)  perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS. Ar Ruum:41)

Mengawali sebuah tulisan dengan kutipan ayat Al-Qur'an atau hadis menjadi sesuatu yang baru buat saya. Sesuatu yang sebetulnya paling saya hindari, karena satu dan lain hal. Namun, rasa-rasanya mungkin perlu juga sesekali melampirkan redaksi yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadis untuk dibahas lebih jauh dan dalam. Pasalnya, kutipan ayat di atas yang bertemakan tentang lingkungan atau ekologi adalah ayat yang jauh dari kata populer dan cenderung diabaikan. Tak terlalu banyak mendapat porsi di atas mimbar-mimbar ceramah para pemuka agama. Tak tampak menarik untuk dikaji secara komperehensif. Padahal, relevansinya terhadap kondisi dan perkembangan kehidupan hari ini mestinya patut diperhitungkan dan direnungkan kembali.

Di dalam Al-Qur'an sendiri ada sekitar 800 ayat yang membahas tentang alam semesta dan lingkungan. Ini membuktikan bahwa Allah Swt memberi perhatian yang cukup terhadap permasalahan lingkungan dan turunannya. Namun, lagi-lagi, berapa banyak dari sebagian muslim yang punya perhatian terhadap firman-firman Tuhan ini?

Pengabaian manusia, khususnya kaum muslim terhadap firman-firman Allah ini seturut dengan kondisi kerusakan yang terjadi di muka bumi. Menurut para aktivis lingkungan, kini bumi di ambang kepunahan. Lapisan ozon pada stratosfer bumi yang berfungsi sebagai penahan laju sinar matahari menuju bumi kini kian menipis. Kondisi ini membuat suhu bumi kian meningkat dan membuat bumi terasa semakin panas. Ini yang kemudian berdampak pada perubahan iklim yang ekstrem dan menghasilkan berbagai rentetan bencana seperti banjir, longsor, badai, kekeringan, kebakaran hutan, krisis pangan, meningkatnya penyebaran atau mutasi virus hingga konflik sosial.

Pada beberapa tahun silam, kondisi ini disebut sebagai Global Warming atau pemanasan global. Kini, suhu global rata-rata mencapai 14,9 derajat celsius (Data World Meteorological Organization pada tahun 2020) dengan rata-rata kenaikan 1 derajat celsius tiap tahunnya. Kondisi tersebut mengakibatkan kerusakan bumi yang makin ekstrem, istilah pemanasan global berganti menjadi krisis iklim atau darurat iklim.

Tentu hal ini (menipisnya lapisan ozon) disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah yang begitu besar dan tak wajar. Secara garis besar, emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh aktivitas manusia terdiri dari berbagai sektor seperti energi, kehutanan, sampah, pertanian dan IPPU (Industrial Process and Product Uses atau Proses Industri dan Penggunaan Produk).

Indonesia (sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar) termasuk salah satu negara penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Menurut data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2018, biang kerok pelepasan emisi gas rumah kaca di Indonesia terdiri dari tiga sektor, yaitu energi (fosil atau batubara), deforestasi hutan, dan sampah.

Sektor energi menjadi penyumbang emisi terbesar, karena Indonesia masih menggantungkan energi pada sumber fosil khususnya pada pembakaran batubara hingga 62,7% untuk memasok ketersediaan listrik Indonesia (RUPTL, 2019-2028). Selain itu, ada deforestasi hutan. Penggundulan hutan dan alih fungsi lahan besar-besaran menyebabkan kandungan karbondioksida yang tersimpan di dalam hutan dan pohon-pohon menguap ke atmosfer hingga memperparah perubahan iklim. Dan yang terakhir adalah sampah. Di tempat pembuangan akhir ketika sampah-sampah dihancurkan akan menghasilkan gas metana yang jauh lebih berbahaya dibanding karbondioksida.

Sampah

Sekitar 70% sampah di Indonesia berasal dari sampah rumah tangga. Ini membuktikan bahwa sampah rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar. Tentu ini bukan sekadar omong kosong. Gunungan-gunungan sampah yang berada di tempat pembuangan akhir seperti di TPA Bantargebang, Bekasi adalah fakta yang tidak bisa dimungkiri.

Saat orang-orang di belahan dunia lain telah atau sedang sibuk mengampanyekan gerakan zero waste atau nol sampah sebagai gaya hidup untuk merespons sesaknya bumi oleh sampah yang dihasilkan manusia, mungkin sebagian besar dari kita ihwal bab buang sampah pada tempatnya saja belum selesai. Padahal jauh sebelum maraknya kampanye tersebut, pranata sosial kehidupan masyarakat muslim di Indonesia telah terbentuk dan lekat dengan hal-hal demikian sebagai jawaban dari persoalan kerusakan lingkungan hari ini. Sebelum akhirnya mengalami degradasi moral menjadi individu atau kelompok masyarakat yang tamak, serakah, konsumtif serta eksploitatif.

Fakta ini adalah tamparan keras betapa jauh dan tidak mencerminkannya masyarakat muslim kita dewasa ini dari agama yang diyakini sebagai agama yang indah. Agama yang penuh cinta kasih terhadap semua makhluk di muka bumi. Agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam.

Kita harus mulai khawatir dan prihatin atas kondisi kita hari ini. Kondisi bumi yang penuh sesak oleh sampah yang kita hasilkan. Kondisi bumi yang tak lagi layak untuk ditinggali dan diwariskan jika kita tidak berubah. Kondisi ini harus dijadikan momentum untuk mulai berubah dan membangun kesadaran dan kepedulian terhadap kelestarian bumi. Mentadabburi ulang firman-firman Allah. Mentafakuri kembali akan penciptaan dan keberadaan manusia di muka bumi.

Ayat-ayat ekologi dan turunannya harus mendapat porsi lebih banyak di atas mimbar-mimbar ceramah. Pemuka agama harus lebih giat bicara mengenai hal ini di pondok-pondok pesantren, di majelis-majelis ta’lim. Pendidikan sekolah harus mulai menerapkan kurikulum berbasis ekologi. Buku-buku pelajaran sekolah harus memuat lebih banyak pelajaran-pelajaran tentang lingkungan. Para orang tua harus menanamkan cinta kasih terhadap semua makhluk di muka bumi dan mendidik anak-anak untuk menjaga kelestarian lingkungan dan bumi sejak dini.

Terakhir, kita dapat mengamini tawaran dari Muhammad Al-Fayyadl untuk merekonstruksi ulang bangunan fikih kita dengan Fikih Mu’amalah (hablum minan naas dan hablum minal alam) sebagai dasar atau landasan awal dalam berfikih. Kemudian baru dilanjutkan dengan Fikih Ibadah (hablum minallah) dan fikih-fikih lainnya.

Ini adalah sebentuk upaya mengembalikan tafsir rahmatan lil alamin kepada sebenar-benarnya rahmat atau kasih bagi semesta alam, agar tidak lagi terjebak dan dijadikan jargon atau slogan semata.

Author: Ahmad Taufik

ABOUT THE AUTHOR

Ahmad Taufik

Santri Ngaji Filsafat


COMMENTS