Menjadi Seorang Guru

slider
18 Oktober 2021
|
245

Judul Buku : Diary Teacher Keder | Penulis : Edot Herjunot | Penerbit : Buku Mojok | Cetakan : I, Mei 2021 | Tebal : 180 halaman | ISBN : 978-623-7284-57-4

Gokil, itulah kesan pertama saat saya menghatamkan buku yang ditulis Edot Herjunot ini. Penulis cukup mahir meramu kata menjebak yang di luar dugaan. Kerapkali saya membacanya sembari guling-guling ngakak tidak karuan.

Buku dengan tebal 180 halaman ini mengungkap perjalanan guru dengan menceritakan kesehariannya dengan sudut pandang yang berbeda. Guru itu berambut klimis dengan tangan masuk ke dalam saku celananya. Guru yang susah untuk kerja serius, kendati berkutat pada laku mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia terkadang memberi soal dengan sikap mbanyol dan berjarak dengan karakter wibawa sebagai seorang guru. Terkadang ia membacakan soal dengan kesesuaian lirik lagu yang dinyanyikan, meskipun mungkin suara yang terdengar agak sumbang. Malah ia pernah juga memberi soal seperti penyiar radio. Pekerjaan yang dulu pernah ia geluti sebelum mengabdikan diri sebagai guru.

Siaran soal di buku itu: “Selamat siang semuanya. Bagaimana kabar kalian semua? Udah siap mencatat kan, ya? Nah, anak-anak, ayok deh langsung aja ambil bolpoin kalian dan soal nomor satu akan segera dibacakan. Buat kamu yang masih asyik mainin pensil, yang masih asyik benerin ikat pinggang, jangan terlalu keasyikan nanti bisa-bisa kamu ketinggalan. Yok dimulai, soal nomor satu….” (hlm, 43).

Kisah gokil lainnya dapat ditemui pada cerita di saat pelajaran nyaris rampung. Layaknya siswa sekolah di masa silam, siapa yang dapat menjawab dengan benar, maka boleh pulang lebih cepat. Pertanyaan demi pertanyaan terjawab oleh siswa pandai. Tersisalah beberapa siswa yang kurang cakap memahami materi pelajaran.

Maka pertanyaan yang semula berkisar pada ilmu pengetahuan digeser jadi soal keseharian. Percakapan di buku: “Berapa usia Pak Edot?”

Lalu ada yang mengangkat tangan dan menjawab, “Saya tahu, Pak, 40 tahun.”

“Salah, kamu pulang terakhir!”

Lalu ada yang menjawab lagi, “Saya tahu, Pak, 17 tahun.”

“Iyak benar, kamu pulang duluan!”

Buku ini selain memuat banyak cerita gokil, juga memberi kiat kusus dalam menyikapi beragam siswa yang bandel. Kiat berguna ketika kelas gaduh dengan banyak murid yang tidak fokus pada pelajaran. Kiat-kiat ini dapat diterapkan dengan mudah, lumrah ditemui, dan murah dilakukan kecuali pada kiat pertama.

Sebab kiat pertama ini mengharuskan guru merogoh dompet untuk memberi hadiah kepada siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Cerita di buku, pada mulanya hadiah yang dijanjikan berupa permen coklat batangan. Namun karena keterbatasan sumber daya uang, yang diperoleh siswa hanya sebatas tanda bintang besar di buku tulis.

Selain itu guru juga dapat mencatat nama si siswa. Pencatatan ini untuk menandai mana siswa yang jadi musabab gaduh dan siswa yang jadi korban kegaduhan. Tentu saja pencatatan nama ini disertai dengan sedikit gertakan berupa pengurangan nilai.

Bisa juga dengan melempar pertanyaan kepada siswa yang tengah asyik ngobrol sendiri. Dengan begitu, si siswa akan gelagapan mencari cara untuk menjawab, berpura-pura, atau langsung diam dengan sikap dan tatapan mata fokus ke depan.

Selanjutnya masih berkaitan dengan melempar pertanyaan, namun agak keras. Siswa diberi soal untuk mengerjakan langsung di papan tulis. Kalau siswa tidak bisa mengerjakan, tidak boleh duduk.

Kiat terakhir merupakan jurus pemungkas. Kalau di beberapa kesempatan masih ada siswa yang bandel dan ribut terus, maka tinggal mengeluarkan kalimat sakti. Kalimat sakti di buku: “Yang masih ngobrol sendiri terus, nanti pulangnya terakhir…” (hlm, 37).

Kiat tersebut saya rasa belum bisa diterapkan jika pembelajarannya dilakukan melalui zoom atau google meet. Alih-alih dapat menertibkan siswa, malah guru belum bisa memastikan, apakah siswa memang benar-benar hadir dan menjamin menyimak penjelasan dari guru mulai awal sampai usainya kelas?

Memang perjalanan menjadi seorang guru tidak mudah. Sebab guru dihadapkan pada perangai siswa yang berbeda-beda. Ini baru satu problem, di samping sekian problem yang mendera setiap guru di negeri ini.

Kehadiran buku ini saya rasa dapat dibaca oleh siapa saja untuk memberi jeda pada rutinitas keseharian, terutama para guru. Sebab buku ini sejatinya ditulis oleh seorang guru yang mengajar di SD 04 Penggarit. Bahasa yang digunakan juga cukup renyah, mudah dimengerti, sekaligus disertai kisah-kisah gokil.  

Lebih lanjut, buku ini mungkin tidak hanya sekadar catatan harian seorang guru. Tetapi buku ini juga dapat dijadikan bahan perenungan untuk menemukan jati diri, instropeksi, dan semangat untuk terus mengabdi kepada negeri.


Category : resensi

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Fathorrozi