Menjadi Manusia, Wajib Hukumnya Bahagia

slider
26 Desember 2023
|
723

Judul: Filsafat Kebahagiaan | Penulis: Fahruddin Faiz | Penerbit: Mizan, 2023 | Tebal: 288 halaman | ISBN: 978-602-441-332-3

Bagi penggemar Manchester United, cukup bermain imbang melawan Liverpool untuk bahagia. Sebaliknya, bagi penggemar Liverpool, ditahan Manchester United adalah duka lara karena biasanya membantai. Demikian sekadar perumpamaan yang sederhana bahwa kebahagiaan merupakan entitas yang subjektif. Setiap manusia mempunyai kebahagiaan tersendiri yang dapat dibedakan dengan yang lainnya. Selain itu, kebahagiaan tidak lain adalah pencarian panjang dalam sejarah hidup umat manusia. Pertanyaan besar yang senantiasa membutuhkan jawaban: bagaimana cara bahagia?

Pertanyaan tersebut menjadi semacam topik parenial yang bertahan hingga kini. Sebab kebahagian yang subjektif itu tadi, maka setiap orang mencoba untuk menghadirkan kebahagiaan menurut versinya sendiri. Bahkan, para filosof yang namanya gigantis tidak ketinggalan memberikan perhatian terkait topik ini. Tentu, kerangka kebahagiaan versi para filosof berbeda dengan orang pada umumnya. Satu hal yang pasti bahwa setiap filosof juga mempunyai teori tersendiri untuk mencapai predikat bahagia.

Fahruddin Faiz mencoba untuk mengulik hal tersebut dalam buku Filsafat Kebahagiaan ini. Empat orang besar yang dihadirkan di sini adalah para filosof dengan masing-masing teori tentang kebahagiaan. Dimulai dari salah satu filosof besar dari tradisi Yunani kuno, Plato. Dilanjut pada dua filosof besar muslim (Al-Farabi dan Imam Al-Ghazali), dan dipungkasi dari salah seorang bijak bestari tanah Mataram, Ki Ageng Suryomentaram. Keempat tokoh ini memiliki coraknya masing-masing, meski pada titik tertentu bisa bersinggungan.

Plato, seorang idealis-rasionalis, diplot oleh penulis untuk memulai penjelajahan pencariaan kebhagiaan ini. Hemat saya, bagian menarik dari gagasan Plato adalah analoginya ihwal jiwa manusia.

Jiwa oleh Plato dianalogikan sebagai kereta kuda. Sebuah kereta yang memiliki dua kuda (hitam dan putih) yang bersayap dan dikendalikan seorang sais. Kuda hitam merupakan manifestasi dari epithumia atau nafsu manusia yang rendah. Sementara thumos yang merupakan hasrat dilambangkan sebagai kuda putih. Rasio atau logistikon digambarkan sebagai sais yang mengendalikan dua kuda tersebut. Terakhir, eros atau cinta itu terejawantahkan ke dalam bentuk sayap.

Untuk mencapai kebahagiaan, di antara wasilahnya adalah optimalisasi elemen jiwa tersebut. Pengoptimalisasian semata-mata terwujud apabila keempat unsur yang ada (epithumia; thumos; logistikon; eros) harmonis. Dikatakan harmonis apabila takaran nafsu, hasrat dan logika proporsional. Manakala tidak demikian, maka hidup manusia akan cenderung tidak natural. Inilah kebahagiaan versi Plato yakni dengan harmonisasi tiga unsur tersebut, utamanya di bawah sinaran eros (cinta). Apabila itu terjadi, kereta kuda yang ditunggangi seorang sais tidak lagi berlari ke depan, melainkan terbang untuk menjemput kebahagiaan. Analogi yang luar biasa, bukan?

Filosof kedua setelah Plato adalah Al-Farabi, sosok penting di dalam khazanah filsafat Islam. Ingat label al-muallim al-tsani yang disematkan kepadanya. Penulis menyatakan bahwa Al-Farabi merupakan ejawantah Aristoteles dan Plato versi Islam. Klasifikasi jiwa yang dilakukan Al-Farabi sedikit rumit karena ia tidak mendatangkan analogi sebagaimana kuda Plato.

Jiwa dalam pandangan Al-Farabi mempunyai daya tersendiri yang nanti diklasifikasikan menjadi tiga entitas. Pertama, daya gerak yakni bahwa jiwa yang menggerakkan jasamani. Dengan ungkapan yang berbeda bahwa gerak jasmani merupakan manifestasi dorongan dari dalam.

Kedua, daya untuk mengetahui (intelegensia) yang mencakap naluri, intuisi hingga imajinasi. Intinya, daya kedua ini bukan merupakan pengetahuan empiris.

Ketiga, yaitu daya berpikir yang ini juga diklasifikasikan menjadi dua, berpikir praktis dan teoretis. Sebagaimana Plato, menurut Al-Farabi untuk mencapai kebahagiaan, daya dalam jiwa harus efektif. Setiap daya-daya yang telah disebutkan di atas seyogianya bisa dioptimalisasiakan secara proporsional. Tidak jauh berbeda memang dengan apa yang diuraikan Plato.

Hal menarik lain dari Al-Farabi adalah konsepnya terkait dengan kebahagiaan sosial. Baginya, kebahagiaan personal tidak akan tercapai apabila kebahagiaan kolektif belum diraih. Rasa-rasanya memang tidak mungkin untuk berbahagia di tengah lingkungan dan kondisi yang tidak bahagia. Sehingga, untuk mewujudkan kebahagiaan diri yang sempurna maka harus ditopang kebahagiaan sosial. Di satu sisi, kebahagiaan sosial tersebut berasal dari diri kita sendiri. Pada sisi lain, ia sekaligus menjadi salah satu sumber kebahagiaan individual. Karenanya, baik kebahagiaan individual dan kebahgaiaan kolektif ibarat puzzle yang saling melengkapi.

Masih dalam tradisi Islam hanya sedikit bergeser ke abad pertengahan atau gold age Islam. Di mana terdapat salah satu intelektual multitalenta yang namanya tidak pernah lekang dari ingatan umat muslim seluruh dunia: Abu Hamid Al-Ghazali.

Imam Al-Ghazali mengibaratkan jiwa seperti sebuah kota yang pemimpinnya adalah hati. Berbeda dengan Al-Farabi yang menjadikan akal sebagai sebuah raja. Diakui atau tidak hatilah yang menjadi penggerak. Seseorang suka terhadap sesuatu terlebih dahulu (ini domain hati) kemudian baru mencari legitimasinya (ranah akal).

Dalam tesmak Imam Al-Ghazali, untuk mencapai kebahagiaan seseorang harus mewaspadai dua hal. Selain mewaspadai dua itu, juga mesti memenuhi satu hal. Dua hal tersebut adalah syahwat dan amarah dan satu halnya adalah ilmu pengetahuan. Ilmu ini nanti juga terkait dengan pengenalan kita terhadap dunia, setelah sebelumnya mengenal diri dan Tuhan. Pengenalan terhadap dunia ini penting dalam rangka memelihara jiwa dan merawat jasad. Akhirnya, jika ditelisik lebih lanjut kebahagiaan versi Imam Al-Ghazali ini erat kaitannya dengan laku spiritualitas dan pendekatan diri kepada Tuhan.

Tokoh terakhir, sebagai penutup penulis memilih nama Ki Ageng Suryomentaram, salah seorang bijak bestari dari tanah Mataram (Jawa). Konsep kebahagiaannya tertuang dalam apa yang disebut sebagai “Enam S”. Mulai dari sakbutuhe, sakperlune, sakcukupe, sakbenere, sakmestine, hingga sakpenake. Intinya bahwa hidup akan sampai pada derajat bahagia apabila kita hanya sekadarnya. Butuh sekadarnya dan tidak melampaui dari sekadar kebutuhan itu. Dengan ungkapan berbeda yang terpenting adalah proposionalitas itu yang ditekankan. Inilah resep Ki Ageng yang mudah secara lisan namun tidak secara tindakan. Mussbab hasrat manusia terkadang melampaui porsi yang sepantasnya.

Terkait dengan hasrat dan keinginan, Ki Ageng mempunyai teori mulur dan mungkret. Term yang pertama ini berarti mengembang atau semakin membesar. Tatkala kita telah sukses merengkuh ambisi kecenderungan berikutnya adalah menaikkan tingkatannya. Sejalan dengan itu, apabila ambisi tersebut tidak tercapai maka di saat yang sama kita akan menurunkan target. Inilah yang disebut sebagai mungkret, sebagai antonim dari mulur. Intinya, hasrat naik turun berbanding lurus dengan sejauh mana hasrat tersebut dimungkinkan.

Sebagai konklusi yang subjektif, menulusuri buku ini tidak jauh berbeda dengan mendengarkan kajian Fahruddin Faiz setiap Rabu malam Kamis di Masjid Jendral Sudirman. Alih-alih lekat dengan gaya penulisan, buku ini cenderung mendekati tindak tutur. Seolah-olah penulisnya berada di hadapan kita dan berkata, “Tuhan menciptakan kita bahagia, maka jangan mencari-cari alasan untuk tidak bahagia. Mari berbahagia, sekarang, di sini, seperti ini”. Sebab kita manusia, maka wajib hukumnya bahagia.


Category : resensi

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Moh. Rofqil Bazikh

Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Meski bukan pembaca yang rajin, ia menaruh minat pada kajian keislaman dan usul fikih. Tulisan-tulisannya telah tersebar di berbagai media cetak dan online. Bermukim di Sapen, Sleman, Yogyakarta.