Manusia dan Kematian yang Tak Pernah Selesai

slider
05 September 2022
|
715

“Matilah kau mati, kau akan lahir berkali-kali”—nukilan dari puisi Sutardji Calzoum Bachri dalam pembuka novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudhori.

Berapa kali kematian telah Anda hadapi dalam kurun waktu usia Anda saat ini? Mungkin banyak, mungkin sedikit, atau mungkin tak pernah. Ya, itu semua hanya persoalan cara memandang. Lantas apa itu kematian? Milik siapakah kematian itu?

Saya jadi teringat kutipan Steve Jobs, inovator perusahaan Apple, yang terus-menerus menegosiasikan hidupnya bersama penyakit kanker yang diidapnya. Jobs merefleksikan tentang kematian di depan para wisudawan Universitas Stanford, AS, pada Juni 2005, seperti baris berikut ini:

“Tak ada yang mau mati. Bahkan orang yang ingin pergi ke surga tidak mau mati untuk mencapainya. Akan tetapi, kematian adalah tujuan kita semua. Tidak seorang pun berhasil lolos darinya, dan begitulah seharusnya, karena kematian mungkin sekali adalah ciptaan kehidupan yang terbaik. Ia merupakan agen pengubah kehidupan. Ia menyingkirkan yang tua untuk membuka tempat bagi yang baru.”

Pernyataan Jobs tersebut seakan mengafirmasi pandangan kebanyakan manusia terkait kematian. Saya kerap mendapati kawan-kawan saya mengatakan, “Aku harus bisa mendapat atau mencapai ini itu sebelum aku mati,” Atau yang lebih radikal, seperti ujar Chairil Anwar, “Dan aku lebih tidak peduli. Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”

Pernyataan pandangan di atas menandakan manusia takut atau enggan menghadapi kematiannya. Padahal sebagai bagian dari semesta, manusia merupakan makhluk hidup yang bagaimana pun juga akan mati.

Hingga titik ini, konstruksi terhadap kematianlah yang memberi kesan dan pemaknaan berbeda atas fenomena kematian. Kematian tak sekadar dianggap kematian-kematian an sich.

Manusia dan Kematian

Sebelumnya saya ajak untuk mempertanyakan ulang tentang, apa itu manusia? Jawaban yang didapat pasti beragam. Ada yang berpendapat bahwa manusia adalah hewan yang berpikir. Ada pula yang berpendapat seperti Hobbesian, bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya.

Mempertanyakan apa itu manusia akan memudahkan kita dalam menjelaskan kematian, sebab semua makhluk pasti mati. Namun mengapa kematian pada manusia selalu menimbulkan kesan tersendiri?

Ketika kita mempertanyakan apa itu manusia, kita akan mendapati tiga pandangan besar terkait manusia (Muhammad Damm, 2011). Pertama, pandangan bahwa esensi manusia adalah tubuh biologisnya (animal essentialism). Kedua, pandangan bahwa esensi manusia adalah kesadarannya (mind essentialism). Ketiga, pandangan bahwa esensi manusia adalah kemampuannya untuk memiliki kesadaran-diri (personal essentialism).

Ketiga pandangan tentang manusia tersebut menghadapi satu keberhentian yang pasti: kematian. Kematian boleh saja dipahami sebagai berhentinya proses kehidupan, berhentinya organisme-organisme pada tubuh—sama dengan kematian pada makhluk lain seperti hewan.

Kematian bisa pula dimaknai dengan kehilangan kemampuan berkesadaran. Kematian juga bisa dipahami melalui lenyapnya self-awareness (kesadaran-diri manusia) (Steven Luper, 2009).

Luper juga mendefinisikan bahwa kematian adalah proses berakhirnya kehidupan. Dari definisi ini, kita merasa tak puas bahwa kematian hanyalah proses berakhirnya kehidupan saja. Hal ini dapat kita tengok dari laku-kerasnya buku biografi orang terdahulu yang tentunya sudah mati. Selain itu, tak jarang juga kita menampung cerita dari orang-orang hidup terkait kepribadian seseorang yang telah mati.

Jika kematian adalah proses berakhirnya kehidupan, bukankah buku biografi, cerita-cerita tentang seseorang yang telah mati, tak akan ada? Karena kehidupan yang berakhir adalah kehidupan yang telah menyelam dalam laut ketiadaan. Hal ini menandakan bahwa kematian bukan keberakhiran hidup, atau bisa saja kematian merupakan berakhirnya kehidupan bagi seseorang yang hanya mengalami mati itu sendiri.

Di sini semakin jelas, bahwa kematian bukan hanya milik seseorang yang mati, tapi bagi yang hidup. Kematian turut berperan dan ikut membentuk konsepsinya akan hidup ini. Seperti ditulisnya biografi—meminjam perkataan Rocky Gerung—bukan untuk mengenang yang mati belaka, tapi untuk menyiasati kehidupan.

Kematian menjadi jalin-kelindan bagi eksistensialisme. Kematian menjadikan pertanyaan mengapa aku harus hidup lebih bermartabat dan terhormat. Bahkan pertanyaan tersebut menjadi tabu bagi sebagian orang, karena dengan kematian yang dibiografikan, kematian yang diceritakan oleh yang hidup, seseorang akan memaknai hidupnya.

Kematian dan Tubuh

Seperti disinggung di atas, bahwa setiap makhluk di bumi ini (pasti) akan mati, termasuk manusia. Namun matinya kucing akan berbeda dengan matinya manusia. Ketika kita mendengar informasi bahwa Hasan Hanafi mati, dan Orangutan di Kalimantan mati, pasti ada kesan yang berbeda. Hal itu mengindikasikan adanya konsepsi kematian yang berbeda—bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Ada dua jenis tubuh manusia, yakni tubuh korporeal dan tubuh sosial. Tubuh korporeal adalah tubuh fisik, atau data mentah yang berhamburan di sekitar kita. Tubuh korporeal ini juga dimiliki oleh hewan. Lebih mudahnya, tubuh korporeal merupakan tubuh biologis. Kebertubuhan manusia dipandang sebagai organisme dalam lautan semesta yang luas ini.

Beda halnya tubuh sosial. Tubuh sosial erat kaitannya dengan eksistensi manusia. Manusia memahami eksistensinya ketika ia mengenal bahasa. Jadi, tubuh sosial merupakan aspek naratif dari realitas yang turut mengkonstruksi dunia manusia. Oleh karenanya, tubuh sosial ini adalah sebuah kedinamisan. Sebuah “ada” yang terus menerus dalam “kemenjadian”. Kendati begitu, tubuh sosial dan tubuh korporeal adalah kesatuan yang berbeda.

Terkait kematian, tubuh korporeal agaknya sangat mudah dipahami. Kematian pada tubuh korporeal adalah sebuah keadaan di mana organ-organ dalam tubuh manusia tak lagi berfungsi karena mengalami penuaan, atau terhentinya fungsi organ yang disebabkan oleh hal-hal eksternal, seperti kecelakaan, tertembak, dan sebagainya.

Kematian akan mulai menemui kepelikannya untuk dibahas ketika telah memeluk ranah tubuh sosial. Tubuh sosial inilah yang mengarahkan kematian individu menjadi keunikan dan turut menyumbang refleksi eksistensialis pada seorang manusia.

Dari tubuh sosial seseorang akan terus hidup dalam narasi-narasi yang dituliskan atau dilisankan, tapi tidak dengan tubuh fisiknya. Oleh karena itu, ketika ada kematian, tubuh seseorang yang mati itu disebut jasad, karena yang sejatinya mati adalah tubuh korporealnya. Sedangkan tubuh sosialnya tetap berlarian ke sana ke mari lewat lisan maupun tulisan, tergantung sejauh apa capaian dan kontribusi sosialnya ketika hidup.

Kematian pada tubuh sosial ini pula yang menjadikan kematian menjadi hal yang unik. Ketika seseorang mengalami kematian secara biologis, dokter akan dengan mudah mendiagnosis bahwa orang itu telah mati. Tapi tidak dengan kematian eksistensial: kematian yang dirasakan oleh si pemilik tubuh yang mati.

Kematian eksistensial merupakan kematian yang individual. Kematian yang senyap, karena hanya ia sendiri yang mengetahuinya. Seseorang benar-benar hadir dan ada untuk menghadapi ketiadaannya.

Kematian: Mengetahui atau Mengalami?

Sejauh ini kita hanya mengetahui tentang apa itu kematian, bukan mengalami. Karena kematian—dalam hal ini pada tubuh sosial—merupakan suatu keadaan yang meniadakan manusia. Kematian itu ada dan dapat diketahui, tapi tak dapat dirasakan, karena orang yang telah mati tak lagi bisa menjelaskan apa-apa yang ia hadapi saat mengalami kematian.

Kematian acapkali kita ketahui sebagai bentuk dari negativitas. Kematian ada sebagai ketiadaan hidup dan ketiadaan diri. Keadaan kematian sebagai ketiadaan diri hanya terjadi pada makhluk hidup yang mengenal konsep “aku”. Ketika mengenal konsep “aku”, maka terdapat konstruksi sosial yang turut membangun narasi tersebut.

Kita akan dengan mudah membicarakan, bahkan hingga berbusa-busa ketika menjelaskan apa itu kematian, tapi sebenarnya kita tak pernah sampai pada apa itu kematian. Meskipun pada dasarnya—meminjam adagium Heidegger—kita berada-menuju-kematian (seim zum tode), namun lagi-lagi, kita hanya mengetahui apa itu mati dan kematian hanya sebatas kriteria-kriteria.

Kriteria kematian itu pun bersifat biologis. Misal, kita mengetahui si A mati karena dokter menerangkan bahwa organ jantungnya tidak lagi berfungsi. Hanya sejauh itu. Sedangkan kematian itu sendiri, atau kematian an sich akan selalu gagal kita tangkap, karena kita masih hidup dan terus saja hidup. Kematian akan dan pasti ada untuk meniadakan. Kematian hanya pengetahuan, karena pengalaman kematian yang ada telah menjelmakan ketiadaan.

Kematian adalah keunikan yang tak pernah selesai diperbincangkan. Sebuah paradoks yang kerap kita lupakan: kita benar-benar ada saat ditelan ketiadaan. Kita benar-benar hadir dalam altar peniadaan. Tubuh dan diri kita benar-benar berhenti dari kemenjadiannya untuk menjadi ada dalam balutan ketiadaan, sekaligus, saat itu juga.

Nukilan puisi Sutardji Calzoum Bachri di atas menjadi refleksi mendalam bagi kita. Ketika kita mati, kita akan lahir berkali-kali lewat lisan atau tulisan orang-orang hidup. Bahkan kelahiran kita tak akan pernah selesai selama kematian tak berhenti diperbincangkan.

Referensi:

Damm, Muhammad, 2011, Kematian: Sebuah Risalah tentang Eksistensi dan Ketiadaan, Depok: Kepik.

Hardiman, F. Budi, 2016, Heidegger dan Mistik Keseharian, Jakarta: KPG.

Kawilarang, R. R, 2011, “Ceramah Steve Jobs tentang Kematian” dalam https://www.viva.co.id/berita/dunia/253111-steve-jobs-pernah-berceramah-tentang-kematian. Diakses pada 1 September 2022.

Luper, Steven, 2009, The Philosophy of Death, New York: Cambridge University Press.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Moh. Ainu Rizqi

Pembelajar