Laku Bijak Manusia pada Sampah

slider
22 September 2021
|
250

Pernahkah kita berpikir ke mana perginya sampah yang sudah kita buang? Atau apa yang terjadi setelahnya serta bagaimana dampaknya bagi lingkungan? Pernahkah kita memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut? Sebagai manusia, setiap hari sudah pasti memproduksi sampah dari kegiatan hidupnya.

Sampah merupakan masalah struktural sekaligus kultural karena dampaknya berpengaruh pada berbagai sisi kehidupan masyarakat. Buruknya penanganan sampah memberikan dampak negatif pada alam sehingga menimbulkan permasalahan. Mulai masalah kesehatan hingga bencana alam.

Apalagi seperti sampah plastik yang sulit terurai dan bahkan bisa betahan hingga ratusan tahun. Sampah plastik sudah menjadi ancaman bagi lingkungan dan manusia.

Menurut Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), 65% konsumsi plastik nasional masih didominasi oleh plastik kemasan. Dari total permintaan plastik kemasan, sekitar 60% berasal oleh industri makanan dan minuman.

Pada 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastik sebesar 3,22 juta ton dengan sekitar 0,48-1,29 juta ton di antaranya mencemari lautan. Data tersebut menempatkan Indonesia menduduki peringkat kedua negara penyumbang sampah plastik terbesar ke lautan dunia, setelah Tiongkok.

Seiring dengan pesatnya pertumbuhan penduduk, terjadi kenaikan yang tinggi pada produksi sampah di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengakui bahwa pada 2020 total produksi sampah nasional telah mencapai 67,8 juta ton.

Artinya, ada sekitar 185.753 ton sampah setiap harinya dihasilkan oleh 270 juta penduduk. Atau setiap penduduk memproduksi sekitar 0,68 kilogram sampah per hari. Data-data tersebut merupakan bukti nyata dan dapat dijadikan indikator melihat kondisi alam yang terjadi saat ini.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Februari 2019, 60% sampah diangkut dan ditimbun ke TPA, 10% sampah didaur ulang, sedangkan 30%  lainnya tidak dikelola dan mencemari lingkungan.

Cara Pandang Manusia pada Alam

Berangkat dari itu, manusia mestinya mulai meningkatkan kesadaran dan kepedulian dalam menjaga alam. Salah satu filosof dari Amerika Serikat, Aldo Leopold memberikan gagasan luar biasa dalam menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam, yaitu dalam konsep land ethic atau etika tanah atau lingkungan.

Konsep tersebut melihat hubungan perilaku manusia terhadap alam. Mula-mula kita harus memahami cara pandang manusia terhadap alam, sehingga bisa melihat dari mana dampak yang terjadi bermuasal.

Menurut Aldo Leopold, ada tiga cara pandang berkaitan dengan hubungan manusia dengan alam;

Pertama antrophosentrisme, yakni pandangan manusia sebagai pusat ekosistem. Cara pandang ini merupakan bentuk kesombongan manusia, karena memandang alam hanya sebagai objek, alat, dan sarana yang hanya bernilai jika menunjang kepentingan manusia.

Pandangan ini menjadi penyebab utama munculnya krisis alam saat ini. Manusia hanya fokus untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa mempertimbangkan dan berpikir tentang kelangsungan hidup ekosistem yang mereka tempati.

Yang kedua yaitu biosentrisme. Teori ini berisi pandangan yang menempatkan alam sebagai nilai dalam dirinya sendiri dan lepas dari kepentingan manusia. Pusat perhatian cara pandang ini adalah segala sesuatu yang hidup memiliki nilai.

Manusia dipandang sebagai bagian dari alam semesta yang terkena hukum alam atau sunnatullah. Manusia memiliki keterbatasan terhadap alam, secanggih apa pun kehidupan manusia saat ini, ia tidak bisa mengontrol apa yang terjadi pada alam. Pandangan ini mendorong kita untuk berlaku tidak egois dan memperhatikan setiap makhluk hidup yang ada.

Cara pandang yang terakhir yaitu ecosentrisme. Pandangan ini memiliki nilai terhadap keseluruhan ekosistem, tidak hanya semua yang hidup, tetapi juga yang mati seperti tanah, air, batu dan lain sebagainya.

Manusia ditempatkan sebagai bagian dari dalam komunitas ekologis yang setiap komponennya memiliki hubungan. Oleh karena itu, manusia hanya bagian dari jaringan tersebut yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga jaringan pendukung ekosistem yang lain. Cara pandang inilah yang dianggap paling ideal dalam menjaga keharmonisan hidup manusia dan alam.

Kerusakan alam saat ini bisa terjadi mungkin karena manusia memiliki cara pandang yang pertama, yaitu memosisikan diri sebagai penguasa dan melihat makhluk hidup lain hanya sebagai alat pemenuhan belaka.

Salah satu contoh nyata dari perilaku manusia modern yang merusak alam adalah adanya industri makanan dalam kemasan plastik yang hanya fokus meraup profit tanpa memedulikan dampak dari produk yang mereka hasilkan.

Pelaku industri berperan penting dalam membeludaknya sampah plastik. Mereka menciptakan ketergantungan masyarakat melalui budaya konsumtif dengan produk yang dikemas secara praktis dengan plastik sekali pakai. Sampah kemasan plastik ini menjadi polutan di sekitar kita.

Plastik menjadi pilihan utama produsen karena dianggap sebagai kemasan murah dan mudah digunakan. Meskipun isu sampah plastik merusak lingkungan kerap muncul, produsen tetap mempertahankan pilihannya pada plastik sekali pakai sebagai kemasan produknya.

Saya rasa prinsip land ethic yang digagas oleh Aldo Leopold cukup relevan untuk membantu manusia mengatasi masalah lingkungan saat ini. Manusia perlu merenungi apa saja yang ia lakukan saat ini, menciptakan keharmonisan dan stabilitas antara manusia dan alam atau tidak?

Selain itu juga mengubah peran manusia dari penakluk alam menjadi masyarakat alam. Manusia yang berperilaku arogan atau sombong terhadap alam, akan memunculkan sikap bahwa alam memiliki nilai rendah yang tidak perlu diperhatikan. Maka kepemilikan sikap rendah hati dan penghormatan kepada alam perlu ditunaikan oleh manusia guna memberikan kenyamanan untuk tinggal.

Bumi adalah penyedia sumber daya tak terbatas yang dapat digunakan manusia jika bisa merawatnya. Segala sesuatu akan senantiasa tetap tersedia dan itu semua untuk manusia hanya jika, manusia memiliki kepedulian kepada alam dan memanfaatkannya secara tepat.

Bumi tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk mengolah semua limbah yang kita hasilkan. Bumi juga memiliki keterbatasan untuk menerima berbagai macam limbah yang sulit diurai kembali.

Oleh karena itu, sebagai manusia yang memiliki akal membumi, manusia sepatutnya mengerti dan mampu mengontrol semua perilakunya. Manusia perlu merenungi apakah yang dilakukan sudah tetap atau malah menimbulkan dampak buruk bagi bumi yang merupakan tempat tinggal kita semua?


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Aldi Riyanto