Hidup Berkemul Silaturahmi

slider
12 November 2021
|
265

Manusia itu makhluk sosial. Ia tidak bisa bertahan hidup seorang diri. Sejak lahir sampai masuk ke liang lahat, manusia pasti butuh manusia lain. Karena itu, silaturahmi menjadi sesuatu yang tidak boleh untuk ditinggalkan.

Silaturahmi sendiri merupakan etika sosial. Hidup tanpa melakukan silaturahmi bagaikan Bang Haji Rhoma Irama tanpa gitar uniknya. Lantas bagaimana agar kita bisa belajar silaturahmi sampai khatam?

Mudah saja! Silaturahmi tidak memerlukan belajar. Cukup ditunaikan saja. Tapi kalaupun mau belajar, coba amatilah segerombolan semut yang berbaris di dinding. Mereka tidak pernah lupa untuk saling bersalaman setiap kali berjumpa dengan sesamanya. Itu semut.

Apa salahnya kita, manusia, menirunya sehingga ketika setiap kali kita bertemu sesama, kita saling bersalaman? Setidaknya kita bisa saling bersitegur, bersisenyum, ataupun saling bertukar kabar sekenanya. Itulah indahnya silaturahmi. Sesuatu yang tampaknya sepele dan sering disepelekan.

Mengakrabkan Diri Bersilaturahmi

Kata silaturahmi berasal dari bahasa Arab. Ia tersusun dari dua kata, silah dan rahm. Silah artinya ‘alaaqoh (hubungan), sedangkan rahm artinya al-qoroobah (kerabat). Rahm artinya juga mustauda’ul janiin atau rahim, peranakan. Kata rahm seakar dengan kata rahmah, yaitu dari kata rahima, yang artinya menyayangi-mengasihi.

Sedangkan secara harfiah silaturahmi merupakan tindakan menghubungkan tali kekerabatan dan kasih saying. Sebagai kalimat, silaturahmi merupakan bahasa al-Qur’an, bahasa yang digunakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Tentu tidak ada bahasa terbaik kecuali bahasa al-Qur’an.

Al-Qur’an telah mengisyaratkan dalam surah al-Ra’d [13: 21]. Di sana ada lafal yashiluuna. Para ahli tafsir seperti al-Maraghi [V: 93], Mahmud Hijazi [II: 228], as-Shawi [II: 336], Jalaluddin as-Suyuthi [IV: 637] tidak berbeda pendapat mengenai maknanya. Bahwa yang dimaksud dengan lafal yashiluuna adalah menyambungkan kekerabatan dan kasih sayang yang merupakan hak semua hamba.

Hubungan kekerabatan yang dihasilkan dari silaturahmi inilah yang menjadikan sesama muslim saling memiliki kewajiban untuk bahagia melihat orang lain bahagia. Saling membantu, saling menghargai, menengok ketika sakit, tidak saling mencela, mengantarkan sampai ke kuburan ketika meninggal dunia, dan tentu saja saling mendoakan.

Islam memerintahkan untuk menyambung silaturahmi dan bersatu. Namun Islam tidak memperbolehkan seorang muslim memutuskan hubungan, saling jauh-menjauhi, dan segala perbuatan yang menyebabkan lahirnya perpecahan. Karenanya Islam menganjurkan untuk saling menyambung silaturahmi.

Dia melalui firman-Nya telah memperingatkan mengenai hal ini: “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, dan dibutakan-Nya penglihatan mereka” [Q.S Muhammad: 22-23].

Ayat di atas menunjukkan betapa berat hukuman bagi siapa saja yang memutuskan silaturahmi. Dan semoga saja, kita dan orang-orang di dekat kita bukan menjadi salah satunya.

Hal Perusak Silaturahmi

Silaturahmi bisa dirusak oleh sifat-sifat tercela. Di antara sifat tercela itu: sifat egois, memiliki perasaan dengki melihat orang lain bahagia, tidak menghargai orang lain, tidak saling memahami, dan tidak ada rasa kasih saying terhadap sesama.

Kanjeng Nabi Muhammad mengabarkan bahwa, hakikat silaturahmi adalah tetap menjaga hubungan baik kepada orang yang berbuat tidak baik, dan menyambung hubungan yang telah diputus oleh orang yang sengaja memutusnya.

Silaturahmi merupakan kebutuhan yang dituntut oleh fitrah manusia. Sebab silaturahmi dapat menyempurnakan rasa cinta. Silaturahmi juga merupakan dalil dan tanda kedermawanan serta ketinggian akhlak seseorang.

Karena itu, silaturahmi termasuk akhlak yang tepuji dan sangat dianjurkan dengan seruan pada sekian ayat-ayat di kitab suci dan telah disuri tauladankan oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Silaturahmi memiliki nilai kemanfaatan yang berkhasiat bagi banyak manusia, termasuk seorang muslim.

Suatu ketika, Kanjeng Nabi Muhammad pernah bersabda: “Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaknya ia menyambung (tali) silaturahmi” [HR Bukhari].

Pada hadits Abu Hurairah, sabda Kanjeng Nabi Muhammad yang lain berbunyi: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia bersilaturahmi” [HR Muttafaqun’alaihi].

Untuk menghindari terputusnya silaturahmi, Allah di dalam al-Qur’an surah Ali Imron [3: 8] mengajarkan makhluknya sebuah doa. Doa itu: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya hanya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).”

Wallahu’alam.


Category : buletin

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Dewi Kurniasih

Pengajar TPQ di Masjid Jendral Sudirman tempo dulu.