Hasil Wawancara dengan Setan

slider
29 Desember 2021
|
324

Judul Buku : Interview with The Syaitan | Penulis : Helia Puji | Penerbit : Kalil dan Gramedia Pustaka Utama | Cetakan : I, 2015 | Halaman : vi + 74 halaman | ISBN : 978-602-03-1652-9

Berawal dari sebuah keisengan, jari saya “memanjat” layar telepon pintar di lapak buku online. Mencari buku-buku bacaan yang cocok sebagai teman di saat senggang. Salah satunya yang saya pilih sebagai teman adalah Interview with The Syaitan. Perhatian saya tersedot ketika membaca judul buku ini, ingin segera memesan, dan tak sabar membacanya lembar demi lembar sambil bersanding kopi.

Mulanya terbayang, siapa yang telah melakukan interview bersama setan? Kapan? Di mana? Dengan media apa ia wawancara? Apa saja yang ditanyakan dan bagaimana jawaban si setan? Ritual apa yang perlu disiapkan sebelum menemui setan agar bersedia diajak wawancara dan menjawab jujur semua pertanyaan?

Selang dua hari berikutnya, buku yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Benar-benar tak sabar hendak menyerap pengetahuan yang terkandung. Dan ternyata benar, buku ini benar-benar buku super. Bukan sekadar wawancara kaleng-kaleng. Meski terbilang tipis, tetapi muatan yang terdapat di dalam buku ini sangatlah mencerahkan.

Banyak ilmu dan pemahaman baru yang saya peroleh dari buku ini. Di antaranya adalah setan yang pernah menolong sahabat nabi. Saya baru tahu kalau setan juga memiliki jiwa penolong. Setelah saya baca buku ini dengan saksama, ternyata setan berbuat demikian sebab ada udang di balik batu. Selengkapnya begini kisahnya.

Abdullah bin Ummi Maktum adalah seorang sahabat nabi yang tunanetra. Meski memiliki kekurangan, ia tidak pernah meninggalkan salat. Suatu hari saat ia hendak menunaikan salat subuh berjamaah di masjid, di tengah jalan ia tersandung batu dan jatuh tersungkur. Darah mengalir dari wajahnya.

Seketika itu, datanglah seorang laki-laki yang lantas menolongnya. Laki-laki itu membersihkan luka Abdullah, mengantarkan ke masjid, lalu mengantarnya pulang ke rumahnya. Laki-laki tersebut sampai beberapa saat terus-menerus mengantar dan menjemput Abdullah yang hendak salat berjamaah ke masjid.

Di waktu yang lain, Abdullah penasaran ingin tahu nama laki-laki penolong itu dengan maksud ingin membalas kebaikannya dengan munajat doa. Namun, si laki-laki misterius itu merahasiakannya. Abdullah mendesaknya, bahkan ia bilang tidak berkenan ditolong jika laki-laki tersebut belum juga memberitahu namanya. Akhirnya laki-laki itu buka mulut dengan menjawab bahwa dirinya adalah setan.

Semula Abdullah tidak percaya, mana mungkin setan menolong orang mau salat ke masjid. Di mana-mana, setan selalu menghalangi orang hendak pergi ke masjid. Lalu setan mengingatkan peristiwa jatuhnya Abdullah ketika ingin salat ke masjid di pagi buta itu. Setan bercerita bahwa saat itu ia mendengar ucapan malaikat bahwa Allah telah mengampuni setengah dosa dari Abdullah saat jatuh tersungkur. Setan takut kalau Abdullah jatuh lagi kedua kalinya yang mengakibatkan setengah dosa Abdullah yang lain diampuni (hlm, 22).

Demikianlah setan, selalu ada niat terselubung dalam segala tindak-tanduknya. Setan tidak rela jika ada seorang hamba yang diampuni dosanya, sebab setan sejak diturunkan dari surga hingga sekarang mengemban misi menjerumuskan manusia agar, mendapat murka Allah dan kelak menjadi temannya di neraka.

Dialog-dialog lain di buku ini yang tak kalah menakjubkan adalah tentang setan yang mengajarkan ayat kursi. Pada saat Abu Hurairah ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjaga harta zakat pada bulan Ramadan, tiba-tiba seorang laki-laki datang melihat-lihat makanan dan langsung mengambilnya.

Abu Hurairah mencegahnya. Sebab ia nanti harus mempertanggungjawabkan zakat itu di hadapan Rasulullah. Laki-laki memelas sambil menyebut bahwa dirinya sudah berkeluarga dan keluarganya sedang kelaparan. Akhirnya, Abu Hurairah luluh dan mengizinkan. Keesokan harinya Kanjeng Nabi Muhammad bertanya kepada Abu Hurairah tentang peristiwa yang terjadi kemarin. Abu Hurairah melaporkan sebagaimana kejadian sesungguhnya. Rasulullah menanggapi bahwa Abu Hurairah telah dikelabui, dan besok laki-laki itu akan datang lagi.

Keesokan harinya, apa yang disampaikan Kanjeng Nabi ternyata benar. Laki-laki itu datang lagi, melakukan hal yang sama dan dengan dalih yang serupa, yakni demi keluarganya yang kelaparan. Abu Hurairah kemudian mengizinkan. Esok harinya laki-laki itu datang lagi dan lagi. Laki-laki itu meminta harta zakat itu untuk terakhir kali dan sebagai imbalannya laki-laki itu akan mengajarkan kalimat yang jika dibaca pada malam hari akan dijaga oleh Allah, dan tidak akan didekati setan sampai pagi hari. Abu Hurairah menjadi takluk.

Esok hari Kanjeng Nabi menanyakan hal yang sama dan Abu Hurairah menjawab kalau dirinya telah diajari kalimat yang sangat bermanfaat oleh laki-laki itu. Kalimat berupa ayat kursi yang apabila dibaca sebelum tidur maka ia akan dijaga sampai pagi. Kanjeng Nabi pada akhirnya mengungkapkan bahwa yang diajarkan laki-laki tersebut benar, tetapi ia telah berhasil mengelabui Abu Hurairah dengan terus mengambil harta zakat. Kanjeng Nabi bahkan membeberkan identitasnya kalau laki-laki itu sebenarnya adalah setan (hlm, 38).

Di samping itu, buku tipis kaya manfaat ini juga mengulas tentang wawancara setan dengan Allah, dialog setan dengan Syeikh Abdul Qadir Jailani, Nabi Isa, Imam Syafi’i, dialog setan gemuk dan setan kurus, dialog lelaki dengan setan penunggu pohon, nasihat setan kepada Nabi Musa, saat-saat setan lari terbirit-birit, tipu daya setan saat salat, sembilan jurus setan menyesatkan manusia, kiat menangkal serangan setan, dan membentengi anak-anak dari godaan setan.

Bagian yang tak kalah menarik adalah bagian awal di buku ini. Sebagai pembuka, buku ini membahas biodata setan. Tak hanya manusia yang mempunyai biodata. Setan pun juga punya biodata yang meliputi hobi, cita-cita, tempat hangout favorit, makanan kesukaan dan sebagainya. Dengan begitu kreatif, Helia Puji menulis biodata setan begini.

Nama: Setan. Nama lengkap: Syaithanirrajim. Tanggal lahir: sejak ia tidak mau tunduk pada perintah Allah. Agama: kufur. Alamat: hati manusia yang lalai. Cita-cita: mengajak manusia sebanyak-banyaknya untuk menjadi temannya di neraka (QS. Faathir:6). Hobi: menyesatkan manusia dari jalan Allah. Jabatan: general manager dari golongan almaghdhub (yang dimurkai) dan golongan addhallin (yang sesat). Prestasi: membuat Nabi Adam dan Siti Hawa diusir dari surga (QS. Al-A’raf: 20), dan membuat sembahan-sembahan selain Allah. Follower: orang-orang yang hatinya lalai. Facebook: isinya status-status cacian, makian, status alay, selalu update gambar vulgar. Makanan favorit: semua makanan yang tidak disebutkan nama Allah ketika memakannya. Tempat hangout favorit: pasar (hlm, 4).

Setelah kita membaca biodata setan secara lengkap, kita jadi tahu dan kenal siapa setan sebenarnya. Dengan demikian, sebagaimana harapan penulis yang juga tertera di cover buku ini, ia menulis bukan karena sok berani mewawancarai dan menulis tentang setan, melainkan agar kita tidak terjebak dalam tipu daya setan. Tak kenal, maka tak benci, semakin kenal harus semakin menjauhi. Seimut apa pun wujud setan, tentu kita tak mau menemaninya di neraka kelak.

Wallahu A’lam bishawab.


Category : resensi

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Fathorrozi

Penulis adalah lulusan Pascasarjana Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, tinggal di YPI. Qarnul Islam Ledokombo Jember Jatim.