Eksistensialisme-Teistik Kierkegaard dan Eksistensialisme-Ateistik Sartre

slider
25 November 2022
|
522

“Kecemasan adalah kepusingan yang diakibatkan oleh kebebasan”—Kierkegaard, The Concept of Anxiety: A Simple Psychologically Orienting Deliberation on the Dogmatic Issue of Hereditary Sin (2014).

Kutipan Kierkegaard (yang lazim disebut Bapak Eksistensialisme) di atas, boleh jadi adalah lanjutan dari proyek filsafatnya pasca peluncuran bukunya yang berjudul Enten–Eller (Either/Or); yang liris dan secara simultan mengeksplorasi konflik tak terhindarkan antara estetika dan etika.

“Bagaimana jika segala sesuatu di dunia adalah kesalahpahaman, bagaimana jika tawa-gembira ternyata adalah air-mata”—tulis Kierkegaard dalam Either/Or (1992).

Secara sekilas, bertolak dari pembacaan intens atas karya-karyanya—ketimbang seorang filosof yang puitis, Kierkegaard lebih terlihat seperti penyair yang filosofis. Dalam sejarah filsafat Barat, ia juga bisa dikatakan salah satu filosof paling melankolis dan berjiwa puitis.

Namun, apakah kebebasan memungkinkan kecemasan? Mungkin iya, mungkin sangat iya. “Manusia dikutuk untuk bebas; karena segera setelah terlempar ke dunia, ia bertanggung jawab atas semua yang ia lakukan”—katanya Sartre, seorang eksistensialis gigan.

Seolah menjustifikasi-melengkapi apa yang telah dikatakan oleh Kierkegaard di atas, sekaligus mengadvokasi ungkapan hiperklise yang terdengar cukup eksistensialis bahwa “hidup adalah pilihan”.

Akan tetapi, kebebasan itu tak gratis oleh karena manusia adalah makhluk yang bebas menentukan hidupnya sendiri, pilihan-keputusan yang telah/akan diambil mengandung semacam “beban” berat, misalnya, ketakutan akan beban penyesalan yang berpuncak pada penderitaan konstan.

Apa yang diungkapkan oleh Kierkegaard dan Sartre sedikit banyak merangkum kira-kira kemumetan-keruwetan macam apa yang ada di kepala seorang eksistensialis. Kecemasan, kebebasan, pilihan-pilihan, individualitas, subjektivitas, otentisitas, dan sifat-sifat eksistensi adalah hal-perihal yang lekat dengan eksistensialisme—sebuah aliran filsafat yang menempatkan manusia pada titik sentral dari segala relasi kemanusiaan.

Berakar dari semacam upaya untuk bangkit dari segala hegemoni demi menemukan eksistensi dan esensi diri. Eksistensialisme, juga seringkali dimaknai sebagai kecenderungan, karakteristik, dan tren.

Secara singkat, eksistensialisme berangkat dari pertanyaan mengenai eksistensi manusia dan perasaan bahwa tak ada tujuan atau penjelasan mutlak mengenai inti keberadaan subjek-objek yang ada.

Eksistensialisme memandang bahwa hidup itu tak bermakna, kecuali seseorang mendefinisikan-memaknai kehidupan. Oleh sebab itu, masing-masing manusia mesti mendefinisikan-memaknai hidupnya secara personal dan sendiri-sendiri.

Perbedaan Kierkegaard dan Sartre

Meskipun keduanya sama-sama seorang eksistensialis, tetapi Kierkegaard adalah seseorang yang religius dan Sartre adalah seseorang yang tak-religius. Eksistensialisme Kierkegaard adalah eksistensialisme teis (baca: eksistensialisme agama), atau khususnya eksistensialisme Kristen; tepatnya sebuah gerakan eksistensialis teo-filosofis yang menggunakan pendekatan agama pada teologi Kristen.

Sedangkan eksistensialisme Sartre, adalah eksistensialisme ateis; sebuah gerakan antropo-filosofis yang memiliki pendekatan skeptis bahwa eksistensi manusia mungkin adalah gairah tanpa makna. Perbedaan posisi dan perspektif metafisik ini menjadi pembatas filosofis-interpretatif bagaimana keduanya memaknai eksistensi manusia.

Kierkegaard adalah seorang spiritualis yang beriman kepada Tuhan, dan percaya bahwa hubungan manusia dengan Tuhan akan  membantu mengungkapkan tabir makna dan menentukan arah-tujuan hidupnya.

Dalam eksistensialisme, ada “ketakpastian objektif”, oleh karenanya kredo Kierkegaard mengandung leap of faith (lompatan iman/lompatan keyakinan); sebuah tindakan penuh risiko yang dilakukan meskipun dengan menyadari bahwa apa yang dilakukannya belum terbukti secara objektif validitasnya.

Kierkegaard percaya bahwa “lompatan” ini harus dilakukan agar manusia mampu secara paripurna percaya dan mengimani Tuhan—bertaklid penuh pada apa-apa yang telah Dia wahyukan kepada manusia—menerima dengan cinta apa-apa yang telah diberikan oleh Tuhan—agar secara intens habluminallah—agar manusia dapat hidup dalam hubungan-vertikal-transenden yang erat dan kuat dengan Tuhan. Singkatnya, agar manusia mampu menciptakan esensi bagi eksistensinya dengan muatan nilai-nilai ketuhanan.

Di bawah nama pseudonimnya, Victor Eremita, beberapa karya berpengaruh ditulis Kierkegaard. Misalnya, Frygt og Bæven (Fear and Trembling) dan Gjentagelsen (Repetition and Philosophical Crumbs).

Dalam kedua buku ini ia menciptakan istilah teknis yang heroik, troens ridder (ksatria iman); individu yang telah menaruh kepercayaan penuh kepada dirinya sendiri, kepada Tuhan, dan dapat bertindak bebas sekaligus mandiri dengan kesadaran akan keberadaan Tuhan.

Secara kontras, berangkat dari pembacaan ketat di bawah teks-teks atas pemikirannya, Sartre besar kemungkinan adalah seorang ateis. Filosof introvert ini percaya akan ketiadaan Tuhan. Keateisannya itu adalah implikasi logis dari ungkapannya monumentalnya, “l'existence précède l'essence” (eksistensi mendahului esensi).

Dengan kata lain, menurut Sartre manusia berbeda dengan objek-objek lain. Misalnya, pencipta kursi niscaya telah memikirkan fungsi-tujuan-esensi kursi sebelum secara eksistensi kursi tersebut diciptakan-ditemukan. Tetapi tidak dengan manusia yang mesti secara personal menciptakan-menentukan fungsi-tujuan-esensi bagi dirinya sendiri.

Kodrat manusia tak dapat didefinisikan, sebab tak ada entitas yang lebih tinggi, yang Mahamengetahui, yang menciptakan umat manusia. Sartre bertopang pada pemikiran bahwa nature manusia itu tak pasti, bahwa makna hidup setiap orang ditemukan oleh manusia bukan diwariskan oleh Tuhan, dan setiap orang menempa nasib-takdirnya sendiri-sendiri.

“Pikiranku adalah diriku: itulah sebabnya aku tak bisa berhenti berpikir. Aku ada karena aku berpikir … dan aku tak dapat menahan diri untuk tak berpikir. Saat ini—ini menakutkan—jika aku ada, itu karena aku merasa ngeri pada keberadaan. Akulah yang menarik diriku dari ketiadaan yang aku cita-citakan”—Sartre, Nausea (2000).

Setiap orang memiliki beban-beban individu yang memengaruhi semuanya, memengaruhi orang-orang lain. “Tanggung jawab kita jauh lebih besar daripada yang kita duga, karena itu melibatkan seluruh umat manusia”, tulis Sartre dengan tegas.

Seakan dengan tebal mencerminkan aspek kebebasan dan konsekuensi yang dihadapi seorang manusia. Ketakpercayaan Sarte pada kodrat manusia, juga berhubungan langsung dengan anggapnnya bahwa tak ada landasan kolektif yang menghubungkan satu individu dengan individu lainnya.

Ungkapan “L'enfer, c'est les autres” (neraka adalah orang lain) dalam Huis clos (No Exit), sebuah karya drama Prancis yang dipentaskan di Théâtre du Vieux-Colombier pada Mei 1944, adalah frasa yang diciptakan dan digunakan Sartre untuk menjelaskan kondisi ini.

Persamaan Kierkegaard dan Sartre

“Pemikir subjektif bukanlah seorang ilmuwan, tetapi seorang seniman. Mengada adalah seni. Pemikir subjektif cukup estetis untuk memberikan muatan estetika pada hidupnya, cukup etis untuk mengaturnya, dan cukup dialektis untuk menembusnya dengan pemikirannya”—Kierkegaard, Concluding Unscientific Postscript (2009).

“Kebenaran adalah subjektivitas”, tambah Kierkegaard. Dengan kata lain, setiap manusia, setiap individu adalah penentu akhir dalam apa yang benar-benar nyata. Sehingga manusia harus mampu “mentransfigurasikan eksistensinya”.

Kierkegaard juga menilai bahwa manusia adalah proyeksi tuhan dan manusia harus mampu memikirkan keberadaan dan relasinya dengan penciptanya (Tuhan). Dengan demikian, ia menekankan manusia sebagai ‘aktor’ bukan ‘spektator’ yang seharusnya mampu dengan subjektivitasnya untuk berpikir, sadar, dan menghayati secara mendalam hal-hal eksistensial di sekelilingnya.

Sekilas mirip dengan manifestasi kehendak bebas à la Sartre yang menekankan pada kemandirian eksistensi. Akan tetapi, ada distingsi subtil dalam pandangan Sartre, khususnya dalam konteks kodrat manusia, sebab makhluk subjektif versi Sartre lebih berfokus pada otentisitas eksistensi,  pada perbedaan-keunikan, yang mesti terbuka secara lebar untuk ditafsir-diinterpretasi.

Kemiripan lain antara eksistensialisme-teistik Kierkegaard dengan eksistensialisme-ateistik Sartre adalah bahwa keduanya melihat eksistensi manusia tak statis, melainkan sebuab proses ‘becoming’ (kemenjadian), yang bermetamorfosis dan bergerak dari kemungkinan-kemungkinan ke tingkat realitas kesadaran yang lebih tinggi.

Kierkegaard merumuskan aktualisasi-eksistensi bahwa manusia memiliki tiga tahapan menuju diri yang autentik dan sejati: estetik, etik, dan religious. Secara singkat, estetik, pengejaran kesenangan duniawi. Etik, asumsi tugas kepada masyarakat, negara, dan lain sebagainya. Religius, taat dan mengabdi kepada Tuhan.

Di sisi lain, Sartre memformulasikan tiga jenis keberadaan: L'être-en-soi (ada-dalam-dirinya sendiri); L'être-pour-soi (ada-bagi-dirinya); dan L'être-pour-autrui (ada-bagi-orang lain).

Sejatinya, Sartre dan Kierkegaard tak memiliki banyak perbedaan-perbedaan signifikan, sebab keduanya adalah eksistensialis yang secara garis besar sepakat dalam banyak hal-perihal.

“Dengan setiap peningkatan derajat kesadaran, dan dalam proporsi peningkatan itu, intensitas keputusasaan meningkat semakin kuat kesadaran, semakin kuat keputusasaan”—Kierkegaard, The Sickness Unto Death (1989).

“Dalam hidup, manusia berkomitmen pada dirinya dan menggambar potretnya sendiri, di luar dari itu tak ada apa-apa. Tak diragukan lagi, pemikiran ini mungkin tampak kasar bagi seseorang yang belum berhasil dalam hidupnya. Tapi di sisi lain, ini membantu seseorang untuk memahami bahwa hanya kenyataan saja yang diperhitungkan-dinilai, dan bahwa mimpi, ekspektasi, dan harapan hanya berfungsi untuk mendefinisikan seorang manusia sebagai mimpi yang hancur, ekspektasi yang gugur, dan harapan yang sia-sia”—Sartre, Existentialism is a Humanism (2007).

Bagaimana jika melanjutkan hidup-kehidupan ternyata adalah melanjutkan mati-kematian lainnya? Semoga semua keberadaan berbahagia dan terampuni dosa-dosanya oleh Tuhan yang Mahaesa.

Referensi:

Adha, Mochammad Aldy Maulana, 2022, “Pengantar Singkat Eksistensialisme”, dalam genrifinaldy.com, 4 Oktober 2022.

Kierkegaard, Søren, 2014, The Concept of Anxiety: A Simple Psychologically Oriented Deliberation in View of the Dogmatic Problem of Hereditary Sin, New York: Liveright.

__________, 1992, Either/Or: A Fragment of Life, London: Penguin Classics.

__________, 2006, Fear and Trembling, London: Penguin Books.

__________, 2009, Repetition and Philosophical Crumbs, Oxford: Oxford University Press.

__________, 1989, The Sickness unto Death, London: Penguin Classics.

__________, 2009, Concluding Unscientific Postscript, Cambridge: Cambridge University.

Sartre, Jean-Paul, 2000, Nausea, London: Penguin Books.

__________, 2010, No Exit, New York: Samuel French, Inc.

__________, 2003, Being and Nothingness, London: Routledge.

__________, 2001, The Age of Reason, London: Penguin Classics.

__________, 2000, Essays in Existentialism, New York: Citadel.

__________, 2007, Existentialism is a Humanism, Connecticut: Yale University Press.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Mochammad Aldy Maulana Adha

Mochammad Aldy Maulana Adha lahir di Bogor, Jawa Barat—pada 27 Maret 2000. Seorang Pengarang; Founder Gudang Perspektif; Editor-Ilustrator Omong-Omong Media; & Penerjemah paruh-waktu. Bisa disapa melalui: email-genrifinaldy@gmail.com; instagram-@genrifinaldy; twitter-@mochaldyma.