Dale Carnegie: Prinsip dan Asertif Diri

slider
21 Desember 2020
|
217

Banyak di antara kita merasa paling sengsara. Seakan tidak ada lagi harapan untuk melanjutkan hidup. Hidup terasa suram dan sukar tercerahkan, dalam istilah Jawanya, “Uripmu angel”. Masalah-masalah kian bertandang tanpa mengenal lelah. Sedang hati harus memiliki benteng pertahanan yang kuat dari terpaan badai masalah di keluarga, kerjaan, hingga hubungan asmara.

Tiap-tiap dari kita pasti memiliki masalah, kekhawatiran, kecemasan, dan rasa takut. Rasa itu muncul setelah masalah datang. Ekspresi selanjutnya bisa jadi kita tetap kokoh dan tegas sembari mencari solusi. Bisa pula di antara kita kalut dalam keadaan, hingga menyarah.

Dari keseluruhan masalah yang bertandang lalu muncul pertanyaan, “Bagaimana solusinya?” Ada di antara kita mencari solusinya dengan curhat kepada teman dekat, tetapi terkadang bukan solusi yang didapat, malah masalah semakin pelik. Ada pula di antara kita mencari psikiater, namun hasilnya tetap kurang efektif.

Dale Carnegie merupakan tokoh berpengaruh di New York. Pada 1912 ia membuka kursus pertama public speaking di YMCA, New York. Ia melakukan riset tentang pendekatan kepada orang-orang yang sukses. Hasil risetnya ia rangkum sebagai prinsip-prinsip hubungan antar manusia. Terdapat beberapa prinsip yang penting dimiliki oleh manusia. Prinsip-prinsip ini merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh manusia, seperti berikut ini.

Relasi positif

Membangun relasi positif maksudnya membangun ikatan hangat, kekerabatan dengan orang lain. Dalam membangun relasi dengan orang lain, bisa dengan menjaga lisan untuk tidak sembarang mengeluarkan kata-kata buruk ataupun sikap yang membuat orang lain tersinggung. Bisa dimulai dengan memuji atau memberikan penghargaan dengan tulus.

Sebagai manusia sosial, di antara kita pasti membutuhkan orang lain. Maka membangun relasi mau tidak mau harus dilakukan. Banyak kisah inspiratif dari orang-orang sukses. Di antara mereka tetap menjaga hubungan baik dengan rekan bahkan orang lain. Dalam Islam, dikenal dengan istilah “silaturahim”. Memiliki banyak relasi dan menjaga silaturrahim akan mendatangkan rezeki.

Rasa ingin tahu

Rasa ingin tahu merupakan salah satu proses dalam mendorong kita belajar, biasanya diawali dengan bertanya. Kunci ilmu ialah rasa ingin tahu. Bila rasa ini tidak dipupuk secara sehat, ilmu-ilmu baru yang bisa menjadi sumber rezeki kita menjadi akan sukar didapatkan. Dari keingintahuan muncullah sesuatu yang baru.

Cara memupuk keingintahun secara sehat bisa dilakukan dengan banyak hal, bisa saja dengan membaca buku, atau mengikuti kajian. Dan bukannya berarti menghabiskan waktu di tempat ngopi.

Cara lainnya bisa dengan konsultasi kepada para pakar. Mencari tahu kepada sumber atau pakar dapat membantu kebutuhanmu terpenuhi dengan mendekati hasil maksimal. Selain itu, perlu memosisikan diri sebagai murid, memiliki keingintahuan besar, dan mengakui keterbatasan diri.

Dengan memiliki rasa ingin tahu yang besar, mendorong kita untuk terus mendapatkan banyak ilmu dan inspirasi baru, sehingga akan dapat menambah percaya diri.

Komunikasi

Dalam berinteraksi dengan orang lain perlu memperhatikan sikap, lebih-lebih lisan. Seseorang dinilai dari lisannya, karena lisan merupakan gambaran dari pikiran. Sering kita temui seseorang menjadi sakit hati dan galau karena apa yang diucapkan. Seseorang bisa terpuruk oleh lisannya sendiri, seseorang juga bisa juga hancur karena lisan sendiri ataupun ucapan orang lain.

Komunikasi yang sering dilakukan oleh kita ialah dengan lisan. Maka penting menjaga lisan dan mengontrol setiap pemilihan kata yang diucapkan. Komunikasi yang baik dapat mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang disegani, dihormati oleh orang lain. Dalam menjaga pembicaraan, perlu sesekali tersenyum, sembari mengucapkan kata-kata pujian kepada orang lain. Menjaga komunikasi juga membuat ketulusanmu terlihat oleh orang lain.

Ambisi

Menurut Dale Carnegie[1], ambisi ialah mencapai sesuatu yang diimpikan. Dengan istilah lain, mempunyai mimpi. Seseorang akan meraih kesuksesan bila mimpi tercapai. Sedang kekuatan untuk meraih mimpi tersebut disebut ambisi. Seorang pemimpi memiliki ambisi yang kuat untuk menjadikan mimpinya teralisasi. Mimpi setiap orang berbeda, karena berdasarkan dengan pengalaman pribadi, artinya ia bersifat subjektif.

Seiring dengan hadirnya ambisi, muncul perasaan lain yang menjadi momok bagi hidupnya, yaitu ketakutan. Istilah takut jika dikaitkan dalam pemahaman ini, dimaknai dengan mengejar sesuatu yang salah dan tidak sesuai dengan identitas kepribadian.

Penyelesaian konflik

Konflik atau problem seringkali terjadi. Masalah terjadi karena ada rentang antara keinginan dan harapan tidak terealisasi. Banyak di antara kita fokus pada masalah bukan fokus pada dampak dari adanya masalah. Jika fokus pada efek positif dari masalah yang muncul maka tiap-tiap kita secara mendorong fokus pada solusi yang tentu berefek positif bagi diri setelah masalah itu datang. Alih-alih menimbulkan pening kepala, datangnya masalah malah mendatangkan rezeki.

Penyelesaian konflik menjadi penting dikuasai pada masing-masing di antara kita. Seseorang yang pandai dalam penyelesaian konflik dan keputusan-keputusannya tepat sesuai konteks masalah.

Cara yang efektif dalam penelesaian konflik menurut Dale Carnegie dengan negosiasi, memiliki komitmen “menang-menang” bukan “menang-kalah.” Selain itu, susun rencana B untuk memaksimalkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang terjadi dan yang tidak sesuai harapan.

 

[1] Dale Carnegie, The 5 Essential People Skill: Menjadi Pribadi yang Tegas, Mudah Memahami Orang Lain, dan Cakap Menyelesaikan Konflik (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020).


Category : kolom

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Herlina

Perempuan asal Sumenep Madura, bisa disapa Elin, alumni UIN Sunan Kalijaga. Sekarang aktif di Lembaga Amil Zakat Al-Azhar Yogyakarta. Twitter: @Ellyn_31, IG: @ellynmusthafa, Email: ellynmustafa31@gmail.com