Batasan

slider
07 September 2022
|
553

Apakah zaman ini yang dinamakan sebagai puncak kejayaan manusia? Saat segala sesuatu sangat mudah didapatkan, termasuk hiburan. Apa yang sulit didapatkan pada masa lalu, sangat mudah kita dapatkan saat ini.

Dunia sudah seperti surga dengan sentuhan jari dengan benda kecil di tangan. Asal kita bisa membayar harga surga tersebut dengan uang, kita bisa menerima banyak sekali pelayanan; termasuk makanan sampai hiburan.

Pernahkah kita membayangkan betapa membosankannya hidup orang-orang yang memiliki banyak uang? Tidak pernah kita bayangkan karena kita hanya bisa membayangkan hal-hal yang menyenangkan, sampai kita berada di posisi mereka.

Bayangkan, saat ini kamu memiliki segalanya sudah cukup lama. Apa pun yang kamu inginkan dalam hitungan detik hadir di hadapanmu. Dan pada saat yang sama, apa pun yang tidak kamu inginkan, dengan sangat mudah sirna dari matamu.

Power, money, dan kebutuhan biologis, bayangkan ketiganya sudah sangat akrab dalam hidupmu setiap saat. Mustahil jika kamu tidak mengalami kebosanan. Sebab, jika sampai kamu belum bosan, kamu akan terus mencari power yang paling super-power, layaknya Fir’aun pada masa lampau. Keserakahan kemudian akan menenggelamkan kita dalam kebosanan.

Apa yang kamu lakukan jika bosan dengan suatu hal? Meninggalkannya atau mengubahnya. Jika kamu tidak bisa meninggalkannya, maka satu-satunya pilihan adalah mengubahnya. Ketika kamu bosan dengan dekorasi kamarmu, kamu akan berusaha untuk mengubah tampilan dekorasinya. Akan tetapi, bagaimana dengan hidup? Ketika kamu bosan dengan kehidupan, kamu dilarang meninggalkannya, maka mau tidak mau kamu harus mengubahnya.

Karena itu, saat kebosanan melanda, menerapkan sebuah batasan adalah pilihan. Tanpa batasan, maka tidak akan ada kehidupan. Apa pun yang berlebihan atau tanpa batas, tidak hanya “tidak baik”, tapi hal itu bisa membunuhmu. Allah melarang kita untuk melewati batas dan karena itulah batasan adalah pagar kehidupan.

Batasan dibuat oleh Tuhan, terutama dalam agama samawi, bukan untuk mengurung manusia atau membuat manusia tidak merdeka. Justru dengan batasan itulah manusia akan merdeka dari kerusakan yang dapat diakibatkan oleh sikap melewati batas.

Batasan tersebut seharusnya dimiliki oleh semua orang, sekalipun mereka tidak mempercayai Tuhan atau mengaku tidak memiliki agama. Batasan yang didasari oleh rasa simpati, kasih sayang untuk sesama makhluk, dan hati nurani. Dan kita kadang menyebut mereka yang melewati batas dengan sebutan perlakuan tidak manusiawi.

Bila kita melewati batas, maka kita akan rusak dengan sendirinya. Bayangkan jika kita boleh membunuh orang yang kita benci, menggauli semua lawan jenis yang kita lihat menarik, mengambil harta semua orang dengan berbagai cara seperti korupsi, apakah kita akan baik-baik saja? Tentu tidak, tubuh dan jiwa kita akan rusak dengan sendirinya jika kita tidak tahu bahwa kita harus berhenti.

Maka dari itu, setidaknya, ada dua pilihan penting saat seseorang ingin menerapkan batas. Batasan saat berpikir dan batasan saat bertindak.

Pertama, batasan saat berpikir. Overthinking dan kecemasan adalah dua hal yang saat ini sering anak muda alami. Memikirkan yang sudah terjadi dan mencemaskan apa yang belum terjadi. Bahkan, secara berlebihan memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan.

Sampai akhirnya kita mengalami sebuah penderitaan—yang hadir karena penilaian terhadap pengalaman masa lalu dan kemelekatan pada suatu nilai tentang kebahagiaan atau lainnya—meskipun penderitaan adalah sebuah cara pandang.

Penderitaan adalah sebuah pilihan, tetapi karena kita tidak membuat batasan dalam berpikir, penderitaan itu menjadi rasa sakit yang entah mengapa terasa nikmat, sekalipun kita masih tetap mengutuknya.

Bahkan memikirkan hal-hal positif sekalipun, kita tetap membutuhkan batasan. Kita sering menyebutnya dengan istilah toxic positivity, hal yang pada awalnya kita anggap positif tapi menjadi racun karena terlalu berlebihan.

Termasuk saat kita berpikir bahwa apa yang kita percayai adalah yang paling benar, dan kita melewati batas dengan cara menyakiti orang lain karena mereka enggan menerima nilai-nilai yang kita yakini benar.

Batasan dalam berpikir adalah saat kita tahu kapan kita berhenti untuk berpikir dan kapan kita harus tetap berpikir.

Kedua, batasan dalam bertindak. Berangkat dari pola pikir yang keliru, seseorang dapat melakukan berbagai tindakan tanpa batas. Tidak peduli nurani, tanpa empati, ego di atas segalanya sampai seseorang dapat berbuat semena-mena. Tenggelam dalam keserakahan yang mereka pikir tidak akan menenggelamkan diri mereka sendiri.

Jika kita tidak cukup serakah, kita tahu batas untuk berhenti, maka musuh utama kita adalah kebosanan. Tidak ada power atau kekuasaan yang ingin kita raih lagi. Uang juga sudah tidak menarik lagi. Kebutuhan asmara juga menjadi suatu hal yang sudah cukup membosankan. Maka dari sanalah kita akan menemukan kebosanan yang pada sebagian orang akan mengantarkan mereka pada penemuan spiritual.

Hidup sudah sangat membosankan sehingga mereka butuh batasan yang jelas, dan batasan itu adalah rasa syukur. Syukur itu yang akan membawa mereka pada satu hal yang baru berupa nilai kebermanfaatan.

Alih-alih mengejar hal yang sama, yang menjerumuskan kita dalam keserakahan atau kebosanan, seseorang bisa mengubahnya menjadi hal yang baru dengan tujuan kebermanfaatan.

Waktu yang biasanya kita pakai untuk menikmati berbagai hiburan sampai bosan, dapat kita pakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Waktu yang kita gunakan untuk melayani keserakahan sampai lelah, dapat kita gunakan untuk lebih belajar tentang rasa cukup dan bermanfaat.

Akan tetapi, apakah menjadi bermanfaat tidak membuat kita berubah menjadi serakah atau bosan? Kebermanfaatan tidak menjamin kita akan terhindar dari keserakahan atau kebosanan. Karena sekali lagi, segala sesuatu butuh batasan.

Menjadi bermanfaat untuk orang lain secara berlebihan, akan membuat kita tidak bermanfaat bagi diri sendiri. Menjadi berlebihan untuk kebermanfaatan diri sendiri, juga tidak akan membuat kita bermanfaat bagi orang lain. Tidak ada yang benar-benar diperbolehkan, tapi juga tidak ada yang benar-benar tidak diperbolehkan—semua dapat disesuaikan dengan batasan keadaan.

Allah tidak melarang kita memakan segala yang diharamkan, jika kita dalam kondisi terdesak. Allah juga tidak memaksa kita melakukan hal-hal yang diwajibkan, jika kita dalam kondisi yang kurang mendukung—selalu ada rukhsoh atau keringanan yang diberikan. Semua itu, tentu saja dengan ketentuan “asal tahu batas” dan pada saat kondisi pengecualian.

Semua diatur bukan dengan keegoisan yang memaksa tanpa batas, tapi semua diatur dengan batasan-batasan. Karena begitulah hidup. Bahkan hanya untuk mencintai tanpa batas saja tidak diperbolehkan, karena bisa saja yang kita cintai akan menjadi musuh bagi kita. Begitu juga dengan rasa benci, disarankan membenci sewajarnya karena jika membenci tanpa batas pun dapat menjadi cinta pada akhirnya.

Namun barangkali, mencintai Allah bisa kita lakukan tanpa batas; tentu dengan cara menaati batasan-batasan yang telah Dia buat. Karena semakin kita mencintai sesuatu tanpa batas, kita akan semakin terikat oleh batasan-batasan yang dibuat oleh cinta itu sendiri. Karena batasan-batasan itu, seharusnya cinta tidak pernah membosankan dan tidak pernah mengajari kita keserakahan.


Category : kebudayaan

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Retno D.N

Selain menulis novel terbit pada 2014 dengan nama pena Chuiy dan 7 buku nonfiksi bertema self-Improvement, ia menjadi penulis untuk majalah Kominfo Grobogan Jateng sejak 2017 hingga sekarang.