Balas Dendam, Salah Satu Jalan ke Keadilan

slider
29 November 2021
|
296

Judul: Taxi Driver | Sutradara: Jang Hoon | Skenario: Eom Yu-na | Durasi: 16 Episode | Produk Negara: Korea Selatan | Tahun: 2021

Keadilan menjadi nilai dasar utama dalam kehidupan manusia modern. Di berbagai peradaban, entah yang berbasis agama, etnis, atau ras, seluruhnya mengakui dan memasukan keadilan sebagai dasar hukum dan kebijakan kemasyarakatan. Persoalan penafsiran dan aplikasi bagaimana keadilan di tiap tempat berbeda, itu soal lain. Namun yang pasti, tanpa perlu ada doktrin agama atau doktrin politik tertentu, siapa pun pasti setuju kalau keadilan itu penting.

Karena posisinya yang demikian, bagaimana keadilan ditafsirkan dan diwujudkan akan selalu menjadi dinamika kehidupan manusia di manapun. Dinamika itulah yang dimunculkan dalam serial drama Korea Taxi Driver. Taxi Driver adalah drama yang ide ceritanya diadaptasi dari webtoon dengan judul Taxi Deluxe. Film ini menghadirkan kenyataan menyedihkan bahwa keadilan yang diyakini sebagai nilai dasar kehidupan manusia modern, nyatanya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Keadilan yang hakikatnya berdiri di atas semua pihak, pada praktiknya justru sulit terlaksana. Selalu ada pihak yang tidak mendapat keadilan ketika hukum sebagai instrumen keadilan ditegakan. Taxi Driver memotret fenomena tersebut sambil menghadirkan wajah alternatif tentang bagaimana keadilan sebaiknya ditegakkan.

Cerita film ini sendiri bermula ketika ada sebuah perusahaan taksi bernama Rainbow Taxi yang tidak hanya membuka jasa antar-jemput penumpang. Rainbow Taxi juga membuka layanan balas dendam kepada siapa pun yang telah menyakiti para pelanggannya. Perusahaan tersebut digawangi oleh seorang ketua bernama Jang Sung-chul (Kim Eui-sung) yang menjadi CEO sekaligus otak utama bagaimana Rainbow Taxi beroperasi.

Ketua Jang, begitu Jang Sung-Chul dipanggil, dibantu oleh empat orang anggota yang berperan melaksanakan misi balas dendam di lapangan. Mereka adalah Kim Do-gi (Lee Je-hoon), seorang mantan anggota Kopassus Korsel yang bertindak sebagai supir taksi sekaligus eksekutor lapangan semua misi. Selain itu, ada pula Ahn Go-eun (Pyo Ye-jin), seorang ahli komputer yang bertugas meretas segala perangkat elektronik ketika eksekusi lapangan, dan Choi Kyung-goo (Jang Hyuk-jin) bersama Park Jin Eon (Bae Yoo-ram) berperan sebagai mekanik taksi. Mereka berlima bekerja melayani siapa saja yang membutuhkan jasa membalas dendam untuk mendapatkan keadilan yang setimpal.

Walaupun menerima layanan balas dendam, Rainbow Taxi tidak asal menerima siapa saja yang menggunakan jasanya dan asal pukul. Mereka yang berhasil mendapat layanan adalah orang yang benar-benar mengalami tindak kejahatan dan tidak mendapat keadilan sebagaimana mestinya. Karena itu, mereka datang ke Rainbow Taxi dan pasukan Ketua Jang akan membalaskan dendamnya.

Itulah sebabnya dalam semua layanan iklan mereka, ditulis kata-kata, “Layanan taksi mewah. Jangan mati, balas dendam, kami akan melakukannya untukmu. Mereka melakukan balas dendam hanya kepada orang-orang yang sudah di ujung harapan hidup. Kepada mereka yang sudah tidak punya daya dan upaya dalam menggapai keadilan, Rainbow Taxi bekerja.

Ketua Jang mendirikan Rainbow Taxi dengan misi demikian bukan tanpa sebab. Ia sendiri adalah orang yang merasakan pedihnya tidak mendapat keadilan sebagaimana mestinya. Kedua orang tuanya dibunuh secara keji dan pembunuhnya tidak mendapat hukuman setimpal.

Berdasar pengalaman tersebut, ia lalu mendirikan Rainbow Taxi sebagai upaya menolong orang-orang yang mengalami nasib seperti dirinya agar bisa membalaskan dendamnya. Tujuannya tak lain agar para penjahat dapat mengalami pedihnya menjadi korban kejahatan mereka. Karena itulah, Ketua Jang mengajak empat orang lain untuk bersama-sama melaksanakan misi balas dendam dalam Rainbow Taxi.

Keempat orang yang membantunya tersebut juga memiliki latar belakang yang tidak berbeda jauh dengan Ketua Jang. Semuanya pernah mengalami pengalaman pahit ketika keluarga dan orang-orang terdekatnya mendapat perlakuan keji. Keempatnya juga sama-sama merasa bahwa hukum yang berlaku tidak memberi keadilan yang benar-benar adil terhadap situasi yang menimpa mereka. Atas dasar kesamaan tersebut, mereka bergabung dengan Ketua Jang untuk membalaskan dendam orang-orang yang mendapat pengalaman serupa.

Tema balas dendam seperti yang Taxi Driver ini sebenarnya bukan tema yang baru. Banyak pula film yang bertema sejenis. Law Abiding Citizen (2009) dan My Name (2021) adalah dua film yang pernah saya tonton di samping berbagai film dengan ide cerita serupa.

Dari keduanya, hanya Law Abiding Citizen yang punya kemiripan cerita dengan Taxi Driver. Keduanya sama-sama mengangkat tentang balas dendam yang terjadi akibat gagalnya hukum resmi mewujudkan keadilan. Sedangkan, My Name memang menceritakan tentang misi balas dendam, tapi balas dendam dalam film tersebut bukan diakibatkan oleh gagalnya sistem dalam menegakkan keadilan, melainkan karena permasalahan personal pada tiap tokohnya.

Keadilan dalam Taxi Driver ditampilkan dengan balutan dendam antar seluruh tokoh yang terlibat dalam film. Dendam tersebut menjadi penting karena lewat dendam, wajah lain keadilan disodorkan. Ketika ada seseorang yang merasa tidak mendapat keadilan selayaknya, naluri manusia hanya akan bereaksi dua hal; memaafkan atau balas dendam.

Taxi Driver menyorot orang-orang yang memilih untuk membalas dendam kepada pihak-pihak yang merampas keadilannya. Apakah itu salah? Bagi aturan resmi, jelas salah. Namun, bagi para korban yang tidak mendapat keadilan, balas dendam adalah pilihan terbaik untuk merebut keadilan.

Menonton 16 episode dalam Taxi Driver membuat saya sadar bahwa dalam aturan resmi yang berlaku di mana pun, selalu ada celah di dalamnya. Celah inilah yang dalam Taxi Driver dikuliti sebagai ketidakadilan.

Mungkin memang benar petuah para tokoh suci dalam tiap agama, selama masih di dunia, keadilan mustahil ada. Keadilan hanya ada di langit dan hanya Tuhan hakim paling adil di jagat raya ini. Selama masih di bumi, selama itu pula ketidakadilan akan tetap merajalela. Melihat kenyataan demikian, yang bisa dilakukan hanya berusaha mengurangi praktik ketidakadilan sambil berusaha mewujudkan sedikit demi sedikit keadilan dalam kehidupan.

Pada titik itu, Taxi Driver menjadi penting untuk disaksikan. Film ini menghadirkan alternatif keadilan untuk kita yang masih hidup di dunia yang penuh ketidakadilan. Ketika hukum resmi tidak bisa memberi keadilan, maka perlu cara lain untuk mewujudkan keadilan tersebut. Taxi Driver memberi kita semua sebuah saran provokatif yang bisa dipertimbangkan: balas dendam. Hal ini tentu tidak bisa dimaknai secara tekstual bahwa balas dendam adalah jalan terbaik mewujudkan keadilan. Balas dendam hanya pilihan lain saat hukum tidak mampu memberi keadilan.

Bagi saya pribadi, yang penting dilihat dari balas dendam adalah posisi balas dendam yang menempatkan kita secara langsung menjadi subjek perwujudan keadilan. Melalui balas dendam, kita sendiri yang berusaha mewujudkan keadilan, bukan polisi, jaksa, hakim, atau aturan hukum yang berlaku. Hal demikian penting dicermati dalam hidup keseharian yang penuh ketidakadilan.

Ketika keadilan sulit hadir melalui lembaga dan aturan resmi, kita sebagai korban tidak ada salahnya jika harus bergerak sendiri untuk menghadirkan keadilan tersebut. Kondisi itu bisa menjadi pilihan daripada hanya sekadar berdiam dan mengharap ada keajaiban. Keadilan tidak ditunggu, tapi direbut dan diperjuangkan. Keadilan tidak mungkin hadir tanpa ada upaya aktif.

Menonton Taxi Driver dapat menjadi aktivitas menyenangkan di tengah kenyataan hidup sehari-hari yang dipenuhi berbagai ketidakadilan. Taxi Driver menunjukkan kepada kita semua bahwa keadilan akan selalu menemukan jalan, meskipun ditutup oleh segala tata aturan dan perilaku manusia yang menginjak-nginjak keadilan.

Bagi saya, Taxi Driver adalah salah satu film yang wajib ditonton tahun ini, di samping film bombastis lain macam Squid Game dan Hellbound (2021). Waktu yang dihabiskan ketika menonton 16 episode Taxi Driver akan terbayar dengan kualitas cerita yang disuguhkan dalam film.


Category : resensi

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Willy Vebriandy

Penulis Lepas, Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.