Zettelkasten dan Niklas Luhmann

slider
12 Januari 2022
|
1099

“Intelektual sederhananya adalah orang yang memegang pensil ketika membaca buku.” — George Steiner, kritikus sastra.

Setiap pembaca tahu, membaca sambil mencatat itu merepotkan. Namun sebagian, terutama yang ingin menulis, mungkin meyakini, membaca tanpa mencatat itu sama seperti tidak membaca. Dalam artian, ide dari bacaan jadi sangat kecil kemungkinannya untuk dielaborasi di kemudian hari: antara terlupakan atau masih diingat tapi sulit dilacak ulang. Karena itu, dengan kesadaran untuk merekam jejak pikiran, banyak pembaca menggarisbawahi kalimat, mencorat-coret marjin, menempelkan memo, ataupun menulis di buku tersendiri.

Aktivitas semacam itu juga menjadi keseharian Niklas Luhmann, seorang pegawai negeri di Jerman pasca Perang Dunia II. Pada dasarnya, ia tipikal pegawai kebanyakan, merasa kurang cocok dengan bidang kerjanya dan langsung pulang begitu jam kerja habis. Kebetulan saja, hobi yang ia geluti tiap kali sampai di rumah adalah membaca, khususnya topik filsafat, sosial, dan teori pengorganisasian.

Dan Luhmann Membaca dengan Pensil di Tangan

Seiring waktu, ia tidak sekadar menyerap informasi, tapi juga mengaitkan gagasan dari bacaan berbeda, mencari kontradiksi, serta mengeksplorasi pertanyaan di luar teks. Kian lama, menengok ulang catatan jadi kian sering.

Bisa jadi karena ia mencatat lebih tekun dari kebanyakan kita, Luhmann segera menyadari batasan dari caranya mencatat. Menggaris bawahi kalimat, mencoret topik, maupun mencatat di buku tulis tidak membawanya ke mana-mana. Menghimpun catatan seperti itu membuatnya punya beragam bentuk catatan yang tersebar di banyak tempat berbeda. Mengumpulkannya menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

Luhmann menyadari, yang mesti disederhanakan adalah proses pengumpulan catatan. Artinya, tiap catatan mesti ditulis dalam format yang sama dan terkumpul di tempat yang sama. Karena itu, ia bereksperimen dengan zettelkasten, sebuah sistem manajemen catatan yang mengandalkan dua elemen kunci: kertas ukuran A6 untuk mencatat dan rak kecil untuk menyimpannya.

Selembar kertas hanya akan memuat satu gagasan, ditulis dalam satu paragraf dengan keseriusan seolah untuk karya publikasi. Dengan cara itu, ketika belasan catatan setema diurutkan di atas meja, Luhmann mendapatkan belasan paragraf yang hanya perlu ia seleksi dan jahit untuk menjadi naskah tulisan.

Sistem ini memberi Luhmann keleluasaan yang ia mau. Ia bisa menyusun catatan sesuai kebutuhannya dan menemukan catatan tanpa kesulitan. Dua kriteria itu memungkinkannya mengaitkan dan membandingkan koleksi catatan yang ia miliki—aktivitas yang, ketika ia lakukan secara konstan, memberi struktur pada pemikirannya dan melahirkan gagasan-gagasan baru untuk ditulis.

Suatu hari pada 1965, Luhmann menghimpun catatannya dalam setumpuk manuskrip dan menyerahkannya pada Helmut Schelsky, salah seorang sosiolog paling berpengaruh di Jerman saat itu. Luhman adalah lulusan hukum University of Freiburg, jadi ia tak punya gelar sosiologi. Ia sempat mengambil beasiswa ke Harvard pada 1961 untuk belajar sosiologi dan ilmu administratif, tapi ia tak pernah menulis tesis ataupun disertasi di bidang sosiologi. Namun Schelsky, setelah membaca manuskrip itu, menyebut Luhmann punya kapasitas untuk mengajar sebagai profesor sosiologi di University of Bielefeld yang baru berdiri.

Luhmann, yang pada titik ini bisa dikatakan sosiolog otodidak, menanggapi serius pujian itu. Tahun itu juga, untuk memenuhi syarat mengajar, ia mengambil kuliah sosiologi di University of Münster, hanya satu semester. Pada saat yang sama, ia mengerjakan tesis dan disertasi yang, dengan bantuan catatan dalam rak kecilnya, selesai kurang dari setahun. Pada 1968, Luhmann resmi menjadi profesor di University of Bielefeld.

Kala mengisi kuliah umum pada awal kariernya sebagai profesor, Luhmann ditanya, apa proyek penelitian utamanya, serta perkiraan waktu dan biaya yang ia perlukan. Jawabannya kelak menjadi kondang:

"Proyek penelitian utama saya: teori masyarakat. Durasi: 30 tahun. Biaya: nol."

Luhmann lahir pada 8 Desember 1927, sebelas bulan setelah perilisan Metropolis, film fiksi ilmiah pertama, yang menggambarkan sistem masyarakat seratus tahun kemudian—semacam kisah distopia bernada optimis. Usia Luhmann telah menginjak 41 tahun saat ia menjabat profesor. Durasi 30 tahun artinya ia menjadikan teori masyarakat sebagai proyek seumur hidup, meskipun barangkali memang selama itulah waktu yang diperlukan. Mengingat dalam sosiologi, teori masyarakat adalah teori ibu semua proyek, dan karenanya begitu kompleks. Namun, poin paling mencengangkan adalah "biaya nol". Ini memperlihatkan kepercayaan diri Luhmann untuk hanya mengandalkan sistem zettelkasten yang telah membawanya masuk ke dunia akademis.

Karier akademis Luhmann memperlihatkan efektivitasnya mengelaborasi beragam catatan. Tidak seperti banyak akademisi yang ingin memeras banyak publikasi dari satu gagasan, Luhmann secara konsisten menghasilkan lebih banyak ide dari yang bisa ia tulis. Teks-teks Luhmann tertulis seperti ia ingin memeras sebanyak mungkin wawasan dan gagasan ke satu publikasi. Lihat saja, buku-bukunya mendiskusikan sistem sosial dalam disiplin yang berbeda-beda, dari hukum, politik, ekonomi, komunikasi, seni, pendidikan, epistemologi, bahkan cinta.

Luhmann juga sangat mendiri sebagai profesor. Ia tak pernah memperkerjakan asisten dalam menulis, bahkan ketika ia menjadi duda dengan tiga anak. Ia tampak seperti tak memaksakan diri, meski dalam 30 tahun kariernya, ia menulis 58 buku dan ratusan artikel, juga menerjemahkan banyak tulisan.

“Aku hanya melakukan apa yang mudah. Aku hanya menulis ketika tahu bagaimana melakukannya. Kalau aku kesulitan, itu kutaruh dulu, lalu mengerjakan yang lain."

Dengan sistem zettelkasten-nya yang menyediakan semua bahan tulisan di depan mata secara terstruktur, Luhmann bisa secara fleksibel berpindah dari mengerjakan satu proyek ke proyek lain—cara yang agaknya efektif, mengingat proses menulis tidaklah linier.

Pada akhirnya, proyek utama Luhmann selesai dalam 29 tahun, terangkum dalam dua jilid berjudul “The Society of Society” yang terbit pada 1979. Teori Luhmann bukan hanya baru dan cukup radikal untuk mengubah sosiologi, tapi juga memancing diskusi di bidang filsafat, pendidikan, politik, maupun sosiologi—walaupun tidak semua orang bisa mengikuti, saking kompleksnya.

Ketika ditanya bagaimana ia bisa begitu produktif, Luhmann kerap menjawab, “Tentu saja saya tidak memikirkan semuanya sendiri. Prosesnya paling banyak terjadi di dalam rak kecil saya.”

Luhmann, sebagaimana kita lihat, selalu terbuka tentang sistem zettelkasten-nya, tapi kebanyakan orang hanya menganggap penjelasan itu sebagai pernyataan rendah hati seorang jenius.

Setidaknya sampai University of Bielefeld—tempat Luhmann mengabdikan separuh terakhir hidupnya—menganggap serius pernyataan itu dan mulai mempelajari cara Luhmann menggunakan zettelkasten.

Luhmann menunjukkan, manajemen catatan yang efektif dapat membantu seseorang mengatasi setengah kesulitannya dalam menulis. Atau malah lebih radikal lagi, seperti dinyatakan peneliti Oxford Neil Levi, bahwa catatan di kertas atau di layar monitor tidak membuat usaha intelektual jadi mudah, tapi jadi mungkin.

Sumber:

Ahrens, S. "How to Take Smart Notes: One Simple Technique to Boost Writing, Learning and Thinking." North Charleston, SC: CreateSpace Independent Publishing Platform (2017).

Levy, Neil. "Neuroethics and the extended mind." (2011).


Category : keilmuan

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Ageng Indra

Penulis dan penerjemah lepas. Aktif di komunitas Radio Buku.