Tasawuf dari Bilik Pondok Pesantren

slider
31 Januari 2022
|
477

Jujur saja, pesantren, awalnya, bukan keinginan saya untuk menempuh pendidikan. Dahulu saya ingin melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 3, SMP favorit dan konon terbaik di kota Depok, lalu meneruskan jenjang pendidikan di SMA Negeri 1 yang juga sarat prestasi.

Namun, roda nasib mengubah arah hidup saya, ketika orang tua dikenalkan pondok oleh teman kerja Bapak. Orang tua membujuk saya untuk mencoba dulu pendidikan pesantren, setidaknya untuk tahun pertama. Awalnya, saya memang tidak betah, tetapi perlahan-lahan saya mulai beradaptasi dengan lingkungan tanpa orang tua. Akhirnya saya bisa lulus setelah enam tahun belajar dengan banyak hal di tempat yang sering disebut “penjara suci” ini. Tidak hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu kehidupan, setidaknya untuk dunia remaja.  Saya pun masuk ke Pesantren Al-Hamidiyah Depok pada rentang waktu 2007-2013.

Selama di pondok, saya berusaha mengharumkan nama pondok melalui beberapa perlombaan yang saya ikuti. Namun sayangnya usaha saya tidak banyak mengangkat prestasi. Setidaknya saya pernah mengikuti 3 kompetisi di tingkat Madrasah Tsanawiyah dan satu kali kesempatan di Madrasah Aliyah. Perlombaan yang saya ikuti meliputi olimpiade fisika, cerdas cermat matematika, dan baca kitab kuning. Hanya satu yang berhasil, itu pun tidak sebaik tahun sebelumnya. Saat itu, saya sadar, kemampuan saya masih belum seberapa dan prestasi sekolah yang saya bawa masih belum ada apa-apanya dibanding sekolah lainnya.

Saya awalnya tidak tahu apa yang ditonjolkan dari pesantren saya untuk bersaing di luar nanti. Sebab, saya merasa ilmu-ilmu yang diajarkan cukup “tanggung”. Ilmu-ilmu agama tidak terlalu ditempa, bisa dibilang hanya untuk sekadar tahu. Ilmu-ilmu di sekolah umum juga tidak terlalu dituntut. Hafalan pun sekenanya, hanya surat-surat penting Al-Qur’an seperti Yasin, Al-Waqi’ah, Al Mulk, Mahfudzat (Kata-kata Mutiara) serta kitab Aqidatul Awam. Bahasa asing juga tidak terlalu ditonjolkan di pondok saya. Komunikasi sehari-hari menggunakan Bahasa Indonesia seperti biasa. Sementara pondok dan sekolah lain ada yang menerapkan bilingual ketika jam pelajaran. 

Pertanyaan ini masih menggelitik benak saya ketika sudah lulus dan masuk bangku perkuliahan: apa yang spesial dari pesantren saya? Mungkin orang menganggap keunggulan dari pesantren adalah ilmu agama yang cukup kuat. Namun teman-teman saya saat kuliah juga banyak yang alumni pesantren dan mereka cukup punya ilmu yang mumpuni, baik secara agama maupun umum.

Seorang teman mengaku diajarkan ushul fiqih, padahal jurusan IPA, sedangkan saya yang juga jurusan IPA di pondok tidak diajarkan. Bahkan ada yang hafiz Al-Qur’an 30 juz. Jika ada santri di pondok saya yang hafiz, pondok saya langsung mengirimkannya ke Mesir untuk kuliah di Universitas Al-Azhar ketika lulus. Itu juga cukup hafal minimal 3 juz, tidak perlu semuanya. Intinya saya merasa kalah saing dengan teman-teman kuliah saya, baik dari segi ilmu agama, hafalan, bahasa asing, maupun ilmu umum.

Tahun demi tahun berganti. Saya terus bergumul di bangku kuliah yang penuh dengan tugas-tugas dan kegiatan. Namun suatu hari saya pernah ditanya teman saya menjelang acara salah satu organisasi kampus di Puncak, Bogor. “Tir, sekarang kan jam setengah enam, boleh ga dijama’ solat maghrib sama isya di villa nanti?”, tanya seorang teman saat itu.

Saya menjawab sebisanya sesuai yang diajarkan di pondok dulu. “Kalau jarak dari sini ke tempat acara lebih dari delapan puluh kilometer, boleh”. Setelah dicek di aplikasi Google Maps, jaraknya 86 kilometer. “Yaudah boleh berarti”, tukas saya. Berdasarkan ilmu yang saya dapat, delapan puluh kilometer atau dua marhalah adalah jarak minimum untuk melaksanakan salat jama’ ketika melakukan suatu perjalanan. Saya bersyukur waktu itu karena ilmu yang didapat di pondok bermanfaat dan bisa diajarkan ke teman-teman saya.

Pertanyaan dalam benak saya mulai sedikit demi sedikit menemukan titik terang. Titik terang ini semakin terlihat ketika saya dan teman-teman menapaki dunia kerja. Tampak jelas di fase ini kita membutuhkan suatu pedoman yang kuat untuk menjalani kehidupan. Dunia kerja adalah dunia yang sangat menantang dan dipenuhi oleh tekanan maupun godaan yang luar biasa. Jawaban yang paling tepat untuk menghadapi itu semua adalah ilmu agama. Ilmu agama menjadi pedoman penting dalam menghadapi kerasnya kehidupan, supaya kita bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang merupakan hak kita dan mana yang bukan.

Saya kemudian menyadari dan sudah memprediksi jauh-jauh hari ketika masih di pondok, ilmu agama itu mahal. Mahal sekali malahan. Memang saya tertinggal untuk ilmu-ilmu di sekolah umum. Namun itu masih bisa dikejar, meskipun agak terlambat saat kuliah. Sementara teman-teman saya yang bukan alumni pesantren kesulitan mencari guru ilmu agama yang mumpuni. Bahkan dirasakan juga oleh sebagian teman yang alumni pesantren. Di sinilah tugas saya untuk membimbing sebisa mungkin teman-teman yang masih kebingungan. Ketika saya tidak tahu apa masalah yang ditanyakan, saya bisa menanyakan ke ustadz saya yang masih mengajar di pesantren sekarang.

Ustadz yang selalu saya tanya adalah Ustad Ashri Azhari. Beliau selalu meminta para alumni pesantren Al-Hamidiyah, untuk mengunjunginya sekaligus membawakan oleh-oleh, yang paling beliau suka adalah sebungkus rokok Sampoerna Mild dan susu Bear Brand. Ustad Ashri selalu mengajarkan kami untuk selalu bersabar ketika menghadapi masalah.

Jika ada orang yang jahatin kamu, jangan kamu bales, kalau kamu bales apa bedanya kamu sama mereka?”

“Jika kamu terlalu menguasai ilmu tanpa dikendalikan oleh agama, maka ilmu itu akan memakan agamamu dan menjadi bumerang bagimu”

“Tanamlah wujudmu (eksistensimu) di bumi kerendahan (ketiadaan), maka segala yang tumbuh namun tidak ditanam (dengan baik) tidak sempurna buahnya”

“Kalau kamu terlalu ngarepin hasil saat berusaha, nanti kamu stres kalau hasilnya ga tercapai. Jangan ambisius banget jadi orang, jalanin aja apa yang ada”

Kutipan di atas adalah contoh pesan-pesan yang disampaikan Ustadz Ashri kepada kami, alumni pesantren Al-Hamidiyah dan umumnya kepada kita semua dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Secara tidak langsung, Ustadz Ashri mengajarkan kita ilmu tasawuf lewat pesan-pesan tersebut. Biasanya beliau memberi wejangan-wejangan seperti ini saat kami mengunjungi kontrakan beliau di belakang pesantren atau rumah beliau di Pondok Kecapi, Bekasi. Gaya beliau yang santai membuat kami para alumni menyukai beliau dan keranjingan untuk mengunjunginya kembali. Jika bertemu di rumah, beliau biasanya menggelar khataman Al-Qur’an atau kajian kitab Al-Hikam.

Sederhananya menurut Ustadz Ashri, ilmu tasawuf adalah “ilmu rasa”, ilmu yang mendidik kita untuk mengasah kepekaan sanubari kita. Ilmu ini mengajak kita untuk bersikap simpati, empati, tolong-menolong, zuhud, ikhlas, sabar, dan tenang. Ilmu tasawuf merupakan salah satu cabang ilmu agama yang luput dari perhatian banyak orang. Biasanya kaum muslimin menaruh atensi yang tinggi terhadap ilmu fikih, ilmu tafsir, dan ilmu hadis. Padahal ilmu tasawuf ini sangat berguna dan bisa langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu saja ilmu tasawuf berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, karena dua sumber tersebut banyak mengajarkan kesabaran, salah satu bagian dari ilmu tasawuf. Ilmu tasawuf juga mengajarkan kita untuk tidak terlalu mengejar hal-hal duniawi, karena hal-hal tersebut tidak dibawa saat kita mati. Boleh mencari duniawi, tetapi jangan lupa diniatkan sebagai sarana ibadah kepada Allah, bukan tidak boleh mengejar duniawi secara total.

Seberapa manfaat ilmu tasawuf untuk kehidupan kita? Menurut KH. Ahmad Mustofa Bisri di bukunya Pesan Islam Sehari-Hari, cara mendapatkan petunjuk ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam menjalani hidup ialah dengan memilih opsi berdasarkan hati nurani. Nah, ilmu tasawuf membantu hati nurani supaya tidak salah memilih dengan cara memperbanyak ibadah kepada Allah. Dengan memperbanyak ibadah, kotoran-kotoran di hati akan hilang sehingga mata hati tidak kesulitan menunjukkan jalan yang benar. Setidaknya, seperti itu gambaran ilmu tasawuf membantu hidup kita.

Dari wejangan Ustadz Ashri, saya sadar bahwa pondok saya mempunyai modal untuk menonjol di ilmu tasawuf. Bukan hanya itu, tetapi juga bisa menjadi penuntun hidup hingga akhir hayat. Saya merasa ilmu tasawuf ini dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat ketika menghadapi problematika kehidupan.

Belakangan saya baru ingat bahwa pesantren saya memiliki basis dakwah, karena sepanjang sejarahnya pondok saya melahirkan beberapa dai yang cukup mapan. Kemudian latar belakang ini menjadi tugas saya untuk mendakwahkan ilmu tasawuf sebisa mungkin, meskipun tidak dari belakang mimbar. Sebab saya yakin, ilmu tasawuf sangat bermanfaat bagi kita semua, dan menjadi modal penting dalam mendakwahkan Islam sebagai agama Rahmatan Lil ’Alamin, penyebar kasih bagi semesta alam.

Wallahul’alam


Category : keislaman

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Tirta Indah Perdana

Penulis adalah bagian dari masyarakat yang mukim di Kota Depok, Jawa Barat.