Sokrates: Tentang Metode, Pengetahuan, dan Keutamaan

slider
31 Oktober 2022
|
298

Dalam sejarah filsafat Yunani, tepatnya pada abad ke-5 SM, filsafat digemparkan oleh kelompok yang menamakan dirinya sebagai kaum sofis. Kaum sofis bukanlah sekelompok mazhab atau aliran yang memiliki ajaran bersama, melainkan gerakan intelektual yang timbul dari kebutuhan pendidikan di Athena saat itu setelah kemajuan ekonomi dan politik tercapai. Kebutuhan inilah yang berusaha mereka cukupi dengan menjadi guru bagi anak muda Athena.

Sejarah kemudian mencatat bahwa kaum sofis memungut bayaran atas pengajaran yang telah diberikan, sekalipun kita tidak boleh lupa bahwa mereka adalah kaum pendatang yang karenanya tak memiliki privilege sebagaimana penduduk Athena asli. Privilege itu, misalnya, ialah penduduk Athena sajalah yang boleh memiliki tanah.

Anggapan kaum sofis bahwa kebenaran itu relatif. Dengan anggapan ini, orang menjadi tahu bahwa tidak ada kriteria, standar, atau ukuran keberaran. Keberanan pada dirinya tidak ada karena semua argumen pada dasarnya benar.

Terlihat bahwa kaum sofis percaya pada kebenaran subjektif. Apabila diterapkan dalam konteks moral, perbuatan baik dan buruk secara simultan dapat dikatakan benar. Artinya, mencuri ialah perbuatan yang baik dan buruk sekaligus.

Dengan lain kata, kita tak perlu memperdebatkan bila orang yang satu menganggap mencuri itu baik dan yang lain menganggap itu buruk, karena keduanya adalah benar.

Sekalipun demikian, kaum sofis adalah kalangan yang pertama kali mentransformasi filsafat dari spekulasi kosmologis menjadi penyelidikan atas problem-problem manusia.

Filsafat menjadi berbicara tentang persoalan manusia dengan segala lika-likunya yang jauh lebih urgen dan membumi ketimbang problem alam semesta yang melangit dan seringkali berujung pada ketidakpastian.

Pelongokan atas problem manusia itulah yang nantinya akan dikembangkan oleh Sokrates, sekalipun ia menantang relativitas akan kebenaran. Sokrates adalah putra dari Sophroniscus dan Phaenarete yang berasal dari suku Antiokhia dan keluarga Alopecia.

Beberapa sumber menyatakan bahwa ayahnya adalah seorang tukang batu, tetapi A.E. Taylor dan Berner mengatakan bahwa cerita itu merupakan kekeliruan yang muncul dari referensi tak serius dalam dialog Euthyphro terhadap Daedalus yang merupakan leluhur Sokrates.[1]

Berbeda dengan kaum sofis, Sokrates tak pernah meminta sedikit pun bayaran atas pengajaran yang telah ia berikan. Ia suka berjalan dan mengelilingi pasar (agora) untuk menanyai orang mengenai keberanian, kebajikan, kesederhanaan, dan lain-lain.

Sokrates tak pernah memandang profesi ketika menanyai orang. Entah pemahat, pedagang, politisi, pelukis, tantara, pastinya pernah mendapatkan pertanyaan dari Sokrates. Jawaban-jawaban yang diajukan itu kemudian disimpulkan secara universal. Sehingga, Sokrates adalah orang yang pertama menerapkan logika induktif: pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang khusus ke sesuatu yang umum.

Sebelum mengkaji tentang problem manusia, Sokrates sempat mempelajari tentang kosmologi sebagaimana filosof pendahulunya. Ia pernah mempelajari Kosmologi Timur dan Barat dalam filsafat Archealus, Diogenes, Empedokles. Ia mulai beralih untuk menelusuri persoalan manusia ketika menginjak umur 20-an.

Sokrates mengalami semacam “pertobatan” menyusul insiden Orakel Delphi. Insiden ini terjadi ketika Chaerephon, teman dekat Sokrates, bertanya kepada Orakel “Apakah ada orang yang lebih bijaksana dari Sokrates?” Ternyata jawabannya adalah “Tidak”.

Karena itu, ia berpikir secara keras dan tiba pada kesimpulan bahwa ia adalah orang yang bijaksana karena mengetahui ketidaktahuaanya sendiri. Sebagaimana ia pernah katakan “Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa”. Maknanya ialah manusia mesti selalu mencari kebenaran selama ia masih hidup karena kebenaran yang sekarang ia percayai belum tentu benar.

Manusia tak boleh menganggap bahwa kebenaran yang sedang dianut ialah satu-satunya kebenaran sembari tidak mau menerima atau bahkan memperolok kebenaran yang lain. Dengan ini, manusia dapat memperoleh kebenaran yang pasti, stabil, dan tetap.

Namun, manusia juga mesti rendah hati dan tahu batas dihadapan Yang Maha Benar, sebagaimana slogan yang dipancangkan di Kuil Delphi “Kenalilah Dirimu Sendiri dan Jangan Berlebihan”. Dari insiden Orakel Delphi itu, Sokrates menyimpulkan bahwa dirinya diutus oleh Tuhan untuk mengajarkan kebijaksanaan kepada penduduk Athena.

Lalu, apa dan bagaimana metode yang diterapkan oleh Sokrates untuk mengajarkan kebijaksanaan itu?

Metode Sokratik

Bukan asal-asalan, Sokrates menggunakan metode dalam mengajarkan kebijaksaan kepada penduduk Athena. Metode ini biasanya dikenal dengan “metode sokratik” yang berwujud dialog/dialektika. Dialog/dialektika dalam arti metode Sokratik ini berbeda dengan dialog pada umumnya. Ada beberapa hal yang membuat suatu dialog bisa dimasukkan dalam metode sokratik.

Pertama, ketidaktahuan sokratik yang berujung pada ironi sokratik. Sokrates akan terlebih dahulu mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa kepada lawan bicaranya supaya dapat menggiringnya terlibat dalam diskusi.

Ketika lawan bicaranya sudah terpancing untuk turut serta dalam diskusi, ia harus bisa membuktikan pengetahuan yang dimilikinya. Metode ini adalah sebuah ironi. Alih-alih mengajarkan dan menunjukkan kebenaran terhadap suatu persoalan, Sokrates justru seperti orang yang tidak tahu apa-apa sehingga butuh untuk diajari. 

Kedua, elegkhos (sanggahan). Setelah lawan bicara mengeluarkan argumentasi-argumentasi tentang tema yang menjadi pokok-pokok pembahasan, Sokrates akan membuat pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan lawan bicara pada jawaban-jawaban yang kontradiktif.

Melalui elegkhos, Sokrates ingin menunjukkan bahwa orang yang sebelumnya merasa tahu sebenarnya tidak tahu apa-apa. Sebelum mempraktikkan elegkhos, Sokrates akan berupaya semaksimal mungkin menunjukkan bahwa dirinya memang tidak tahu apa-apa

Terakhir, maeutica. Di sini Sokrates berperan menjadi seorang bidan. Sebagaimana ibunya yang menjadi bidan untuk membantu proses persalinan ibu hamil, Sokrates adalah seorang bidan yang mendorong jiwa manusia untuk memperoleh “bayi” pengetahuan.

Sokrates percaya bahwa setiap manusia memiliki potensi pengetahuan, namun tidak setiap orang mampu untuk mengaktualisasikannya.[2] Alih-alih mengajarinya, tugas kita ialah mewujudkan aktualisasinya. Sokrates percaya bahwa pengetahuan yang sejati lahir dari diri sendiri.

Dalam penerapannya metode sokratik memunculkan hal yang paradoksal: di satu sisi, orang akan sadar dan mengakui ketidaktahuannya sehingga terdorong untuk belajar lagi; di sisi lain, orang menjadi marah dan jengkel sehingga memusuhi Sokrates.

Kendati demikian, Sokrates hanya berniat mengajak orang lain untuk menuju kebenaran yang dapat mengantarkannya menuju hidup yang berkeutamaan.

Keutamaan

Kebajikan manusia terletak pada usaha untuk membuat jiwa menjadi baik. Usaha ini senapas dengan kodrat jiwa sendiri. Arete (keutamaan) terletak pada jiwa yang paling baik. Manusia yang mempunyai jiwa baik adalah manusia yang sadar, tahu, dan rasional. Oleh karenanya, manusia membutuhkan ilmu pengetahuan untuk dapat mencapai keutamaan. Bukan pengetahuan yang sembarang, melainkan pengetahuan yang benar.

Dengan proposisi etis ini, Sokrates berkeyakinan bahwa sebenarnya tidak ada orang yang jahat. Orang yang jahat sebenarnya adalah orang yang tidak tahu dan tidak sadar. Semua orang pada dasarnya baik.

Lalu, mengapa ada orang yang berpengetahuan tetapi melakukan kejahatan? Misalnya, orang pintar lagi berpendidikan tinggi melakukan korupsi dan penipuan.

Menurut Sokrates, pengetahuan orang tersebut berarti belum merasuk ke dalam jiwanya. Ia belum bisa dikatakan memiliki pengetahuan yang benar. Pengetahuannya hanya sebatas tahu saja tanpa ada pretensi untuk merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Pengetahuan yang terinternalisasilah yang dapat mendorong orang menjalankan hidup secara berkeutamaan. Dan melalui keutamaan, orang dapat menuju kebahagiaan.

Namun, ajaran Sokrates tak mendapatkan tempat yang baik di hati orang Yunani. Ia justru dituduh meracuni pikiran anak muda, mencela dewa-dewa orang Athena, dan membawa agama baru. Sekalipun Sokrates bersikukuh di pengadilan bahwa semua yang dituduhkan kepadanya adalah tidak benar, namun pengadilan memutuskan ia bersalah dan harus dihukum mati setelah dilakukan voting: 280 setuju dihukum mati, dan 220 tidak setuju dihukum mati.

Sebenarnya, Sokrates diberikan keringanan hukum dengan pergi meninggalkan Athena. Namun, ia tidak mau. Sokrates mengatakan bahwa kebenaran yang dianutnya harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan. Akhirnya, Sokrates mati dengan menenggak racun cemara dalam usia 70 tahun.

Referensi:

Collepston, Frederick, 1962, A History of Philosophy Volume I: Greece and Rome, New York: Doubleday Dell Publishing Group.

Wibowo, A. Setyo, 2021, Platon: Lakhes (Tentang Keberanian), Yogyakarta: Kanisius.


[1] Frederick Collepston, A History of Philosophy Volume I: Greece and Rome (New York: Doubleday Dell Publishing Group, 1962), hlm. 96.

[2] A. Setyo Wibowo, Platon: Lakhes (Tentang Keberanian) (Yogyakarta: Kanisius, 2021), hlm. 4-7.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

M. Akbar Darojat Restu Putra

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya Angkatan 2021