Rabindranath Tagore: Ajaran dan Filosofi Hidup

slider
27 Oktober 2021
|
457

Mendengar sebutan “pujangga” terkadang memiliki kesan yang menggetarkan. Seorang pujangga selalu identik dengan syair-syair, prosa atau pemikiran-pemikiran yang derajatnya melebihi penyair. Buah karya-karya dari seorang pujanggalah yang menggetarkan sewaktu kita membacanya.

Sebutan nama pujangga dalam Jawa biasanya disematkan pada mereka yang mengabdi di keraton, seperti misalnya Ronggowarsito. Satu era dengan Ronggowarsito, di wilayah Timur bagian India muncul seorang pujangga yang mewariskan karya-karya dan masih dipelajari hingga kini.

Bagi kalangan pecinta sastra maupun budaya, siapa yang tidak mengenal seorang pujangga Rabindranath Tagore? Kepopuleran pujangga ini tidak lepas dari pemikiran dan pengaruhnya terhadap dunia, khususnya di India.

Tagore bagi kalangan orang-orang India sangat dihormati, ia adalah sosok pujangga masyhur, yang orang-orang India menyebutnya sebagai Manusia Setengah Dewa. Saking besar pengaruhnya, ada peringatan hari Tagore (Tagore Day) bahkan di Amerika. Dalam sejarah, Rabindranath Tagore merupakan sastrawan pertama yang meraih Nobel pada 1913.

Selain pujangga, Tagore juga seorang filosof dan seniman yang mengarang banyak lagu, yang karangan lagunya dipakai dua negara, India dan Bangladesh. Kepribadian Tagore yang suka jalan-jalan membuatnya mengembara ke berbagai belahan dunia.

Pada 1927 ia berkunjung ke Indonesia. Tagore juga menulis catatan khusus tentang Candi Borobudur dan mengakui kekagumannya pada relief-relief candi, yang mampu menggambarkan detail kehidupan rakyat jelata dan hewan sebagai salah satu elemen yang dipengaruhi ajaran Buddha.

Kebijaksanaan Tagore mengantarkannya pada filosofi yang mirip dengan budaya Jawa. Filosofi yang hampir sama maknanya dengan filosofi dari Kanjeng Sunan Kalijaga yang mengatakan: “Anglaras ilining banyu angeli ning ora keli.

Ada tiga pokok ajaran hidup dari Rabindranath Tagore. Filosofi yang pertama yaitu kewajaran. Hidup secara alami dan natural; hidup secara proporsional, hidup yang tidak dikurangkan dan dilebihkan dalam setiap tindakan yang dilakukan.

Kedua, kebebasan. Bebas dalam arti leluasa dengan kewajaran, bebas dalam aktivitas kreatif dan tidak terikat dengan sesuatu.

Ketiga, keseimbangan. Hidup yang selaras dengan Sang Hyang Widhi (Tuhan Semesta Alam). Cara hidup yang selalu menyelaraskan diri dan menyeimbangkan dengan alam sekitar, mengalir namun tetap wajar dan tidak terhanyut. Itulah kunci dari ajaran Rabindranath Tagore.

Ketiga filosofi hidup tersebut disadur oleh Tagore dalam ajarannya tentang pendidikan, yang di kemudian hari mempengaruhi filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Pendidikan yang baik, menurut Tagore, yaitu pendidikan yang menerapkan keharmonisan, kebebasan, kreativitas, dan komunikasi.

“Pendidikan ideal itu yang di dalamnya menganut harmoni dan komunikasi antar guru dan murid, yang membebaskan dan mendorong kreativitas murid-muridnya.” Demikian yang disampaikan Pak Faiz dalam Ngaji Filsafat edisi Para Pujangga.

Dengan menekan kuat pada filosofi keseimbangan, kewajaran, dan kebebasan, Tagore mampu memelopori murid-muridnya untuk menjadi manusia yang unggul. Tagore berhasil mendirikan sekolah Visva-Bharati di India pada 1901. Selang 20 tahun berikutnya, sekolah tersebut sudah menjadi Universitas.

Ajaran Hidup Menjadi Manusia

Suatu kali dari kita mungkin pernah mendengar celetukan dari orang-orang, atau mungkin melalui lirik-lirik lagu yang menyatakan: “Jadilah manusia yang memanusiakan manusia”.

Mendengar kata-kata tersebut mungkin ada dari kita yang merasa rancu atau ada juga yang merespons “Wah iya, ya,” mendadak sadar. Nah, berkaitan dengan itu, rupa-rupanya Tagore memiliki pemikiran yang serupa.

Empat ajaran hidup dari Tagore berikut agaknya bisa mengantarkan kita menjadi manusia yang memanusiakan manusia.

Pertama yang diajarkan Tagore adalah spiritualitas. Kemudian humanis, selanjutnya idealis, dan terakhir, back to nature atau naturalis.

Membedah yang pertama, bahwa spiritualitas tidak jauh-jauh dari kebanyakan yang kita yakini, yaitu berupa seruan-seruan untuk melaksanakan ritual jiwa terkait ketuhanan. Sebab manusia yang baik tidak pernah lepas dari jiwa yang bersih, semangat membara akan ejawantahan hubungan dengan yang Maha Kuasa.

Dalam ajaran Tagore, setiap orang diharuskan untuk mencapai puncak kesempurnaan spiritualnya. Agar nantinya seseorang itu mencapai kematangan yang tidak hanya fisik, namun juga jiwa. Dengan spiritualitas yang matang, akan menjadikan seseorang memiliki sifat humanis. Humanis menekankan akan hubungan seseorang dengan sesamanya.

Untuk itu, sebelum kita menyeru atau membujuk, laiknya kita harus melakukannya terlebih dahulu. Sederhananya, kita melakukan terlebih dahulu sebelum kita menyuruh orang lain melakukannya. Kalau kata orang: “Ojo jarkoni: ngajar tapi ndak ngelakoni”.

Ajaran yang ketiga, idealis. Berbanding terbalik dengan biasanya yang mengatakan realistis lebih menjadi pilihan, karena realistis berdasar kenyataan apa adanya. Tidak dilebihkan dan dikurangkan.

Namun, dalam ajaran Tagore, dengan idealis maka seseorang akan berangkat dari dalam, ia akan membenahi batinnya (spiritualitas) kemudian fisiknya. Bagaikan air jernih yang dimasukkan warna biru, maka birunya akan mendominasi kejernihan airnya. Sebaliknya, bila kita memasukkan segala kebaikan ke dalam diri, maka keluarnya juga akan baik.

Kata Tagore, “Tuhan menampakkan diri-Nya dalam bentuk, warna, dan irama alam semesta”. Dengan seruan itu, ia mengajak agar kita kembali kepada alam, back to nature. Sebab alam adalah guru sekaligus sahabat kita. Bila kita merawatnya, kita bisa mengambil manfaat darinya. Sebaliknya, bila kita merusak, alam akan dapat menjelma mendatangkan bencana.

Lepas dari ajaran dan filosofinya, ada hikmah dari Tagore yang bisa kita teladani lebih dalam melalui puisi-puisinya. Berikut adalah potongan-potongan dari puisi Tagore:

Aku adalah seorang optimis

Kalau tak bisa kulewati satu pintu

Aku akan mencari pintu yang lain

Atau akan kubuat pintu baru

Sesuatu yang luar biasa akan tiba

Tak peduli segelap apapun masa

Secara tidak langsung, puisinya adalah puisi yang menggelorakan akan keyakinan terhadap apa yang akan dihadapi. Kata “Tak peduli segelap apapun masa”, bisa kita tafsirkan sebagai puisi perjuangan atau agar kita tidak gampang kecewa.

Ada lagi puisinya yang menurut hemat saya, menarik sangat.

Aku tidur lelap dan bermimpi

Bahwa hidup adalah kegembiraan

Aku terbangun dan mendapati

Bahwa hidup adalah pengabdian

Aku pun bekerja dan kini bersaksi

Bahwa pengabdian itulah kegembiraan

Dalam kata “kegembiraan” seolah telah terwakilkan bahwa semua orang ingin gembira, ingin bahagia. Namun kegembiraan itu sulit untuk didapat jika tidak “mengabdi”. Mengabdi di sini bisa diartikan dengan bekerja ataupun berkarya. Dengan bekerja maka kita mengabdi, dan hanya dengan bekerja kita memperoleh kegembiraan.

Perihal kegembiraan—atau lebih pasnya kebahagiaan, agaknya menjadi hal yang dikejar-kejar oleh banyak orang. Dan bila menggabungkan antara puisi optimis dengan puisi mengabdi, maka dapat kita tarik garis merah bahwa dengan perasaan yakin dan tekun bekerja, kita tidak akan merasa kesepian.

Sejalan dengan itu, kurang lebih mirip dengan ungkapan Goenawan Mohamad: “Definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial”.

Maka dari itu, setidak-tidaknya bekerjalah atau berkaryalah. Agar merasa mempunyai tanggung jawab sosial, agar tidak kesepian dan agar bahagia!


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Topik Ismanto

Peserta kelas menulis menemui senja di MJS jilid#5