Nahu Wati Ca'u Filsafat (?)

slider
07 Juni 2021
|
197

Coba bayangkan, Anda seorang arkeolog yang terjatuh dari helikopter yang Anda kemudikan sendiri ketika berada dalam sebuah perjalanan penelitian!

Entah karena mesin yang rusak atau sebab lain, helikopter itu membuat Anda tersangkut di salah satu dahan pohon. Anda pingsan cukup lama. Ketika kemudian siuman, tubuh Anda terbanting ke permukaan tanah. Satu-satunya hal yang segera Anda ingat adalah bahwa Anda sedang melakukan perjalanan penelitian di sebuah daerah di ujung timur Pulau Sumbawa. Sebuah daerah bernama Bima.

Tersadar mengalami kecelakaan, Anda berusaha bangkit dan berjalan ke sekitar. Kini, Anda merasa seperti terhempas ke sebuah wilayah pegunungan yang begitu luas. Anda menyaksikan betapa besarnya batang-batang pohon di sana. Akarnya saja berdiameter lebih besar dibandingkan batang pohon yang selama ini Anda kenal dan temukan di tempat-tempat lain. Rumput-rumput dan ilalang tumbuh setinggi pohon bambu. Suara-suara monyet terdengar di sana-sini. Cekikan suara binatang yang sama sekali baru di telinga Anda, satu per satu juga mulai muncul.

Tanah di tempat itu berwarna merah. Tidak ada air di sekelilingnya. Sayup-sayup terdengar alunan seperti orang memukul gamelan. Beberapa makhluk samar-samar terlihat berkumpul di atas sebuah bukit, agak jauh dari tempat Anda berdiri mengamati. Dan, Anda pun lalu tersadar bahwa Anda tersesat di sana.

Anda tidak bisa menghubungi pusat bantuan. Sementara, radar dari pusat keamanan di kota tidak membaca pergerakan Anda yang memasuki wilayah pegunungan. Radar di pusat bantuan militer terakhir kali hanya mendeteksi pergerakan Anda yang berkeliling di udara sekitar wilayah perkotaan. Setelah terbang melewati beberapa radius tertentu menjauh dari pegunungan, koneksi radar Anda terputus. Anda hilang jejak dan kontak.

Dalam kebingungan, Anda bertanya, “Siapa orang-orang di bukit itu dan di manakah aku sekarang? Di mana aku bisa mencari tahu jalan keluar di sekelilingku? Apa yang harus aku lakukan untuk keluar dari sini?”

Bersama segenap sisa tenaga, Anda masih saja berpikir untuk menemukan jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut. Memar di bagian kedua sikut dan lebam kaki kiri yang terkilir seperti tak menghalangi Anda untuk tetap mengamati sekeliling. Anehnya, dalam proses kebingungan itu, tebersit pikiran Anda, “Selama aku tidak memiliki pengetahuan apa pun, maka selama itu pula diriku bisa menjalani begitu saja hidupku di tempat ini.” Anda berharap bahwa dengan ketidaktahuan, maka Anda bisa hidup—meskipun sebenarnya anggapan seperti itu sangat keliru.

Dalam kesendirian tersebut, Anda pasti akan memutuskan untuk mencari tahu, mengamati melalui indra untuk menemukan petunjuk apa saja yang bisa Anda lakukan. Bisa saja Anda akan memeriksa helikopter yang telah hancur. Lalu, Anda menjadi tidak yakin bahwa bagian-bagian mesinnya mampu kembali hidup untuk mengantarkan Anda pulang.

***

Kata “nahu” merupakan bahasa semi-sopan yang berarti ‘aku’. Kata “wati” adalah kata yang berakar dari bahasa Bima, Nusa Tenggara Barat yang artinya, ‘tidak’, sedangkan “ca’u” memiliki arti ‘ingin’. Sementara “filsafat”, secara umum memiliki makna ‘pengetahuan mengenai hakikat’.

Apakah cerita yang saya narasikan di atas adalah sekadar dongeng atau hiburan sekadarnya? Tidak. Situasi seperti yang saya jelaskan di atas adalah gambaran hidup manusia di dunia. Kebanyakan dari kita menghindari untuk menjawab tiga pertanyaan di atas. Kita merasa tidak perlu menjawab, tidak yakin, atau kurang percaya diri sehingga memilih terus hidup dalam kecemasan dan ketidakpastian.

“Kita bisa filosofis terhadap masalah orang lain. Namun, sering kali kita amat awam untuk masalah sendiri,” ungkap seorang kenalan saat saya mengomentari unggahan status di media sosialnya. Sebuah unggahan yang memuat saran, analisis, atau semacam identifikasi persoalan kawannya. Sebagian dari kita juga punya pengalaman demikian.

Kesalahan manusia adalah karena ia tidak terlalu semangat dalam pengharapan, tidak begitu senang, dan gelisah atas sesuatu yang tidak teridentifikasi atau tidak jelas. Akibatnya, banyak keputusan hidup dan aktivitas yang sengaja dilarikan ke hal-hal yang tidak esensial sama sekali. Kita senang pada hal-hal tidak penting dan melupakan tiga pertanyaan di atas.

Ayn Rand, seorang filsuf-novelis kelahiran Rusia, menekankan betapa pentingnya kita mengajukan dan menemukan jawaban atas pertanyaan: Apakah kalian berada di satu alam yang diatur oleh hukum-hukum alam sehingga bergerak stabil, pasti, dan absolut, serta bisa diketahui? Atau, kalian berada di satu dunia kacau yang tidak mungkin bisa dipahami, yang berisi keajaiban demi keajaiban yang tidak mungkin dijelaskan, tidak bisa diramal, berada dalam situasi perubahan yang kacau, yang akalmu sama sekali tidak bisa memahaminya? Apakah alam atau dunia ini tidak ada hubungannya dengan orang yang mengamati atau justru keberadaannya ditentukan oleh sang pengamat? Apakah alam ini subjek ataukah objek bagi kesadaran manusia? Apakah alam ini seperti apa adanya, ataukah mereka bisa berubah sesuai perubahan kesadaran, misalnya oleh harapan atau kekuatan pengetahuan?

Jenis pengharapan dan tindakan manusia berbeda-beda. Pada ranah tersebut, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ditemukan sebagai suatu kajian eksistensi yang apa adanya. Kajian yang dalam cabang filsafat disebut sebagai metafisika atau ontologi.

Manusia dalam perjalanan hidupnya adalah makhluk yang tidak kebal dengan kesalahan. Maka, manusia diharuskan mampu menguji validitas yang ia anggap sebagai “pengetahuan” dari kesimpulan yang ia buat. Misalnya, mempertanyakan apakah manusia memperoleh pengetahuan dari proses kerja nalar atau melalui ilham yang langsung didapatkan dari kekuatan supernatural tertentu? Apakah akal itu satu kemampuan yang mampu mengidentifikasi dan menyatukan bahan-bahan yang didapat dari indra manusia? Ataukah, akal itu berisi hal-hal dari ide bawaan yang ditanamkan sebelum manusia lahir ke dunia? Apakah akal mampu menangkap realitas, ataukah manusia memiliki kemampuan kognitif lain yang lebih hebat dibandingkan akal? Bisakah manusia mendapatkan kepastian, ataukah ia ditakdirkan untuk selalu berada dalam keraguan? Apakah hati lebih hebat dibandingkan akal, ataukah sebaliknya?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan berbeda-beda pada setiap manusia sesuai jawaban-jawaban yang ia pilih dan terima. Jawaban-jawaban itu akan ada di bidang epistemologi, teori pengetahuan, dan yang mengkaji alat-perangkat pemahaman manusia. Setelah melewati pemahaman atas bidang metafisika dan epistemologi, seseorang dapat mempelajari ranah cabang filsafat selanjutnya, yaitu etika.

Dalam etika, manusia dihadapkan pada pertanyaan demi pertanyaan tentang bagaimana karakter dasar perilaku, nilai, atau norma itu harus hidup dan terus dikembangkan. Bagaimana manusia harus memperlakukan manusia lain, akan ditentukan oleh jawaban mana yang Anda identifikasi dan pilih. Misalnya, apa yang baik atau buruk untuk manusia, dan mengapa? Apakah kita hanya mencari kesenangan atau kita justru hanya hidup untuk sekadar menghindari kesulitan? Apakah manusia mengedepankan kepuasan diri atau kehancuran diri sebagai tujuan hidupnya? Apakah kita harus terus menerapkan nilai-nilai yang kita miliki kepada orang lain atau meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi? Apakah manusia harus mencari kebahagiaan atau pengorbanan kepada diri sendiri?

Selanjutnya adalah estetika, yaitu cabang filsafat yang mengatasi atau lebih tepatnya mewadahi kreasi dan karsa manusia agar sesuai dengan kebutuhan penyegaran rohani. Sebuah cara atau aktivitas manusia yang mendesain seni bagi pencapaian-pencapain yang tidak sekadar katarsis. Namun, juga bertujuan menjelaskan dan “menghidupkan” mesin jiwa dengan kelembutan. Estetika menawarkan kekhidmatan bagi manusia yang mencari manfaat.

Banyak manusia yang hanya memperhatikan kebutuhan-kebutuhan jasmani, kurang mengindahkan hal-hal esensial seperti mengabaikan kegiatan berfikir. Tidak jarang manusia berucap, “Ah, saya tidak mau berpikir tentang ide-ide abstrak dan akan fokus pada apa yang riil dan konkret saja. Apa gunanya berfilsafat? Membuang-buang waktu saja!” Padahal, dengan berfilsafat, permasalahan-permasalahan yang nyata dapat diatasi.

Berfilsafat itu berpikir sebagaimana arkeolog yang tersesat di gunung seperti pada cerita di atas. Berfilsafat berarti mengintegrasikan (mengumpulkan) hal-hal konkret yang bersifat indrawi, kemudian membuat bangunan konseptual yang berisi ide-ide abstrak atas fakta-fakta konkret tersebut. Anda tidak bisa menyelesaikan masalah tanpa melakukan aktivitas berpikir. Setidaknya, Anda butuh berpikir tentang bagaimana memecahkannya dengan cara mengumpulkan, menyeleksi, membuktikan argumen (validasi), dan menjalankan rumusan atau pengetahuan hasil pemikiran ide-ide abstrak Anda. Mau tidak mau, Anda pasti berpikir secara mendasar dan dengan melakukan itu, Anda sebenarnya sedang berfilsafat.

Tidak semua filsuf itu kebal terhadap kesalahan. Begitu juga Anda. Anda bisa jadi berpikir seperti cerita di atas bahwa orang-orang yang Anda lihat di atas bukit adalah pasti manusia. Atau, suara-suara yang terdengar adalah pasti binatang yang umum Anda kenal. Walaupun suara-suara itu menurut dugaan sementara mirip suara hewan, entah mengapa Anda akan merasa perlu mengumpulkan bukti-bukti agar merasa lebih tenang. Anda membutuhkan keyakinan tentang apa saja eksistensi yang hidup di tanah asing tersebut.

Kegagalan manusia adalah merasa paling benar dan absolut. Meyakini bahwa nilai-nilai diri sendiri akan berlaku kapan saja, di mana saja, dan kepada siapa saja. Seandainya nilai tersebut dijalankan oleh si arkeolog, maka akan ada dua kemungkinan. Pertama, ia akan menemukan eksistensi atau komunitas yang sepemahaman dengannya sehingga ia mudah saja hidup di lingkungan baru itu. Kedua, ia akan menemukan makhluk dan eksistensi yang amat berbeda yang tentu saja jika nilai-nilai yang ia anut, ia paksakan, maka ia akan menghadapi tantangan-tantangan, penyingkiran, atau bahkan kematian.

Pilihan-pilihan atas kemungkinan-kemungkinan seperti itu bergantung pada kemampuan Anda berpikir secara mendasar dan mendalam. Walaupun begitu, Anda tidak bisa terus benar dengan pendapat yang Anda percayai atau merasa bahwa pendapat Anda adalah yang paling rasional. Seperti pernyataan di atas, bahwa kita bisa berfilosofi atas masalah orang lain, tetapi kadang justru awam untuk masalah sendiri.

Mari kita mengidentifikasi dan menganggap pernyataan itu sebagai contoh pertanyaan atas persoalan hidup kita selama ini. Pertanyaan mendasarnya adalah mengapa hal tersebut terjadi? Di sini kita akan menerapkan cara kerja berfilsafat untuk menguraikan persoalan sehingga ditemui sebab-sebab mengapa seseorang gagal mengenal dirinya sendiri.

Apa landasan dari ketidaktahuan terhadap diri sendiri itu? Apa tolok-ukurnya bisa dikatakan seseorang itu awam? Apa relevansi pengenalan terhadap diri sendiri dengan variabel-variabel pencapaian hidup yang lain?

Landasan ketidaktahuan atas diri sendiri dapat berangkat dari (kurangnya) ketidaktahuan atas ilmu pengetahuan tentang esensi diri. Dapat pula dari kurangnya memahami ilmu mengenai genetika, anatomi, fungsi fisiologis, hematologi, gerontologi, serta multi disiplin lainnya. Atau, dari kemampuan menyaring hegemoni dari luar tubuh, seperti kecenderungan atas pengaruh faktor sosial, budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, politik, ekonomi, agama, dan sebagainya. Bisa juga dari kemampuan memahami orang lain dan dunia eksternal di luar dirinya sendiri yang memengaruhi bagaimana ia merespons realitas.

Tolok ukurnya adalah kegagapannya mengambil kesempatan-kesempatan dan peluang hidup. Ia sekadar mengikuti norma kebiasaan orang lain. Sehingga, ketika menemui kegagalan atas cita-cita hidup, ia menjadi lemah dalam hal mengevaluasi-menilai diri sendiri. Ia kemudian akan cukup puas mengatakan, “Ini sudah takdir Tuhan.” Sebuah pernyataan yang menandakan tolok ukur orang dengan kategori sebagai manusia awam.

Relevansi pengenalan pada diri sendiri sebenarnya tidak jauh-jauh dari bagaimana menciptakan kebermaknaan hidup melalui proses berpikir yang mendalam. Seperti seorang arkeolog yang tersesat di tanah yang benar-benar baru baginya. Maka, arkeolog itu sama seperti kita yang berusaha menciptakan dunia yang seharusnya sesuai cita-cita bersama berasaskan kehidupan luhur dan damai.

Dengan berfilsafat, manusia bisa melanjutkan safari belajar pada pencapaian dan pengenalan terhadap ilmu-ilmu lain. Jika pun mati pada suatu periode tertentu, manusia yang berfilsafat pada dasarnya telah berusaha untuk hidup dalam ketenangan dan kebaikan. Sebuah dunia yang hanya bisa diciptakan dengan bantuan makhluk bernama “Filsafat”.


Category : filsafat

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Muhammad Syarif Hidayatullah

Penulis sehimpun puisi Secarik Rindu untuk Tuhan, Direktur Eksekutif Salaja Pustaka Institute