Konsep Hidup Petani

slider
21 Oktober 2020
|
233

Sejak kecil, saya hidup dilingkungan pedesaan, dibesarkan di tengah keluarga yang penghasilan utamanya di topang penuh dari sektor pertanian. Menjadi hal yang tak asing jika hanya sekadar berinteraksi atau bahkan langsung merasakan beceknya tanah persawahan. Terjalinnya interaksi yang cukup lama membentuk suatu pemahaman, bahwasannya bertani bukan hanya sekedar bercocok tanam. Tanam panen, tanam panen, tidak seperti itu.

Dalam satu kesempatan ceramah di Ngaji Filsafat, Pak Fahruddin Faiz pernah berkata, yang namanya petani itu bukan hanya mereka yang dari pagi sampai sore berada di persawahan. Namun mereka yang berternak juga dikatakan petani. Kegiatan bercocok tanam atau peternakan telah menjadi bagain dari sejarah peradaban manusia.

Pernyataan beliau memiliki pemaknaan yang mendalam. Petani/pertanian tidak hanya dilihat dari kulitnya. Masuk ke dalam ruang yang lebih dalam dapat kita pahami sebenarnya pertanian merupakan suatu proses memproduksi. Kata memproduksi inilah yang dijadikan sumber untuk mengatakan bahwa berternak juga merupakan sebuah proses bertani juga, dalam arti sama-sama menghasilkan.

Selain memproduksi, bagi saya dalam memahami bertani ialah merawat, bersyukur, dan tawakal atas pemberian-Nya. Kehendak untuk bertani sebenarnya bukan hanya semata kehendak manusia. Tetapi ada hati yang tergerak untuk menuju kehendak itu.

Siapa yang dapat menggerakkan hati pastilah Dia sang pemilik hati, pemilik alam semesta beserta isinya. Tidak hanya berhenti di kehendak untuk bertani, namun lebih jauh lagi kesadaran untuk bersyukur dengan apa yang terjadi dan memahami fenomena-fenomena kesemestaan yang tidak bisa lepas dari campur tangan Allah.

Petani dan alam sudah layaknya satu kesatuan saling mengisi. Apa jadinya dunia ini, peradaban ini, tanpa adanya elemen penting yang disebut petani. Petani yang berupa objek utama dalam pembahasaan memiliki peran yang amat penting untuk terbentuknya sebuah peradaban. Pernyataan ini didasarkan pada pernyataan awal, di mana objek petani yang menghasilkan suatu produk hasil olah lahan atau dari hewan ternak.

Produk yang dihasilkan pera petani ini tidak semata-mata hanya dinikmati oleh petani itu sendiri. Bila kita mau sedikit merenung tentang dari mana hasil nasi yang kita makan pagi tadi, daging ayam yang tersedia di atas meja-meja makan, dari mana datangnya itu? Jawaban yang tepat dan saya yakini 100% persen benar ialah petani. Maka sangat pentinglah peran seorang petani dalam pembentukan peradaban dunia.

Selain menghasilkan suatu produk hasil olah lahan, ada jalan lain yang lebih asyik untuk kita amati. Proses, iya proses dalam menghasilkan suatu produk pasti tidak lepas dengan apa yang namanya proses. Selama proses dalam pertanian, asyik untuk diamati, terutama para petani-petani yang masih berada di daerah pedesaan. Sifat kemurnian dari petani pedesaan belum ternoda dengan sifat-sifat kapitalisasi dan materialis.

Allah subhanahu wa taala berfirman:

┘ê┘Ä┘à┘É┘å█í Ïí┘ÄϺ┘è┘Ä┘░Ϭ┘É┘ç┘É█ª ┘à┘Ä┘å┘ÄϺ┘à┘Å┘â┘Å┘à Ï¿┘É┘▒┘ä┘æ┘Ä┘è█í┘ä┘É ┘ê┘Ä┘▒┘ä┘å┘æ┘Ä┘ç┘ÄϺÏ▒┘É ┘ê┘Ä┘▒Ï¿█íϬ┘ÉÏ║┘ÄϺ┘ôÏñ┘Å┘â┘Å┘à ┘à┘æ┘É┘å ┘ü┘ÄÏÂ█í┘ä┘É┘ç┘É█ª┘ô█Ü ÏÑ┘É┘å┘æ┘Ä ┘ü┘É┘è Ï░┘Ä┘░┘ä┘É┘â┘Ä ┘ä┘ÄÏú┘ô┘è┘Ä┘░Ϭ┘û ┘ä┘æ┘É┘é┘Ä┘ê█í┘à┘û ┘è┘ÄÏ│█í┘à┘ÄÏ╣┘Å┘ê┘å┘Ä 

Artinya, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (QS Ar-Rum [30]: 23).

Apa yang tertulis dalam surah Ar-Rum, “mencari sebagian dari karunia-Nya”, dapat ditemukan bentuknya dari petani. Para petani bekerja keras tidak semata hanya untuk tujuan hasil. Namun kasih sayang dan perasaan cinta yang dituangkan dalam perawatan tanaman akan memiliki dampak yang baik pula untuk alam.

Memang sebenarnya kita ini bagian-bagian penting dalam terbentuknya alam itu sendiri. Sehingga satu dengan yang lain memiliki pengaruh. Untuk lebih memudahkan memahami konsep ini saya akan mencoba memberi penjelasan lewat iklan suatu produk yang amat melekat di benak kita saat ini. “Malika”, ketika mendengar kata ini pasti yang terlintas di benak, warna hitam dan satu yang paling diingat kasih sayang.

Iklan ini menarik karena memberi kita gambaran tentang bagaimana perasaan dan kasih sayang yang diberikan petani kepada Malika. Dari kasih sayang yang diberikan dengan ikhlas itu Malika membalas dengan penuh cita rasa pula. Iklan si Malika merupakan penggambaran hubungan antara makhluk (meskipun berbeda jenis) ciptaan, namun jika interaksi itu dilakukan dengan rasa cinta dan ketulusan membuahkan banyak karunia-Nya.

Lebih lagi ternyata jika kita masuk dan menyelami suasana bati dari para petani, rasa ikhlas dan cinta ini tidak semata-mata ditujukan kepada tanaman itu sendiri. Melebihi itu, rasa ikhlas dan cinta ditujukan kepada yang menciptakan yang muara dasarnya tetap kembali kepada Sang Maha, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Menghidupkan, dengan 99 nama-Nya yang tidak dapat dituliskan semuanya oleh penulis pada tulisan yang amat singkat ini.

Ketika konsep keikhlasan ini dibawa pada realitas pandemi seperti sekarang yang membuat lapisan masyarakat risau, takut untuk beraktivitas keluar rumah, hingga menutup diri. Ketakutan-ketakutan semacam ini tidak berlaku di dalam dunia pertanian.

Ada suatu keyakinan penuh yang menggerakkan agar proses pertanian harus tetap berjalan. Jika ditanya mengapa melakukan hal tersebut? Alasan pertama yang muncul berupa kewajiban untuk memenuhi nafkah bagi keluarga. Alasan kedua ada rasa tanggung jawab untuk merawat tanaman atau ternak itu sendiri. Rasa tanggung jawab terhadap tanaman dan ternak ini saya kira sumber dari tindakan yang pada akhirnya akan mencapai titik keikhlaskan sebagai sebuah konsep hidup.

Munculnya rasa tanggung jawab hasil dari kristalisasi perasaan sadar akan kebutuhan sesama makhluk Allah di muka bumi. Sesama makhluk Allah hanya saja berbeda peran, kesadaran akan peran ini bisa memunculkan suatu bentuk keikhlasan. Sehingga apa-apa yang ikhlas dan didasari oleh ketulusan hati akan memunculkan kebahagiaan.

Kesadaran bahwa kita makhluk yang rendah dan ada kuasa yang mengendalikan jauh di jangkauan kita harus kita pahami dan yakini. Karena kita dan alam tidak dapat dipisahkan. Satu binasa pun satunya juga akan binasa. Konsep keseimbangan harus dijaga tanpa meninggalkan satu dengan yang lain. Inilah kehidupan.


Category : kebudayaan

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Ibnu Syifa

Santri Ngaji