Filosofi Hidup Minimalis

slider
11 Januari 2024
|
774

Pesatnya perkembangan zaman saat ini menuntun kita untuk bisa beradaptasi dengan berbagai macam perubahan. Sama halnya dengan gaya hidup yang selalu akan mengalami singgungan dari perubahan-perubahan yang terjadi dari masa ke masa.

Dulu, manusia selalu dihadapkan pada kekurangan, baik kekurangan akan informasi-informasi terkini yang terjadi saat itu dikarenakan teknologi informasi yang terbatas. Di beberapa tempat terjadi banyak kekurangan bahan pangan sebab terbatasnya produksi pangan.

Namun, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sekarang, manusia malah dihadapkan pada permasalahan akan sesuatu karena kebanyakan. Seperti kebanyakan menyerap informasi tanpa bisa memfilterisasi segala informasi yang diterima. Jelasnya, segala sesuatu yang berlebihan dampak nya sangat signifikan terutama pada gaya hidup manusia itu sendiri.

Melihat fenomena yang demikian banyak para tokoh dan ilmuwan merespon hal tersebut dengan menawarkan suatu gaya hidup yang populer dikalangan manusia modern yaitu gaya hidup minimalis. Hal ini dilakukan Sebagai upaya mengurangi konsumsi berlebih dan tidak perlu dari segala sisi hidup manusia.

Berkaitan dengan gaya hidup minimalis ini, pada sesi Ngaji Filsafat ke-364, pada 21 September 2022, Pak Fahruddin Faiz juga menguraikan secara sistematis tentang apa itu gaya hidup minimalis, prinsip, dasar berpikir, dan filosofi hidup minimalis. Dengan mengenalkan beberapa tokoh yang secara khusus membahas tentang gaya hidup mimilais yaitu Fumio Sasaki dan Joshua Becker.

Definisi Hidup Minimalis

Joshua Becker dalam buku Becoming Minimalist, mendefinisikan minimalis adalah segala sesuatu tentang mendapatkan apa yang membuat kita bahagia dan menghilangkan segala yang memalingkan kita dari hal tersebut.

Jadi, menurut Becker, gaya hidup minimalis itu fokus pada yang hakiki dan fokus dengan hal-hal yang membuat kita bahagia. Menghindarkan diri dari sesuatu yang dapat mendistraksi, menghindarkan dari segala hal yang tidak penting, baik itu pikiran, barang atau apapun itu yang kiranya tidak ada hubungannya dengan hakikat hidup untuk kemudian disingkirkan.

Sama halnya dengan apa yang terjadi dalam hidup kita saat ini, ada banyak sekali distraksi pikiran atau perbuatan yang dapat memalingkan diri kita dari hal-hal yang penting. Sering kali hidup kita dibelenggu oleh pikiran, tindakan yang tidak ada gunanya dan menghabiskan waktu hanya pada sesuatu yang percuma. Oleh karena itu, Becker menyampaikan fokus saja pada apa yang membuat diri kita bahagia dan singkirkan segala yang tidak bermakna dalam menjalani hidup.

Sejalan dengan hal itu, Fumiyo Sasaki dalam bukunya Goodbye Things mendefinisikan minimalisme merupakan gaya hidup yang mampu mengurangi barang yang kita miliki sampai pada tingkat paling minimum dan memberi kesempatan untuk merenungi arti bahagia.

Tentu, hal ini erat kaitannya dengan kepemilikan kita atas barang akibat dari gaya  hidup konsumerisme. Membeli dan mengumpulkan barang-barang tersebut yang sejatinya tidak terlalu penting. Karena itu, banyak waktu dan energi tersita hanya untuk mengurusi itu semua.

Gaya hidup minimalis hadir sebagai upaya mengurangi segala keruwetan akan kepemilikan barang yang tidak perlu demi mencapai hidup yang lebih bahagia. Sasaki juga menyampaikan bahwa seorang minimalis itu orang yang benar-benar tahu apa yang penting bagi dirinya sendiri dan tetap mempertahankan hal-hal tersebut untuk dirinya.

Sederhananya, gaya hidup minimalis itu mengetahui apa yang memang penting untuk dilakukan dan apa yang harus disingkirkan dalam hidup.

Dasar Berpikir Hidup Minimalis

Pertama, kita harus mampu mengenali kegunaan dari setiap barang yang dimiliki. Ketika kita tahu gunanya suatu barang maka kita akan tahu nilai/esensi dari barang yang dimiliki. Dasar hidup minimalis itu tidak melihat suatu barang dari merek, gaya atau trend dari barang tersebut melainkan kegunaan yang bisa didapat dari barang yang kita punya.

Kedua, hindari mengafiliasikan diri kita dengan barang yang dimiliki. Ini mengajarkan kita jangan menilai seseorang dengan apa yang dia miliki. Menjadi sederhana dengan tidak berfokus pada kepemilikan barang dan melepaskan diri kita dari keterikatan dengan barang yang kita punya.

Ketiga, sedikit barang sama dengan sedikit stress dan lebih merdeka. Kenyamanan dalam menjalani hidup adalah saat kita tidak terlalu khawatir dengan barang-barang yang kita miliki. Karena rasa khawatir itu akan terasa besar apabila kepemilikan kita pada sesuatu terlalu banyak atau besar. Karena itu, dasar hidup minimalis mengajarkan untuk meminimalisir barang yang kita punya agar hidup lebih merdeka dan jauh dari kungkungan kekhawatiran.

Keempat, nikmati ruang. Kita bisa bahagia apabila mampu menikmati ketiadaan, kekosongan dan ketidakpunyaan. Karena dengan begitu kita tidak terlalu memikirkan suatu hal di luar kendali diri. Nikmatilah ruang dan kekosongan, karena disitulah hakikat dari kemerdekaan dalam menjalani kehidupan.

Kelima, menyukai tidak harus memiliki. Kita terbiasa ingin sekali memiliki apa saja yang kita sukai padahal tidak harus memiliki sebenarnya kita sudah bisa menikmati. Nikmati saja apa yang kita miliki saat ini tanpa harus bersusah payah mencapai yang kita sukai yang pada akhirnya berat untuk dijalani.

Filosofi Hidup Minimalism

Pertama, merasa cukup. Hidup ini sebenarnya tidak perlu mengejar lebih kalau kita tidak ingin ada masalah. Kata Socrates, rahasia bahagia adalah saat kita tidak terlalu terobsesi untuk mencari lebih banyak, akan tetapi bahagia itu ada saat kita mampu mengembangkan kapasitas untuk menikmati yang lebih sedikit.

Apabila fokus kita hanya memiliki sesuatu agar hidup lebih berarti. Socrates menyampaikan untuk melatih diri merasa berarti meskipun apa yang kita miliki sedikit dan merasa cukup dengan yang sedikit.

Selanjutnya kata Socrates, “Dia yang tidak puas dengan apa yang dia miliki, tidak akan puas dengan apa yang ingin dia miliki.” Kalau kita tidak puas dengan apa yang kita miliki sekarang, biasanya kita menginginkan Sesuatu dan percayalah ketika apa yang kita inginkan itu tercapai kita juga tidak akan merasa puas.

Manusia memang punya sifat atau tabiat merasa tidak puas dan keinginan yang tidak akan pernah habisnya. Untuk itu, kata Socrates biasakanlah diri untuk merasa puas dengan apa yang kita miliki sekarang. Sejalan dengan Socrates, Lao Tzu menyampaikan bahwa, “Orang yang merasa cukup dengan apa ia miliki adalah orang yang kaya.”

Hal ini juga dikuatkan oleh Gandhi, Hiduplah dengan sederhana agar orang lain juga dapat hidup. Jika semua orang serakah, maka akan ada konflik yang terjadi karena sikap sosial yang saling bertabrakan.

Saatnya kita berbagi meskipun hanya berbagi waktu, ruang, dan kesempatan pada yang lain dengan berhenti mengikuti sifat ketamakan kita. Berilah ruang agar orang sekitar kita juga dapat berkembang.

Kedua, kemampuan mengendalikan keinginan. Menurut Arthur Schopenhauer, “Kita harus mampu membatasi keinginan, mengekang keinginan, dan meredakan amarah agar kta selalu mengingat bahwa seorang individu hanya dapat memperoleh bagian yang sangat kecil pada sesuatu yang berharga; dan bahwa di sisi lain setiap orang harus mampu menanggung banyak penyakit dalam hidup.”

Hidup ini adalah rentetan-rentetan keinginan, sementara keinginan itu sesuatu yang menyakitkan. Sebab terkadang dibalik kesuksesan seseorang ada sisi penderitaan yang mesti dia jalani. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa hakikat dari hidup itu adalah penderitaan.

Pada akhirnya, kemampuan seseorang untuk bisa memfilter segala apa yang menurutnya penting dan bermakna, serta mampu membatasi keinginan dan merasa cukup pada apa yang dimiliki sekarang adalah bagian dari gaya hidup minimalis yang sudah mulai terbentuk di dalam diri.

Gaya hidup minimalis sejatinya dapat mengantarkan seseorang pada hidup yang lebih bahagia dengan membebaskan kita pada labirin-labirin ketamakan dan keinginan yang bersifat sementara.

Referensi:

Ngaji Filsafat 364:  Minimalisme edisi Gaya Hidup bersama Dr. Fahruddin Faiz di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, pada Rabu, 21 September 2022.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Muh Rizki

Mahasiswa Program Doktor Hukum Islam FIAI Universitas Islam Indonesia