Apa yang Kita Istiqomahkan Saat Ini?

slider
25 Desember 2022
|
323

Kehidupan saat ini berbeda dengan kehidupan yang telah lalu. Bukan sekadar masalah waktu yang berbeda, keadaan dan nilai-nilai umum yang berlaku juga sedikit banyak mengalami pergeseran.

Pergeseran terjadi disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya adalah perubahan zaman yang ditandai dengan perkembangan pesat teknologi hingga membawa pada perubahan gaya hidup. Selain itu, hilangnya nilai-nilai atau prinsip yang dipegang oleh setiap individu membuat mereka dengan mudahnya kehilangan identitas diri sehingga hanyut terbawa oleh arus zaman.

Hal terdekat yang dapat dijadikan contoh adalah kebiasaan keseharian sebelum hadirnya smartphone. Misalnya, terbiasa membaca buku sebelum tidur, tapi pada saat telah memiliki gawai, kebiasaan tersebut lama-kelamaan mulai hilang tergantikan dengan scroll media sosial sebelum tidur. Tidak sampai di situ, bahkan malah menjadi ketergantungan yang tak terpisahkan dengan gawai selama 24 jam.

Bisa kita lihat dan cek bersama, apa yang paling sering kita cari pada saat bangun tidur— smartphone adalah jawaban yang paling banyak diutarakan. Contoh lainnya, ketika sewaktu berada di rumah, ada banyak sebagian dari kita tidak pernah absen pergi ke masjid atau mushola setiap waktu shalat, namun hal ini justru tidak terjadi ketika berada di perantauan atau kos-kosan.

Teknologi, lingkungan, perubahan gaya hidup menunjukkan pengaruh yang luar biasa signifikan dalam kehidupan manusia. Oleh karenanya, setiap individu perlu memiliki prinsip dan pegangan nilai-nilai yang mampu menjadikannya memiliki atau memegang kendali atas dirinya, bukan malah dikendaikan oleh nafsu dan hanyut terbawa arus zaman.

Kehilangan prinsip hidup membuat seseorang tidak berpendirian, mudah goyah, kebingungan, sulit mengambil keputusan, bahkan tidak mampu memposisikan diri pada berbagai situasi yang dihadapi. Kondisi-keadaan semacam ini akan menjadikan seseorang mudah “asal ikut ramai” pada berbagai keadaan, mengonsumsi-menerima apa pun tanpa filterisasi yang terjadi dalam diri.

Untuk menyikapi keadaan seperti ini, Islam dengan kesempurnaan nilainya, mengajarkan dan mengajak kita untuk belajar istiqomah.

Memahami Istiqomah

Istiqomah” berasal dari akar kata dalam bahasa Arab, “qama”, yang berarti “berdiri tegak”. M. Quraish Shihab mengatakan bahwa tambahan huruf “sin” dan “ta’” dalam kata “istiqomah” dapat dipahami sebagai “kesungguhan” dan “kesempurnaan”.

Istiqomah kemudian banyak diterjemahkan dengan konsisten dalam melakukan sesuatu. Sayangnya tidak berhenti sampai di situ, istiqomah berarti kesungguhan dalam melakukan suatu amal secara konsisten berkesinambungan.

Mengenai amal atau perbuatan yang dilakukan secara konsisten, Abu Bakar Ash-Siddiq mengarahkannya pada hati yang konsisten dalam mengingat Allah SWT.

Bagi Umar bin Khattab, istiqomah berkaitan dengan komitmen seseorang dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Usman bin Affan lebih cenderung mengartikan istiqomah sebagai keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT.

Sedangkan Ali bin Abi Thalib mengartikan istiqomah mengaitkannya dengan kesabaran dalam menjalankan perintah-Nya.

Dari uraian tersebut, maka dapat dipahami bahwa sesuatu yang kita istiqomahkan itu berkaitan dengan hal-hal postif dan tentu saja sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah Saw berdasarkan petunjuk dari Allah SWT.

Rasulullah Saw pernah mengatakan bahwa amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah amalan yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit. Membaca Al-Qur’an satu halaman setiap selesai shalat lima waktu yang dilakukan setiap hari dapat dikatakan jauh lebih baik daripada membaca Al-Qur’an satu juz langsung ketika selesai shalat Maghrib saja dan itu pun hanya dilakukan sekali.

Menjalankan istiqomah memang tidak mudah. Syeikh Ali ad-Daqaq menerangkan bahwa istiqomah memang butuh proses. Alangkah baiknya apabila proses tersebut diawali dengan penundukkan hawa nafsu—yang disebut oleh Syeikh Ali dengan istilah taqwim—kemudian, iqomah, yakni meneguhkan hati.

Setelah menundukkan hawa nafsu, sebaiknya meneguhkan hati dengan nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan yang ingin kita latih dalam diri. Tahap proses untuk istiqomah selanjutnya, menjaga dan menerapkan nilai-nilai tersebut secara konsisten-berkesinambungan.

Dalam prosesnya, Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah mengingatkan agar memperhatikan faktor-faktor yang dapat mendukung keistiqomahan kita. Pertama adalah optimalisasi. Maksudnya adalah ketika sudah menemukan prinsip atau nilai apa yang ingin kita terapkan maka lakukanlah dengan optimal, lakukan yang terbaik sesuai kemampuan.

Kedua, moderat. Ketika menerapkan nilai tersebut sebaiknya tidak melampaui batas atau berlebihan serta tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dalam artian, bersikap secara seimbang agar tidak mudah jenuh serta tidak juga berleha-leha.

Ketiga, ilmu. Tentu saja ilmu menjadi hal utama yang sangat penting agar menguatkan keistiqomahan serta agar dijauhkan dari keraguan. Sebelum memutuskan untuk menerapkan suatu nilai, alangkah baiknya mempelajarinya terlebih dahulu agar kemudian mampu menjaga dan pertahankan konsistensi dengan keyakinan diri lahir batin.

Istiqomah memiliki implikasi yang besar dalam kehidupan manusia. Ketika berusaha untuk istiqomah, implikasinya akan meliputi pikiran, perbuatan, hingga spiritual. Istiqomah yang berimplikasi terhadap pikiran melahirkan pikiran yang sehat dan positif.

Implikasi istiqomah pada perbuatan akan menunjukkan perbuatan yang bertanggung jawab, mampu mengendalikan diri sendiri dalam artian menundukkan hawa nafsu—bukan malah dikendalikan oleh nafsu, hingga ketangguhan terhadap setiap waktu yang dijalani.

Implikasi istiqomah pada spiritual akan mengaktifkan fungsi tawajjud, yakni kesadaran terhadap yang Maha Wujud atas setiap waktu yang dilalui; mengaktifkan fungsi tajarrud, yakni menyingkirnya hal-hal yang negatif dalam diri sebab diri telah dihiasi dengan kebaikan-kebaikan; tazkiyatun nafs, yakni keadaan diri yang terus berusaha menyucikan jiwa; kemudian munculnya hikmah-hikmah dari dalam nurani, hingga menjadi nilai dakwah untuk sekitarnya.

Pertanyaannya kemudian adalah apa yang kita istiqomahkan saat ini? Apakah konsisten berkesinambungan scroll media sosial hingga kebanjiran informasi tanpa kendali diri? Ataukah kita terus konsisten membuat konten tanpa tujuan manfaat, hanya untuk like dan pujian? Atau bahkan kita lebih konsisten mengisi waktu dengan rebahan dibanding melakukan perbaikan-perbaikan yang membawa diri pada perubahan?

Apa yang manusia tanam saat ini menentukan apa yang akan dituai nanti. Manusia tidak punya kuasa untuk mengubah zaman sesuai yang diinginkan, namun manusia mempunyai kehendak dan kendali atas diri sendiri dalam menghadapi zaman. Kehendak dan kendali atas diri diperlukan agar tidak mudah terbawa arus. Perlu ada nilai-nilai, prinsip diri, perbuatan-perbuatan baik yang kita istiqomahkan sebagai bentuk latihan dan kendali atas diri.

Dalam geralan Ngaji Filsafat sesi Istiqomah, Pak Fahruddin Faiz mengingatkan bahwa yang menjadi penghalang untuk istiqomah di antaranya adalah sifat yang manja, lalai, banyak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, over thingking, hingga dosa dan maksiat.

Meskipun demikian, masih ada hal-hal yang mampu menjadi booster bagi diri untuk berusaha istiqomah, yakni dengan belajar atau menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, ikhlas dalam melakukan segala sesuatu, bersikap wara’ dan qanaah, dan yang tidak boleh diabaikan adalah mujahadah.

Mujahadah merupakan kesungguhan dalam berjuang, terutama dalam mengendalikan hawa nafsu. Dengan mengendalikan hawa nafsu yang dibekali ilmu, semoga diri mampu menentukan prinsip dalam hidup dan mengistiqomahkan diri dalam kebaikan-kebaikan, baik itu yang bersifat individual maupun sosial. Terpenting juga, semua itu sesuai dengan ajaran Islam yang dilakukan secara billah, lillah, fillah.


Category : catatan santri

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Murniyati Djufri

Santriwati Ngaji Filsafat