Syiir Pusoko Limo

slider
02 April 2020
|
320

Sayup-sayup terdengar pujian “Lii khomsatun uthfi bihaa harral waba’il hatimah” dari arah Langgar Wetan. Dengan suara khasnya sudah bisa di tebak siapa dibalik tembang pepujian itu. Iya, Mbah Jogo namanya.

Sebagai halnya kebiasaan orang-orang desa sejak dulu, mengamalkan shalawat penolak bala itu dengan bertawasul kepada Kangjeng Nabi Muhammad, keluarga Nabi, serta keturunan-keturunannya.

Waktu saya datang, Mbah Jogo sedang duduk bersandar pada tiang di serambi Langgar Wetan, tampak terkantuk-kantuk, tetapi bibirnya komat-kamit menembang, lamat-lamat pelan terlantun:

Lii khomsatun uthfi bihaa harral waba’il hatimah. Kharral wabaa il // khatimah Al Musthafa // wal Murtadha // wabnahuma wa Fathimah” (Saya memiliki lima pusaka untuk membuka pintu surga untuk memadamkan api neraka dan berlindung dari azab Allah. Nabi Muhammad, Sayyidina Ali, kedua putranya Hasan dan Husain, dan Siti Fathimah).

Saya hanya mendekati pelan dengan berjalan dan berusaha duduk disampingnya. Sementara itu Mbah Jogo mengetahui keberadaan saya yang telah duduk disampingnya, lanjut makjegagik membenarkan songkok hitam yang menguning; menandakan seberapa jauh perjalanan songkok setia menemaninya ke mana-mana.

Owalah, cah bagus ta piye ono opo kudungaren?” Mbah Jogo menyapa.

Heueheu, nggih mbah, kulo, nggak apa-apa mbah, kulo cuma penasaran sama yang dilantunkan njenengan tadi itu…” kata saya dengan bahasa yang campur-campur.

Kemudian Mbah Jogo—dalam gubahan dan penangkapan bahasa saya yang disampaikan di sini—bercerita, “Syiir ini ta cah, dulu aku pernah diceritakan Mbah Yai Dipo pas ngaji di Langgar Wetan, shalawat ini dekade 1950-an dan 60-an biasa dilantunkan di masjid-masjid di Jawa sembari menunggu shalat berjamaah lima kali sehari.

Syiir ini diyakini bisa mengusir wabah penyakit. Isinya tentang kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya. Syiir yang tipikal lirik dan nadanya seperti Cublak-cublak Suweng gubahan Sunan Giri atau Lir-ilir gubahan Sunan Kalijaga.

Pepujian ini sendiri belum dipastikan gubahan siapa, kalau dengan bahasa sekarang masih "anonim” jelas Mbah Jogo.

Menurut beliau, pepujian ini sebagai salah satu sarana untuk menyentuh hati orang banyak dalam rangka penyebaran agama Islam dan penanaman budi pekerti luhur yang dilakukan Wali Sanga.

Pepujian ini berpola sederhana, yang dipentingkan ialah kandungan pesannya berkenaan dengan akhlak agar setiap pribadi menjadikan cinta kepada Kanjeng Nabi Saw dan keluarganya sebagai energi iman, sehingga setia meneladani akhlak beliau dalam setiap langkah laku kehidupan.

Aji-aji limo wujud manungso // Linuwih ilmu sumber tulodo // Tindak lakune adoh ing olo // Manah niate tansah waskito” (Pusaka lima berwujud manusia // Puncaknya ilmu (dan) sumber teladan // Tingkah dan perilakunya jauh dari kesalahan // Hati dan akalnya selalu lurus).

Mbah Jogo lanjut bercerita bahwa pada masa mudanya tembang ini tidak pernah lepas dalam kesehariannya.

“Dulu di kampung ini pernah ada peristiwa wabah penyakit. Para penduduk kampung berkumpul di satu titik kampung lalu berjalan sambil membaca Lii khomsatun keliling kampung, setelah berada diperempatan kampung, berhenti sebentar untuk berdoa, kemudian melanjutkan berjalan lagi, sampai di titik pertemuan pertama” tandas Mbah Jogo menceritakan pengalamannya masa lalu.

“Nah, itu pun dilakukan pada waktu tengah malam”

“Wah, mantap sekali mbah, sekhusyuk itu, memang kecintaan orang-orang Nusantara kepada Kanjeng Nabi dan dzurriyah-nya sebegitu indah”, saya terkagum.

“Di shalawat Badar juga ada kalimat, Wa kulli baliyyatin wa waba bi ahli badri, ya Allah (Dan semoga engkau menghilangkan semua bencana dan wabah penyakit karena berkahnya ahli badar, ya Allah). Inipun perlu dimengerti dan dilakoni cah”, ungkap Mbah Jogo.

Mbah Jogo kemudian melanjutkan ceritanya, bahwa syiir ini mengajak kaum santri menelaah sejarah, khususnya riwayat kehidupan junjungan kita semua, karena pendidikan setiap pribadi dimulai dari lingkungan keluarga.

Bagaimana Rasul memberi teladan akhlak bersama lingkungan terdekatnya sebagai pedoman hidup manusia yang selaras dengan Al-Qur’an.

Betapa tenteram orang Jawa masa dahalu dalam asuhan para kekasih Allah yang welas asih. Mereka dibimbing dengan keteladanan dan rasa seni yang sederhana, tetapi sarat nilai luhur.

Warisan para kekasih Allah diterapkan dalam pendidikan pesantren oleh para ulama sejati yang ketat menjaga adab dakwah dalam disiplin kehidupan Rasul.

Orang-orang desa sudah sejak dulu mengamalkan shalawat penolak bala ini dengan tawasul kepada Kangjeng Nabi, Baginda Ali, Sayidatuna Fathimah, dan keturunannya dengan lantunan Lii khamsatun ini yang kemudian dipajang di atas pintu sebagai tabarukan dan wasilah, yang insya Allah segala macam wabah penyakit bisa tertolak dari rumah kita masing-masing.

“Tapi perlu diingat kembali, cah bagus, pada dasarnya setiap amalan akan berfungsi total kalau pemilik atau penggunanya mengamalkan laku yang disimbolkan oleh kata-kalimat jimat itu. Dalam arti, kalau laku yang punya rumah jauh dari laku Lii khomsatun itu, amalannya tidak berfungsi dengan baik atau ada yang kurang.”

“Apakah bisa diperlihatkan kejelasannya mbah?”, saya penasaran.

“Oh ya, bisa cah, tentu. Dengan melihat dalam dunia nyata penggunanya. Kalau ternyata rumahnya kemalingan, padahal amalan atau tulisan Lii khomsatun itu ada di rumahnya, berarti laku si empunya rumah masih kurang dari standar minimal laku yang dipersyaratkan oleh teks amalan, kurang temen”, kata Mbah Jogo dengan tegas.

Sinten mawon kang nyolawati // Kanjeng Nabi tansah nyafa’ati // Marang limone yen tresnani // Gusti Allah bakal ngridloni” (Siapa saja yang suka bershalawat // Baginda Nabi Saw akan memberikan safaatnya // Untuk siapa saja yang mencintai mereka // Allah akan memberikan rida-Nya).


Category : kebudayaan

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Mukhamad Khusni Mutoyyib

Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, berminat dalam kajian sejarah dan kebudayaan, juga seputar kuburan kuno