Wirid

aku titipkan zikir

pada sebagian ruas jari

tahlil, pada tiap geleng kepala ini

 

air terjun mengalir

dari hatiku

membasuh, pikir yang keruh

(Temanggung, 2020)


 

Konon

daun surga

yang bertulis sebuah nama

: namamu, kerontang

telah menguning

melambai tangan

pada sang ranting

 

di ketika itu

nyaring bernyanyi

butakan rungu

 

engkau jatuh di peluk aku

lelap dalam tidur

namun, tak pernah lagi terjaga

(Temanggung, 2020)


 

Kenduri

apa yang kau berikan

hari ini,

apa yang akan

Ia lipatgandakan

esok, mentari terik

dan namamu

rapi terbingkai

terus bersinar

hingga surga

mengangkangi hidup

(Temanggung, 2020)


 

Takwa

aku yang terpelihara,

—yang berjalan di jalan-Mu

aku yang terpelihara,

—yang memutar jalan

rikala mendung langit larangan-Mu

terbit senjakala

(Temanggung, 2020)


 

Subuh

umpama segelas surga

sejukkan dada

 

kularungkan air wudhu ini

untuk sebagian badan

sebelum bersua Engkau, Ilahi

 

di selapis tipis sekat penanda

begitu dekat—begitu erat

aku dalam dekap-Mu

tanpa seizin netra, air melintasi pipi

(Temanggung, 2020)


 

Musim Haji

pagi itu musim haji

namun, bapakmu telah pergi

berhaji

maka kutangkis tidur atas mimpimu

turun ke jalanan

yang lengang

seremang malam tak berbulan

 

bergandeng tangan,

sepasang kekasih?

kulihat seorang ibu

di bibir aspal

melambai, menarik hati

tetapi telah jauh pergi

kau-aku dari pandangnya

dan kecewa menepuk

relung sadarnya

 

berpisah,

sekat-sekat itu memagari

sekaligus, jurang turun

bahkan rikala bersua

tak kaukenal aku?

tak kaukenal aku!

(Temanggung, 2020)


 

Selamat Ulang Tahun

pendar lilin memangkas usia

kotak-kotak berselimut doa

 

ini dari peluh yang tak mengenal istirah

ini dari kata yang tak pernah aku selipkan,

di setiap sujud

(Temanggung, 2020)


 

Selamat yang Tinggal

kutemukan fragmen kenang

pada tiap larik tangis

menyelami lautan sesal

bibir pantai kehidupan itu

aku rindu

 

bilamana kutahu kini kau ditelungkup

tanah yang basah

selamat yang tinggal dalam hati

hari-hari bagai mendung

menjatuhkan butir kesedihan

(Temanggung, 2020)

Author: Aris Setiyanto

ABOUT THE AUTHOR

Aris Setiyanto

Menulis puisi. Berdomisili di Temanggung, Jawa Tengah. Buku puisinya, Lelaki yang Bernyanyi Ketika Pesawat Melintas (2020).


COMMENTS