Naskah Khotbah Idulfitri 1443 H/2022

slider
01 Mei 2022
|
207

Kembali ke Fitrah, Manusia Hamba Kebaikan

Oleh TGB. Dr. Syamsul Wathani, M.Ag

Jamaah Sidang Salat Idulfitri Rahimakumullah

Pertama-tama, marilah sama-sama meningkatkan rasa taqwa kita kepada Allah SWT,  dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Kedua, mari kita mengawali hari yang agung ini dengan sama-sama berdoa, semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-Nya yang ‘aidin al-faizin al-maqbulin, amin ya rabbal ‘alamin.

Hari ini, tidak terasa kita telah melewati bulan Ramadhan 1443 H, bulan yang penuh dengan keberkahan dari awal sampai akhir. Bulan yang oleh para ulama disebut dengan bulan muhasabah, mu’atabah dan muroqobah, kini sudah melewati kita. Baginda rasulullah SAW dan para ulama salafussholih sangat sedih ditinggalkan oleh bulan Ramadhan. Demikian pula kita sebagai umat Islam, seharusnya kita bersedih dilewati oleh bulan Ramadhan dalam keadaan amalan ibadah kita yang belum seberapa.    

Aktivitas ibadah yang membersihkan ruhani seperti dzikrullah, tilawah, dan tadabbur kitab-Nya, itulah makna sejati dari kesempurnaan bilangan penghambaan diri di bulan Ramadhan. Dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman :

وَلِتُكْمِلُ وا  الْعِدَّةَ  وَلِتُكَبِِّوا  الَّلَّ  عَلَ ى  مَا  هَدَاكُمْ  وَلَعَلَّكُمْ  تشْكُرُونَ 

Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Tepat pada hari ini, dengan takbir dan tahmid, kita melepas Ramadhan yang Insyaallah telah menempa hati, mengasuh jiwa serta mengasah fikiran kita. Dengan takbir dan tahmid pula,  kita melepas bulan suci dengan hati yang harus penuh harap, dengan jiwa kuat penuh optimis, betapa pun beratnya tantangan dan sulitnya situasi kehidupan hari ini. Hal tersebut karena kita menyadari bahwa Allah Maha Besar dan berkuasa atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai hamba.

Jamaah Sidang Salat Idulfitri Rahimakumullah

Hari ini kita telah melaksanakan Idulfitri. Kata fitri atau fitrah berarti “asal kejadian”, “bawaan sejak lahir”, atau naluri. Fitri juga berarti “suci”, karena manusia dilahirkan dalam keadaan suci bebas dari dosa. Fitrah juga berarti agama, karena keberagamaan mengantar manusia mempertahankan kesuciannya. Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman : 

فَأَقِمْ   وَجْهَكَ   للدِِينِ   حَنِيفًا     فِطْرَتَ   الَّلِّ   الَّ تِ   فَطرَ   النَّاسَ   عَلَيْ هَا     لَ  تَ بْدِيلَ  لِِلْقِ  الَّلِّ    ذَ  لِكَ  الدِِينُ  الْقَيِِمُ  وَلَ  كِنَّ  أكْثَ رَ  النَّاسِ  لَ  يَ عْلَمُونَ   

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar-Rum : 30)

Maksud dari fitrah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah adalah kesadaran bahwa asal manusia berasal dari tanah. Maka, dengan beridulfitri, kita harus sadar bahwa asal kejadian kita adalah tanah. Bahkan perjalanan hidup manusia melalui siklus kehidupan dan kematian dari tanah. Allah SWT berfirman :   

مِنْ هَا  خَلَقْنَاكُمْ  وَفِيهَا  نعِيدكُمْ  وَمِنْ هَا  نُُْرجُكُمْ  تََرَةً  أخْرَ ى 

“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya, Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”. (QS. Thaha: 55) 

Kesadaran bahwa asal kejadian manusia dari tanah harus mampu mengantar manusia memahami jati dirinya sebagai hamba. Tanah berbeda dengan api yang merupakan asal kejadian iblis. Sifat tanah stabil, tidak bergejolak seperti api. Tanah menumbuhkan, tidak membakar. Tanah dibutuhkan oleh manusia, binatang dan tumbuhan, sedangkan api tidak dibutuhkan oleh binatang, tidak juga oleh tumbuhan. Jika demikian, manusia mestinya stabil dan konsisten, serta selalu memberi manfaat bagi kehidupan sekitarnya. Kesadaran akan kehadiran dan ke-Esaan Allah SWT adalah inti keberagamaan. Dan itulah fitrah atau fitri manusia yang atas dasarnya Allah menciptakan manusia.

Jamaah Sidang Salat Idulfitri Rahimakumullah

Al-insan abdul ihsan, manusia adalah hambanya kebaikan. Ungkapan ulama’ tasawuf ini menunjukkan sebuah hakikat, bahwa manusia dengan potensi sebagai makhluk yang paling baik penciptaannya (ahsanu taqwim), memiliki kemapuan lebih untuk terus-menerus berbuat kebaikan. Islam mengajarkan, betapa luasnya lapangan amal kebaikan. Kesempatan Idulfitri hari ini mengingatkan kita pada salah satu kebaikan, yakni bersedekah. Sedekah merupakan sumber kebaikan yang berfungsi menjalin hubungan sesama manusia berlandaskan rasa empati, kasih sayang, dan persaudaraan. Seorang muslim dapat mengeluarkan sedekah berupa tenaga, harta, serta fikiran jernihnya. 

Dalam al-Qur'an, Allah SWT menyebutkan bahwa balasan kebaikan tiada lain ialah kebaikan pula. Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pahala dari hamba-hambanya yang berbuat kebaikan. Allah SWT berfirman:

إنَّ  الذِينَ آمَنوا وَعمِلوا الصَّالِحَاتِ إنََّّ لَ نضِيعُ أجْرَ مَنْ أحْسَنَ عمَلً 

“Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik” (QS. Al-Kahfi: 30) 

Kebaikan pada diri manusia dapat dibagi menjadi dua: Pertama, al-ihsan ‘ila nafsih, kebaikan pada diri sendiri, berupa upaya yang sungguh-sungguh dalam beribadah dan meninggalkan maksiat. Kedua, al-ihsan ilan nas, kebaikan  kepada manusia berupa menahan diri untuk menyakiti (kafful adza’), menolong mereka yang membutuhkan, serta memperbanyak sikap baik dan sedekah. 

Jamaah Sidang Salat Idulfitri Rahimakumullah

Semangat Idulfitri berarti menegaskan kehadiran seorang muslim dengan semua anugerah yang diberikan oleh Allah, adalah menjadi manusia dan menjadi hamba sekaligus. Menjadi manusia sejati berarti menjadi manusia yang sadar hakikat kehambaannya, dan menjadi hamba yang sejati berarti sadar akan kedudukan dan perannya sebagai manusia. Dengan potensi kemuliaan yang dimilikinya, seorang muslim bisa menjadi manusia dan hamba yang bijaksana dalam kehidupannya. Yang secara istiqamah dapat meningkatkan kualitas kemuliaannya dengan empat jalan kemuliaan sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an: Pertama, jalan kemuliaan berdasarkan fitrah-Nya; Kedua, jalan kemuliaan melalui keimanan; Ketiga, jalan kemuliaan melalui amal shalih dan keempat, jalan kemuliaan melalui  taqwa. 

Berkaitan dengan Idulfitri, ada dua perintah penting yang menjadi hakikat penghambaan dalam Islam. Pertama, Allah SWT berpesan bahwa bila hari raya fitrah tiba, maka hendaklah kita bertakbir. Kalimat takbir merupakan satu prinsip lengkap menembus semua dimensi yang mengatur seluruh khazanah paling dasar keimanan dan aktivitas manusia. Allah Yang Maha Segalanya, Dia adalah pusat yang beredar, manusia, planet dan makhluk lainnya. Kedua,  Allah berpesan agar terciptanya keadilan sosial. Kesadaran tentang kesamaan dan kebersamaan itu merupakan salah satu sebab mengapa dalam rangkaian Idulfitri, setiap muslim berkewajiban menunaikan zakat fitrah yang merupakan simbol kepedulian sosial serta upaya kecil dalam menyebarkan keadilan sosial. 

Semoga kita menjadi hamba-hamba Allah yang kembali ke fitrah dan terus menebarkan kebaikan. Amin ya Rabbal Alamin


Category : kolom

SHARE THIS POST


ABOUT THE AUTHOR

Redaksi MJS

Menuju Masjid Membudayakan Sujud