Saya merasa sangat njawani ketika belajar tentang kejawaan. Pada dasarnya perkara ini adalah soal kearifan lokal yang mulai mengkhawatirkan. Substansi indigenous kini hanya terlihat permukaannya saja, bahkan samar-samar, sebab sudah terkubur sepertiga bagiannya, meski di tanahnya sendiri. Lekas kita tahu, kebudayaan kita rupanya sudah dibeli oleh modernisasi.

Sekali lagi, pada dasarnya ini adalah perkara kearifan lokal. Saya mengatakan Jawa di sini, bukan berarti sedang mencoba menggeser kedudukan suku lain atau menganggapnya inferior daripada Jawa itu sendiri. Saya justru ingin mengatakan bahwa menjunjung tinggi harga diri kearifan lokal di masing-masing regional agar eksistensi kita sebagai manusia kebudayaan selalu ada adalah upaya menegakkan kehormatan. “Mikul duwur mendhem jero” (Memikul setinggi-tingginya, memendam sedalam-dalamnya), kata orang Jawa.

Kearifan lokal menjadi sungguh asing di kepala orang-orangnya sendiri. Suatu konsep primordial yang seharusnya tumbuh sebagai basis kehormatan, menjadi sangat keruh untuk diselami. Kita melihat bagaimana anak muda yang silap mata atas bagian integralnya, adalah ke mana kita ketika pulang kampung. Perjalanan tidak menyenangkan yang kita pahami sebagai distorsi identitas bagi manusia kebudayaan ini, tentu tidak bisa terlepas dari beberapa aspek, antaranya seperti komunitas dan konsep diri.

Komunitas tak tanggung-tanggung pengaruhnya bagi manusia. Seperti yang diutarakan oleh John Locke dengan istilah tabula rasa. Ia mengatakan bahwa manusia merupakan kertas kosong dan bersih, sehingga lingkungan di mana manusia itu berada yang akan melukisnya. Sejak pendidikan dasar pelajaran muatan lokal seolah-olah hanya pelengkap sebagai bahan ajar. Konsep harga diri sebagai manusia kebudayaan tidak secara serius untuk dikenalkan kepada kita yang lahir dari rahim dan tanah saat ke mana kita berpulang. Jika suatu ketika kita dihadapkan pertanyaan, “Apa legitimasi harga dirimu sebagai orang Jawa?” Kita akan was-was untuk menjawabnya.

Konsep diri sebagai manusia kebudayaan akhirnya tak terbangun dengan sempurna. Banyak selip dan kerangka rumpang yang pada akhirnya kita miliki sampai sekarang. Pastinya kita tahu betul, pada zaman semacam ini, kita akan siap menentang siapa pun yang berani mencuri kebudayaan lokal, meskipun tanpa mencintainya dengan sungguhan. Kekayaan kita telah menjadi semu sebab tidak lagi dijaga melalui pelestarian dan penjenamaan. Sulit diakui memang, tetapi tentu kita sudah mencapai realita di mana kearifan lokal diabaikan, dan justru lebih tertarik dengan budaya lain, dengan dalih memperkaya khasanah kebudayaan. Padahal di sisi lain yang kita miliki sekarang sedang bertahan, “Hidup segan mati tak mau”.

Membayangkan bagaimana jadinya apabila kebudayaan yang kita miliki sekarang ini, di masing-masing daerah mulai bersaing eksistensi di kancah internasional. Tentunya melalui jalannya masing-masing, seperti dalam bidang kesenian, manuskrip kuno, hingga tradisi folklor nenek moyang. Kemudian akhirnya kita dikenal oleh masyarakat global dengan beragam identitas yang matang, sehingga suatu saat ketika turis sedang melakukan perjalanan ke Indonesia, mereka tak hanya berwisata ke tempat eksotik, namun berwisata intelektual melalui kebudayaan setempat yang memang kental dan eksklusif. Pada pencapaian yang seperti itu, barulah Indonesia pantas menyandang gelar wonderfull.

Saya merasakan kebanggaan tersendiri sekaligus merasa aneh ketika mengetahui Marcel Bonneff (Prancis) dan Someya Yoshimichi (Jepang) rajin memelajari kekayaan intelektual Jawa, dari seorang pemikir Kawruh Jiwa yang bernama Ki Ageng Suryomentaram. Bangga, sebab akhirnya tokoh asing, bahkan untuk pengkaji lokal sendiri, sudah dikenal oleh akademisi luar negeri. Aneh, sebab ke mana para akademisi sendiri yang sepatutnya mengkaji kekayaan sendiri.

Perasaan aneh lainnya, saya temukan di tempat yang berbeda, yaitu tentang dalih persoalan terisolasinya kebudayaan lokal apabila kita hanya menggarap kearifan yang ada dan paling dekat dengan kita sekarang ini, tanpa memiliki pembanding kearifan lain. Namun Daniel Goleman dalam buku Ecological Intelligence (2010) mematahkan asumsi tersebut, melalui kisah kehidupan komunitas manusia yang hidup berada di dataran tinggi Tibet, daerah yang bernama Sher.

Curah hujan yang hanya sebanyak tiga inci pertahun, membuat daerah tersebut menjadi daerah kering. Namun hal ini yang membuat mereka tidak kehabisan akal untuk menciptakan kearifan lokalnya sendiri, yaitu dengan mengalirkan tetes demi tetes air hujan ke penampungan irigasi kuno. Dari sini justru mereka dapat bertahan hidup dan mulai dikenal dunia sebagai komunitas yang sangat arif dalam merespon lingkungan.

Sama halnya ketika kita mau menyadari bahwa budaya kita sangatlah lebih dari cukup untuk menegakkan kehormatan sebagai manusia kebudayaan. Substansi kearifan lokal yang mengalami internalisasi besar-besaran dalam segala lini, akan menciptakan konstruksi fundamental yang kokoh. Sehingga pada akhirnya kita akan mencapai respon bahwa manusia kebudayaan adalah kita. Tanpa berbudaya, kita bukanlah apa-apa.

Author: Kukuh S. Aji

ABOUT THE AUTHOR

Kukuh S. Aji

Pelajar Kawruh Jiwa Kramadangsa. Menulis puisi, cerpen, dan kadangkala esai.


COMMENTS