Man: A being in search of meaningPlato

Di antara banyak pelajaran yang aku serap sebagai bekal hidup, masih kuingat hingga saat ini, satu pelajaran, tentang memberi judul yang tepat untuk segenap peristiwa yang kita alami. “Guru”-ku dalam hal ini adalah seorang teman, sahabat, yang pasti akan melongo dan terkekeh kalau tahu bahwa diam-diam aku menganggapnya sebagai salah seorang guru.

Ia, sahabatku ini, hanya seorang teman mahasiswaku yang nyambi kerja menjaga warung kecil. Fakta bahwa ia mau menjaga warung menunjukkan mental yang tidak gengsian sebagaimana banyak teman mahasiswa yang lain. “Lumayan mengurangi pengeluaran, karena bisa makan gratis,” itu saja yang kuingat dari pernyataannya saat memulai menjaga warung. Karakternya sendiri memang easy going, tidak mudah kaget atau panik, tidak baper-an, dan selalu tertawa menghadapi peristiwa apa pun, bahkan yang paling pahit sekalipun. 

Apa yang paling kuingat dan ingin kutiru dari sahabatku ini adalah kemampuannya untuk memberi judul positif terhadap peristiwa apa pun yang ia alami. Sebagaimana ia memberi judul bekerja di warung sebagai “mengurangi pengeluaran untuk makan”, pada hampir setiap peristiwa pahit yang ia alami, ia memberi judul yang menggembirakan.

Saat nilai IPK-nya lagi-lagi ambles, ia memberi judul “Nilai yang istikamah”. Saat panik karena mahasiswi yang ditaksirnya jadian dengan anak lain, ia memberi judul “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir”. Saat suatu ketika ia mengalami sakit dan harus opname, kami yang menjenguknya tersenyum kala ia berkomentar, “Kapan lagi makan-mandi-tidur dilayani yang cantik-cantik”. Bahkan saat suatu ketika mukanya biru-biru karena dipukuli orang setelah tidak sengaja menyerempet anak kecil yang menyeberang mendadak, ia memberi judul kejadian itu hanya sebagai, “Pengalaman adalah guru terbaik, kebetulan sekarang gurunya agak killer”.

Kemampuan memberi judul tepat untuk setiap peristiwa yang kita alami tentu saja sangat penting. Satu peristiwa akan mendapatkan nilai sebagai peristiwa positif atau negatif, baik atau buruk, terpuji atau tercela, sebagian besar justru terletak dalam judul yang kita lekatkan kepadanya. Kalau ada segerombolan anak muda nongkrong di pinggir jalan sambil bergurau, kita bisa memberikan judul “Keakraban”, sementara orang yang tidak suka akan memberi judul “Mengganggu orang lewat”. Kalau ada dosen mengajar dengan sangat serius dan sangat adil dalam nilai, kita bisa memberinya judul “Dosen adil”, namun mungkin mahasiswa lain memberi judul “Dosen killer”. Kalau ada teman kemana-mana memegang-memutar tasbih dan akting berzikir, bisa kita beri judul sebagai “Orang saleh” dan yang tidak suka memberinya judul “Sok saleh”. Ketika ada pejabat turun langsung menjumpai warganya di tempat-tempat terpencil, yang pro pejabat tersebut akan memberi judul “Kepedulian”, sementara yang kontra akan memberi judul “Pencitraan”.

Memberi judul ini dalam bahasa sehari-hari mungkin kita sebut sebagai memaknai. Dalam tradisi semiotik-hermeneutik, ada asumsi bahwa manusia itu karena keistimewaan akal budinya, senantiasa berada dalam “mode” memaknai. Peristiwa atau hal apa pun yang dihadapinya, manusia senantiasa memberikan makna. Orang tidak berhenti pada fakta ada tembok bangunan yang retak, namun biasanya berlanjut memberi makna, “Jangan-jangan kontraktornya korupsi?”. Orang tidak berhenti pada fakta seorang mahasiswa dan mahasiswi sering berboncengan, namun biasanya berlanjut memaknai sebagai “Sudah jadian dan sedang pacaran”. Orang tidak berhenti pada fakta temannya sakit keras, namun berlanjut memaknai “Dosa apa yang pernah dilakukannya?”.

Kita harus hati-hati dalam memaknai atau memberi judul, karena banyak tragedi, musibah, konflik, juga kekacauan dalam kehidupan ini terjadi saat kita keliru memberi makna peristiwa yang kita hadapi, dan akibatnya keliru pula respons kita untuk menyikapinya. Kalau kita memaknai pandemi Covid-19 ini sebagai ujian Tuhan kepada kita, maka kemungkinan kita akan berusaha mencari solusi terbaik tanpa melanggar nilai-nilai kebertuhanan, sehingga kita bisa ‘lulus ujian’. Kalau kita memaknai pandemi ini sebagai hukuman dari Tuhan kepada kita, maka kemungkinan kita akan segera bertaubat, memperbaiki diri, dan mencari solusi agar pandemi ini selesai di jalan yang diridai-Nya. Kalau kita memaknai pandemi ini sebagai hukuman Tuhan atas orang atau kelompok lain yang menurut kita berdosa kepada-Nya, maka kemungkinan kita diam, menunggu mereka bertaubat dan memperbaiki diri, atau mungkin marah-marah menyuruh mereka segera bertaubat dan memperbaiki diri.

Untuk menghindari pemberian judul atau memberi makna yang keliru, ada yang menyarankan agar kita menyebut faktanya saja, bukan kesan atau komentar kita terhadap fakta tersebut.

Contoh mudahnya saat suatu ketika kita digigit nyamuk, maka sebut saja nyamuk sedang ‘menggigit’ kita, bukan sedang ‘menyakiti’ atau ‘balas dendam’ kepada kita. Kalau ada tembok retak ya disebut saja “tembok retak”, bukan “tembok hasil korupsi” (sampai ada fakta tegas bahwa tembok itu memang hasil korupsi). Kalau ada teman ‘misuh’/memaki, sebut saja ia ‘memaki’, jangan segera disebut ia sedang ‘memarahi’ atau ‘membenci’ kita, karena makian juga bisa lahir dari konteks gurauan, kepedulian atau keakraban. Kalau ada cowok-cewek boncengan berdua, sebut saja mereka sebagai ‘boncengan’, bukan pacaran atau bermesraan (kecuali memang ada fakta yang menunjukkan bahwa mereka memang sedang bermesraan).

Lebih dari itu, dalam konteks kebijaksanaan, seringkali kita tidak hanya dituntut untuk memberi judul yang tepat, namun juga memilih judul yang positif. Pemberian judul yang positif ini biasanya dianjurkan demi nilai-nilai kemanusiaan tertentu, mewujudkan maslahat atau menghindari mudarat tertentu. Pemberian judul atau makna yang positif ini bukan berarti memberi makna yang salah, namun menempelkan kemungkinan makna yang lebih positif dan maslahat, dibandingkan makna lain yang cenderung mafsadat/merusak, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.

Teman yang kuceritakan di atas, menunjukkan contoh dan pelajaran bagaimana kita membuat judul dan memberi makna yang positif dalam hidup, sehingga sepahit apa pun kenyataan hidup kita hadapi, kita masih mampu berbahagia.

Tentang pemberian judul yang positif ini dalam berbagai kesempatan Ngaji Filsafat sering saya sampaikan ilustrasi ketika kita berhenti di lampu merah. Saat berhenti di lampu merah, sering kita alami, begitu lampu hijau menyala, beberapa kendaraan di belakang kita membunyikan klaksonnya, seakan nyusu-nyusu kita supaya segera berjalan. Kita pun menjadi jengkel dibuatnya. Kejengkelan ini muncul karena kita membaca bunyi klakson itu dengan judul “Bentakan”: “Ayo cepat jalan!!!”. Bandingkan jika bunyi klakson itu kita baca dengan judul “Mengingatkan”: “Mas/Mbak, lampunya sudah ijo lho, mari segera jalan.”

Saat bunyi klakson itu kita beri judul sebagai “Bentakan”, maka sakitlah hati kita, dan tidak menutup kemungkinan kita mencari-cari sambil melotot siapa yang tadi nglakson-nglakson dari belakang. Namun saat bunyi klakson tersebut kita beri judul sebagai “Mengingatkan”, maka mungkin kita justru berterima kasih atas kepedulian mereka kepada kita.

Ada anekdot tentang bagaimana efek dari pemaknaan dan pemberian judul yang berbeda ini, antara seorang dosen dan mahasiswa menjelang ujian akhir semester. Karena memaknai ujian sebagai “Beban dan musibah”, sang mahasiswa mengirim WhatsApp kepada dosennya, “Assalamualaikum. Yth Bapak Dosen Tercinta. Nanti ada ujian ya Pak? Semoga Bapak ingat hadis Nabi, ‘Barangsiapa mempersulit orang lain, maka Allah akan mempersulitnya pada hari kiamat’ (HR Bukhari No. 7152)”.

Sang Dosen yang memaknai ujian sebagai “Evaluasi dan jalan untuk melihat peningkatan kualitas mahasiswa” menjawab, “Waalaikum salam. Terima kasih mahasiswaku tersayang. Semoga juga ingat firman Allah, ‘Dan Kami pasti menguji kamu dengan sedikit ketakutan’ (QS Al-Baqarah [2]: 155)”, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan ‘kami beriman’, dan tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka (QS Al-Ankabut [29]: 2-3)”, serta “Maka sesungguhnya bersama kesulitan akan ada kemudahan (QS Asy-Syarh [94]: 6)”.

Akhirnya sang mahasiswa pun menanggapi, “Waduuuh, satu hadis melawan empat ayat, ampuuun Pak Dosen…”. Sekian.

Author: Fahruddin Faiz

ABOUT THE AUTHOR

Fahruddin Faiz

Pengampu Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman


COMMENTS

  • Noor Octavian Anwar

    🙂 Alhamdulillah, untung secara praktik puasa itu menahan makan dan minum, soalnya barusan saya takut batal karena merasa sudah berbuka duluan secara rohani sebab mencoba memaknai tulisan Pak Faiz.