Kritik Sosial dan Spiritualitas Jawa dalam Serat Kalatidha
Dalam sejarah kebudayaan Jawa, karya sastra tidak pernah sekadar menjadi hiburan atau catatan estetika. Ia kerap menjadi cermin batin masyarakat, tempat para pujangga menumpahkan pandangan, doa, sekaligus kritik terhadap zamannya. Di antara deretan nama besar sastra Jawa klasik, R.Ng. Ronggowarsito muncul sebagai figur yang paling sering disebut sebagai “pujangga terakhir.” Melalui karya-karyanya, terutama Serat Kalatidha, ia bukan hanya menulis tentang kehidupan, tetapi juga tentang kebingungan manusia di tengah masa yang kehilangan arah moral dan spiritual.
Serat Kalatidha lahir di tengah masa kolonial ketika tata sosial dan nilai budaya Jawa mulai terguncang. Ronggowarsito menyaksikan perubahan besar: keraton yang kehilangan wibawa, bangsawan yang bersekutu dengan kekuasaan kolonial, serta rakyat yang semakin terpinggirkan. Dalam situasi itu, Serat Kalatidha hadir bukan sekadar sebagai elegi tentang masa lalu, melainkan kritik sosial terhadap realitas yang penuh kegamangan. Melalui simbol dan metafora, Ronggowarsito berbicara tentang manusia yang hidup di “zaman edan”—masa ketika kebenaran menjadi kabur dan moralitas menjadi barang langka.
Kekuatan Serat Kalatidha tidak hanya pada keindahan bahasanya, tetapi pada kedalaman makna yang melintasi waktu. Ia memadukan kritik sosial yang tajam dengan kearifan spiritual Jawa yang mengajarkan kesadaran diri dan keseimbangan hidup. Karya ini menjadi jembatan antara filsafat, sastra, dan spiritualitas, menjadikan Ronggowarsito bukan sekadar pujangga, tetapi juga pemikir moral bangsanya.
Serat Kalatidha: Kritik terhadap Zaman Edan
Judul “Kalatidha” berasal dari dua kata Sanskerta: “kala” berarti waktu dan “tidha” berarti ragu. Secara harfiah, ia berarti “zaman yang penuh keraguan.” Dalam konteks kehidupan sosial-politik Jawa abad ke-19, istilah itu menggambarkan masa penuh krisis ketika nilai-nilai luhur terkikis, dan kejujuran menjadi barang langka. Di bait awal serat ini, Ronggowarsito menulis:
Mangkya darajating praja, kawuryan wus sunyaruri,
rurah pangrehing ukara, karana tanpa palupi.
Artinya, “Kehidupan negara kini semakin rusak, hukum tidak lagi ditegakkan karena tidak ada teladan.” Dalam kalimat sederhana ini terkandung kritik yang dalam, yakni hilangnya figur panutan membuat masyarakat kehilangan arah etika. Penguasa yang seharusnya menjadi teladan justru mencontohkan kebohongan, dan rakyat yang kehilangan pegangan akhirnya ikut terombang-ambing dalam arus pragmatisme.
Di bait ketujuh, Ronggowarsito mencoba untuk menggambarkan sebuah kondisi rumit yang terasa hingga kini:
Amananing jaman edan, ewuh aya ing pambudi,
melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni,
boya kaduman melik, kaliren wekasanipun,
ndilalah kersaning Allah, sak begja-begjane wong kang lali,
luwih begja wong kang eling lan waspada.
Terjemahannya:
“Hidup di zaman edan, serba sulit berpikir jernih.
Ikut gila hati tak rela, tak ikut gila tak kebagian rezeki.
Akhirnya lapar dan kekurangan.
Namun atas kehendak Allah,
seberuntung-beruntungnya orang yang lupa,
masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.”
Bait ini mencerminkan dilema moral yang dihadapi masyarakat Jawa kala itu, antara mengikuti arus kebobrokan atau memegang teguh kebenaran. Jika ikut “edan”, nurani rusak; tapi jika tetap waras, akan tersingkir. Di sinilah letak kejeniusan Ronggowarsito, ia menulis kritik sosial yang tajam tanpa frontal, melainkan melalui bahasa simbolik dan sindiran puitis yang halus.
Ronggowarsito juga mengkritik budaya feodal yang kehilangan ruhnya. Keraton tidak lagi menjadi pusat kebijaksanaan, melainkan panggung kepentingan politik dan materi. Para bangsawan sibuk mempertahankan kehormatan simbolik, sementara rakyat terjebak dalam kemiskinan struktural. Dalam dunia seperti itu, manusia kehilangan orientasi spiritualnya dan di situlah zaman edan menemukan bentuknya yang paling nyata.
Kritik sosial dalam Serat Kalatidha tidak disampaikan dengan amarah, melainkan dengan nada prihatin dan kesadaran religius. Ia tidak memandang dunia sebagai sesuatu yang harus dimusuhi, tetapi sebagai ruang ujian di mana manusia diuji kesetiaannya pada nilai-nilai kebenaran. Dalam situasi kacau sekalipun, manusia tetap bisa memilih untuk “eling lan waspada”—ingat kepada Tuhan dan waspada terhadap godaan zaman.
Spiritualitas Jawa dan Pesan Etis Ronggowarsito
Selain menjadi dokumen sosial, Serat Kalatidha juga merupakan teks spiritual yang sarat nilai mistik dan moral. Ronggowarsito meyakini bahwa manusia tidak bisa keluar dari kekacauan zaman hanya dengan logika dan ilmu, tetapi juga dengan kesadaran batin yang jernih. Dalam tradisi Jawa, keseimbangan antara cipta, rasa, dan karsa menjadi kunci untuk menjaga ketenangan hidup.
Konsep “eling lan waspada” bukan sekadar nasihat moral, tetapi refleksi filosofis tentang kesadaran eksistensial manusia. “Eling” berarti ingat pada asal usul diri pada Tuhan, pada kebenaran, dan pada tujuan hidup yang sejati. Sementara “waspada” berarti menjaga kesadaran dalam setiap tindakan agar tidak terjebak dalam hawa nafsu dan keserakahan. Dua konsep ini mencerminkan spiritualitas Jawa yang memadukan keimanan, kesadaran, dan pengendalian diri.
Ronggowarsito tidak mengajak manusia meninggalkan dunia, melainkan mengajarkan bagaimana tetap “waras” di tengah dunia yang “edan.” Ia memahami bahwa kehidupan sosial selalu berubah dan penuh paradoks. Karena itu, manusia dituntut untuk tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga dewasa secara spiritual.
Dalam konteks modern, konsep eling lan waspada menjadi semakin relevan. Di tengah era digital dan kapitalisme global, manusia kembali dihadapkan pada dilema moral yang mirip dengan zaman Ronggowarsito. Kita hidup di dunia yang penuh godaan konsumsi, informasi palsu, dan pencitraan tanpa makna. Banyak yang memilih “ikut edan” demi keuntungan pribadi, demi jabatan, popularitas, atau validasi sosial. Dalam situasi itu, kesadaran spiritual menjadi satu-satunya penopang agar manusia tidak kehilangan jati dirinya.
Serat Kalatidha mengingatkan bahwa spiritualitas bukanlah pelarian, melainkan bentuk perlawanan terhadap absurditas zaman. Ia menegaskan bahwa menjadi manusia bermoral dan sadar bukan berarti menyerah, tetapi berani melawan arus kebatilan dengan ketenangan batin. Dengan “eling lan waspada,” manusia belajar menempatkan diri di tengah dunia yang ramai tanpa kehilangan kejernihan jiwanya.
Lebih dari seratus lima puluh tahun telah berlalu sejak Serat Kalatidha ditulis, namun pesan moralnya tidak pernah pudar. Ronggowarsito berhasil memotret hakikat manusia yang selalu bergulat dengan zaman: antara idealisme dan realitas, antara kebenaran dan kepentingan. “Zaman edan” dalam arti moral sesungguhnya tidak pernah benar-benar berakhir; ia hanya berganti wajah sesuai konteksnya.
Karya ini menjadi bukti bahwa sastra Jawa tidak hanya indah secara estetis, tetapi juga mendalam secara etis dan spiritual. Kritik sosial yang tersirat di dalamnya lahir dari pandangan hidup yang arif, bahwa perubahan zaman tidak boleh menghapus kesadaran batin manusia.
Ronggowarsito tidak mengajarkan pesimisme, tetapi mengajarkan keberanian untuk tetap jernih di tengah kekacauan. Ia menutup pesannya dengan keyakinan sederhana namun abadi: “Sak begja-begjane wong kang lali, luwih begja wong kang eling lan waspada.” Seberuntung-beruntungnya orang yang lalai, tetap lebih beruntung mereka yang ingat dan sadar.
Dan mungkin, di dunia yang semakin sibuk dan bising hari ini, nasihat itu bukan sekadar pesan dari masa lalu, melainkan cermin bagi kita semua untuk tetap manusiawi di tengah zaman yang terus “edan.”
Referensi:
Any, Anjar. 1980. Raden Ngabehi Ronggowarsito : Apa Yang Terjadi. Semarang: Aneka Ilmu.
Jalidu, M. Ahmad. 2010. Urip Ora Gampang : Pitutur Luhur Warisan Para Leluhur. Cetakan I. Yogyakarta: Narasi.
Wahyudi, A., 2014. “Zaman Edan Ranggawarsito: Menaklukan Hawa Nafsu di Zaman Tak Menentu”. Yogyakarta: Narasi
Category : kebudayaan
SHARE THIS POST
Lapak MJS
- Sekar Macapat dalam Wacana dan Praktik
- Nisan Hamengkubuwanan: Artefak Makam Islam Abad XVIII-XIX di Yogyakarta dan Sekitarnya
- Lima Puluh Tahun: Meniti Jalan Kembali
- Buletin Bulanan MJS Edisi ke-9 Maret 2025 M
- Buku Terjemah Rasa II: Tentang Hidup, Kebersamaan, dan Kerinduan
- Buku Ngaji Pascakolonial