Sebagai ilmu yang mempelajari tentang bahasa, linguistik Arab terus berkembang berkat kontribusi banyak pihak. Salah satunya berkat kontribusi Al-Nadhr ibn Syumail. Nama lengkapnya Abu al-Hasan al-Nadhr ibn Syumail ibn Kharasyah ibn Yazid ibn Kultsum al-Mazini al-Tamimi al-Bashri.

Al-Nadhr ibn Syumail lahir di al-Marwa (Makkah) pada 122 H dan meninggal pada bulan Zulhijah 203 H. Semasa hidupnya, ia pernah tinggal di Basra (Irak) kemudian pindah ke Khurasan, dan sempat tinggal di sebuah kota di Iran, Naisabur.

Ketekunan Al-Nadhr ibn Syumail dalam bidang fikih, hadis, dan bahasa Arab menjadikannya bergelar al-‘Allamah, al-‘Imam, al-Hafiz. Al-Nadhr ibn Syumail merupakan seorang hakim, ahli bahasa (nahwu, syair, sastra), fikih, serta perawi hadis. Selain itu, Al-Nadhr ibn Syumail lebih dikenal sebagai qadhi (hakim) yang membuat keputusan berdasarkan syariat Islam.

Sosok Al-Nadhr ibn Syumail merupakan murid dari Al-Khalil ibn Ahmad Al-Farahidi yang merupakan ulama bidang bahasa Arab, sastra Arab, dan juga penemu ilmu persajakan Arab yang ia angkat dari musik atau yang dikenal dengan ilmu arudh.

Sementara untuk belajar dari penutur-penutur bahasa Arab yang masih fasih, seperti Abi Khairah al-A’rabi dan Abi al-Daqisy, Al-Nadhr ibn Syumail tinggal di perkampungan Arab Badui dalam waktu yang cukup lama.

Berkat kegigihannya dalam mempelajari bahasa Arab langsung dari induknya, membuat kehidupan Nadhr ibn Syumail berubah, dari orang miskin di Basra dan menjadi kaya seketika di Khurasan. Perubahan ini terjadi hanya dengan menjelaskan sebuah pertanyaan.

Dalam معجم لسان العرب رواية النضر بن شميل في karya Ibrahim Rajab Bakhiet diceritakan pada suatu malam Al-Nadhr ibn Syumail mendatangi Al-Ma’mun Al-Rasyid dengan mengenakan baju yang compang-camping. Amiru al-Mu’minin tersebut menegur Al-Nadhr dengan berkata:

“Wahai Al-Nadhr! Apakah pantas engkau menemuiku dengan pakaian seperti ini?”.

Al-Nadhr menjawab, “Wahai Amirul al-Mu’minin, panasnya udara di Marwa tidak memungkinkanku untuk berpakaian, kecuali seperti ini”.

Amirul al-Mu’minin membantahnya, “Tidak! Bukan itu alasannya, melainkan engkau sedang menirukan perbuatan para petapa!”.

Kisah lainnya dapat dilihat dalam طبقات النحويّين و اللغويين karya Abu Bakar az-Zabidi yang menceritakan bagaimana Al-Nadhr mengajari Al-Ma’mun cara membaca sebuah kata dalam bahasa Arab. Al-Ma’mun menyinggung seorang perempuan, seraya berkata:

“Husyaim (Abu Hudhaifah ibn Utbah) menceritakan kepada kami dari Mujahid, dari Al-Sya’bi, dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata, Rasulullah Saw. bersabda, ‘Jika seorang laki-laki menikahi perempuan karena agama dan kecantikannya, maka ia terhindar dari kemelaratan’ (أيما رجل تزوج امرأة لدينها و جمالها كان في ذلك سداد من عوز).” Al-Ma’mun membaca sadad dengan mem-fatah (َ ) huruf sin ( س ).

Kemudian Al-Ma’mun duduk dengan posisi lurus seraya meminta pendapat Al-Nadhr terkait hal tersebut. Al-Nadhr mengatakan bahwa kata “sadad” dengan sin yang dibaca fatah adalah keliru.

Al-Ma’mun kembali mempertanyakan apakah dirinya telah keliru, lalu Al-Nadhr menegaskan bahwa yang keliru adalah Husyaim. Lidah Husyaim yang keliru dan Amirul al-Mu’minin hanya mengikuti lafaznya.

Karena kekeliruan tersebut, Al-Ma’mun kembali bertanya perbedaan antara “sadad” dan “sidad”. Al-Nadhr menjawab, “Sadad berarti berniat dalam hal beragama dan syariat, sementara sidad berarti menyumpal atau menyumbat. Segala yang digunakan untuk menghalangi sesuatu maka ia adalah sidad”.

Setelah mendengarkan penjelasan Al-Nadhr, Al-Ma’mun memintanya untuk bersyair. Setelah mendengar syair yang disenandungkan Al-Nadhr, Al-Ma’mun mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuatu lalu meminta pelayannya memberikan uang 50 ribu dirham dan membawa Nadhr kepada Al-Fadhl ibn Sahl.

Ketika sedang membaca kitab, Al-Fadhl ibn Sahl bertanya, “Apakah engkau menyalahkan Amirul al-Mu’minin wahai Al-Nadhr?”. Al-Nadhr menjelaskan kembali bahwa lidah Husyaim telah keliru. Al-Ma’mun kembali senang mendengar perkataan Al-Nadhr dan ia menuliskan kembali pada secarik kertas dan memerintahkan pelayan untuk memberikan uang 30 ribu dirham kepada Al-Nadhr. Al-Nadhr membawa pulang 80 ribu dirham.

Kisah lain yang menunjukkan bagaimana pemikiran Al-Nadhr ibn Syumail yakni ketika ia sakit. Orang-orang menjenguknya dan salah seorang mengatakan, مسح الله ما بك padahal yang dikehendaki adalah مصح الله ما بك, maka ia menegur orang tersebut, “Janganlah engkau katakan مسح tetapi katakan مصح”.

Mendengar perkataan Al-Nadhr, laki-laki tersebut membantah dengan mengatakan, “Tidak masalah, karena س sering menduduki tempatnya ص”. Lalu Al-Nadhr mengajak laki-laki tersebut berpikir. “Jika hal demikian diperbolehkan, maka kita boleh memanggil seorang yang bernama سليمان dengan صليمان atau memanggil رصول الله dengan رسول الله atau seorang yang memiliki kunya أبا صالح dengan sebutan أبا سالح”.

Al-Nadhr menjelaskan bahwasannya ص yang dapat diganti dengan س apabila ص berada dalam satu kalimat bersama dengan huruf ط خ ق  danغ  seperti contohnya سراط bisa dikatakan dengan  صراطatau  زراط.

Sebagaimana dikutip dalam www.almunawwar.or.id, Al-Nadhr ibn Syumail memiliki pandangan terkait kata Allahumma (اللّهمّ). Menurutnya, “Barang siapa yang berdoa dengan Allahumma, maka seolah ia berdoa dengan menyertakan semua asma Allah”.

Sebagian ulama berpendapat, bahwa mim dalam kata Allahumma kedudukannya sama dengan wawu dalam kalimat yang menunjukkan jamak (muzakar salim), seakan-akan orang yang berdoa mengucapkan, “Wahai Allah…. yang terkumpul pada-Nya nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang baik”.

Oleh karena itu, mim dalam Allahumma ditasdidkan agar keberadaannya menjadi pengganti dari dua alamat/tanda jamak, yaitu wawu dan nun seperti dalam kalimat muslimuna (مسلمون).

Masih banyak lagi kontribusi al-Nadhr ibn Syumail yang tertuang dalam beberapa karyanya, di antara lain, كتاب خلق الفرس, الصفات, لسلاح, المصادر, غريب الحديث, المدخل إلى كتاب العين.

Wallahua’lam.

Author: Bening Permata Dini

ABOUT THE AUTHOR

Bening Permata Dini

Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.


COMMENTS